Laura masih tidak percaya dengan semua yang ia dengar. Rasanya ... masih seperti mimpi. Meskipun perasaannya menyambut baik dengan penuh suka cita, akan tetapi logikanya terus menampik hal itu, sebab semuanya terasa mustahil, benar-benar tidak nyata. Setelah delapan tahun ... penantian cintanya, setelah selama itu ia menunggu ... Akhirnya ... Dafi mencintainya? Dan ... Dafi bahkan mengungkapkan perasaan cinta padanya? Apakah ini nyata? Ataukah hanyalah sebatas bunga tidur yang indah? “Aw!” Laura memekik kecil ketika cubitan yang ia lakukan sendiri terasa perih di pipinya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum menghela napas panjang. “Ternyata bukan mimpi.” “Apanya yang bukan mimpi?” Laura terkesiap, ia menoleh ke arah pintu kamar mandi lalu mengerjapkan mata lagi sera

