Chap 18

921 Kata
Duar... Drrrrrt....  Bledar....  Dean langsung bangkit dari atas tubuh Adriana. Ia berjalan ke arah jendela malihat siapa yang berani berbuat kekacauan. "Sialan, siapa yang berani membuat keributan di istanaku. Ia pikir sedang bermain dengan siapa? " "Dean, ada apa? " Adriana ikut berdiri di dekat jendela.  "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Sebaiknya kau tunggu di sini saja, aku akan urus kekacauan di luar sana." Dean menuntun Adriana untuk duduk di ranjang.  "Jangan ke mana-mana. Kau tetap diam di sini. " Setelah itu tangan Dean membentuk simbol Bintang, simbol tersebut berputar-putar dan membentuk barier yang melingkupi kasur tersebut.  "Jangan bergerak ke luar dari kasur ini mengerti?"Dean memberi perintah dan Adriana hanya mengangguk.  "Kalau begitu aku pergi dulu. " Dean keluar lewat balkon kamar. Dia melompat dan sayap miliknya muncul membawanya terbang. ***** Saat ini putra mahkota dari kerajaan Lucifer sedang mengamuk di istana milik kaum pemberontak. Setengah lebih wilaya istana Mamon sudah hancur lebur terkena amukan sang putra mahkota.  "b******k, minggir kalian semua! Jangan menghalangiku!" Reynald membuat gerakan menyentik dan semua prajurit terpental jauh.  "Apa yang kau lakukan di sini hah?" Damarion setengah membentak kepada kakaknya. Memang benar kakaknya sudah gila dan perlu di ganti otaknya. "Sebaiknya tutup mulutmu dan ikuti saja aku. Jika kau terus mengoceh akan ku penggal kepalamu dan Bella akan aku berikan kepada Morgan. " Damarion langsung terbelalak kaget.  'Dasar sodara gila, stres, b******n, gak punya otak, iblis'. Damarion terus mengumpat.  "Sebaiknya keluarkan saja umpatanmu dari pada kau mengumpat dalam pikiran! " Reynald memperingati dan Damarion langsung berhenti mengumpat.  Sret...  Bledar...  Bola api melesat ke arah Reynald dan Damarion. Dengan cepat keduanya menghindar. "Wah-wah, lihat siapa yang datang ke sini! Dua pangeran kerajaan Lucifer yang terhormat berkunjung ke mari. " Mereka mendongak dan melihat Dean sedang turun dengan perlahan. Reynald memberi perintah tanpa melirik sang adik. "Rion sebaiknya kau cari Adriana dan bawa ia pulang."  Damarion berjalan pergi. Meninggal dua orang yang sedang saling menatap tajam. Damarion berjalan dengan santai memasuki istana Mamon.  Saat ini para penjaga sedang sibuk karena ada Reynald yang sedang mengamuk. Jadi dia dengan mudah masuk dan berjalan-jalan di istana/ Damarion belok ke arah kanan dan memasuki sebuah ruangan.  Di dalam ruangan tersebut terdapat banyak makanan yang tertata rapi. Melihat banyak makanan Damarion memegang perutnya.  Kruyuk....  Damarion melangkah menuju salah satu bangku lalu duduk di sana dan mengambil banyak makanan. Perutnya terasa lapar sekali dari tadi. Ia bisa mencari Adriana nanti sekarang yang lebih penting adalah masalah perutnya yang harus segera di atasi.  Damarion mengambil makanan yang cukup banyak dan menumpuknya tinggi. Ia memakan dengan rakus tidak terlihat seperti pangeran, toh tidak ada yang melihatnya.  Selesai makan ia bangkit dari duduknya sambil bersendawa keras lalu pergi meninggalkan ruang makan yang setPedangnya kali ini mengeluarkan aura kegelapan yang sangat pekat. Langit tiba-tiba berubah jadi mendung dan petir saling bersahutan.  engah makanannya sudah habis.  ***** "b******k, cepat katakan di mana Adriana! " Reynald sudah mengeluarkan sayap dan pedang. Kali ini pedang Reynlad berbeda dari sebelumnya.  Matanya berubah semerah darah, rambut hitam legamnya berkibar-kibar seiring dengan kekuatan Reynald yang meningkat.  "Untuk apa aku menyatakannya padamu? Adriana akan aku jadi tawanan. Selain itu aku akan membunuhmu dan menjadikan Adriana milikku 'seutuhnya' " Dean berbicara terlalu percaya diri dan membuat Reynald muak.  "b******n b******k! " Sret...  Duar...  Reynald mengangkat tangannya mengeluarkan bola api yang besar dan mengarahkannya ke arah Dean. Dean mengelak dan bola tersebut menghantam istananya. "Hei kaparat apa yang kau lakukan hah? Apa kau sudah gila? Di dalam sana ada Adriana b******k! " Mata Reynald hampir saja keluar, ia tidak tahu jika Adriana ada di dalam. Reynald menunjuk Dean. "Akh, itu salahmu kenapa kau tidak menciptakan barier untuk istana itu hah? " "Aku sudah mencapai barier yang hanya melingkupi kasur tempat Adriana. "  Setelah mengatakan itu dua pemuda tersebut melesat cepat ke arah reruntuhan istana. Bisa di bilang tempat tinggal pangeran dan istana utama berbeda dan tidak terubung.  Reynald melesat dan langsung membuka portal agar cepat sampai di bawah. Ia melambaikan tangannya dan menciptakan barier yang kuat.  Matanya berubah menjadi hitam sayapnya hilang dan baju yang di kenakan Reynald juga berubah menjadi baju kerajaan yang dipakainya sehari-hari. Ia melangkah ke arah barier tersebut dan mencoba menghancurkannya.  "Sial ini tidak bisa di hancurkan!" Ia mencoba lagi dan hasilnya nihil.  "Adriana sayang, keluar dari kasur sekarang! "Nada bisara Reynald memang lembut tapi menyimpan sebuah ketegasan.  "Tidak mau, aku tidak mengenalmu! Aku hanya ingin Deanku! " Sorot mata Reynald berubah nanar. Dean sudah membuat Adriananya menjadi tidak ingat padanya.  "Kau yang memaksa aku melakukan ini. " Reynald mengangkat tangannya dan pedang yang tadi sudah ada di genggamannya.  Sret...  Krak... Krak...  Pyar...  Ia mengayunkan pedangnya dengan cepat dan barier tersebut retak kemudian hancur.  "Jangan mendekat! Atau aku akan bunuh diri! " Adriana mengambil pecahan kaca dan menekannya kelehernya hingga mengeluarkan sedikit darah.  "Jangan menguji kesabaranku Adriana! Aku tidak akan menyakitimu jadi mendekatlah." Reynald mengulurkan tangannya tapi Adriana hanya menatapnya.  Hati kecil Adriana memerintah untuk menerima uluran tangan tersebut tapi otaknya membantah keras-keras.  Bugh...  Adriana langsung pingsan dan jatuh ke atas kasur. "Rion b******n kau! Apa yang kau lakukan hah? " "Ck kak, aku hanya membuatnya tidak sadar saja. Aku akan membawanya pulang dan kau bisa mengobatinya nanti. Sebaiknya cepat lakukan upacara itu agar Adriana tidak dalam bahaya lagi. Jika ia sudah berubah menjadi demon seutunya maka setidaknya ia bisa melindungi dirinya sendiri. " Damarion menggendong Adriana.  "Cepat selesaikan urusanmu di sini setelah itu kau urus cabe merah di istana. " Damarion melalui melompat masuk ke dalam portal. Jika ia terbang dan keluar dari barier yang di ciptakan Reynald maka ia akan berkelahi dengan Dean. Ia tidak bisa bertarung saat fokusnya terbagi dua. Untuk bertahan dan menyerang.  Reynald hanya diam menatap portal yang lama-lama mengecil dan menghilang. "Reynald, sialan kau! Kenapa kau membawa Anaku pergi? Dia itu milikku! " Ucapan itu membuat Reynald berbalik menatap Dean dengan datar.  Ia membuka bariernya dan merubah kembali tampilannya dan siap bertempur habis-habisan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN