Chap 16

906 Kata
AdriAdriana sekarang sudah sampai di istana milik Dean. Istana tersebut terlihat megah memang tapi Istana milik Dean lebih terkesan suram seperti orangnya. Bangunan tersebut terlihat seperti bangunan tua yang ditinggalkan oleh pemiliknya selama bertahun-tahun di tambah cahaya lampu lilin yang redup. Adriana turun dari gendong Dean melihat ke sekeliling dengan mata berbinar-binar senang. Dimatanya itstana tersebut sangat cantik. "Kau akan tinggal di sini bersamaku." Dean memeluk Adriana dari belakang lalu mengecup lehernya.  "Tentu, aku hanya ingin bersamamu Dean. " Adriana mengecup pipi Dean lalu melepaskan pelukannya dan berbalik.  "Aku ingin jalan-jalan Dean." Gadis itu bergelayut manja di lengan kokoh milik Dean.  "Tentu apapun untukmu sayang." Dean melingkarkan tangannya di painggang Adriana lalu berjalan masuk.  Deretan penjaga dan pelayan membungkuk hormat saat Dean berjalan masuk dengan angkuh. Mereka hanya diam dengan memikirkan tentang gadis yang di bawa pangeran mereka pulang. Terakhir kali pangeran mereka membawa seorang gadis itu sudah berlalu beberapa ratus tahun lalu. Mereka berjalan-jalan mengelilingi istana dari taman, perpustakaan, aula istana. Karena Kelelahan mengelilingi istana maka Adriana memilih untuk istirahat.  "Dean aku capek." Adriana berdiri di tengah-tengah lorong istana. Dean berhenti lalu menatap Adriana. Sebelah alisnya terangkat sedikit tinggi, pemuda itu terlihat heran tapi tidak lama dia sadar jika Adriana hanya seorang manusia. "Kau capek? " Adriana mengangguk. Senyum kecil terbentuk di wajah tampan miliknya. Dean menghampiri Adriana. "Sebaiknya kau istirahat. " Dean menggendong Adriana dan dengan refleks gadis itu mengalungkan tangannya.  Sampai di kamar milik Dean Adriana di turunkan di kasur. "Sebaiknya kau tidur. Sekarang ini adalah kamar kau dan aku. " Dean mengecup kening Adriana.  "Aku masih memiliki urusan penting, jika ada sesuatu panggil saja pelayan. Aku akan segera kembali. " Dean menjelaskan dan Adriana mengangguk singkat lalu menutup matanya untuk menjelajahi alam mimpi.  Dean keluar kamarnya dan masuk ke ruang kerja. Ia menuliskan sesuatu lalu memanggil seorang prnjanga. "Kirim ini ke istana Lucifer. Berikan kepada Reynald. "Setelah selesai ia pergi menemui ayahnya.  "Bagai mana apakah gadis itu menyetujui untuk bekerjasama dengan kita? " Lord Georgie bertanya kepada putranya.  "Ya, selain itu mate Reynald ada bersamaku."  "Bagus, ia akan menjadi tawanan kita dan memancing Reynald. Setelah itu kita bunuh mereka semua." Mendengar perkataan ayahnya Dean mengerutkan keningnya. "Tidak, Adriana akan menjadi milikku dan hanya aku yang boleh memilikinya. Aku tidak akan membunuhnya, she is mine." Ekspresi miliknya sekeras baja. Adriana adalah miliknya dan dia tidak akan melepaskannya. "Ya ya ya, terserah kau saja. Lalu apa Rencanamu?" Lord Georgie melambaikan tangannya tidak perduli ia menatap putranya dengan serius.  "Aku akan memanfaatkan Adriana untuk memancing Reynald. Aku akan membunuhnya karena dia pernah membuatku kehilangan seorang yang sangat berharga bagiku. Setelah ia mati aku akan membuat Adriana menjadi milikku seutuhnya. " Setelah itu Dean berbalik dengan tangan terkepal mengingat kematian gadis yang di cintainya.  Ia memilih pergi ke kamar dan beristirahat. Dean meneliti wajah Adriana yang terlihat cantik dan polos saat tidur. Dean ikut membaringkan tubuhnya di samping Adriana lalu memeluknya dengan possessive.  "Kau milikku, bukan miliknya." Dean berbisik lembut di teliga Adriana setelah itu dia tertidur.  ❁❁❁❁❁ Di istana Lucifer keadaan sangat tegang karena aura yang Reynald keluarkan. "Ck, jangan berbohong kepadaku Valerie!" "Aku tidak berbohong kepadamu Reynald. Aku sedang hamil anakmu, kurang bukti apa lagi! Tabib juga bilang aku sedang hamil. " Valerie bergelayut di lengan Reynald.  "Pangeran bukti sudah ada, lalu kenapa kau masih tidak percaya?  Kurang bukti apa lagi?" Queen Angela menatap Reynald tajam, sayangnya tatapan itu tidak mempengaruhi dirinya.  "Putri kami adalah gadis baik-baik. Tidak seperti mate anda atau pun mate pangeran Damarion, mereka berdua hanya mencari muka saja. " Lord Alvian ikut berbicara. Setiap ucapan yang dikeluarkannya hanya menambah kekesalan Reynlad. "Jaga bicara anda Lord Alvian yang terhormat. Ke dua putriku adalah gadis baik-baik. " Queen Clarissa membentak dan menunjuk-nunjuk wajah Lord Alvian.  "Benar, Bella dan Adriana adalah gadis baik-baik. Apalagi Bella dia berasal dari clan angel." Damarion yang tidak terima pun ikut campur. Ia tidak Rela jika matenya di olok-olok, apalagi Bella adalah angle. "Itu adalah faktanya, mereka bersikap tidak sopan kepadaku saat aku bertanya aula utama." Valerie menyeringai licik.  "Ck, dasar w***********g. Ke dua nona cantikku sangat baik hati. Tidak sepertimu yang hanya memasang topeng ramah dan bersikap serta bertindak seenaknya." Ernest berbicara dengan tenang bocah itu memasang wajah sok polos.  "Kau anak kecil diam saja tidak perlu ikut campur. " Valerie mengibaskan tangannya dan Ernest terlempar. Kepalanya mengeluarkan darah berwarna hitam pekat.  "ERNEST! " Queen Clarissa dan Lord Livian menghampiri putra mereka.  "Sayang kau tidak apa-apa? " Queen Clarissa tau jika semua anaknya bisa menyembuhkan luka mereka sendiri, tapi naluri seorang ibu yang selalu mengkhawatirkan anaknya tentu ada.  "Engh...bokongku sakit. " Ernest mengusap-usap bokongnya yang terasa berdenyut-denyut hebat.  "Valerie, kau wanita licik, jalang, b*jing*n, b*ngs*t, tidak tahu malu. " Morgan mengumpat keras. Ia sudah muak dengan wanita berhati iblis itu.  "Cukup, apa kau tidak malu dengan perbuatanmu? " Reynald masih bersikap tenang.  "Malu untuk apa pangeran? Seharusnya anda yang malu karena sudah menghamili anak orang. Anda harus bertanggung jawab!" Lord Alvian meminta tanggung jawab. "Tanggung jawab untuk apa?" Seolah-olah lupa Reynald bertanya. "Ta-" Brak...  Belum selesai Queen Angela menjawab pintu sudah di dobrak oleh Brian.  ❁❁❁❁❁ Adriana sudah bangun dari tidurnya sekarang ia sedang menatap Dean yang sedang tidur. Tapi kamar tersebut gelap dan semua jendela ditutup oleh gorden hitam membuat Adriana tidak tahu jam berapa sekarang. "Aku tahu aku tampan! " Suara serak khas bangun tidur milik Dean membuyarkan lamunan Adriana.  Blus...  Pipi Adriana memerah seperti kepikiran rebus. Adriana segera membuang muka. "Aku tidak menatapmu. " Dean hanya terkekeh lalu mencubit pipi Adriana gemas. "Kau harus makan Adriana. Kau berbeda dengan kami. Kau tetap manusia biasa. " "Manusia? " Adriana memiringkan kepalanya ke kiri bingung.  "Sudah, jangan kau pikirkan. Waktunya makan. " Dean mengulurkan tangannya dan langsung di sambut Adriana tanpa pikir panjang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN