Chap 23

1036 Kata
Bella sekarang sedang melamun di baalkon kamar milik Damarion. Ia sangat rindu dengan Damarion, ia juga berharap Adriana segera di temukan.  "NONA CANTIK DUA..." Ernest berteriak sambil berlari ke arah Bella. Bella merentangkan tangannya dan menggendong Eenst.  "Halo pangeran tampan. Bagai mana kabarmu?" Bella masuk ke dalam lalu duduk di kursi sambil memangku Ernest.  "Kabarku kurang baik, aku sedang galau memikirkan Nona cantik satu." Ia mengadu kepada Bella. Wajahnya terlihat sangat polos.  "Kau tenang saja, kakak-kakamu pasti akan menemukan Adriana. Sebaiknya kau tersenyum agar membuatmu lebih tampan dan ini untukmu." Bella tiba-tiba memegang sebuah lollipop ukuran besar di tangannya. Ernest menerima dengan senang hati.  "Bell." Morgan tiba-tiba saja sudah ada di samping Bella. "Kita ingin mengajakmu bekerja sama Bagaimana? Apa kau mau?" "Emm tergantung, memang kalian mau apa?" Gadis itu seperti sedang menimbang-nimbang.  "Jadi begini...." Morgan memberi tahu rencananya dan Ernest.  "Tapi kita tidak boleh melakukannya itu bukan tindakan yang benar. Bagaimana jika Damarion marah kepadaku karena aku melakukan hal yang salah? " Jawaban bela benar-benar membuat Morgan harus bersabar. Sangat sulit mengjak seorang malaikat untuk melakukan hal licik, ia sangat yakin jika Damarion pun tidak akan keberatan jika Bella melakukan hal licik.  "Bella, Damarion tidak akan marah kepadamu. Ini kita lakukan agar tidak terjadi sesuatu kepada Adriana dan Reynald." Ia dengan sabar memberi tahu. Tidak ada sahalnya juga sedikit menyesatkan Bella.  "Nah, jika itu untuk kebaikan aku tidak akan keberatan." Bella menyahut membuat ke dua pangeran iblis itu senang bukan kepalang.  "Kalau begitu kita lakukan sekarang. Kau tinggal melakukan apa yang aku katakan tadi mengerti?" Bella hanya mengangguk lalu berdiri dari duduknya. Ia menggendong Ernst karena pangeran cilik itu tidak mau turun.  ~~~~~ "Akhirnya selesai juga." Queen Angela memekik senang dengan hasil kerjanya. Ia menaruh botol itu di meja nakas.  "Ah, ibu memang yang terhebat dalam segala hal." Valerie memuji dengan sangat bangga.  "Tentu saja sayang ibu-" pembicaraan tersebut terhenti karena ketukan di pintu.  "Masuk." Valerie setengah berteriak  karena kesal.  Morgan, Bella, dan Ernest masuk ke dalam. "Mau apa kalian kemari?" Queen Angela bertanya dengan ketus.  "Maaf mengganggu waktu anda, kami kemari hanya ingin melihat keadaan Putri Valerie." Bella maju ke dekat meja nakas.  "Bagai mana keadaan bayi sialan itu? Apakah sudah mati?" Morgan menatap sinis Valerie.  "Jaga bicaramu! Akan aku adukan kelakuanmu pada Rey!" Ancaman Valerie tidak membuat Morgan takut. Dia menggeleng kepala pelan, tidak mengerti dengan wanita di depannya yang tidak tahu malu.  "Valerie sebaiknya kau bangun dari mimpimu. Sudah jelas sekali kakak tidak menyukaimu, ia hanya mencintai nona cantik saja." Ernest ikut memanas-manasi.  "Pangeran sebaiknya kalian jaga ucapan anda karena-" lagi-lagi ucapan Queen Angela terpotong.  "Karena apa? Anda akan membunuh kami? Memukul kami? Meracuni kami? Atau karena apa? " Nada menantang Morgan membuat dua wanita itu sebal bukan main.  Melihat situasi yang mulai memanas Bella menjalankan tugasnya. Ia mengambil botol yang ada di nakas lalu menukarnya dengan botol lain yang sudah di siapkan Morgan sebelumnya.  "Ah, mohon maaf atas bicara Morgan dan Ernest. Kami akan segera pergi dari sini, saya harap kondisi Putri segera membaik." Bella basa-basi sebantar lalu menarik dua pangeran itu keluar dari kamar tersebut.  "Huh, pergi kalian dan jangan kembali lagi. Jika sudah menjadi Ratu akan aku usir kalian dari istana ini." Valerie bersungut-sungut.  "Sudah kita lupakan saja. Kembali ke topik awal, kita tahnya perlu menuangkan ramuan ini ke makanan atau minuman yang akan di minum oleh pangeran Reynald. Setelah itu kau harus jadi orang pertama yang di lihat olehnya dan pangeran Reynald akan tergila-gila padamu." Queen Angela menjelaskan dengan semangat.  "Baiklah aku mengerti. Jika pangeran tergila-gila padaku aku akan memintanya untuk membunuh Adriana." Valerie tertawa terbahak-bahak bak orang gila.  ~~~~~ "Bagai mana? Berhasil?" Morgan terlihat sangat antusias.  "Tentu. Lalu mau kita apakan ramuan ini?" Bella menyerahkan ramuan yang berhasil di tukarnya. Morgan mengambilnya lalu meletakan di tanah. Ernest langsung saja mengeluarkan api biru miliknya untuk membakar ramuan itu.  "Selesai, nona cantik dua ayo kita jalan-jalan di taman belakang." Ernest menarik-narik lengan Bella dan menyeretnya ke taman belakang.  "Yah, lebih baik aku juga jalan-jalan di desa untuk cuci mata. Siapa tahu aku bertemu mateku." Morgan berjalan berlawanan arah dengan Bella dan Ernest.  ~~~~~ Di pantai yang tenang tiba-tiba air laut muncrat meperti air mancur. Reynald, Adriana, dan Damarion keluar dari air. Kaki Adriana masih berbentuk ekor, ia juga belum membuka matanya.  "Gendong baik-baik." Reynald menyerahkan Adriana pada Damarion dan ia menerima saja dari pada cari masalah.  Reynald menyentuh ekor milik Adraiana dan cahaya biru langsung menyelimuti tubuh gadis itu. Setelah cahaya tersebut hilang tampak Adriana yang menggunakan gaun dan kakinya kembali ke bentuk semula.  Selanjutnya Reynald meletkan tangannya di kening Adriana. "Apa yang kau lakukan?" Damarion bertanya. "Dean mencuci otak Ana, kau tahu bukan jika Ana tidak mengenalimu juga?" Reynald melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.  Beberapa saat kemudian ia menarik tangannya dari kening Adriana. "Bagaimana?" "Ana sudah baik-baik saja. Kita pulang Rion." Reynald mengambil alih Adriana dari tangan Damarion, lalu ia membuat portal dan meloncat masuk.  ~~~~~ Lord Livian dan Queen Clarissa sekarang sedang duduk santai sabil minum teh dan acara itu harus hancur karena berita dari salah seorang pelayan.  "Maaf mengganggu waktu anda yang mulia. Saya mendapat kabar bahwa pangeran Reynald dan Damarion sudah kembali bersama nona Adriana. Mereka berada di istana bagian barat." Begitu selesai menyampaikan berita tersebut Queen Clarissa berlari keluar dari kamar dan di ikuti oleh yang lain.  Sudah lama ia tidak melihat putrinya dan ia tidak sabar untuk melihatnya. Langkah Queen Clarissa harus terhenti karena ada yang memegang tangannya.  "Queen kau jangan berlari-lari seperti itu, kita bisa pergi menggunakan Teleportasi." Lord Livian menarik pelan lengan Queen Clarissa agar mendekat lalu merela berteleportasi.  Di kamar Reynald sekarang sedang banyak orang dan itu membuatnya sebal setengah mati. Ingin rasanya ia membunuh mereka semua, waktunya untuk bisa tidur bersama Adriana harus pupus.  "Kau tahu tadi Valerie membuat masalah lagi untuk memisahkan kalian." Morgan memberi tahu Reynald tentang apa yang terjadi.  "Kerja bagus. Sekarang kalian semua keluar! " Reynald menunjuk pintu dengan dagunya.  "Cih dasar tidak tahu diuntung, setidaknya ucapkan terimakasih." Morgan bersungut-sungut lalu keluar dari kamar bersama Damarion dan Bella.  Reynald berbalik dan melihat Ernest sudah tertidur di samping Adriana. "Dasar bocah iblis sialan! Dia mendahuluiku." Reynald berjalan ke arah kasur dan hendak mengusir Ernest. Tapi lagi-lagi ada gangguan datang.  "Akhirnya kau di temukan Adriana. Ibu sangat khawatir." Queen Clarissa berlari ke arah kasur dia mendorong tubuh Reynald agar menjauh. Lalu Queen Clarissa duduk di samping kasur sambil membelai rambut Adriana dengan sayang.  Reynald mengutuk pelan, sepertinya ia harus bersabar sebentar lagi agar bisa bersama dengan Adriana. Ia tidak mungkin mengusir ibunya dari kamar, bisa-bisa ia sendiri yang terkena imbasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN