Part 2

2253 Kata
Laura menatap sekeliling tempat itu dengan pandangan takjub dari mulai pintu masuk hingga bagian dalam bangunan itu, semuanya tampak begitu menakjubkan di mata Laura. Sebenarnya tempat yang sedang ia kunjungi bukan tempat mewah tapi terasa begitu spesial, hanya sebuah bengkel yang cukup besar dan tertata begitu rapih, tak hanya itu bengkel tersebut terasa sangat bersih, berbeda dari bengkel yang selalu ia kunjungi.   “Akhirnya lo bisa dapet bengkel impian lo Daf?” tanya Laura dengan iris mata yang masih menatap sekeliling tempat itu.   “Hm. Baru setengah tahun ini bisa jalan normal.”   “Gue ikut bahagia lo bisa dapet yang lo mau Daf. Terakhir kali kita ketemu lo cerita lo baru rencanain ini. Tapi sekarang udah gede aja.” Ujar Laura seraya menyunggingkan senyumannya. Ya ... satu tahun yang lalu tepat terakhir kali mereka bertemu, saat itu mereka tanpa sengaja bertemu di sebuah café setelah ia menyelesaikan pertemuan dengan klien dan Dafi ternyata ada di sana, menunggu kekasihnya.   “Belum sampai ke titik puncak impian gue sih Ra, tapi gue bahagia bisa sampai sejauh ini. Thanks ya buat support lo waktu itu.”   Laura terkekeh kecil. “Gue gak lakuin apa-apa lagi Daf. Ini semua usaha lo sendiri.”   “Lo bilang, gue harus bisa menggapai impian gue selagi gue mampu, lo juga bilang gue pasti bisa menggapai mimpi gue. Kalimat itu sederhana, tapi bener-bener ngasih gue motivasi Ra. Selalu jadi alarm buat gue saat gue mau nyerah. Lo aja percaya gue bisa gapai mimpi gue, masa gue nyerah gitu aja kan?” Jelas Dafi.   Mereka memang tak berbicara banyak. Mereka hanya membicarakan tentang kabar dan juga bisnis. Saat itu ... Laura mengatakan hal itu sebenarnya untuk membahagiakan dirinya sendiri, kalimat iru adalah kalimat yang terucap untuk dirinya sendiri juga, meskipun kenyataannya ia tak pernah bisa benar-benar mencapai mimpi yang ia inginkan. Saat itu pula Laura bahkan berjanji akan melakukan investasi di bengkel milik Dafi jika memang Dafi akan membukanya. Tapi sampai saat ini, sampai keadaan bengkel Dafi begitu besar tak ada sedikitpun Dafi menghubunginya. Lelaki itu benar-benar gigih membangun semuanya sendiri, hingga sampai di titik ini. Di titik yang membuatnya merasa begitu bangga. Ya ... ia bangga, melihat orang yang ia cintai sejak lama mampu mencapai mimpinya.   “Oh ya ... Kok lo bisa ada di tempat sepi kayak gitu Ra? Sendirian lagi.”   Laura mengerjapkan mata sesaat sebelum menunduk menatap separuh tubuh Dafi yang kini tengah masuk sebagian ke kolong mobilnya. Memeriksa lebih jauh keadaan mobilnya yang tiba-tiba sakit.   “Rencananya mau pergi keluar kota, tapi ternyata mobilnya mogok.”   “Dinas? Dimana sekretaris lo? Seharusnya lo kan gak sendiri.” ujar lelaki itu lagi.   “Enggak kok, bukan dinas.”   “Terus?”   “Kabur.”   Dafi tiba-tiba muncul, keluar dari bawah mobil, menatap ke arahnya dengan kening mengerut. “Gak salah denger gue? Seorang Laura kabur dari rumah? Anak berbakti dan penurut kayak lo?”   Laura menarik ujung bibirnya sesaat. Tersenyum masam setelah mendengar kalimat dari lelaki itu “Aneh ya? Tapi Daf, bukankah setiap orang berhak memberontak? Atau menurut lo juga sama? Setiap anak harus selalu mengikuti ucapan orangtuanya?”   Laura menunduk, termenung, iris matanya pun hanya mampu menatap ke arah kedua tangannya yang saling bertautan, gugup saat menunggu Dafi memberikan pendapat. Jika Dafi pun memikirkan hal yang sama rasanya ia akan semakin hancur, terlebih Dafi adalah orang yang masih sangat ia cintai dan lagi yang di depan matanya adalah perjodohan yang sangat tidak ia inginkan. Laura menghela nafas panjang, tak berani menatap Dafi yang kini sudah duduk di sampingnya.   “Gue juga manusia Daf, gue rasa gue berhak capek atas semua tuntutan dari mereka. Selama ini ... gue udah berkorban ikutin apapun yang mereka inginkan dengan harapan gue pengen satu aja dari banyak impian gue terkabul. Gue gak muluk-muluk semua impian gue harus tercapai, tapi satu aja ... gue cuma pengen satu hal terkabul dalam hidup gue.” Laura menghela nafas lagi, ia melirik Dafi yang menatapnya sesaat sebelum menunduk kembali menatap jemarinya. “Lo tau gue sejak dulu Daf. Lo juga pasti tau, gue selalu berharap gue bisa lakuin apapun yang gue inginkan. Tapi pada akhirnya gue selalu gak bisa. Termasuk saat ini ... gue mau masa depan gue di tentukan atas pilihan gue sendiri. Tapi kayaknya ujung-ujungnya emang gue ditakdirin terpaksa ikutin ucapan mereka. Pada akhirnya gue cuma wayang, gue cuma punya raga gue tapi gue gak bisa lakuin apapun atas kehendak gue sendiri.”   Dafi merangkul bahunya, menyandarkan kepalanya pada bahu tegap lelaki itu. Dafi tak banyak berbicara, lelaki itu hanya mengelus bahunya yang sudah tersampir jaket kulit milik lelaki itu, lalu sesekali merematnya perlahan, seolah berusaha memberinya kekuatan.   “Ra ... kalo gue bisa bantu lo, lo tinggal bilang aja. Gue pasti bantuin lo terutama jika itu buat wujudin salah satu mimpi lo.”   Laura menegakkan tubuhnya, menatap Dafi yang tengah menatapnya dengan tatapan yang begitu intens. “Daf ... .”   “Gue tau Ra, salah satu impian lo itu pengen rasain hidup bebas kan? Maksud lo pengen nentuin masa depan sendiri itu pasti terkait pasangan kan? Dan lo ... dijodohin? Makanya lo kabur?”   Laura mengangguki setiap pertanyaan Dafi, matanya mengerjap beberapa kali sungguh takjup dengan kepekaan yang lelaki itu miliki. Tapi ... jika memang lelaki itu sangat peka. Mengapa dia tak menyadari bahwa ia begitu mencintainya sejak lama? Mengapa Dafi seolah buta dengan perasaan yang ia miliki?   Mata Laura mengerjap lagi sebelum bertanya pada Dafi. “Daf ... lo tau?”   Dafi mengangguk kecil. “Gue sempet ketemu Alvin, dia cerita banyak hal tentang lo yang mulai di desak buat nikah sama bokap lo. Gue sebenernya gak ngerti kenapa Alvin cerita itu ke gue padahal udah sangat jelas gue gak bisa bantuin lo. Tapi liat keadaan lo sekarang buat gue sadar ... lo emang butuh seseorang Ra ... jadi ... kalo emang lo butuh bantuan gue lo tinggal bilang. Lo bisa bilang apapun ke gue, gue akan berusaha bantu lo sekuat tenaga gue, gue gak mampu pun gue bakalan berusaha mampu buat bantu lo.” Dafi tersenyum padanya dengan tangan kanan yang meremat lembut bahunya. “Lo bahkan udah percaya banget gue bisa gapai impian gue sendiri. Lo ngomong kayak gitu ... itu berarti lo percaya kan sama gue Ra?”   Laura mengangguk.   “Kalo gitu lo bisa percaya sama gue. Lo bisa pegang omongan gue. Gue bisa lakuin apapun buat lo. Gue bakalan bantu lo gapai semua mimpi dan kebebasan yang selama ini lo mau.”   Laura tersenyum penuh haru, tanpa terasa air matanya turun, terasa panas saat membasahi pipinya. Ia tak menduga Dafi akan mengatakan hal itu padanya, mengatakan hal yang begitu menyentuh untuknya. Sungguh ... ia tak pernah bermimpi sedikitpun Dafi akan berkata sejauh ini untuknya.   “Udah jangan nangis, sekarang mendingan lo ikut gue. Mobil lo biar di sini dulu aja besok biar anak buah gue benerin.”   “Kemana?” tanya Laura seraya menyeka air matanya dengan kasar.   “Rumah gue.”   “Rumah atau apartemen?”   Dafi menyeringai, lalu menaik turunkan alisnya. “Emang lo mau tinggal berdua doang di apartemen bareng gue?”   “Sialan! Enggak lah! Gak usah ngadi-ngadi lo!” seru Laura seraya memukul lengan Dafi lalu terkekeh pelan.   “Yaudah kalo gitu ayo. Kita kerumah gue. Sekalian ketemu sama orangtua gue.”   Deg!   “Hah?” Laura tertegun, jantungnya mendadak terpacu dengan cepat ketika mendengar kata orangtua keluar dari mulut Dafi. “Apa Daf?”   Dafi kembali berbalik lalu tergelak. “Kenapa muka lo Ra? Panik bener. Kayak mau ketemu mertua aja.”   “Hah?”   “Atau ... sebenernya lo tertarik jadi menantu orangtua gue?”   Laura mengerjapkan matanya lagi. Secara perlahan wajahnya mulai memanas ketika menyadari arti tersirat dari pertanyaan itu.   Buk!   Laura memukul kecil d**a Dafi kemudian berdiri. Sementara yang di pukul hanya tertawa puas melihat reaksi Laura.   “Berhenti godain gue. Ayo kita kerumah lo!”   “Ketemu mertua lo?”   “DAFIII!!!!!!”   ...   “Bunda sama Ayah pasti udah tidur soalnya udah lewat tengah malem begini.” Ujar Dafi setelah mereka berdua turun dari motor sport milik Dafi.   “Lo yakin gapapa gue ke sini? Entar Bunda lo marah?”   Dafi terkekeh kecil. “Enggak lah ngapain marah? Tenang aja Ra, Bunda baik kok. Lo pasti suka. Gue rasa lo bakalan cocok sama Bunda. Mungkin lo bakalan nyaman juga.” Dafi menyunggingkan senyumannya. Lalu melangkah lebih dulu, meninggalkannya di belakang.   “Kalo pacar lo gimana Daf? Dia pasti marah lo bawa cewek lain ke rumah.”   Dafi kembali berbalik kemudian tersenyum masam. “Gue udah gak punya pacar Ra.”   “Serius lo?”   Dafi mengangguk. “Seribu rius. Udahlah ayo ... di luar dingin.”   Laura mengangguk, dengan cepat ia menyejajarkan langkahnya dengan langkah Dafi yang mulai memasuki rumah tersebut.   Rumah milik keluarga Dafi memang tak sebesar rumah miliknya, tatanan rumah ini pun tampak begitu minimalis tak terlihat mewah seperti keadaan rumahnya. Akan tetapi setiap penjuru rumah ini terasa begitu hangat dan terasa nyaman, bahkan dalam satu kali melihatnya.   Langkahnya kemudian terhenti ketika Dafi berhenti di depan sebuah pintu. “Ini kamar tamu, lo tidur di sini ya sementara waktu. Tenang aja tiap hari di bersihin kok. Bentar gue bawain lo baju ganti ya?”   Dafi menghilang begitu saja di balik pintu kamar lain yang berada tepat di samping pintu kamarnya. Laura hanya diam, kembali mengamati rumah itu sekalipun dalam kondisi minim penerangan. Benar-benar nyaman, berbanding terbalik dengan keadaan rumahnya. Tak lama setelah itu Dafi keluar dari dalam kamar itu dengan membawa satu set piama bercorak kotak-kotak berwarna coklat. “Mandi terus pake ini dulu sementara waktu. Buat besok, entar gue pinjemin baju Bunda biar pas di badan lo.”   Laura mengangguk sebagai jawaban. “Kalo gitu gue masuk ya?”   “Laura. Tunggu.”   Laura berbalik kembali kemudian mendongak menatap Dafi seraya tersenyum. “Hm? Kenapa Daf?”   Dafi mendekat, merapat ke arahnya kemudian mengusak puncak kepalanya sesaat sebelum tersenyum. “Di sini, jangan pikirin apapun. Lo cukup nikmatin tempat ini, nikmatin waktu bebas lo. Good night, sweet dream Laura.”   Laura menahan diri untuk tidak tersenyum, ia menahan pipinya, mengulum bibirnya berusaha untuk tidak tersenyum terlalu lebar. Setelah itu ia mengangguk kemudian memasuki kamar itu. Setelah pintunya tertutup, tangan kanannya terulur memegang bekas usakan Dafi pada puncak kepalanya, setelah itu barulah ia menyunggingkan senyumannya. Tersenyum lebar, penuh kebahagiaan.   Sepertinya ... malam ini ia akan bermimpi indah.   ***   Laura terjaga setelah mencium aroma masakan yang begitu harum dan menggoda perutnya. Matanya mengerjap sesaat lalu melihat jam di ponselnya yang ternyata masih menunjukan waktu pukul lima pagi, ia kemudian bangkit lalu beranjak memasuki kamar mandi sesaat untuk membasuh muka dan menggosok gigi setelah itu ia keluar dari dalam kamar tersebut.   “Eh Non ... sudah bangun?”   Laura mengerjapkan mata ketika melihat sesosok perempuan paruh baya yang tengah memasak di dapur, perempuan paruh baya itu kemudian tersenyum ke arahnya dengan begitu lembut. Dia adalah Andini, ibu kandung Dafi.   “Bu ... selamat pagi. Hm ... jangan memanggil Non Bu. Panggil Laura saja, atau Ara ... seperti panggilan Dafi.” Ucap Laura dengan penuh rasa canggung.   “Baiklah Laura ... kalau begitu Ara bisa panggil Ibu, Bunda. Seperti Dafi memanggil Bunda.”   “Hm?” Laura mengerjapkan mata. “Bu-bunda?”   Perempuan paruh baya itu mengangguk semangat. “Ayo duduk. Bunda akan buatkan segelassusu. Ingin susuputih atau coklat?”   “Bunda ... tidak perlu.”   Perempuan itu menggelengkan kepalanya. “Putih atau coklat?”   “Coklat ... Bunda.”   Perempuan itu terkekeh kecil. “Persis seperti Dafi. Dafi juga selalu meminum s**u coklat. Ara ... kamu tahu? Bunda awalnya tidak percaya saat Dafi mengatakan membawa teman perempuannya ke rumah. Tapi ternyata ... benar dia membawamu. Bunda senang sekali ... akhirnya setelah tiga puluh tahun hidup Dafi, Dafi membawa seseorang kerumah. Mengenalkannya pada kami. Padahal sebelumnya dia tak pernah mengenalkan kekasihnya sama sekali.”   Laura mengerutkan keningnya. Ia perempuan pertama yang dibawa Dafi berkunjung? d**a Laura perlahan menghangat, bibirnya pun tersungging sebuah senyuman lagi, sebuah senyuman penuh kebahagiaan. Entah mengapa saat ini ia merasa begitu spesial, ia adalah perempuan pertama yang dibawa Dafi pada orangtuanya, atau ... mungkin tidak sama sekali? Bisa saja Dafi hanya menganggapnya teman jadi Dafi berani membawanya pulang bukan?   Laura menghela nafas panjang. Emangnya apa yang lo harepin Laura? Di sini lo sendirian yang cinta sama Dafi, Dafi gak pernah anggap lo lebih dari temen. Gak usah kepedean!   “Laura ... ini susunya nak. Diminum ya selagi hangat.”   Laura mengangguk dengan senyuman yang kembali terpatri di wajahnya. “Terimakasih Bunda.”   Tepat ketika Laura menikmati s**u di tangannya, benda pipih yang merupakan ponsel miliknya berdering pertanda sebuah pesan masuk.   ...   Pulang sekarang atau Papa jemput paksa.   ...   Laura termenung, sudah ia duga. Ayahnya pasti akan melakukan hal itu. Ayahnya pasti akan membuat keributan di rumah ini jika ia tak mengikuti keinginannya. Laura mendesah pelan, pasrah. Tepat ketika ia hendak membalas pesan itu, seseorang mengambil ponselnya dari belakang. Ia mendongak hendak memproses, ternyata Dafi yang melakukannya.   “Tidak ada ponsel ketika di meja makan Ra.”   “Daf.”   Dafi menggelengkan kepala seraya menyimpan benda pipih itu di atas nakas, jauh dari jangkauannya, setelahnya lelaki itu berbisik.   “Udah gue bilang. Jangan pikirkan apapun saat ada di sini. Percaya sama gue, semuanya akan baik-baik saja. Gue ada di sini ... di samping lo.”   Laura menghembuskan nafasnya, sesaat kemudian menatap ke arah Dafi lagi yang menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan. Setelah itu ia kembali menghembuskan nafas kemudian mengangguk. Mencoba kembali percaya pada lelaki dihadapannya ini.   Jika Dafi mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tentu yang terjadi akan baik-baik saja bukan?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN