“Papa mohon, kamu harus kembali pada Dafi Laura. Hanya itu yang bisa menyelamatkan perusahaan kita.” Laura terkekeh sengau dengan hati yang mencelos kosong. Kepalanya menggeleng kecil, berusaha menepis setiap perkataan sang ayah yang baru saja ia dengar, berusaha menyangkal semua yang baru saja sampai di telinganya. “Apa Pa? Kembali pada Dafi? Setelah tes kedua hasilnya sama?!” Laura menggelengkan kepala seraya menatap ke arah Darma dengan pandangan buram. “Tidak Pa, aku tidak akan pernah mau mengubah keputusanku!” “Tapi keadaan perusahaan kita benar-benar darurat Laura. Kamu tidak memikirkan perusahaan kita?” “Jadi Papa lebih memilih memikirkan perusahaan daripada memikirkan kesakitan anakmu sendiri Pa?! Pa! Aku anakmu! Bagaimana bisa Papa lebih memikirkan perusahaan

