6 : Reward Zonk

1361 Kata
Maaf sebelumnya jika ada penulisan kata atau typo. Atau kata-kata kejelimet mohon di maklum, aku buru-buru Up tanpa sempet revisi karena mau Up jam 00:00 tahun baru wkwkwkwk ? Happy reading.... Fitri Sar kamu dimana? Aku Aku dilantai dua Fit, maaf. Fitri Ngapain kamu kelantai dua? Aku Tadi ketemu Den Juan, jadi sekarang aku lagi sama dia. Nemenin dia belanja. Fitri Tapi hari ini kan jatah libur kita. Harusnya kamu nolak Sar! Aku Ya mau gimana lagi Fit, orangnya Maksa. Fitri Huft ? yaudah kalo gitu, kita-kita mau keluar dari Mall. Mau cari barang yang lebih murah di pasar. Nanti kamu minta ikut pulang aja sama Den Juan. Aku Iya Fit, sorry ya! ☹️ Fitri Gakpapa Sar, nanti kamu minta uang lembur aja sama nyonya pas gajian. Aku Ok ? "Lagi ngapain sih sibuk amat liatin hape?" Tanya Juan. Aku menoleh padanya. Gara-gara dia aku tidak jadi bersenang-senang, namun yasudahlah Juan juga sudah janji mau memberi aku reward jadi seharusnya aku bersyukur. "Juan! Kita mau ngapain sih ke tempat alat tulis? Lo gak tobat jadi anak rajin kan?" Tanya Pio sambil membenarkan kaca matanya. "Oh gue tau, pasti lo mau beliin mbak Sari alat tulis kan?" Tebak Dadang. Aku mengerutkan dahi sambil menunjuk diri sendiri. Kenapa juga Juan beliin aku alat tulis, kan aku udah lulus sekolah. "Lo tau aja Dang" jawab Juan dengan cengengesan. "Jadi beneran mau beliin Mbak Sari alat tulis?" Tanya Chen. Juan mengangguk dengan tampang polosnya, sambil menggandeng pundaku. Dengan tiba-tiba aku melepaskan tangan Juan. "Reward apaan nih? Masa alat tulis?" Tanyaku dengan tampang marah. "Ya biar lo rajin kerjain PR kita-kita. Biar Lo enak karena nulisnya pake peralatan bagus, dan kita juga enak karena lo semangat ngerjainnya" terang Juan seolah idenya benar-benar cemerlang. Aku menatap Pio, Dadang, dan Chen, barang kali mereka akan mengubah reward yang akan dikasih Juan untuku. Namun na'as mereka justru mengatakan hal yang membuat aku tambah sebal. "SETUJUUU!!" Ucap mereka bebarengan. Emang s****n banget si Juan, kalo tau reward yang akan dia kasih peralatan menulis. Lebih baik tadi aku ikut teman-teman buat pergi ketempat lain. Dari pada disini bersama anak bau kencur kayak mereka. Tak kusangka, Juan benar-benar membeli alat tulis. dari mulai Satu pak Pulpen, satu pak Pensil 2B dan Pensil Mekanik, tip X, penghapus, penggaris, bahkan sampai beli Crayon dan Jangka untuk membuat lingkaran. Emang beneran sableng si Juan. Buat apaan coba Crayon? Emangnya aku ini anak TK. Selepas membeli seabrek alat tulis, aku hanya cemberut seperti pacar yang marah pada Juan. Bahkan celotehan-celotehan lucu yang keluar dari bibir Pio dan Dadang tak aku hiraukan. Mereka juga beberapa kali melihat padaku karena hanya diam. "Lo Marah?" Tanya Juan. "Keliatannya?" Acuhku dengan wajah cemberut sambil berjalan. "Lo jangan marah dong! Kalo lo marah, PR gue gimana?" Rengek Juan. "Gara-gara lo sih beliin Crayon segala" bisik Pio ditelinga Juan namun masih dapat aku dengar. "Jangan dengerin si Pio! Justru tadi Mbak Sari kayak bahagia banget liat Crayon, kayaknya dia pengen beli dua pak Crayon" bisik Dadang. Ini apaan sih si Dadang? Bikin gue tambah gondokan. "Kalian b**o apa gimana sih?" Teriak Chen akhirnya. Aku sudah mengerti sekarang. Diantara keempat cowok disebelahku memang hanya Chen lah yang terlihat waras. Aku memasang wajah berharap pada Chen. Berharap dia benar-benar mengerti apa yang aku inginkan. "Mbak Sari tuh gak mau Reward alat tulis, dia pengennya reward alat Masak" Gubrakkk Perkiraanku memang salah. Si Chen sama aja begonya kayak Si Dadang. Ucapanku tadi dalam hati aku tarik kembali. Heran sebenarnya, wajah aja pada Cakep. Tapi masalah memahami hati perempuan? Nyatanya nol besar. "Beneran lo pengennya alat masak Sar?" Tanya Juan. "Kalo lo mau alat masak, sekarang juga gue beliin." Aaaaaaaaaaaaaaaaa...... Ingin rasanya aku menggaruk tembok. Menghembuskan napas dengan panjang untuk menenangkan hati. Dengan tangan yang mengepal menahan amarah, aku meninggalkan mereka ber-empat. Saking sebalnya. Padahal aku cuma berharap Juan memberikanku sesuatu yang membuat aku senang. Ya contoh, beli Make Up, nonton Filem, jalan-jalan, atau apa kek. Ini masa dibeliin alat tulis? Terus udah gitu malah mau dibeliin alat masak lagi. Nyebelin banget kan. "Babu! Tungguin gue!" Teriak Juan. "Tungguin kita juga!" Teriak Chen, Pio dan Dadang. "Kalian semuanya pergi aja! Biar gue yang ngejar guru besar kita" ucap Juan pada teman-temannya. Kemudian mereka bertiga mengangguk. Juanpun benar-benar mengejarku yang hendak keluar dari dalam Mall. Aku berjalan cepat, namun Juan segera menarik tanganku untuk berhenti. "Lo kenapa sih? Lo pengen apa sebenarnya? Gue bingung" tutur Juan sambil membawa paper bag berisikan alat tulis. "Juan?" Panggilku ketika kami bersitatap. "Hm?" "Lo Jomblo?" Tanyaku. Benar saja Juan gelagapan dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Gue emang jomblo, tapi banyak cewek yang ngejar gue kok di sekolah." "Ckckck Pantesan," aku berdecak. "Emangnya apa hubungannya reward sama Jomblo?" "Lo gak peka Juan!" "Ya tapi ini Reward, itukan terserah gue mau ngasih apaan." Eh benar juga. Kenapa pula aku ngambek? Padahal kan Juan niatnya buat ngasih reward. Jadi terserah dia dong mau ngasih apaan. Tapi tetap saja, Juan beli barang yang gak ingin aku beli. "Yaudah deh terserah, lo mau kasih reward atau nggak, gue gak peduli. Udah gue mau pulang" akupun meninggalkan Juan, namun laki-laki itu tetap saja mengejarku. "Tunggu Sar! Biar kita pulang bareng" ajaknya sambil menarik tanganku menuju tempat parkir. Juan akhirnya menghidupkan motor Ninja Merahnya. Dia memberikan helem padaku, lalu akupun naik keatas motornya. Tak berapa lama Juan mulai menjalankan motornya menjauhi gedung Mall ini. Tangakupun aku lingkarkan dipinggang Juan, karena Juan mengendarai motor seperti orang kesetanan. ??? Tiga puluh menit Juan berkendara, namun kami tidak kunjung tiba ditempat tujuan. Aku menekuri jalan yang tidak aku lewati sewaktu tadi mau berangkat ke Mall. Beberapa kali aku mengingat jalannya, namun tetap saja tidak aku ingat. Karena ini memang jalan yang berbeda dengan yang tadi pagi. Sebenarnya Juan mau membawaku kemana sih? Ingin sekali aku bertanya, namun mulutku seolah malas sekali bercengkrama lagi dengan Juan. Hingga aku tidak mau tahu, Juan mau membawaku kemana. Hingga pada akhirnya, kami berhenti disebuah Warnet, yang didalamnya dipenuhi dengan anak remaja cowok. Juan memarkirkan motornya tepat didepan Warnet. Dia membawaku kedalam. Warnet juga begitu ramai dengan banyak anak remaja yang bermain game. "Juan, ngapain lo bawa gue kesini?" "Mau ngenalin Warnet super lengkap yang ada di Jakarta" jawabnya. Kamipun duduk di depan monitor, Juan juga memesan komputer untuk Aku dan juga untuknya. Dia mengambil beberapa cemilan yang ada di toko dekat Kasir warnet. Serta Mie instan yang dia pesan didepan gedung Warnet. Lalu membawanya ketempat kami berdua. Sebenarnya aku tidak tahu, kenapa Juan mengajaku kesini. Bukannya membawaku pulang kerumah. "Buat apa lo cape-cape ngenalin Warnet, karena di kampung gue juga ada Warnet ko" terangku padanya. "Tapi Warnet disini beda, kita bisa makan sepuasnya disini. Bahkan bisa makan Mie instan, soto, bubur ayam, sampe masakan padang juga ada San. Pokoknya lo harus nyobain masakan disini, gue jamin lo bakalan ketagihan." Ucap Juan dengan sangat antusiasnya. "Jadi, selain kita main Warnet. Tempatnya juga udah kayak Resto. Makanya gue betah banget dateng kesini kalo pulang dari sekolah" lanjut lagi Juan, sambil hendak memakan mie instannya. Aku hanya memandang Juan yang kini tengah asyik makan. Pantas saja Juan selalu pulang malam, ternyata tempat persembunyiannya disini. "Sar makan dong mie instannya! Jangan liatin mulu muka gue yang ganteng ini dong, kan gue merasa tersanjung" ujar Juan dengan sangat pedenya. "Terserah, cape gue sama kenarsisan lo Juan" jawabku, yang langsung menyantap mie instan karena memang perutku terasa lapar. Juan mulai bermain dengan komputernya. Anak itu bermain Game dengan sangat semangat. Namun yang aneh, tangan Juan masih saja memasukan makanan ringan kedalam mulutnya meski ditengah-tengah perang dalam dunia game. Aku juga ikut main warnet, namun hanya untuk hal-hal yang Positif. Aku juga membuka Email barang kali ada panggilan dari perusahaan untuk aku Interview kerja. Namun na'as, tak ada satupun perusahaan yang mau memanggilku. Aku hanya diam sambil memandangi layar monitor. Sedangkan Juan begitu asyik sendiri. Ditengah-tengah kesibukan aku dengan Juan, tiba-tiba ada tiga remaja laki-laki yang seumuran dengan Juan. Mereka mendekati kami. Namun tatapan laki-laki itu seperti kurang bersahabat, begitupun Juan. Dia menatap malas pada mereka. ?Bersambung? Happy new year semuanya...? Bonus karena tahun baru aku mau Up malem-malem. Part ini khusus aku Up pukul 00:04 WIB tanggal 1 Januari 2022 Semoga Covid-19 hilang dari muka bumi ini. Tolong aamiinkan ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN