Aku mencari-cari keberadaan kunci Juan yang telah disimpan oleh Fitri, tanpa membangunkan orang yang telah menaruhnya. Sudah aku cari-cari ke lemari Fitri, ke tempat make Up, sampe ke kamar mandipun aku cari. Namun aku tak menemukan kunci itu.
Hampir saja menyerah, namun aku langsung keburu ingat dengan kunci yang tadi siang Fitri taruh di saku celananya. Lebih tepatnya saku belakang tepat di sebelah pantatnya.
Tanpa ingin membangunkan Fitri, aku mendorong Fitri agar dia berbaring kesebelah kiri. Biar kuncinya bisa aku ambil.
Dengan gerakan yang sangat pelan, aku merogoh sakunya. Namun justru Fitri bergerak, yang membuat tanganku tertindih oleh b****g montoknya.
Aku kembali mendorong Fitri agar dia mau berbaring lagi kesebelah kiri. Dan akhirnya kunci kamar Juan sudah ada ditanganku. Akupun menghembuskan napas lega. Lalu kembali keluar menemui Juan.
"Nih" ucapku sambil menyodorkan kuncinya pada Juan.
Namun tanpa ba-bi-bu Juan menariku pergi meninggalkan kamar pembantu. Dia menyeretku naik kelantai dua.
"Eh lo mau bawa gue ke mana?" Tanyaku sambil melepaskan tarikannya.
"Ke kamar gue" jawabnya.
Dia masih saja menariku sampai depan kamarnya. Lalu Juan memasukan kunci itu untuk membuka kamarnya. Tak berapa lama kemudian, kamar itu terbuka. Juan kembali menariku kedalam kamar.
"Eh lo mau ngapain?" Tanyaku waspada karena Juan mengunci kembali kamarnya setelah kita berdua masuk.
"Ikut gue!" Ucap Juan sambil mengarahkanku untuk duduk di kasurnya.
"Sebenarnya kita mau ngapain sih? Lo tiba-tiba nyuruh gue masuk kamar, lo gak akan apa-apain gue kan? Awas aja kalo lo macem-macem!!" Ancamku dengan duduk sangat tegak, jaga-jaga barang kali saja Juan melakukan hal yang iya iya padaku.
"Hahaha gue gak doyan ya sama cewek yang udah tua" hinanya sambil tertawa.
Aku mengepalkan tangan dengan tampang marah, "gue gak tua, umur gue baru 23 tahun".
"Ya iya lo tua, kan gue baru 17 tahun. Itu artinya jarak umur kita 6 tahun. Gue gak kayak Andika Pratama yang suka sama Usy, dengan perbedaan umur mereka yang terpaut jauh"
"Jadi lo gak usah khawatir, gue gak akan suka sama lo" lanjutnya lagi.
Aku mengerucutkan bibir sambil menatap Juan sengit. Lagian siapa juga yang mau sama bocah tengil kayak dia. Lebih baik juga aku nikah sama Tukul arwana dari pada sama bocah sableng kayak Juan.
"Iya iya deh terserah lo dan Prinsip hidup lo. Gue do'ain semoga diri lo melanggar Prinsip diri lo sendiri."
"Idih amit-amit" ucap Juan.
Kemudian Juan mengambil buku-buku yang ada didalam tasnya. Kira-kira total ada 10 buku yang Juan kasih padaku. Dia memberikannya sambil berekspresi menahan tawa.
"Ini ko PR lo banyak banget? Masa tiap hari di kasih PR se-abrek?" Rajuku padanya, karena buku pelajarannya sangat banyak.
"Ini buku temen-temen gue, lo kerjain juga ya! Pokoknya isinya jangan sama percis sama punya gue yang kemarin, biar gak ketahuan sama Guru" lalu Juanpun merogoh saku celananya.
"Ini uang 1 juta! Bayar di muka." Lanjut Juan sambil memberikan uang itu padaku.
"Juan... Sebenarnya gue gak mau ngerjain PR lo dan temen-temen lo. Tapi kalo uangnya segini banyak, gue gak bisa nolak" ucapku dengan wajah penuh haru, dan mengambil uang dari tangan Juan. Anak itu terkekeh karena aku melakukan tindakan sesuai kemauannya.
"Nah anak pintar hahaha" kekeh Juan sambil mengacak-acak rambutku yang tergerai.
"Yaudah kalo gitu, gue mau mandi dulu gerah banget. Lo beresin kamar gue! Berantakan banget tuh" tunjuk Juan sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi.
"SIAP PAK BOSS!!" Jawabku sambil Hormat dan agak berteriak.
Tak berapa lama kemudian, Juan menyembulkan kepalanya dari dalam kamar mandi. Dengan pundak putihnya yang terbuka, aku tahu dia sudah membuka pakaiannya.
"Lo gak dapet reward soalnya kamer gue gak lo beresin" lanjutnya.
Sedikit kesal sih karena tidak dapat reward yang Juan bicarakan. Tapi yasudahlah toh aku sudah dapat uang satu juta dalam semalam. Kalo kayak gini aku bisa kaya mendadak hahaha. Ingin rasanya aku berteriak sekarang, melepaskan rasa senangku. Enak yah bisa kenal anak SMA b**o tapi tajir. Aku terkikik geli di kasur Juan.
***
Kamar Juan sudah sangat rapi. Kasurnya juga sudah aku ganti dengan seprai baru, tak berapa lama kemudian Juan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit dipingganya. Rambutnya basah dengan bulir-bulir air yang berjatuhan dari seluruh badannya.
Aku mengalihakan pandanganku menuju buku, pura-pura tidak melihat Juan, Sambil mengerjakan PR milik teman-teman Juan. Tanganku terus saja menulis tugas itu, tanpa mempedulikan Juan.
Dia berjalan kearahku dengan baju yang sudah ia pakai. Dan handuk yang masih melilit dipinggangnya.
"Lo kerjain PR IPS Ekonomi wajib malam ini! Soalnya besok mau gue bawa."
"Iya Boss" jawabku sambil menyalin jawaban dari LKS milik Juan.
Tiba-tiba Juan menyentuh rambutku. Aku seketika menegang, mau ngapain bocah itu menyentuh rambutku segala. Akupun mendongakan kepala untuk melihat Juan. Dia duduk dimeja belajarnya, sedangkan aku duduk di kursi belajarnya.
"Lo harusnya iket rambut lo yang panjang ini! Liat lo nunduk dengan rambut kayak gini bikin gue ketakutan tau" ucapnya.
Aku menelan ludah dengan susah payah saat Juan mengambil semua rambutku ketangannya. Lalu dia menyodorkan tangan yang satunya lagi padaku.
"Apa?" Tanyaku dengan mata yang terus berkedip cepat, seolah ingin menghalangi wajah Juan yang begitu dekat dengan wajahku.
"Mana tali rambutnya!"
Akupun merogoh saku belakang celana, lalu memberikannya pada Juan.
"Lo Fokus aja kerjain! Biar gue yang ngiket rambut" ucapnya lalu turun dari atas meja. Dan berdiri dibelakangku untuk mengikat rambut.
Entah kenapa ko aku jadi gugup banget sekarang. Bukan malah Fokus mengerjakan, yang ada aku malah merasa merinding saat tangan Juan tak sengaja menyentuh kulit leherku yang tak tertutup apapun.
"Dah selesai deh" ujar Juan setelah selesai mengikat rambut.
Dia berjalan masuk kedalam kamar mandi dengan celana ditangannya. Mungkin dia mau memakai celana disana karena malu ada aku disini.
???
Aku terus saja mengerjakan ketiga PR teman Juan dengan satu PR yang tadi baru saja di berikan di sekolah. Aku berniat ingin menyelesaikan PR itu dalam satu malam, namun sepertinya mataku sudah tidak bisa diajak lagi berkompromi.
Saat aku melihat jam beker yang ada di atas nakas kamar Juan, waktu sudah menunjukan pukul dua malam. Dan anak itu sudah tidur dikasurnya setelah tadi keluar dari kamar mandi.
Mataku benar-benar begitu mengantuk, beberapa kali juga aku menguap lebar. Tanganku juga sampai berhenti menulis dengan mata tertutup, namun badan masih berdiri tegak. Tapi kali ini badanku tak bisa diajak bekerja sama, aku benar-benar ambruk di atas meja belajar Juan. Buku teman Juan juga aku tiduri tanpa sadar.
???
Kriiiiiiingggg
Suara alarm ponselku berbunyi. Tanganku dengan Refleks mengambil ponsel yang ada di saku celana. Dengan setengah terpejam aku melihat ponsel. Waktu sudah menunjukan pukul empat pagi. Mataku mengerjap-ngerjap memandangi atap yang berbeda dengan atap kamar miliku. Kasurnya juga begitu empuk hingga aku merasa begitu nyaman tidur diatasnya. Lalu selimutnya juga begitu hangat.
Seketika mataku membuka lebar. Aku menengok kearah kananku, laki-laki remaja berwajah bule itu tengah tidur disampingku dengan wajah tenangnya. Badannya berbaring menghadap kearahku. Sambil meringkuk dia tampak kedinginan karena AC, selimut juga justru di berikan padaku. Aku tertegun dibuatnya, meski Juan anak berandalan, Ternyata dia juga masih punya hati untuk mau mengangkatku dari meja belajar ke atas kasur.
Sedikit terpaku karena wajahnya yang begitu tampan, tanpa sadar tanganku menyentuh bulu matanya yang lentik. Rasanya sangat iri sekali padanya. Wajah Juan begitu sempurna dan enak sekali dipandang.
Sadar akan hal itu, aku buru-buru bangun dari kasur Juan. Lalu menyelimuti badan Juan dengan selimut miliknya. Buru-buru aku turun ke lantai dasar agar Fitri tidak curiga aku tidur di kamar anak majikannya.
Namun saat aku melewati dapur, Fitri sudah ada. Dia sedang memotong-motong sayur di Dapur. Dadaku terus berdetak cepat, apa yang akan aku katakan pada Fitri, jika dia tahu aku tidur di kamar Juan.
"Kamu habis dari mana?" Tanya Fitri dengan tatapan tajamnya saat aku mendekati dia. "Tadi aku denger kamu turun dari lantai atas Sar, kamu habis ngapain?"
Ya tuhan tolong aku!
Apa yang harus aku katakan pada Fitri sekarang? Apakah aku harus jujur padanya, namun aku tidak mau sampai diusir dari sini. Aku mau kerja apa kalo tanpa pekerjaan ini, semua perusahaan yang sudah aku masukan Surat Lamaran Kerja tak ada satupun yang memanggilku untuk Interview.
Bersambung
Semoga suka ya dengan karyaku yang ini. Aku akan berusaha Up setiap hari.
Jika ada penulisan yang salah atau typo mohon kasih tau! Biar aku langsung benerin, itupun kalo ada waktu. Terimakasih buat yang udah baca.???