Chapter 1
Carlita Valensi, gadis itu melangkah dengan santainya di koridor kelas yang sudah mulai sibuk dengan kegiatan belajar mengajar. Gadis berambut panjang dengan warna tosca di ujungnya itu tetap terlihat cantik meskipun keadaannya sedikit acak acakan, dapat dilihat dari bajunya yang dikeluarkan dari tempatnya kancing baju yang sengaja ia buka sedikit rendah dan wajah yang hanya dipoles liptint dan bedak tipis itu.
Mungkin tidak banyak yang tau bahwa seorang Carlita Valensi adalah anak dari pemilik sekolah yang sekarang mereka tempati, meskipun begitu ia tidak terlalu peduli dengan hal itu.
"Berhenti."
Suara bariton itu membuat langkah gadis itu terhenti, Valen memutar tubuhnya dengan santai. Valen tersenyum miring melihat pria dengan tampilan yang lumayan rapi dan wajah yang dapat di katakan tampan.
"Jam berapa ini ha? Kenapa kamu masih santai di luar kelas."
Valen tidak menggubris ucapan pria yang ia ketahui bernama Devano Jhonatan itu, bagaimana ia bisa tau? Karena Devan adalah pamannya sendiri atau lebih tepatnya adik dari ayahnya sendiri.
"Well, lupa denganku uncle?."
Tanya Valen dengan langkah demi langkah mendekati Devan.
Devan menatap Valen dengan datar, ia sudah tau bahwa yang ada di hadapannya saat ini adalah keponakannya yang nakal.
"Do you miss me uncle?."
Valen meraba d**a bidang Devan dengan lembut dan menggoda, sudah biasa bagi Valen menghadapi sikap sok dingin dan cueknya Devan yang ia yakini tengah menahan sesuatu dengan Valen.
"Jaga sikapmu Carl."
"Ups apa Carl? Apa itu panggilan sayang untukku?."
Tanya Valen dengan sexy, Devan menepis tangan Valen yang masih bertengger di d**a bidangnya itu.
"Oh may gosh! Uncle menyakiti tanganku."
Valen mendramatis dengan meniup niup tangannya yang baru saja ditepis oleh Devan.
"Kembali ke kelasmu."
Ucap Devan dingin, Valen menaikkan salah satu alisnya.
"Antar aku uncle, kumohon."
Rengeknya dengan memeluk lengan Devan.
"Carl, tolong lepaskan."
Valen tersenyum tipis, ia tau Devan sedang menahan dirinya.
"Apakah hanya dengan dekat denganku membuat yang dibawah sana mengeras huh?."
Wajah Devan memerah padam, bagaimana keponakannya itu bisa mengucapkan sesuatu yang sangat sensitiv bagi seorang pria.
"Carl jaga mulutmu."
Valen terkekeh pelan, ia sangat suka menggoda pamannya itu.
"Mungkin dengan satu ciuman di sini dapat membuat mulutku diam."
Ucap Valen sambil menunjuk bibir sexynya itu, Devan sengaja tidak menggubris gadis nakal di sampingnya itu bukan tanpa alasan ia melakukan itu.
"Biar ku antarkan dirimu gadis nakal."
Valen tersenyum penuh kemenangan.
"Ah aku makin menyukaimu uncle."
"Simpan omong kosongmu Carl."
Desis Devan kesal.
❄❄❄❄
"Permisi."
Suara baritone yang begitu familiar membuat seluruh pasang mata yang berada di dalam ruangan menatap ke arah sumber suara itu.
"Ah iya ada apa pak Devan."
Valen mendesisi sebal melihat guru wanita yang begitu terlihat genit di hadapan Devan.
"Saya hanya mengantar anak baru ini."
Ucap Devan sambil mempersilahka gadis nakalnya itu masuk.
"Oh baiklah Pak, silahkan masuk.....
" Valen." ucap Devan memberitahu nama keponakannya.
"Baiklah silahkan masuk Valen."
Sambung guru itu dengan ramah.
"Masuk."
Bisik Devan tepat di telinga gadis itu, Valen menyeringai nakal bukannya masuk ia malah berbalik berhadapan dengan Devan.
"Tunggu aku uncle, aku akan ke ruanganmu nanti untuk....
Valen menggantung ucapannya.
"Memanaskan ruanganmu."
Lanjutnya sambil terkekeh.
"Dasar gadis nakal."
Dengus Devan kesal.
"Saya permisi Buk Sintha."
Valen beralih menatap guru yang disebut sebagai Sintha itu, tersirat wajah menelisik di sana saat melihat kedekatan Valen dengan Devan.
"Iya Pak Devan silahkan."
Ucapnya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin, Valen memutar bola matanya malas dia hampir saja muntah gara gara melihat wanita itu seakan akan mencari perhatian Devannya.
Setelah kepergian Devan, Valen melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas yang seluruh penghuninya menatap ke arah dirinya.
"Perkenalkan dirimu."
Ucap guru itu sinis.
"Eh ada apa dengan dirimu Mrs? Bukankah tadi kau bersikap sangat ramah?."
Mungkin semua murid di sini tidak mengetahui sikap Valen yang sesungguhnya, Sintha menatap mata Valen tajam mengisyaratkan ketidaksukaannya dengan sikap Valen.
"Apa? Aku tidak salah kan?."
Valen tidak merasa takut sama sekali dengan Sintha, karena menurutnya wanita model seperti itu bukanlah tandingannya.
"Okey namaku Carlita Valensi, dari London. Ada pertanyaan?."
Ucap Valen memperkenalkan diri.
Kelas mendadak hening untuk seperkian detik.
"Baiklah baiklah kurasa tidak ada, terimakasih atas waktunya."
Valen mulai menjelajah mencari dimana ada kursi kosong, setelah mendapatkan tempat duduk ia langsung mendudukan b****g sexynya mencari kenyamanan di atas kursi.
"Baiklah kita lanjutkan pelajaran kita."
Bukannya membuka buku Valen malah mengambil ponselnya dan mem buka apk chatingnya.
❄❄