Chap 22

952 Kata
Nicol berenang ke kamar tamu dan melihat ada dua orang gadis, yang satu sedang duduk di pinggir kasur sambil memegang cermin dan yang satunya sedang terbaring di atas kasur.  "Camelia kau boleh keluar, aku ingin melihat gadis itu." Nicol meminta adiknya keluar.  Camelia memiliki ekor berwarna pink dan rambut berwarna pirang seperti ibunya. Rambutnya di hiasi oleh mutiara dan kepalanya menggunakan sebuah tiara perak yang di hiasi mutiara berwarna pink.  "Tapi kau jangan macam-macam! Ingat itu kak." Setelah memberi peringatan pada kakaknya Camelia pergi meninggalkan Nicol.  Nicol mendekat ke arah ranjang dan mengamati wajah cantik gadis di depannya. "Cantik meski ada beberapa lebam." Nicol duduk di sisi ranjang. Tangannya mengelus lembut kepala Adriana.  "Yah, kurasa tidak ada salahnya untuk menuruti keinginan ayah dan ibu." Ia tersenyum senang lalu perlahan-lahan mendekatkan wajahnya untuk mencium Adriana.  ~~~~~ "Maaf pangeran, kami sungguh tidak tahu jika gadis itu adalah mate anda. Sekali lagi kami minta maaf." Lord Leonard membungkuk hormat wajahnya benar-benar sepucat kertas. "Pangeran, akan kami antarkan anda ke kamar tamu." Queen Louna berusaha membujuk lalu berenag lebih dahulu sebagai petunjuk jalan.  "Ibu?" mereka semua berhenti karena Camelia memanggil Queen Louna. "Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan di sini?" "Nanti ibu jelaskan sayang, sekarang kau ikut ibu dan ayah dan juga jaga sikapmu di depan mereka! " Lord Leonard memberi perintah fan Camelia hanya mengangguk mengerti lalu ikut berenang.  Mereka berhenti di sebuah pintu besar dengan ukiran yang rumit dan terdapat banyak kerang dan mutiara yang menghiasinya. Lord Leonard membuka pintu lalu memberi jalan untuk Reynald dan Damarion. "Silahkan masuk pangeran." Pandangan Reynald beralih ke seorang pria yang akan mencium Adriananya. Seluruh darah Reynald terasa berdesir lebih cepat dan matanya berubah menjadi kuning keemasan bukan mereh darah seperti biasanya.  Sret...  Reynald mencengkram bahu Nicol lalu melemparnya ke luar kamar. Queen Louna dan Camelia memekik kaget.  "Nicol kau tidak apa-apa?" Queen Louna menghampiri putranya dan memeriksa dengan khawatir. "Aku tidak apa-apa ibu. Tapi siapa orang b******k ini? Berani sekali dia menghajarku! " Nicol menunjuk-nunjuk Reynald yang sekarang sedang mengangkat tubuh Adriana.  "Hei! Apa-apa kau? Kembalikan gadis itu ke tempat semula! " Suara Nicol sudah naik dua oktaf.  "Nicol jaga bicaramu!" Lord Leonard memperingatkan kelakukan putranya.  "Apa ayah? Kenapa aku harus menjaga kelakuanku di depan orang itu? Dia sudah berani sekali menyentuh calon istriku!" Nicol berenang mendekat tapi tertahan oleh sebuah tangan.  "Jaga sikapmu di depan Rey! Kau bisa membuatnya marah besar!" Damarion memperingatkan lewat link.  "Memangnya siapa kalian hah? Berani sekali kalian pada pangeran penguasa lautan!" Nicol menantang ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi menunjukan kebangsawanannya.  "Ibu sebenarnya siapa mereka dan apa yang mereka lakukan di sini? " Camelia terlihat ketakutan aura yang di keluarkan mereka membuatnya takut.  "Lancang! Berani sekali kau berbicara seperti itu kepada para pangeran dari kerajaan Lucifer. Sebaiknya jaga sikap dan nada bicaramu, Rey bisa saja menghancur seluruh lautan jika ia mau." wajah Damarion terlihat angkuh dan kejam. Emosinya sedikit terpancing karena ucapan orang di depannya.  "Ana buka matamu. Aku ingin melihat mata indahmu, jangan pergi lagi dariku. Kau tahu aku bisa gila jika kau pergi dan hilang lagi. Ibu juga khawatir denganmu, sekarang kita pulang aku akan membuatmu mengingat lagi siapa aku." Reynalf mengecup sekilas bibir Adriana lalu berenang keluar.  Reynald melewati mereka semua yang terdiam di depan pintu karena ucapa Damarion. "Kita pulang. Terimakasih sudah menjaganya." "Suatu kehormatan bisa menjaga mate anda pangeran. Kalau begitu saya akan antar anda sampai kota." Lord Leonard membungkuk lalu mempersilakan Reynald dan Damarion berenang terlebih dahulu.  ~~~~~ "Ibu, bagaimana dengan bayiku?" Valerie terbaring lemah di atas kasur. Perutnya sangat sakit dan juga darah keluar dari selangkangannya karena Reynald tadi menekan perutnya.  "Kau tenang saja bayimu baik-baik saja dan ibu sudah mendapat bunga Mawar perak. Kita bisa membuat ramuan dari Mawar itu, jika orang yang meminum ramuan itu akan membuat mereka menyukai orang yang pertama mereka lihat. Sebentar lagi kau akan menikah dengan pangeran Reynald dan menjadi Ratu di istana Lucifer. Kau bisa memerintah seluruh alam immortal sesukamu setelah kau menjadi Ratu." Queen Angela tersenyum licik. Rencananya akan berjalan lancar.  "Ibu sangat cerdik, aku sayang ibu. Tunggu apa lagi? Ibu bisa buat ramuannya sekarang." Valerie dengan tidak sopan memerintah ibunya bagai seorang majikan yang memerintah bawahannya. Mereka bahkan lupa satu hal yang sangat pening.  "Kau ini sangat tidak sopan kepada ibumu ini." Setelah itu Queen Angela meninggalkan kamar putrinya.  ~~~~~ "Bagai mama dengan keadaan Adriana? Apa sudah di temukan?" Queen Clarissa bertanya kepada tiga orang di depannya.  "Sebenarnya Adriana hilang. Rey ah, maksudku kakak sedang mencarinya bersama kak Rion. Kami tidak tahu apa sudah di temukan atau belum." Morgan berbicara dengan takut. Kepalanya menunduk agar matanya tidak menatap langsung mata ibunya. Ia tidak mau di hajar oleh ibunya.  "Ibu sebaiknya kita usir saja mereka dari sini. Aku sangat tidak suka, mereka membuat nona Cantikku hilang dan sampai sekarang belum di temukan!" Ernest menyatakan dengan menggebu-gebu. Bocah iblis itu sedang kesal setengah mati dengan tamu tidak tahu diri yang datang ke mari.  "Ayah akan bicarakan dulu. Kita tidak boleh gegebah hingga menyulut perang antar bangsa di sini." Lord Livian angkat bicara. Mereka harus memikirkan matang-matang agar tidak menyulut perang, walau akhirnya kemenangan pasti akan ada di tangan mereka.  "Ibu sebaiknya istirahat saja dulu. Aku yakin Adriana akan di temukan." Morgan terlihat memohon kepada ibunya dan Queen Clarissa hanya menurut lalu berbaring untuk istirahat.  "Ayah kami permisi dulu. Kami hanya ingin jalan-jalan saja dan menemani Bella." Mereka mebungkuk lalu berjalan keluar.  Dua pangeran iblis itu berjalan melewati lorong-lorong dan tidak sengaja mendengar percakapan samar-samar dari kamar di depannya. Jaraknya hanya seratus meter dari tempat mereka berdiri.  Ernest memandang kakaknya lalu menyeringai jahil. "Bagai mana menurutmu?" ia bertanya kepada morgan.  "Tentu saja akan kita lalukan. Aku tidak mau mati muda karena amukan Rey." Morgan menjawab dengan seringai licik yang terpasang di wajah tampannya.  "Tapi sebaiknya kita ajak nona cantik dua." (maksudnya Bella) Ernest berusaha menyamakan langkahnya dengan Morgan. Tubuhnya lebih pendek sehingga langkah yang di ambilnya tidak terlalu lebar.  "Ayo kita pergi." Melihat adiknya yang kesulitan menyamakan langkahnya Morgan berjalan lebih lambat
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN