Chap 11

842 Kata
Pintu aula istana di buka saat sang pangeran datang. "Ayah, apa kau sudah menemukan informasi lain? " Dean bertanya. "Belum.” Dengan malas Lor Georgie menjawab pertanyaan putranya. Dia menyangga kepalanya mambuat rambutnya yang panjang dengan warna silver menjuntai. "Baiklah, kalau begitu aku permisi.” Setelah itu ia pergi meninggalkan aula istana. "Anak kurang ajar, seharusnya dia mengucapkan terimakasih atau yang lain. " Lord Georgie tersinggung dengan sikap putranya. "Pengawal, kirimkan surat ini kepada Putri Valerie di kerajaan Wizard. " salah satu pengawal maju dang membungkuk hormat dan mengambil surat itu. "Aku akan mengambil tahta milik Lucifer dan memerintah seluruh dunia Immortal. Tapi pertama-tama aku harus menyingkirkan pangeran pertama yang sangat menyusahkan itu, kekuatannya tidak bisa di remehkan. Maka dari itu aku akan membunuh matenya dan itu akan membuatnya terpuruk sehingga aku bisa dengan mudah mengalahkan kerajaan Lucifer. HAHAHAHA......." lord Georgie menggumam sendiri dan tertawa terbahak-bahak tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya yang akan menjerumuskan ia ke dalam kengerian. ❁❁❁❁❁ Tanah tersebut berguncang cukup keras. Sebuah hembusan angin yang sangat kuat membuat Adriana terbang dan mendarat dipelukan Reynlad. Pemuda itu berdiri dengan kokoh diatas kedua kakinya dan memandang kobaran api didepannya dengan sangat-sangat datar. Bahkan tatapan matanya sedikit kosong. Area sekitarnya mengalami rusak parah. Beberapa mobil yang sedang berlalu-lalang dijalan terhempas bahakan ada yang terbalik. Semua kaca gedung dalam radius 50 meter pecah dan ada beberapa retakan besar dan kecil. Bangunan-bangunan tua dan beberapa gedung yang meiliki fondasi kurang kokoh rubuh. Membuat arena tersebut seperti baru saja dilanda aingin p****g beliung. Karena ledakan tersebut membuat telinga Adriana berdenging dan kepalanya pusing. “Rey apa kau yang melakukan ini?” Walaupun suara Adriana sangat pelan seperti sebuah gumaman Reynlad masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dia berkedip satu kali dan tatapannya menghangat. Reynald mengelus kepala Adriana agar gadis itu tenang. “Bukan.” Salah satu sifat iblisnya kambuh. Tentu saja dia yang melakukan semua itu. “Mungkin ada teroris disini.” “......” Adriana tidak mengatakan apapun. Tangannya meremas baju Reynald dengan sedikit keras. Area parkir itu sekarang sudah kosong karena semua mobil terhempas dan menumpuk didepan bangunan restoran. “Ugh...” Tatapan mata Reynald sedikit menyipit. Ternyata pemuda itu cukup tangguh untuk ukuran seorang manusia. Sebagai pangeran kerajaan Lucifer ada beberapa peraturan ketat yang mengikat semua keluarga kerajaan tapi Reynald sendirilah yang menentukan apa yang ingin dia lakukan dan jika harus dihukun dia tidak masalah dengan itu. Membuat kekacauan didunia manusia dan membunuh mereka memang tidak boleh dilakukannya. Tapi siapa perduli? Dirinya adalah lambang dan perwujutan dari sebuah dosa jadi tidak ada salahnya membuat sedikit kekacauankan? Beberapa orang yang selamat sedikit linglung dan mereka berjalan dengan terhuyung-huyung. Teriakan, tangisan, dan ratapan beberapa orang memenuhi pendengaran Reynald. Dia mengecup kelapa Adriana dan berbisik. “Kita pulang sayang. Kalau kau lelah tidurlah.” Perlahan mata Adriana tertutup dan gadis itu tertidur. Renald mengencangkan pelukannya pada pinggang Adriana. Senyum dingin terpasang di wajah tampannya. Taman bermain itu berada didekat laut dan itu membuat sebuah ide muncul dikepalanya. Matanya menatap air laut dengan datar. Tanah berguncang sekali lagi kali ini kekuatannya lebih kuat. Air laut mulai surut lalu sebuah ombak besar dengan tinggi 10 meter terbentuk dan menghantam daratan dengan kekuatan dan kecepatan yang hebat. Semua orang mulai panik dan berlarian kesana kemari berusaha menyelamatkan diri. Tidak perduli jika ada seseorang yang mereka injak-injak. Reynald masih berdiri disana dan membiarkan ombak menghantam darat dan menenggelamkan dirinya. Tapi air tersebut sama sekali tidak menyentuhnya ataupun Adriana. Kejam memang tapi Reynald masa bodo dengan semua itu. Tangannya menggendong Adriana dan Reynald melangkah masuk kedalam portal meninggalkan kekacauan yang dibuatnya. ❁❁❁❁❁ Riri berjalan tergesa-gesa dilorong istana. "Yang mulia Ratu." Riri memanggilnya. "Ada apa Riri? " Queen Clarissa berbalik. "Maaf menggangu Queen. Pangeran Reynald dan Nona Adriana sudah kembali dari dunia manusia." Riri memberi tahu. "Benarkah? Dimana mereka sekarang? aku sangat rindu dengan Adriana.” Mata Queen Clarissa berbinar senang. "Mereka ada di kamar pangeran. Tapi Nona Adriana sedang tidur dan pangeran bilang agar tidak menggangu mereka. " "Ck, anak itu. Yasudah, kau boleh kembali. " Quren Clarissa berdecak sebal. "Saya undur diri yang mulia. " setelah itu Riri pergi. "Mungkin besok pagi aku bisa menemui mereka, aku rasa Adriana Serang kecapean." Ia menggumam pelan lalu melanjutkan berjalan. “HANYA KARENA SEORANG MANUSIA KAU MELAKUKAN ITU?” Sebuah teriakan menggema diseluruh kerajaan dan membuat istana sedikit bergetar. Queen Clarissa berhenti melangkah. Tentu saja dia kenal suara itu, itu adalah suara suaminya. Dengan cepat dia berbalik dan pergi ke Istana utama dengan berlari. Queen Clarissa sama sekali tidak kesulitan berlari menggunakan gaun dan hak tinggi, ia berlari sangat kencang dan melupakan jika dirinya bisa menggunakan teleport. Reynald sebagai tersangka utama hanya berdiri dan terlihat cuek. Dia memutar-mutar pedang ditangannya dan mengangkat bahu. “Itu bukan salahku.” “Kau....kau...” Lord Livian tidak tahu harus mengatakan apalagi pada putranya itu. Para tetua juga terlihat pusing tapi tidak bisa melakukan apapun. Bruk.... Dengan lemas lord Livian duduk disingga sana miliknya. Dia memegang kepalanya yang sakit. “Cambuk dia 1000 kali dengan cambuk baja.” Reynald berhenti memutar pedangnya dan beridir tegak. Seorang tetua mengeluarkan cambuk dan membakarnya menggunakan api. Cambuk baja itu memiliki duri yang menghiasi seluruh bagian cambuk. “Maaf pangeran.” Tetua itu membungkuk sebentar dan dengan kuat mencambuk Reynald. Baju yang di kenakan Reynald langsung terkoyak dan darah keluar dari punggungnya. Tapi dia tetap berdiri dengan tegak tanpa bergerak 1 inci pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN