Adriana sejak tadi mengabaikan Reynald dan dia tidak suka itu. Gadis itu terus saja bermain dengan kucing yang di belikan Reynald. Seandainya Adriana tidak menyayangi kucing itu Reynald pasti sudah membunuhnya.
"Sayang sudah ya bermain dengan kucingnya." Reynald mencoba membujuknya untuk kesekian kalinya. Sugguh sifatnya akan berubah ketika sedang bersama Adriana.
Adriana mengendong kucingnya lalu memangkunya, ia mengelus-elus kepala kucing itu. Dia sama sekali tidak menatap Reynald. "Apa kau tidak ada pekerjaan Rey? "
"Tidak, hari ini aku ingin bersamamu. Semua tugasku sudah di berikan kepada Brain." Reynald menyandarkan kepalanya di bahu Adriana. Pemuda itu menatap tajam kucing yang ada di pangkuan Adriana.
"Rey itu tugasmu, jadi kerjakan dan jangan memberikannya kepada orang lain. Lagi pula aku sedang ingin bermain bersama Desi. " Adriana menasehatinya tapi Reynald hanya memutar bola matanya. Saat kucing itu sampai Adriana sudah memberi nama kepada kucing putih itu.
"Maaf menggagu waktu anda dan nona pangeran. " Riri masuk dengan beberapa pelayan.
"Sebentar lagi acara makan malam akan di mulai, jadi saya kemari untuk merias nona Adriana. " Reynald hanya mengangguk malas. Moodnya rusak karena kusing sialan itu.
"Setelah selesai aku akan kemari." Reynald memilih untuk pergi sebentar keluar dan Adriana mengangguk lalu bangkit dari duduknya.
Adriana sebenarnya sangat malas untuk acara makan malam kali ini terlebih lagi putri dari kerajaan lain yang mengatainya pelayan. Mengingat itu membuat Adriana kesal sampai ke ubun-ubun.
Adriana kali ini memakai gaun berwarna pink tanpa lengan bagian atas terdapat motif bunga yang melintang lalu seluruh bajunya terlihat gemerlap.
Rambutnya di kepang ke samping lalu di gelung ala rambut Yunani dan menyisakan beberapa helai rambut. Wajahnya hanya di poles dengan sedikit make up.
"Nona terlihat cantik." Riri memuji nonanya dia merapihkan kembali gaun Adriana.
"Hah, sebenarnya aku tidak ingin makan malam dengan kerajaan lain. Aku juga tidak menyukai Putri cabe-cabean itu." Adriana mendumel kesal.
Pintu terbuka manmpakkan wajah angkuh dan dingin Reynald. Ia berjalan masuk menemui Adriana. Untuk beberapa detik mata Rey tidak berkedip.
"Rey, aku tidak ingin makan malam." Adriana langsung berlari ke arah Reynald. Dia memeluk Reynald dengan wajah cemberut.
Suara merdu tersebut membuyarkan lamunan Indah Rey. "Tidak bisa sayang, ini acara makan malam dengan kerajaan lain. Kita harus menghadirinya." Reynald merengkuh pinggang Adriana lalu berjalan keluar.
*****
"Kakak sampai kapan kau akan di dalam? " Nesya adik Valerie berteriak. Dia dan kembarannya sudah menunggu lama kakak mereka.
"Kami sudah menunggu selama setau jam. " Valen adiknya yang lain berteriak sambil menggedor-gedor pintu.
"Kakak berhentilah bersolek. Kau sudah bersolek lebih dari satu jam. " Nesya berteriak kembali.
Kriet...
Pintu terbuka menampakkan wajah kesal Valerie. "Ck kalian bawel. Aku harus cantik saat bertemu calon suamiku." Dua adiknya hanya memutar matanya sebal dengan sifat terlalu percaya diri milik kakak mereka.
data-p-id=f4ffaa13ed6bcdfa537dcc0c15d2ca8e,Kali ini Valeri memakai gaun yang lebih terbuka. Gaun pink yang terbelah lebih dari setengah paha. Bagian d**a yang terbuka serta bagian belakang yang menampilkan punggung mulus putih susunya.
"Bungunlah! Jangan bermimpi! Bagaimana bisa kakak sangat percaya diri? Satu hal lagi..." Valen menatap kakaknya intens.
"Kalau mimpi jangan ketinggian." Nesya dan Valen langsung berlari setelah mengatakan itu.
"Kembali kalian adik-adik bodoh, akan ku pukul kalian berdua. " Valerie hendak berlari tapi tidak jadi karena ia khawatir rambutnya akan rusak.
“Tahan tahan. Jangan sampai berkeringat dan rambutuku rusak!” Valerie memperingati dirinya sendiri. Gadis itu dengan hai-hati mengecek rambutnya.
Sedang di Alua semua sudah berkumpul. Valerie baru datang satu menit lalu. Sekarang mereka sedang menunggu Reynald dan Adriana.
"Maaf kami terlambat. " Suara merdu Adriana membuat seluruh kepala menoleh.
Reynald menarik kursi untuk Adriana duduk. Ernest yang berada di sebelah ibunya pinda ke sisi Adriana. Dia mengerutkan keningnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Ini tempat dudukku. "
"Sekarang ini tempat dudukku." Ernest berseru santai. Reynald menjewer telinga Ernest.
"Pindah sekarang! " Nada tegas tersebut tidak di indahkan oleh adiknya.
"Pangeran tampan, pindah duduknya ya. Nanti kita bisa bermain bersama-sama bagai mana? " Reynald ingin menyuarakan keberatannya tapi mulutnya tidak jadi terbuka. Karena Adriana sudah membujuk Ernest.
"Baiklah, aku akan pindah." Ernest kembali pindah ke tempat duduk semula.
"Pangeran, kenapa pelayan itu duduk di sebelahmu? " Valerie angkat suara. Sedari tadi ia menyaksikan perdebatan singkat Reynald dan Ernest yang memperebutkan kursi dekat Adriana.
Rahang Reynald mengeras mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir Valerie. "Adriana bukanlah seorang pelayan. Dia adalah mateku." Reynald menekan kata-katanya. Wajah kaget Valerie membuat Adriana bahagia.
Brak...
Meja di gebrak Valerie. Gebrakan itu cukup keras sehingga menimbulkan retakan kecil.
Mengetahui apa yang akan terjadi Damarion memerintahkan Bella untuk kembali ke kamar. Sebelum Bella pergi Damarion menepuk p****t gadis itu sambil menyeringai c***l.
Bella sedikit terkejut karena tindakan Damarion. Matanya memberi pringatan tanpa suara. Dengan pelan dia mendesisi. “Iblis c***l!”
Setelah itu Bella menghentakkan kakinya dan segera pergi dari sana setelah berpamitan dengan pelan kepada Queen Clarissa dan Lord Livian.
"Apa maksudmu pangeran? Dia tidak mungkin mate mu. " Valerie menunjuk-nunjuk Adriana yang dia. "Mungkin saja ia berbohong dan menggunakan sebuah mantra yang membuat anda mengira dia matemu."
"Kau ini seorang Putri, tapi kelakuanmu tidak mencerminkan kau seorang Putri. Dan aku sama sekali tidak bisa menggunakan mantra." Adrian tidak terima di tuduh sperti itu. Dia berdiri dengan tiba-tiba.
"Diam kau. Dasar gadis sialan tidak tahu diri. Aku akan membunuhmu! Kau tidak cocok bersanding dengan seorang pangeran sepertinya." Urat dia wajah Valerie menegang.
Wus...
Valerie melempar mantra kepada Adriana.
Bledar...
Mantra tersebut bertumbukan dengan barier yang di ciptakan Reynald. "Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tidak sayang nyawamu? "
Aura mencekam Rey membuat Lord Livian, Queen Clarissa, Ernest, Damarion, dan Morgan memilih tidak ikut campur dan mundur menjauh lalu menciptakan barier agar tidak terkena kekuatan Reynald yang sebentar lagi meledak.
Lord Livian sebenarnya ingin mencegah Reynald tapi ia masih sayang nyawanya sendiri. Ia lebih memilih kehilangan banya uang untuk membangun kembali aula istana yang rusak dari pada harus mati. Jika ia mati maka istrinya akan menyandang status janda dan ia tidak mau hal itu terjadi. Hal yang sama pun di pikirkan Queen Clarissa.
Berbeda dengan orang tua mereka, Morgan lebih baik mundur karena ia masih menjomblo dan ingin bertemu dengan matenya.
Berbeda juga dengan Damarion yang berfikir ia sama sekali belum menikah dan masih ingin hidup bahagia dengan Bella.
Sedangkan Ernest ia masih ingin hidup dan bermain dengan Adriana besok.
"Aku hanya ingin melenyapkan dia." Valerie memekik. Suaranya sangat melengking dan membuat teliga sakit.
Merasakan tarikan Adriana di bajunya membuat emosi Reynald langsung cetap naik. "Jika kau berani menyakitinya akan ku bunuh kau."
"Kau tidak bisa membunuh ankamu sendiri." Valerie membentak.
Semua orang dalam ruangan itu bagai tersambar petir diam mematung berbeda dengan Rey yang menatap Valerie datar.
"A...apa maksudmu? " Adriana tergagap.
"Aku sedang hamil anak pangeran Reynald." Suaranya sedikit lebih stabil dari sebelumnya.