"Tadi Juan panggil mbak Sari buat ngasihin kunci kamar" ucap seorang laki-laki yang membuat aku dan Fitri sontak menoleh.
Dia Juan, bocah sableng itu berjalan ke dekat kulkas. Lalu membukanya untuk mengambil minum air dingin. Entahlah padahal ini masih sangat pagi, apa perut Juan tidak akan kenapa-napa pagi-pagi sudah minum air dingin.
Astaga! Apa dia kesini untuk menyelamatkanku?
Aku menutup mulutku dengan tangan. Benar! Juan memang sengaja kesini untuk menyelamatkanku.
"Mbak Fitri ambil kunci Juan kan kemarin siang? Untung saja Juan masih punya kunci cadangan. Coba kalo ngga, tadi Juan sempet gebrak-gebrak kamar kalian. Tapi hanya Mbak Sari yang bangun. Aku menyuruh dia buat nyari kunci, tapi Juan tunggu di atas. Setelah ketemu dia ngasihin kunci ini sama Juan" Ucap Juan sambil menunjukan kunci kamarnya.
Aku tahu dia sudah tentu sedang berbohong, pasalnya dia semalam juga cerita. Jika kunci kamarnya tidak ada lagi selain yang itu.
Fitri menundukan kepalanya menyesal. Dia tampak takut setelah menyadari kunci Juan sudah tidak ada di saku celananya.
"Sar harusnya kamu bangunin aku" bisik Fitri.
"Aku gak tega bangunin kamu" bisiku juga.
"Mulai sekarang, mbak Sari yang beresin kamar!" Titah Juan sambil menyerahkan kuncinya padaku. "Mbak boleh masuk kamar Juan, tapi jangan lama-lama. Setelah selesai langsung keluar!" Lanjut Juan.
Aku tahu Juan berbicara sangat sopan didepanku sekarang itu hanya agar Fitri tidak curiga. Lalu laki-laki sableng itu meninggalkan aku dan Fitri di dapur. Dia naik lagi kelantai atas.
Akhirnya aku menghembuskan napas lega. Hampir saja aku ketahuan.
Eh tapi, kenapa juga aku takut? Kan aku sama Juan gak ngapa-ngapain. Punya hubungan juga nggak, kecuali Customers dan penyedia Jasa. Namun tetap saja, Juan nampaknya tidak ingin menaruh kecurigaan jadi dia tidak ingin Fitri tahu.
"Maaf ya Sar, udah curiga yang nggak-engga sama kamu" ucap Fitri akhirnya.
"Gapapa Fit, emangnya kamu nyangka aku kenapa?" Tanyaku ingin tahu.
"Aku kira kamu ngambil barang di rumah ini" jujur Fitri sambil menunduk.
"Ya tuhan Fit, aku gak sehina itu buat nyuri barang majikan sendiri" aku benar-benar meninggikan suaraku karena tidak terima.
"Maaf Sar, soalnya gelagat kamu aneh dari kemarin. Maaf ya udah curiga yang ngga-ngga."
Aku menghembuskan napas, "yasudahlah lupain! Aku ngerti ko Fit, kita udah lama gak ketemu. Karena orang itu bisa berubah seiring berjalannya waktu, aku ngerti kalo kamu curiga sama aku."
Fitri mengangguk dengan tampang menyesalnya. Lalu dia memeluku sambil meminta maaf. "Maaf Sar maafin aku!"
Akupun membalas pelukannya. "Gapapa Fit, aku udah maafin kamu ko."
???
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Ini adalah hari kesepuluh aku kerja dirumah Ibu Monica dan Pak Pram. Mereka semua sangat baik padaku. Juga Juan yang sangat sering menyuruhku ini itu hingga aku sekarang mempunyai uang cukup banyak untuk aku kirim ke kampung.
Semenjak hari dimana Fitri menyangka aku mencuri, dia sekarang benar-benar baik padaku. Dia tidak pernah curiga lagi jika aku masuk kedalam kamar Juan untuk membersihkan kamarnya. Serta Mang Ujang yang semakin hari semakin akrab denganku karena setiap hari selalu bebarengan mengantarkan Marsya ke Sekolah.
Namun hari ini, hari libur telah tiba. Ini hari minggu, semua petugas dirumah semuanya libur. Ibu Monica yang bagian mengasuh Marsya, serta mang Ujang yang libur mengantar. Pak Pram juga libur bekerja. Aku dan Fitri yang sekarang hendak berlibur keluar rumah.
"Akhirnyaaaaa bisa libur ke luar rumah" ucapku senang, sambil melihat Mall Jakarta yang begitu megah dan luas.
Fitri mengajaku kesini untuk menghilangkan penat. Biasanya dia ke Mall kalo sudah janjian dengan teman-teman pembantu lainnya yang ada di komplek perumahan dekat rumah bu Monica.
Mereka semuanya berkumpul, termasuk aku. Ada sekitar 7 orang termasuk diriku yang sekarang masuk ke Mall diantara para Komunitas pembantu.
Aku tidak tahu nama-nama mereka, tadi di angot kami sudah berkenalan. Tapi tetap saja aku lupa nama-nama mereka.
Mereka masih pada muda-muda, bahkan ada diantara mereka yang baru keluar dari SMA sudah menjadi pembantu. Ada juga yang seumuran denganku, tapi dia sudah menjanda dua tahun. Ada juga yang sudah punya anak dan suami tapi umurnya lebih muda dariku.
Tapi aku salut pada mereka, mereka sangat bersyukur meski hanya menjadi pembantu. Aku yang jadi sarjana harusnya juga bersyukur, mungkin diluaran sana banyak juga Sarjana yang menganggur.
"Kamu kalo mau beli sesuatu boleh pinjem dulu sama aku Sar! Nanti bayarnya abis gajian aja gapapa."
Sebenarnya uang aku justru terbilang banyak, bahkan uangnya lebih besar dari gaji bulananku. Ini hasil dari mengerjakan tugas Juan beserta teman-temannya. Namun aku tetap pura-pura tidak punya uang pada Fitri agar dia tidak curiga.
"Makasih Fit, nanti aku bilang kalo aku mau beli sesuatu."
Kemudian kami bertujuh menyusuri berbagai toko pakaian yang ada dilantai tiga. Fitri membeli banyak barang, mulai dari baju, rok, daleman dan yang lainnya. Namun aku belum juga satupun memilih barang yang akan aku beli.
"Eh kita udah lama banget nih muter-muter disini. Aku laper, beli makan yuk!" Ajak seorang wanita berambut panjang, yang aku lupa namanya. Dia seorang Janda yang tadi aku ceritakan.
"Iya aku juga laper" jawab seorang wanita yang baru lulus SMA.
"Yaudah Cafe di lantai atas aja!" Ajak wanita yang sudah punya anak.
"Yuk!" Jawab kami semua.
Kemudian kami bertujuh kelantai empat untuk mencari makanan. Kami masuk ke MC Ronaldo, salah satu waralaba dibidang penjualan makanan paling terkemuka di Dunia, khususnya di Indonesia sendiri.
Kami semua memesan makanan, namun tiba-tiba saja aku kebelet ingin buang air kecil Jadi aku ijin pada mereka untuk pergi ke kamar mandi.
"Kamu tinggal pergi kesana lurus aja, nanti paling pojok ada kamar mandi Laki-laki dan perempuan" terang Fitri sambil menunjukan arah menuju Kamar mandi.
Akupun mengangguk, lalu pergi ke kamar mandi yang telah Fitri memberi tahu tempatnya. Dengan agak cepat aku berjalan, agar segera sampai disana.
Setelah sampai, akupun masuk ke kamar mandi perempuan. Disana juga terdapat banyak perempuan yang sedang berdandan didepan kaca Wastafle.
Selesai buang air kecil, aku membuka pintu bilik. Lalu berjalan hendak keluar dari dalam kamar mandi. Namun...
Bukk
Aku menabrak d**a seseorang. Aku dongakan wajahku keatas, karena tubuh itu begitu tinggi dari tubuhku.
"Juan?" Ucapku dengan mata melotot.
"Babu?" Jawabnya dengan sedikit terkekeh.
Sialan memang si Juan. Setiap hari jika kami sedang berdua, dia selalu memanggilku dengan sebutan Babu.
"Lagi ngapain lo disini? mall Jakarta gak mau nerima Babu kayak lo"
"Terus aja hina gue, lama-lama lo diserang sama Komunitas per-Babuan Indonesia!" Marahku. Dia selalu saja membuatku naik darah. Yah meski aku tahu Juan memang hanya bercanda.
"Oh jadi lo kesini sama para komunitas Babu?"
"Darimana lo tau?"
"Gue cuma nebak, pinterkan gue?" Ucapnya menyombongkan diri. Padahal otaknya hanya secuil biji kacang.
"Pinter tapi PR aja gue yang ngerjain" oloku padanya.
"Tapi kan gak gue sendiri, temen-temen gue juga minta lo kerjain PR nya."
"Ya tetep aja itu membuktikan lo tuh Bego." Hinaku.
Dia menggeram sambil mengepalkan kedua tangannya hendak marah padaku. Namun dia urungkan karena ini adalah jalur ke kamar mandi.
"Harusnya lo terimakasih sama gue, karena udah kasih lo banyak orderan."
"Iya-iya Terimakasih Tuan Juan yang terhormat" ucapku mengolok-oloknya.
"Oh iya Sar, gue kan belum kasih lo Reward karena udah beresin kamar gue tiap hari." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Mana janji lo?" Tagihku.
"Yaudah sini, gue mau kasih lo hadiah. Sekalian gue mau kenalin lo ke temen-temen gue."
"Tapi Juan? Gue kan mau makan sama temen-temen pembantu."
Namun Juan tak menerima penolakan dariku, dia menggenggam tanganku untuk menuju Restoran Italia yang ada di Mall itu. Disana ada empat orang teman Juan yang aku tidak tahu namanya.
"Woooy Bro!! nih gue bawa Guru besar kita" teriak Juan sambil menggandengku menuju tempat duduk mereka.
"Gue tebak pasti pasti Mbak Ayu Ashari kan?" Celetuk cowok berkaca mata, dengan t**i lalat kecil yang ada di pipinya. Wajahnya manis namun tetap saja aku anggap bodoh karena menjadi Customers ku.
"Ayu ashari tuh artis yang suka main filem duyung b**o! Itu tuh tontonan emak gue jaman dulu, Ini tuh mbak Sari Arianti Lestari" perjelas laki-laki berbadan tinggi namun agak kurus.
"Hallo Mbak Sari?" Sapa cowok yang agak dingin, dia hanya fokus pada layar ponselnya sambil memainkan game.
"Duduk Sar!" Titah Juan. Dia menuntunku duduk tepat disebelahnya. Akupun menurut.
"Hallo semuanya?" Sapaku pada mereka.
"Hai Mbak Sari" jawab mereka kompak.
"Kenalin Mbak, nama aku Scorpio cowok paling imut disekolahan. Panggil aja Pio" ucap cowok berkaca mata.
Aku hanya tersenyum kaku membalas senyuman cowok bernama Secorpio.
"Nama aku Daniel Mbak, panggil aja Dadang cowok teromantis di Sekolahan, pacar aku banyak mbak. Tapi selalu saja berakhir diputusin" ucapnya dengan wajah disedih-sedihkan. Semua temannya tertawa mendengar Dadang berbicara.
Cowok berbadan tinggi agak kurus yang bernama panggilan Dadang itu merengut sedih. Namun aku justru malah tertawa melihatnya.
"CHEN!!!" Teriak mereka semua. Karena laki-laki itu tidak lanjut memperkenalkan diri.
Seketika cowok yang aku kira bernama Chen itu menengok kesemua teman-temannya. Dia kaget, karena matanya hanya Fokus pada Game yang dimainkannya.
"Nama Aku Chen Mbak, blasteran Chenes dan Sukabumi" ucap cowok bernama Chen. Dia tampan, sebelas dua belas dengan Juan. Namun tetap saja belasterannya membuat kami semua tertawa.
Jika Juan Tampan dengan wajahnya yang Bule, sementara Chen tampan dengan wajahnya yang sangat kental dengan wajah orang Chenes. Hidungnya mancung, mata sifit, dengan kulit putih sedikit kekuning-kuningan, Bibirnya juga tipis. aku gambarkan. Wajah Chen sangat mirip dengan wajah Cha eun Woo pemain Drama Korea true Beauty.
Bersambung