Menikahlah, Abikara!
"Menikahlah lagi, Abikara, agar hidupmu tidak membosankan."
"Mau menikah atau tidak sama saja akan membosankan, Ayah."
"Menikahlah lagi, Abikara. Punyalah keturunan agar hidupmu menyenangkan."
"Benar menyenangkan?"
"Sangat!"
"Menikahlah dan punya anak sebelum kami pergi."
Bukan lagi tentang cinta, menikah rupanya bisa disebabkan alasan yang mengharu biru. Ingin ibunya senang. Begitulah pemikiran lelaki berusia tiga puluh lima tahun yang bekerja sebagai dosen jurusan Sastra Indonesia di salah satu universitas negeri ternama. Sudah lama dia sendiri karena suatu hal yang menyesakkan hingga membuat Ibunya khawatir jika sampai akhir nanti akan memilih untuk sendiri. Hingga kemudian banyak yang tidak ingin dirinya sendirian, banyak yang mengusahakan Abikara ada yang menemani.
Sungguh, sendiri bagi beberapa orang termasuk lelaki itu sebenarnya hal menyenangkan. Tapi, rupanya hal itu tidak menyenangkan bagi lingkungannya, entah apa alasannya. Mereka hanya beranggapan bahwa semua yang di dunia ini tetap memerlukan seseorang sampai kesempatan mereka habis. Padahal tidak sepenuhnya demikian. Intinya, mereka tidak mau Abikara sendiri.
Lelaki bernama lengkap Abikara Dewangga itu kini sedang berusaha menyenangkan lingkungannya dengan memenuhi apa yang menjadi ingin maupun senang mereka. Dia bersama Ibu dan Ayahnya mendatangi rumah yang sebenarnya sudah pernah didatangi, tapi kurang lebih dua puluh tahun yang lalu. Tetap terasa asing sebab jangka waktunya lama. Abikara tidak akan sendiri lagi setelah ini.
Sebenarnya, untuk apa mereka datang? Untuk masa depan.
Begitulah singkatnya. Dan memang benar bahwa semua untuk masa depan. Tidak tahu apakah hal itu nantinya akan merenggut hal sebelumnya atau hanya akan mencipta hal baru yang entah berkenan atau sebaliknya.
Mereka bertiga telah menghadap pemilik sekaligus penghuni rumah kecil nan nyaman itu yakni Pak Bagas dan Bu Kusuma. Ah, sebenarnya tidak kecil bila ditelisik lebih jauh lagi. Mereka diberi suguhan beberapa makanan yang baru dikeluarkan dari kulkas karena terlihat jelas. Makanan seadanya, sebab tidak ada pemberitahuan sama sekali sebelumnya. Tapi, itu juga sudah lebih dari cukup untuk menjamu tamu.
Semua yang di sana masih berdiam diri membiarkan masing-masing di antara mereka bersiap untuk mengobrol, di mana obrolannya nanti sudah dipastikan akan panjang. Suasananya benar-benar tenang, meski sebenarnya terbilang canggung. Maklum, sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Masih mengingat wajah satu sama lain saja masih untung.
"Sepertinya saya memang sudah lama tidak kemari. Sudah banyak yang berubah, semakin memberi kesan estetik dan nyaman," celetuk Pak Dibyo selaku Ayah dari Abikara. Beliau memulai obrolan setelah teh hangat tersaji di atas meja bulat, tepat di samping beberapa makanan yang terlihat masih dingin tadi yang disajikan di atas piring cantik.
"Ya, sudah hampir dua puluh tahun. Saat Sandykala lahir, sekarang dia sudah kuliah semester empat." Pak Bagas diiringi dengan tawa kecil untuk mengubah suasana sepi meski di luar sedang terdengar suara rintik hujan. Dia ingat sekali kapan rekannya itu terakhir kali datang, rupanya benar-benar sudah lama.
"Ngomong-ngomong, di mana anak kalian? Sepi sekali rumahnya?" Kini giliran Bu Ratih yang bersuara. Bu Ratih itu Ibu Abikara. Cantik sekali dia malam itu, sedang memakai blouse hitam dengan kulot panjang berwarna biru tua.
"Kalau yang kedua sudah tidur. Biasa, habis minum obat. Kalau yang pertama belum pulang. Entah, tadi pamitnya mau nonton film," jawab Bu Kusuma. Perempuan itu juga cantik memakai baju santai dengan rambut yang tetap terlihat rapi. Tidak tahu jika akan kedatangan tamu spesial malam itu, kalau tahu pasti akan tampil jauh lebih cantik.
Orang tua itu mengobrol sembari melepas rindu. Banyak sekali hal yang ingin diketahui satu sama lainnya. Sementara Abikara sedang asyik menelisik ruangan tamu itu yang memang nyaman. Banyak hiasan dinding klasik yang sesuai peletakannya. Dan yang terpikirkan oleh dosen tersebut adalah sebuah foto keluarga di mana dia ingin tahu siapa saja yang menghuni rumah tersebut.
Sama sekali tidak ada foto keluarga, atau foto penghuninya satu per satu. Tapi, hal itu tidak terlalu dipedulikan oleh Abikara. Mungkin keluarga ini memang mengusung tema klasik tanpa memperlihatkan foto keluarga mereka. Mungkin juga ingin terlihat berbeda dari keluarga lain yang justru memamerkan foto keluarga di sepanjang dinding ruangan manapun. Entah, lah. Abikara tidak mau mencari tahu lagi sebab dia yakin cepat atau lambat dirinya juga akan tahu.
"Anakmu ini kerjanya apa? Ini anak keduamu, kan? Kok yang pertama tidak diajak?" Pak Bagas menatap Abikara yang tadinya asyik menatap ruangan kini langsung mengalihkan pandangannya dan memberi senyum tipis. Pak Bagas hampir lupa kalau ada Abikara juga di sana karena terlalu asyik mengobrol dengan Pak Dibyo dan Bu Ratih.
"Dosen. Dia dosen salah satu kampus negeri di Semarang, sudah lama sekali. Dua anak saya dosen semua, mengikuti jejak saya. Kalau yang pertama itu sudah sibuk sekali mengurus keluarganya," jawab Pak Dibyo dengan kesan bangga. Tentu saja bangga sebab dua anaknya telah berhasil.
Jawaban dari Pak Dibyo itu sempat membuat terkejut Pak Bagas dan Bu Kusuma hingga mereka saling pandang. Lalu, Bu Kusuma berkata, "Kala, anak saya itu juga kuliah di salah satu kampus negeri di Semarang. Sekarang dia sudah semester empat. Jurusan Sastra Indonesia. Kalau Abikara mengajar jurusan apa?"
"Loh! Abikara mengajar jurusan Sastra Indonesia. Mungkin anakku mengajar anak kalian. Iya, kan, Bi?" Bu Ratih menepuk paha Abikara untuk memastikan.
Semua yang di sana tentu saja terkejut akan kebetulan yang ada. Jauh lebih terkejut lagi dengan Abikara sendiri yang sedari awal sudah tahu akan menikahi anak di rumah itu yang kemungkinan adalah mahasiswinya sendiri. Benar, mereka datang untuk memperbincangkan pernikahan, Abikara akan menikah hingga tidak sendiri lagi.
Tapi, Abikara tidak begitu yakin sebab di Semarang tidak hanya kampusnya saja yang merupakan perguruan tinggi negeri yang ada jurusan Sastra Indonesia. Bisa saja yang akan menikah dengannya itu nanti tidak satu kampus dengannya.
"Saya mengajar di Universitas D, apa dia kuliah di sana juga? Siapa namanya? Mungkin, iya. Saat ini saya juga sedang mengampu anak semester empat di mata kuliah Pengkajian Puisi."
Abikara hendak membuka ponselnya untuk melihat daftar mahasiswa yang diampunya di semester genap tahun ini, khususnya pada semester empat untuk memudahkan. Dia berharap yang sedang diperbincangkan itu bukan mahasiswi yang diampunya.
"Iya, dia di Universitas D, namanya Sandykala. Sandykala Anjali." Bu Kusuma memberitahu sekaligus memberi penegasan untuk memudahkan Abikara mencari tahu. Dan hal itu membuat Abikara berhenti mengotak-atik ponselnya karena ada celah keingintahuannya.
"Pandemi ini memang membuat semuanya menyedihkan. Mahasiswa tidak tahu siapa dosennya meskipun semesternya terus dilalui, sementara dosen juga tidak tahu siapa saja mahasiswanya," ucap Pak Bagas menimpali pembicaraan, yang dikatakan disesuaikan dengan kondisi yang ada saat itu.
"Benar sekali, Pak Bagas. Tidak tahu sampai kapan pandemi ini selesai. Tapi, sepertinya untuk semester depan ini sekolah dan kampus sudah diperbolehkan belajar tatap muka," ujar Pak Dibyo menanggapi perkataan Pak Bagas yang sangat sesuai dengan kondisi yang ada.
Kembali dengan Abikara yang terhenyak saat dirinya ingat bahwa salah satu mahasiswinya ada yang memiliki nama itu. Bahkan tidak hanya diajarnya ketika semester empat, melainkan sempat diajar pula di semester sebelum-sebelumnya meski hanya beberapa mata kuliah. Anak itu juga sudah beberapa kali menonjol sebab sering bertanya ketika kelasnya Abikara. Wah, rupanya benar-benar mahasiswinya sendiri.
Suara klakson motor terdengar beberapa kali dari luar dan sempat tidak dihiraukan karena dianggap orang iseng saja. Suara tersebut cukup lama terdengar, hingga akhirnya salah satu di antara gerombolan manusia yang berada di ruang tamu itu sadar akan sesuatu. Ya, mobilnya tadi terparkir sembarangan sebab tidak ada tempat lain karena garasi penuh dan jalanan sekitar juga dipenuhi mobil lain yang parkir. Pasti pemilik motor yang menyalakan klakson itu ada hubungannya dengan parkir sembarangan.
"Mobil siapa ngalangin pager rumah orang! Buruan pindah!"
Teriakan perempuan itu sampai terdengar di ruang tamu, benar kiranya kalau berhubungan dengan mobilnya Abikara yang parkir sembarangan. Sementara Abikara baru saja sampai di teras rumah dan mencari sandalnya sebelum mengubah posisi parkir mobilnya.
Perempuan yang kesal dan menyalakan klakson berkali-kali itu bernama Sandykala. Begitulah orangnya jika ada orang lain yang kebetulan mengusik dirinya. Dia akan kesal sekali.
Sudah tidak sabar lagi, tubuh yang basah kuyup karena hujan itu segera memarkirkan motornya di sembarang tempat pula. Dilepas helmnya dan kunci motor diambil. Dia masuk melewati celah pagar yang sempit sebab terhalang dengan mobil hitam. Dilemparkan kunci motornya tepat mengenai d**a lelaki yang dipahaminya sebagai pemilik mobil menyebalkan itu dan tamu di rumahnya. Dia yang lelah dan kesal melenggang begitu saja tanpa tahu bahwa lelaki yang baru saja berpapasan dan dilempari kunci motor itu adalah dosennya sendiri.
"Sialan! Parkir aja nggak becus! Nyusahin!" Begitu katanya ketika melemparkan kunci motor tadi.
Kunci motornya memang tidak sampai jatuh sebab Abikara dengan sigap menangkapnya dengan kedua tangan. Abikara sendiri kurang paham kenapa dilempari kunci motor. Tak berselang lama, dia kemudian masuk ke mobilnya dan segera memarkirkan ke tempat semestinya setelah mobil-mobil tadi hilang. Dia kemudian ingin masuk ke rumah kembali, namun langkahnya terhenti setelah melihat motor terparkir di luar rumah karena tidak bisa masuk tadinya.
Barulah Abikara paham maksud lemparan kunci perempuan berusia kisaran dua puluh tahun itu yang tidak menyadari siapa Abikara sebenarnya. Benar, Abikara diminta untuk bertanggungjawab dengan membawa motor itu ke garasi rumah. Dia sebenarnya enggan, tapi dirinya juga menyadari bahwa harus bertanggungjawab. Coba saja perempuan tadi memintanya dengan baik, pasti Abikara tidak akan mengoceh ketika memasukkan motor itu ke garasi.
"Sialan! Begitu calon istriku?"
Abikara bergumam. Ya, perempuan yang tadi akan segera dinikahinya. Entah dari sisi perempuan itu sudah tahu atau belum. Tapi, yang jelas, Abikara tidak hanya terkejut dengan tingkah perempuan itu, namun juga terkejut kedudukan perempuan itu di dunianya seperti apa. Dosen akan menikahi mahasiswinya sendiri? Ah, yang benar!
Lelaki itu menggerutu. Cukup lama dia berada di teras rumah. Dia duduk lesehan sembari membayangkan apa jadinya jika dia benar-benar menikahi mahasiswinya sendiri. Sepertinya dunia akan sangat berbeda jika hal itu terjadi. Bukan berbeda karena lebih baik, tapi justru sebaliknya.
Beberapa saat kemudian Abikara kembali. Dia tidak mendapati perempuan yang tadi tidak sopan padanya. Padahal ingin sekali memberi balasan.
"Anakmu cantik sekali tadi," seru Bu Ratih. Dia sempat melihat Kala sekilas sebelum masuk ke kamarnya.
"Ah, terima kasih. Maaf, kalau terkesan agak tidak sopan tadi. Dia sebenarnya anak baik. Dia mau ganti pakaian dulu, maklum habis dari luar," sahut Pak Bagas. Dia merasa tidak enak karena anaknya tadi tidak menyapa tamu terlebih dahulu.
Sedang Abikara hanya diam sembari membatin. Apa yang dikatakan Pak Bagas itu sebenarnya tidak benar sebab Abikara tahu bahwa perempuan tadi memang tidak sopan. Tentu tidak sopan sebab main melempari sesuatu kepada orang.
Benar kiranya bahwa sebenarnya menilai seseorang harus didasari beragam faktor. Tapi, Abikara terlalu cepat menilai perempuan tadi seperti apa. Dan agaknya dia akan kesulitan untuk menganggap bahwa perempuan tadi tidak seperti perlakuannya yang menyebalkan, melainkan baik sepenuhnya.
Entahlah, sekarang Abikara hanya ingin melihat perempuan tadi. Dia ingin tahu bagaimana reaksinya setelah mengetahui bahwa yang dilempari kunci tadi adalah dosennya sendiri. Abikara sendiri yakin bahwa perempuan tadi tahu siapa dirinya sebab ketika kelas, Abikara selalu menyalakan kamera supaya anak didiknya mengena dirinya sekalipun kondisi yang ada memprihatinkan.
Ya, tunggu saja. Pasti perempuan tadi terkejut dan langsung mati-matian berusaha meminta maaf padanya. Ah, sudah tidak sabar Abikara menanti hal itu. Ia lebih tidak sabar lagi merencanakan yang harusnya dilakukan untuk membalas perbuatan. Salah siapa tadi tidak sopan dan membuatnya kesal juga.