Hening. Semua orang diam dengan pikiran masing-masing. Sama sekali tidak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun.
Queen Clarissa merasa jika ususnya baru saja di tarik baksa keluar dari perutnya. Perkataan Valerie terlalu mengejutkan.
‘Ck ck ck, putraku sudah bisa membuat anak.’ Lord Livian menggelengkan kepalanya dan berdecak kagum di dalam hati.
"Pangeran, anda harus bertanggung jawab karena telah menghamili anak saya." Queen Angela menutup mulutnya sedangkan matanya melotot.
Plak...
Plak...
Dua tamparan mendarat di pipi putih Reynald sehingga meninggalkan bercak merah. "Rey..." Adriana memandang kecewa Reynald ia mengepalkan tangan kanannya yang terasa sakit saat menampar muka Reynald bolak-balik.
Gadis itu merasa baru saja menampar batu tangannya sedikit kebas. Setelah itu Adriana berlari dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Reynald memandang nanar Adriana kemudia wajahnya mulai mengras matanya berubah berwarna merah darah, rambut hitamnya menjadi sedikit ke abu-abu, lalu baju yang di kenakannya berubah.
Lord Livian, Queen Clarissa, serta tiga adik Reynald tersentak kaget dengan perubahan yang mendadak tersebut. Jika penampilan Reynald berubah maka menandakan emosinya yang sudah berada di Puncak.
"Apa maksudmu?" suara dingin dan datar tersebut mengalun tenang, setenang danau tanpa riak. Berbeda dengan suara dan wajahnya yang tenang, tangannya sudah gatal ingin mencincang tubuh Valerie kemudian di berikan kepada hewan peliharaan miliknya.
Kudua orang tua Reynald dan ketiga adiknya sudah panik dan ketar-ketir. Suara yang tenang itu malah membuat mereka semakin takut.
Brian datang menggunakan teleportasi, ia merasakan aura Reynald yang berubah. "Apa yang terjadi? " ia hanya menggumam pelan. Brian berdiri di sudut aula agar tidak terkena serangan Reynald jika dia tiba-tiba mengamuk.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Brian. Semua menunggu kelanjutan dari tontonan di depan mereka.
"Pangeran, aku sedang mengandung anakmu. Memangnya anak siapa? " Valerie mendekat ke arah Reynald. Dia mengelus perutnya yang datar dengan sayang.
"Pangeran anda harus bertanggung jawab. Anda sudah m*****i Putri saya! " Lord Alvian ikut memanasi membuat suasana hati Reynlad semakin buruk.
"Kau seharusnya malu, kau itu seorang pangeran dari kerajaan yang sangat besar!" Queen Angela setengah berteriak. Jarinya menunjuk Reynlad dengan penuh emosi.
"Saya sudah menghadiahkan Putri saya untuk anda jadikan istri, tapi anda menolak. Ternyata kau sudah m*****i Putri kami pangeran! " Ucapan tersebut membuat emosi Reynald naik berkali-kali lipat.
"Untuk nama baik dua kerajaan anda harus bertanggung jawab pangeran! " Dua adik Valerie memilih diam takut untuk bicara. Membiarkan Orang tua mereka berbicara.
"Pangeran, kau harus mengakui ini adalah anakmu." Valerie melihat ke arah perutnya lalu melihat Reynald dengan memelas.
"Cih, Brian panggil tabib dan aku ingin kau mencari Adriana. " Reynald memberi perintah tanpa melihat Brian.
,Brian membungkuk kemudia detik berikutnya ia hilang. Muka Valerie berubah merah padam. "KENAPA ANDA HARUS MENCARI GADIS JALANG ITU? SEMENTARA SAYA ADA DI SINI! APA ISTIMEWANYA GADIS ITU? SEHINGHA ANDA TIDAK INGIN MELEPASKANNYA? SA-"
"DIAM. " Bentakan menggelegar Rey membuat kaca pecah dan dinding-dinding retak. Nyali Valerie langsung menciut.
Tabib datang dari arah pintu kemudian mendekati Reynald yang sedang mengeluarkan aura tidak menyenagkan. "P...pa...pa...pa..." tabib tersebut tegagap.
"Cepat periksa dia! Apakah benar ia hamil atau tidak. " Tabib tersebut segera memeriksa Valerie. Tubuhnya sedikit gemetar.
Valerie hanya diam dan duduk ketika tabib memeriksanya. Sedangkan yang lain menunggu dengan cemas hasilnya. "Bagai mana? "
"Am...ampun pangeran. Put...Putri Valerie be...be...be...nar ha...a...mi...l" Bola mata Queen Clarissa hampir keluar karena matanya yang terbelalak kaget.
Valerie tersenyum senang mendengar jawaban tabib tersebut. Ia memang tidak berbohong jika sedang mengandung.
*****
"Nona...nona..." Riri terus berlari mengejar Adrian.
Adriana menulikan telinga dan berkuat dengan pikirannya. Apa benar cabe itu hamil? Ia tidak percaya dengan itu. Reynald tidak mungkin melakukan itu kan? Reymald sangat mencintainya kan?
Bruk...
"Adriana, apakah aku bisa membantumu? Aku merasaka hatimu sedang sakit." Bella melihat Adriana dengan pandangan kasihan.
"Aku rasa kau bisa menceritakan apa yang terjadi. " Adriana hanya mengangguk lalu pergi bersama Bella. Riri langsung diam saat melihat Adriana pergi dengan Bella.
"Jadi apa yang terjadi? " Bella bertanya saat mereka sampai dj taman.
"Reynald, Valerie bilang Rey menghamilinya." Tangis Adriana langsung pecah.
"Sakit." Adriana memegang dadanya. Paru-paru terasa sangat berat sehingga membuatnya sulit bernafas. Ia tidak menyangka Rey akan mengkhianatinya. Di khianati orang yang kita Cinta sangatlah sakit.
"Kau seharusnya jangan mengambil kesimpulan sendiri. Kak Reynald tidak mungkin melakukan itu. " Bella menenangkan Adriana yang masih nangis sesenggukan.
"Hiks...aku mau pulang hiks...ke duniaku. Aku hiks...tidak mau di sini hiks...hiks..." Brian yang baru saja menginjakan kakinya di taman diam membeku lalu mengirim link kepada Reynald. Ia masih diam di tempat menguping pembicaraan mereka.
"Adriana, kau tidak boleh seperti itu. Kau tahu kak Rey sangat mencintaimu. " Bella mengeluarkan sedikit kekuatannya agar Adriana tenang.
"Ta...tapi..." ucapannya terpotong oleh Bella.
"Kau jangan gegabah dulu. Aku yakin kak Rey tidak akan melakukan itu. " Adriana bangkit dari duduknya lalu berlari keluar isatana dan menuju hutan.
Brian mengejar mengikuti Adriana masuk hutan takut sesuat terjadi padanya. Jujur ia masih ingin hidup tenang, bahagia, dan sejahtera, ia tidak ingin kepalanya terpisah dari tubuhnya karena amukan Reynald.
Brian merinding membayangkan kepala terpisah dari tubuhnya seperti ayam potong. Ia tiba-tiba berhenti saat melihat Adriana berhenti.
Adriana menghentikan langkahnya karena melihat pria yang tidak kalah tampan dari Reynald, tapi tetap lebih tampan Reynald. "Wah wah wah, lihat ada kelinci manis yang masuk kandang singa. "
Laki-laki itu memiliki rambut putih salju dan mata yang memandangnya tajam serta sinis. "Mate Reynald lumayan juga. Kau cantik walau hanya manusia biasa. Aku jadi ingin memilikimu seutuhnya. " Ia mengelilingi tubuh Adriana lalu memandangnya dengan tatapan menilai.
"Siapa kau? Mau apa kau ke sini?" Adriana membentak hingga membuat Pria itu terkejut.
"Perkenalkan namaku Dean Arthur Mamon, pangeran dari kaum pemberontak. Yang aku inginkan adalah menguasai dunia Immortal lalu membunuh Reynald dan menjadikanmu milikku. " Dean memegang dagu Adriana.
Degh...
"Jangan macam-macam dasar laki-laki b******n, gila, setres. Lebih baik kau pergi sekarang dan jangan macam-macam denganku atau-"
"Atau apa? " Dean memotong ucapan Adriana. "Reynald akan menghajar dan menghabisiku? Atau apa? " Dean mendekatkan wajahnya lalu meniup muka Adriana.
Detik berikutnya Adriana tersenyum manis lalu memeluk pria itu. "Deanku sayang..." Adriana mengeratkan pelukannya dan Dean membalas pelukan tersebut.
"Aku ingin bersamamu, bawa aku pergi. " Adriana merengek maja. Dean tersenyum miring lalu mengeluarkan sayapnya dan pergi dari wilayah kekuasaan Lucifer.
Brian yang menyaksikan membeku di tempat lalu berbalik untuk memberi tahu semua kepada Reynald.