Langkah kaki dari sebuah stiletto yang berbenturan dengan lantai terdengar menggema begitu anggun di sepanjang lorong menuju sebuah private room. Langkahnya terdengar stabil, layaknya model berjalan di atas karpet merah. Pemilik Stiletto itu, Laura Atma Wardana. Seorang perempuan cantik bertubuh tinggi semampai dengan rambut bergelombang sepunggung yang tampak begitu cantik, kulitnya putih bersih, merona dengan bibir tipis merah muda yang menambah kesan cantik dan aura yang terasa begitu karismatik yang terpancar dari perempuan itu.
“Selamat malam.” Sapa Laura seraya membungkuk pada lima orang yang sudah berada di meja itu. Ia tahu siapa yang bersama orangtuanya itu. Mereka adalah salah satu petinggi partai yang sedang berada di puncak karir, lebih tepatnya wakil ketua partai Pembaruan. Ia tebak perempuan di samping kanannya itu adalah istrinya dan lelaki yang berada di samping kirinya adalah puteranya.
“Duduk Laura.” Perintah ayahnya, Darma Cahyo Wardana. “Pak Jaya kenalkan, ini puteri kami satu-satunya. Laura.”
Laura kembali tersenyum pada pasangan orangtua itu, berusaha sesantun yang ia bisa sekalipun perasaannya mulai memburuk.
“Laura ini sudah bekerja di perusahaan kami jadi harap di maklum dia datang agak terlambat. Tadi Laura ada meeting dengan klien dari Jepang.” Ujar ayahnya lagi sementara Laura hanya bisa tersenyum canggung pada pasangan itu.
“Laura kenalkan, ini Pak Jaya dan istrinya. Lalu ini Deon putra Pak Jaya. Papa, Mama dan juga Pak Jaya sudah sepakat, kami akan menjodohkan kalian.”
Laura terjengit, dengan cepat ia mengalihkan pandangan, menatap ke arah orangtuanya, menatap keduanya secara bergantian dengan mata yang melebar tak terima dengan pernyataan sepihak dari orangtuanya.
“Pa. Ma.” Ujar Laura setengah menggeram. Bersiap membantah setiap ucapan sang ayah. Akan tetapi Laura tak bisa mengatakan apapun.
Ketika mulutnya terbuka bersiap mengeluarkan suara lagi, Laura mengatupkan bibirnya kembali ketika sang ibu justru meremat pahanya, tak membiarkannya berbicara. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, ke arah lelaki bernama Deon itu. Ketika lelaki itu membalas tatapannya, ia memberikan tatapan tajam, tatapan penuh kebencian.
.
.
.
“Pa! Kenapa Papa gak bilang kalo Papa mau jodohin Laura kayak gini? Papa gak bisa seenaknya ngatur Laura. Laura sudah besar! Laura bisa memilih pasangan Laura sendiri!” seru Laura begitu ia berhadapan dengan sang ayah di ruang tengah rumah mereka.
“Justru karena kamu sudah besar makanya Papa menjodohkanmu dengan Deon! Umurmu sudah dua puluh sembilan tahun, beberapa bulan lagi kau akan genap tiga puluh tahun! Lalu apa kamu mau terus menerus seperti ini? Kamu gak liat orang lain, teman-teman Papa dan Mama? Mereka bahkan sudah memiliki cucu lebih dari satu. Sahabat kamu contohnya! Alvin bahkan sebentar lagi akan memiliki anak kedua! Tapi kamu? Kamu akan terus seperti ini Laura?”
Kedua tangan Laura mengepal keras. Ia kemudian membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering karena terlalu kesal, setelahnya ia mendengus.
“Pa! nasib setiap orang itu berbeda! Alvin ya Alvin, aku ya aku! Papa tidak bisa bandingin kita seperti ini! Papa tidak bisa mengatur Laura seperti ini! Dan asal Papa tahu! Alvin sudah menikah dan akan memiliki anak kedua Papa pikir karena apa? Karena Alvin menikah dengan orang yang Alvin cintai! Bukan dengan cara perjodohan konyol seperti ini!” balas Laura lagi dengan sangat keras. “Sekalipun aku menikah, jika bukan dengan orang yang kucintai jangan harap Papa mendapatkan cucu! Sampai kapanpun aku tak akan pernah memberikannya!” Lanjut Laura dengan nafas yang mulai memburu.
“Lalu apa maumu? Menikah dengan orang yang kamu cintai Laura? Siapa?! Jika memang kamu punya ... bawa kemari! Bawa lelaki itu kehadapan Papa!” seru sang ayah lagi.
Skak!
Laura tak membalas ucapan sang ayah. Karena ia memang belum memiliki kekasih sama sekali. Ya ... memang, sepanjang hampir tiga puluh tahun usianya ini ia hanya jatuh cinta satu kali dan belum sempat mendapatkan kekasih, sebab orang yang ia cintai kini justru menjalin cinta dengan perempuan lain.
“Lihat! Kamu tidak bisa membalas ucapan Papa kan? karena kamu memang tidak mempunyai siapapun yang kamu cintai! Jika kamu terus seperti ini ... Kamu hanya membuang waktu! Kamu mau dihina orang-orang dikata tidak laku? Ingat Laura! Kamu! Tidak bisa selamanya hidup sendiri! Kamu harus memiliki pasangan! Kami juga ingin cucu!”
Laura menatap ke arah ayahnya dengan nafas yang masih terasa begitu berat. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lagi sebelum membalas ucapan itu dengan begitu tenang.
“Aku bisa memberikan cucu meskipun tanpa menikah!”
“Diam Laura! Hentikan omong kosongmu! Di sini tak ada tempat untukmu membantah apalagi dengan omong kosong seperti itu. Kamu pikir apa yang akan orang lain katakan jika kamu hamil tanpa seorang pasangan? Kamu ingin mencoreng wajahku?” Lelaki paruh baya itu mendengus keras, lalu menatap ke arahnya lagi.
“Saat ini ... Kamu wajib mengikuti ucapanku! Ingat ... dua minggu yang akan datang kamu akan bertunangan dengan Deon. Terima dia. Tidak ada bantahan. Papa tidak ingin ada drama lagi di rumah ini!” Darma bangkit, bersiap beranjak pergi tapi langkahnya terhenti saat mendengar Laura membalas ucapan itu.
“Papa pikir aku tidak tahu kenapa Papa mau menjodohkan aku pada dia?” Tanya Laura dengan tenang, lalu menghadap kearah ayahnya lagi seraya tersenyummasam. “Cucu cuma alasan. Sebenernya Papa mau terjun ke dunia politik kan seperti Om Baskara? Begitu kan?! Papa tidak pernah benar-benar mikirin perasaan Laura dan masa depan Laura! Papa hanya ingin memenuhi ego Papa! Obsesi Papa! Demi gengsi dan demi pengakuan publik!”
Plak!
“Tutup mulutmu!”
Wajah Laura terhempas setelah mendapat tamparan itu, tangan kanannya terangkat memegangi pipi kanannya yang terasa begitu panas akibat dari tamparan itu. Matanya pun mulai memanas, mulai berkabut terhalang oleh air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. Tak lama kemudian ia menatap sang ayah lagi dengan air mata yang mulai mengalir di kedua belah pipinya.
“Terimakasih Pa ... dengan begini aku tahu ... Papa ... tidak pernah benar-benar menyayangiku.” Setelah mengatakan itu Laura melangkah lebar, pergi meninggalkan rumah mewah itu tanpa berbalik lagi. Tanpa berniat melihat sang ibu yang kini tengah memanggilnya dengan suara yang begitu keras.
Hatinya terlampau sakit. Ia sudah terlalu terluka dengan semua perbuatan orangtuanya. Sejak kecil Laura tak pernah diijinkan untuk memilih apapun yang dia inginkan, tak hanya jurusan di sekolah dari sekolah menengah hingga jurusan kuliah, bahkan jenis sepatu, tas, bagaimana cara ia berpakaian dan bergaul pun mereka atur sendiri seolah ia hanya manekin tak berperasaan, mereka mengatur seluruh pilihannya, mereka menyetiri seluruh hidupnya agar tampak sempurna, agar tak ada cacat yang membuat malu. Ia pikir hanya itu yang akan mereka lakukan, ia pikir jika berkaitan dengan pasangan hidupnya ia bisa memilih sendiri seperti yang orang lain lakukan. Tapi nyatanya ... ? hidupnya benar-benar di atur, ia hanya memiliki raga, ia tak pernah benar-benar bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Jadi salahkah kini ia memberontak? Salahkah kali ini ia begitu marah?
Ia hanya manusia biasa, ia pun ingin seperti manusia lainnya, ia ingin pasangan hidupnya ia pilih sendiri. Ia juga ingin merasakan bagaimana indahnya hidup bersama orang yang dicintai. Hanya itu ... hanya hal itu yang ia inginkan.
Tuhan ... Rasanya ... hidup yang aku jalani sekarang sudah cukup buruk, tidak bisakah Engkau mengabulkan mimpiku untuk mendapatkan pasangan yang aku inginkan? Aku sudah menyerahkan seluruh hidupku berdasarkan yang orangtuaku inginkan. Setidaknya ... untuk kali ini ... aku ingin sekali, satu kali dalam hidupku, aku memilih sesuatu yang sangat aku inginkan. Satu kali saja. Apakah masih tidak bisa? Apakah permintaanku ini terlalu berlebihan? Tuhan ... aku mohon. sekali ini saja.
***
Sementara itu di tempat lain seorang lelaki bertubuh tinggi tegap hanya bisa mematung di tempat menatap ke arah satu pasangan yang kini saling memeluk, berciuman dengan begitu intens di salah satu sudut ruangan temaram itu. Kedua tangannya terkepal sempurna, rahangnya pun mengatup tak kalah kerasanya, menahan emosi, menahan amarah yang bersiap meluap, bersiap meletup dari dasar dadanya.
Lelaki itu Dafi, Dafi Rama Wijaya. Lelaki bertubuh tinggi tegap, pemilik wajah tegas dengan kulit tan yang menambah kesan maskulinnya. Ini bukan kali pertama Dafi melihat kekasihnya berselingkuh. Tapi berkali-kali sudah ia menyaksikan perempuan yang sangat ia cintai mengkhianatinya. Katakanlah ia bodoh, ya ... ia memang terlampau bodoh jika sudah berhadapan dengan perempuan itu. Dia selalu berhasil mengelabuinya dengan berbagai dusta yang di bungkus oleh madu yang begitu manis. Tapi kali ini ... ia sudah cukup bersabar. Ia sudah cukup memberi perempuan itu kesempatan. Ia akan mengakhiri semuanya sekarang, tanpa membuang waktu lagi, di tempat ini.
Kaki jenjang itu melangkah dengan begitu tegas, mendekat ke arah pasangan yang masih berciuman dengan cara yang begitu menjijikan dimatanya. Tangan kanannya kemudian terulur menarik paksa perempuan itu hingga bangkit, berbalik ke arahnya.
“D—Daf ... .”
“Aku akan menegaskannya sekarang Angela. Kita putus. Jangan pernah mencariku lagi.” ucap Dafi dengan nada yang begitu tegas dan dalam, terdengar sangat mengancam.
Akan tetapi hal itu seolah tak ada artinya sama sekali bagi perempuan itu. Perempuan bernama Angela itu justru terkekeh kecil lalu tersenyum lebar. “Bagus Dafi, aku memang sudah menunggu untuk itu. Dengar ... di sini ... aku yang mencampakkanmu. Bukan kamu yang mencampakkanku. Pergi dan jangan pernah menemuiku lagi.”
Dafi mengatupkan rahang, ia menatap perempuan dihadapannya ini sesaat lalu menatap lelaki di belakang mantan kekasihnya itu, lelaki yang saat ini tengah tersenyum dengan begitu puasnya. Dafi menarik ujung bibirnya sesaat kemudian beranjak pergi meninggalkan dua orang itu dengan langkah yang begitu lebar.
Bagaimana keadaan hatinya? Sakit? Tentu saja. Satu setengah tahun ia bersama perempuan itu tapi ternyata berakhir dengan pengkhianatan yang kesekian kalinya. Awalnya Ia pikir perempuan itu akan berubah, setelah janji yang perempuan itu katakan. Tapi nyatanya? Tak ada perubahan sama sekali. Satu kali seseorang berkhianat, pengkhianat akan tetap melakukan hal itu lagi, tak akan pernah sembuh.
Di tengah malam gelap gulita Dafi mengendarai motor sport kesayangannya dengan perasaan dongkol yang masih tercokol dalam hatinya. Sesungguhnya ia sudah meyakinkan diri bahwa hubungan mereka tak akan pernah berhasil dan akan berakhir seperti ini, tapi ia tak menduga hal itu akan menjadi kenyataan. Dafi mendengus, sesaat kemudian ia menaikkan kecepatannya melewati jalanan sepi tersebut. Mencoba melepaskan perasaan dongkol dan sakit hati yang masih ia rasakan itu.
Namun saat ia melewati sebuah area yang sangat sepi di tengah hutan ia melihat sebuah mobil berhenti di tengah jalan. Ia pun memelankan laju kendaraannya kemudian menghentikan motornya tepat di samping mobil tersebut.
Dafi terperanjat, terkejut saat melihat pemilik kendaraan tersebut adalah seseorang yang sangat ia kenali. Laura, sahabatnya yang sudah hampir satu tahun ini tidak ia temui. Perempuan itu tampak kebingungan, tangan lentik yang tengah memegang ponsel itu bahkan tampak bergetar, ketakutan.
Tok tok tok!
“Laura!”
“Pergi! Aku akan memberikan apapun asal jangan menggangguku!”
Dafi mengerutkan kening mendengar tanggapan itu seolah ia adalah penjahat, beberapa saat kemudian ia membuka helm full face yang ia kenakan, saat menyadari benda itu masih bertengger di kepalanya. Setelahnya ia mengetuk jendela mobil itu lagi.
“Laura! Ini aku. Dafi!”
“Dafi?!”
***
Laura terkesiap, ia kemudian menoleh dengan cepat menatap ke arah jendela mobilnya lagi, melihat ke arah sosok lelaki asing yang terlihat sangat menakutkan sebelumnya, kini berubah menjadi sosok lelaki yang sangat ia kenali. Dia ... Sahabatnya ... Cinta pertamanya ... Dafi.