Chap 13

1171 Kata
"Kita bisa langsung mejodohkan mereka. Saat pangeran membantu kami melawan para pemberontak saya sudah memberikan putri saya sebagai hadiahnya. " Lord Alvian mencoba memaksa. "Selain itu jika anda menolak kami bisa menggangap ini sebagai pelecehan karena sudah menolak putri kami. " Queen Angella menambahkan. "Bisa saja perang terjadi karena penolakan kalian." Lord Alvian tersenyum senang. Penjaga didepan pintu mengumumkan bahwa putri Valerie datang. Queen Clarissa tidak terlalu menyukai cara berpakaian putri dari kerajaan wizard tersebut. Berbeda dengan Adriana yang selalu menggunakan baju yang sopan dan tidak terbuka. Valerie mengambil tempat duduk di sebelah ibunya tanpa menyapa sang tuan rumah. "Jadi, bagai mana tawaran kami? " Queen Angela bertanya, wanita itu masih tersenyum. ,"Maaf sekali, keputusan tetap berada di tangan putra saya. Saya tidak memiliki hak mengatur masalah percintaannya." Lord Livian menjawab, ia sama sekali tidak takut jika perang terjadi di antara mereka. Karena kerajaan Lucifer sangat kuat dan hanya segelintir orang yang tahu kekuatan dasyat mereka. Satu hal yang membuat seluruh penghuni kerajaan Lucifer takut yaitu, jika Reynald mengamuk maka istana ini akan rata dengan tanah dalam hitungan detik. "Memangnya kenapa? Pangeran Reynald juga menyukai saya." Valerie menjawab dengan percaya diri. Lord Livian dan Queen Clarissa melongo. "Tapi tetap saja, kami tidak bisa mengambil keputusan sepihak saja. " "Para pelayan sudah menyiapkan kamar untuk di tempati. " Queen Clarissa mengibaskan tangannya dan beberapa pelayan datang. "Kita akan membicarakan ini saat makan malam karena Rey akan hadir saat makan malam.” Queen Clarissa sudah muak dan ingin mengusir mereka sayangnya dia masih harus memberi mereka sedikit wajah. ***** Sementara di kamar Reynald sedang uring-uringan. " KENAPA ANA MEMAKAI PAKAIAN ITU? BAGAI MANA ANA BISA TELUKA? APA SAJA PEKERJAAN KALIAN SAAT ITU HAH? " Reynald membentak Riri dan lima pengawal tadi. Istana barat sedikit bergetar tapi orang-orang yang berada diluar kamar tidak bisa mendengarnya. "Maaf pangeran, Nona Adriana yang meminta menggunakan pakaian saya. " Riri menjelaskan apa yang terjadi mereka sudah pasrah dengan hidup mereka yang pasti akan tamat. "Ck, perintahkan semua penjaga untuk menjaga di depan kamar dan pintu masuk istana barat. Jangan biarkan Putri Valerie masuk ke sini! Kalian boleh pergi. " Reynald berjalan mendekat ke arah ranjang. Matanya dengan lembut menatap Adriana yang masih memejamkan matanya. "Buka matamu! " Reynald memberi perintah dan mata Adriana perlahan terbuka. "Rey? " Gadis itu dengan lemah memanggil Reynald. "Kau tahu kau selalu membuatku khawatir! Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain terluka dan membuatku panik? Kenapa kau tidak memakai gaun yang aku siapkan? " Reynald menahan emosinya dan menjaga agar nada suara tidak berubah. DIa tidak tega membentak Adriana selain itu dia akan menangis bila di bentak. "Gaunnya terlalu berat aku tidak suka.” Adriana menjawab dengan blak-blakan. "Kau bisa bilang kepadaku dan aku akan membuat gaun itu ringan." Reynald dengan frustasi mengacak-acak rambutnya. "Kenapa kau tidak bilang dari dulu?" Mendengar perkataan Reynald gadis itu meliriknya degan sinis. "Kau tidak bilang atau pun bertanya." Reynald juga tidak mau mengalah. "Kau menyebalkan." Adriana memalingkan wajahnya dan mendorong Reynald agar menjauh. cup... cup... cup.... Reynald mencium kening Adriana lalu turun ke kedua pipi dan terakhir di bibir pucat miliknya. Dia memberikan sedikit ekstra di bagian bibir. "Dengar baik-baik, kau tidak boleh keluar dari istana barat sampai kau sembuh dan kau harus meminta izinku terlebih dahulu saat akan pergi, terakhir kau tidak boleh pergi jika tidak bersamaku atau tidak mendapat izin, selain itu jauhi putri dari kerajaan Wizard. Apa kau mengerti? " Reynald memperingatinya. "Aku tidak bisa diam saja di sini, aku bisa mati kebosanan. Setidaknya sediakan berbagai macam buku untuk aku baca!” "Baiklah, asal kau tidak boleh pergi dari sini sayang." Reynald menjentikkan jarinya dan meja di dekat sedang dekat perapin terisi dengan berbagai macam buku novel. Adriana bangkit dari posisinya dan langsung turun dari kasur. Karena belum sepenuhnya sembuh maka tubuhnya limbung dan hampir terjatuh. "Bila tidak bisa melakukannya setidaknya kau harus minta tolong kepada orang lain. " Ia mengangkat tubuh Adriana dan mendudukannya di kursi. Reynald sengaja tidak menyembuhkan secara total karena ia tidak ingin Adriana pergi jauh-jauh. "Kepalaku masih pusing, dimana Riri?" Adriana melihat kesekeliling kamar untuk mencari pelayannya. "Sebentar lagi dia akan kembali." "Aku lapar." Adriana memengang perutnya. "Tunggu sebentar. " Tidak lama tiga orang pelayan masuk dan memberi hormat. "Bawakan banyak makanan untuk Adriana. " Setelah mendengar perintah itu mereka pergi undur diri. "Maaf mengganggu pangeran. " Reynald tersentak kaget dan melihat ke belakang. Dia tidak fokus sehingga kedatangan Brain membuatnya kaget. data-p-id=e3e1e6df6a2345c99d960c7c351d15a8,"Ada apa Brain?" "Saya mendapat pesan dari Queen Clarissa bahwa anda dan nona Adriana harus datang ke acara makan malam." Brain menyampaikan pesannya. "Ya sudah, kau boleh pergi. " Reynald memutar bola matarnya dan melambaikan tangannyan meminta Brain pergi. Brain segera pergi meninggalkan mereka berdua. "Ana ap-" Ucapannya tiba-tiba terpotong. Brak... Pintu kamar di dobrak oleh Ernest yang membuat Reynald sebal bukan main karena waktunya terus di ganggu. "Apa maumu bocah? " Ernest tidak menjawab tapi langsung melesat dan menendang muka Reynald hingga terjatuh ke belakang. Untung saja Adriana tidak ikut jatuh bersamanya. "Kenapa kau membawa nona cantikku pergi tanpa izin dariku? Dasar kakak bodoh. " Ernest mengumpat kesal. Sebelum Reynald membalas Adriana sudah menengahi mereka berdua. Adriana bertanya dengan tersenyum, "Cukup! Ernest ada apa kau kemari? " Ernest menhampiri Adriana lalu duduk di pangkuan gadis itu. "Aku kemari ingin menemuimu. Selama dua hari ini aku tidak bertemu denganmu.  Ayo nona cantik kita bermain. " Ernets turun dari pangkuan Ana dan menarik-narik lengannya. "Tidak, Adriana harus istirahat keadaanya belum pulih sepenuhnya jadi sebaiknya kau pergi dari sini. " Reynald menarik kerah baju Ernest lalu melemparnya keluar kamar, ia mengibaskan tangannya menutup pintu dan menciptakan barier. "Rey, kau tidak boleh kasar seperti itu kepada Ernest. Dia masih anak-anak! " Adriana terlihat sangat kesal, ia membuang muka tidak mau melihat Reynald. "Itu sudah bisa sayang, lagi pula umurnya sudah 80 tahun. Bagi kami umur seperti itu sangat muda, bila manusia melihat Ernest mereka mengira ia bocah berumur 7 tahun. " Reynald memengang dagu Ariana lalu menarik pelan agar menghadapnya. "Tapi tetap saja itu brlebihan!" Hening beberapa detik. "Rey aku ingin memelihara kucing manis berwarna putih. " "Untuk apa? Kenapa bukan naga saja? Itu lebih Bagus, apa lagi naga neraka." Reynald tidak mengerti dengan selera Adriana. Peliharaannya semua lebih manis dan lucu seperti Hydra, naga, ular, drakon serta beberapa hewan lain yang berukuran besar. Adriana tersentak. "Memangnya kau memelihara naga?" "Ya, tidak hanya naga tapi ada Hydra, hellhoud, drakon mungkin beberapa yang sejenis. Mereka bisa menghancurkan sebuah benua jika aku ingin, mereka juga bisa menjelma menjadi pedang atau senjata apapun yang aku butuhkan." Reynald menjelaskan dengan cuek. "Tapi aku ingin kucing putih dari dunia manusia Rey! " Adriana sangat gemas sekali. "Jika tidak, kau akan tidur di luar selama seminggu, atau aku yang akan tidur bersama Ernest atau Morgan atau Brian." Reynald mebulatkan matanya. "Tidak, kau hanya milikku. Kau hanya boleh tidur bersamaku, pergi bersamaku dan hal-hal yang lain. " Sifat possessivenya muncul kepermukaan, Ia sangat tidak terima jika harus berbagi Adriananya dengan orang lain. "Kalau begitu belikan aku ingin sekarang! " Seumur hidup Rey ia tidak pernah di perintah oleh siapapun kecuali ibu dan ayahnya itu juga hanya tugas kerajaan. "Baiklah, aku akan mengirim mindlik ke Brian untuk membelikan kucing untukmu. " Adriana tersenyum senang dia mengangguk puas lalu melanjutkan aktivitasnya membaca buku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN