Setelah makan Adriana memilih kembali ke kamar dan bergelung nyaman di balik selimut bersama Dean.
"Sayang, aku ada tugas. Aku tinggal kamu sebentar ya? " Dean sedari tadi membujuk Adriana karena gadis itu tidak mau di tinggal olehnya.
Adriana mengerucutkan bibirnya kesal. Dia mendorong Dean dengan cukup kuat. "Pergi aja sana, sekalian jangan kembali lagi ke sini."
Bruk...
Dean terjatuh dari kasur. Pemudia itu segera berdiri dan merapihkan bajunya. "Lalu apa yang kau inginkan hm? "
"Ck, aku ingin kau menemaniku di sini! " Adriana masih mengerucutkan bibirnya sebal.
"Oke,aku akan menemanimu. " Dean naik kembali ke atas kasur dan mengurung Adriana di Antara tubuhnya. Seringai tipis menghiasi wajah tampan miliknya.
"Aku bosan jika hanya diam saja." Dean menyeringai lebih lebar. Seringainya sedikit m***m seperti om-om c***l. "Bagai mana jika kita olahraga sebentar? "
Adriana mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Maksudmu kita akan berolahraga di sini? Tapi olahraga apa. "
Mendengar jawaban polos Adriana membuat Dean sebal. "Ayo kita buat Dean junior sayang. Mereka akan tumbuh di dalam perutmu."
Dean mencium perut Adriana seduktif. Adriana terkikik geli karena ciam dari Dean. Dean menaikan kepalanya lalu mengecup leher jenjang Adriana.
"Dean..." Adriana mengerang pelan dia mencoba mendorong kepala Dean agar menjauh dari lehernya.
"Bagai mana apa kau mau? " Dean bertanya. Mata Dean beberapa kali berubah dari ungu ke merah dan mata tersebut penuh dengan kabut gairah.
"Ba..." Adriana mengusap rahang kokoh Dean.
❁❁❁❁❁
"Ada infor masi apa Brian? " Reynald menatap Brian yang datang secara tiba-tiba dengan mendobrak pintu.
"Begini pangeran, tadi nona Adriana..." Brian menceritakan semua yang terjadi kepada Reynald.
Muka Reynald mengeras warna matanya yang semula berwarna merah menjadi warna kuning. Kupingnya menjadi lancip, kedua taringnya memanjang. Kabut hitam menyeruak keluar dari tubuh Reynald mengelilingi sang pangeran Lucifer.
Semua orang di sana diam membeku dan merasa takut karena aura kematian yang begitu pekat. Valerie tanpa sadar mundur menjauh.
Krak... Krak...
Bruk... Bruk... Bruk...
Lantai mermer yang di pijak Reynald retak dan pilar-pilar penyangga di ruangan itu rubuh. Para prajurit yang berjaga langsung melebur menjadi debu karena takanan aura Reynald sangat kuat dan membuat mereka takut.
Queen Clarissa yang mendengar berita itu langsung pingsan dan di bawa oleh Lord Alvian ke kamar di ikuti oleh Morgan dan Ernest. Damarion memilih tinggal di situ jika kakaknya akan mengamuk.
"Pa...pangeran, ada surat dari pangeran Dean untuk anda." Seorang prajurit masuk dengan sedikit gemetar. Tekanan yang dikeluarkan Reynald membuatnya sangat kesulitan bahkan untuk berjalan tegap. Reynald merebut surat itu lalu mengayunkan tangannya.
Sret...
Ia memotong kepala prajurit itu. Reynald membuka dan membaca isi surat tersebut. Seringai kejam tercetak di wajah tampannya. Dia mendongak dan atap istana hancur.
Reynald mengeluarkan tiga sayap hitamnnya dan hendak pergi dari istana Lucifer tapi tertahan oleh suara teriakan Valerie.
"Pangeran jika anda pergi bayi ini akan mati! " Sayap yang tadi di keluarkan Reynald perlahan menghilang.
Reynald berbalik menatap tajam Valerie yang sedang memegang pisau yang entah diambilnya dari mana."Jangan bawa-bawa bayi tidak berdosa itu Valerie! "
"Jika anda ingin bayi ini selamat anda tidak boleh pergi dari sini!" Valeri mendekatkan pisau tersebut ke purtunya membuat Reynald mengerutkan keningnya.
Ia sangat tidak suka di perintah oleh orang lain kecuali Ayah, ibu, dan tentu saja Andriananya. "Aku tidak suka di perintah oleh siapapun! Dengar baik-baik ini Putri Valerie yang terhormat, aku tidak suka jika bayi tidak berdosa itu teribat. "
Reynald diam sejenak. "Tapi jika kau tetap pada pendirianmu untuk membunuh bayi itu aku tidak masalah sama sekali. Baiklah, aku tanya satu hal. Berapa usia kandunganmu?"
"2 bulan. Memangnya ada apa? " Valerie terlihat menimbang-nimbang. Dia sendiri tidak terlalu yakin dengan usia bayinya.
Reynald tersenyum sinis. "Jika itu anakku maka usia kandunganmu tidak akan sampai dua bulan."
Lucifer bukanlah clan iblis sembarangan. Jika seseorang mengandung anak dari clan Lucifer kekuatan mereka harus sangat kuat karena bayi yang di kandung akan menyedot enegri sang ibu secara besar-besaran.
"Selain itu, kenapa kau masih hidup? Seharusnya kau sudah mati 9 hari setelah mengandungnya karena energimu sudah di hisap oleh sang bayi." Senyum di wajah Reynald semakin melebar tapi matanya memandang datar Valerie.
Mendengar jawaban Reynald Valerie gelagapan. Dia menatap Ayah dan ibunya yang menatap Reynald dengan pandangan kososng.
"Gadis sialan! Semua ini rencana licikmu. Kau membuat hubungan kakakku dan matenya renggang. Akan ku bunuh kau! " Damarion hindak memenggal kepala Valerie tapi tertahan dengan gerakan tangan Reynald yang mengisyaratkan agar adiknya berhenti.
"Kita punya urusan yang lebih penting. Brian aku punya tugas lain untukmu, aku tidak ingin kau gagal!" Brian membungkuk hormat.
"Baik pangeran, kali ini saya tidak akan mengecewakan anda." Brian pergi. Rey sudah mengirim minlink kepadanya tentang tugas tersebut.
"Rion kau ikut denganku! " Reynald langsung terbang di ikuti Damarion dari belakang.
Damarion berhenti sejenak lalu mengangkat tangan menciptakan barier agar Valerie dan keluarganya tidak bisa keluar.
Valerie menatap langit dengan kesal tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu menggigit kuku jarinya hingga patah. "Ah sial! kenapa bisa begini?"
Dengan panik gadis itu mondar-mandir seperti setrika membuat kedua adiknya yang sejak tadi diam saja menjadi kesal.
"Berhenti berjalan seperti itu! Kau membuat kepalaku sakit!" Valen setengah membentak pada Valerie.
"Kenapa kau sangat bodoh?" Nesya bertanya, dia mengerutkan keningnya melihat sikap kakaknya yang menurutnya sangat bodoh.
"Diamlah! Jangan ikut campur urusanku!" Valerie melirik kedua adiknya sekilas lalu kembali berjalan mondar-mandir.
"Tentu saja itu urusan kami! kakak membuat kami terlihat dalam keadaan ini! Lihat, bahkan kita tidak bisa keluar dari ruangan ini!" Nesya menunjuk barier yang mengelilingi aula istana.
"CUKUP! Jangan bertengkar! kalian membuat kepala ibu bertambah sakit!" Queen Angela menengahi. Kepalanya berdenyut sakit akibat kejadian tadi. Dia menarik salah satu kursi dan duduk sambil menopang kepalanya.
"Dan kau kenapa sangat gegabah?" Dia menatap putri pertamanya kesal.
"Itu bukah salahku!" Valerie membantah.
"Semuanya diam! Jangan ada yang mengatakan papun!" Lord Alvian memberi perintah. Hari ini sangat mengejutkan untuknya dan keluarganya.