bc

Terjebak Ranjang Panas Sebelum Menikah

book_age18+
202
IKUTI
2.9K
BACA
HE
friends to lovers
stepfather
blue collar
bxg
musclebear
like
intro-logo
Uraian

Seminggu sebelum menikah, Vana Mulya Jayadi harus mengalami kejadian yang akan menjungkirbalikkan hidupnya. Hubungannya dengan Angga Pratama--calon suaminya-- harus kandas, tepat di hari pernikahan mereka. Vana diancam oleh Sean Grahadi--CEO tempatnya bekerja-- akan menyebarkan video mereka yang tengah berhubungan badan. Akhirnya, pernikahan Angga dan Vana gagal, dan digantikan dengan pernikahan tanpa cinta--Sean dan Vana.

Lantas, sanggupkah Vana mencintai Sean yang jelas-jelas sangat membenci suaminya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Seminggu Sebelum Menikah
"Tolong sentuh aku, Mas!" "Gak, Vana. Ini gak boleh! Ini aku, Sean!" "Tapi, aku kepanasan. Kamu harus membantuku untuk meredakannya!" Vana tidak peduli. Dia terus merangsek maju, mencium bibir Sean paksa hingga membuat pria di bawahnya tak kuasa melawan lagi. *** Hari ini, Vana sudah janjian dengan Angga–calon suaminya– untuk bertemu di cafe. Dengan langkah riang, dia keluar dari ruang lift menuju lobi. Namun, langkahnya terhenti saat ponsel di dalam tasnya berdering. Ini si bos mau ngapain lagi, sih? Gak bisa banget apa lihat gue seneng bentar,” dumel Vana, tetapi dia tak bisa mengabaikan begitu saja pesan dari atasannya. Sean: Tolong kamu masuk ke ruangan saya dan ambil berkas milik Perusahaan Wirasesa, lalu antar ke apartemen saya sekarang juga! Soalnya, saya harus membaca ulang berkas tersebut. Vana terlihat kesal setelah membaca pesan itu, rencana kencan dengan Angga sepertinya akan terancam gagal karena ulah Sean. Sial. Meski jengkel, Vana tetap mengiyakan perintah bosnya. Gadis itu membalas singkat, lalu mengembuskan napasnya yang terasa berat. “Kalau gak ingat kerja di sana gajinya gede, gue bakalan resign dari dulu. Argh … sial!”Vana tampak menghentakkan kaki dengan kesal lantaran punya bos seperti Sean. Dengan perasaan yang dongkol, Vana kembali lagi ke lantai atas. Lantai di mana dia bekerja sebagai sekretaris dari seorang Sean Grahadi, CEO Grahadi Group. Kini, tujuan Vana adalah apartemen bosnya, bukan cafe calon suaminya. Dia sebenarnya ingin menghubungi Angga dan memberitahu jika akan terlambat datang ke cafe. Namun, batre ponselnya mendadak habis, alhasil dia hanya bisa pasrah. Berdoa semoga calon suaminya tidak ngambek. Sesampainya di apartemen Sean, Vana langsung naik lift menuju lantai atas. Dia beberapa kali datang ke tempat tinggal sang atasan, tetapi hanya sekadar menjemput, atau mengantar sang CEO jika memang diperlukan. Jadi, security sudah paham wajahnya. Dia bisa melenggang dengan santai di apartemen mewah itu. “Ganteng-ganteng kok nyebelin. Pantes aja masih bujang. Kelakuan aja kayak kucing garong. Gimana mau punya cewek, kalau kerjaannya cuma nyusahin karyawannya aja,” gerutu Vana ketika berada di dalam lift. Kakinya terus mengetuk-ngetuk lantai dengan tak sabar. Menunggu hingga angka itu berubah di tempat yang akan dituju. Sesampainya di lantai 14, Vana berjalan dengan kaki dihentakkan. Menggerutu sepanjang jalan hingga kini dirinya sudah berada tepat di hadapan pintu kamar 1404, tempat tinggal Sean Grahadi. “Udah, gak usah kebanyakan ngoceh, Van. Mending buruan anter itu berkas, habis itu pulang, dan menemui pujaan hati lo itu,” bisik Vana, tersenyum sumringah. Karena membayangkan akan bertemu dengan calon suaminya nanti. Sambil menunggu pintu itu terbuka, Vana memainkan kuku jarinya yang sudah terlihat memanjang. Bibirnya mengerucut lucu karena risih, dan tepat saat itu juga pintu di depannya terbuka lebar. Vana terkesiap saat melihat pemandangan yang sangat mengguncang iman. Sean hanya mengenakan handuk yang melilit di sekitaran pinggangnya saja. Tubuh bagian atas pria itu terpampang nyata di mana titik air masih membasahi kulitnya yang putih, lalu perut sixpack yang sangat sempurna hingga membuat jiwa Vana menjerit. “Eh!” Vana tersadar. Dia melengos sambil melangkah mundur agar tidak terlalu dekat dengan Sean. “Kamu kenapa, Van?” Suara Sean langsung menyapa gendang telinga Vana. “Masuk! Oh, iya, maaf! Aku baru selesai mandi setelah berolahraga. Jadi, maaf, kalau belum berpakaian.” Vana mempoutkan bibirnya. Dalam hatinya berkata, “niat banget itu orang bikin gue mupeng. Tapi, sorry berry strawberry! Gue udah punya Angga yang jauh lebih keren dari Lo!” Akan tetapi, Vana tetap bersikap profesional dengan mengulas senyum. Dia lalu menyerahkan berkas itu ke Sean dengan mata tetap melihat ke arah kening sang atasan. “Maaf, Pak. Saya cuma mau nganter ini saja. Jadi, saya permi–” “Mau ke mana kamu?” Kening Vana mengernyit. Dia memberikan senyum simpul, walau hatinya mengumpat. “Saya masih ada janji dengan cal–” “Tapi, saya butuh kamu buat menjelaskan tentang berkas milik Tuan Wirasesa, Vana!” potong Sean cepat. Vana mengumpat. “Vana. Saya tau kamu juga pasti ada rencana, tapi perusahaan juga butuh kamu. Jadi, jika semakin lama kamu diam, maka semakin lama pula kamu terjebak di apartemen saya.” Sean berkata tentang keprofesionalan dari seorang karyawan untuk perusahaannya, dan itu jelas pemaksaan. Vana tidak suka. “Baiklah.” Akhirnya, dia pun mengiakan. Dengan berat hati Vana masuk ke apartemen luas dan rapi milik bosnya. Ketika pertama kali menginjakkan kakinya di situ, Vana dibuat terpukau dengan desain dan interior milik bosnya. Sangat nyaman, berbeda dengan rumahnya yang bising dengan teriakan kedua adik lelakinya. “Duduk dulu, Van. Kamu mau minum apa? Teh atau kopi? Biar aku ambilkan?” Tawaran itu terdengar menggiurkan, apalagi tenggorokan Vana sudah kering karena tadi lupa minum. “Air putih saja, Pak,” balas kikuk. Risih sebenarnya melihat seorang lelaki berkeliaran hanya mengenakan handuk, apalagi tubuh atletisnya itu selalu membuat Vana terusik. Dilihat dosa, tidak dipandang mubasir. Beruntung imannya begitu kuat sehingga tidak tergoda untuk mengelus-elus roti sobeknya itu. “Ingat, Van! Calon suami lo itu Angga, dan seminggu lagi kalian menikah. Jadi, jaga hati dan mata kamu itu!” Vana memperingati dirinya sendiri. “Silakan diminum, Van.” “Oh, iya. Makasih, Pak.” Bersyukur Sean kembali datang sudah dalam keadaan berpakaian. Kaos dan celana panjang terlihat santai, sangat berbeda dengan penampilannya yang selalu memakai pakaian formal. Pria itu terlihat manusiawi sekarang, tidak kaku seperti biasanya. Vana yang haus segera meneguk minuman yang diberikan Sean hingga habis. Jus jeruk begitu menyegarkan tenggorokannya yang sudah kering. Dengan sedikit tak enak, dia menaruh gelas tersebut di meja. “Maaf, Pak. Haus soalnya. Padahal, tadi saya minta air putih loh, Pak. Kok, dikasihnya jus jeruk.” Dia tahu hanya basa-basi, tetapi setidaknya dia tetap harus menjaga sopan santun. Pria itu hanya tersenyum kecil. “Kalau kamu mau, bisa ambil sendiri di kulkas, Van.” Tangan Sean Menunjuk ke bagian dalam, arah dapur tepatnya. Tawaran yang begitu menggiurkan, tetapi Vana tidak sekurang ajar itu untuk berkeliaran di rumah bosnya. “Tidak perlu, Pak. Itu saja sudah cukup. Jadi, bagian mana yang perlu saya jelaskan, Pak?” tanyanya to the point. Dia tak ingin berlama-lama berada satu ruangan dengan bosnya. Pikiran Vana sekarang adalah cepat-cepat menyelesaikan tugasnya, lalu menemui Angga. “Bisa kamu jelaskan maksud dari tujuan Pak Wirasesa meminta kita untuk–” Vana memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berputar. Dia bahkan tak lagi bisa fokus mendengar ucapan Sean. Keningnya mengernyit, tubuhnya tiba-tiba terasa panas dingin, keringat mulai bercucuran. Tanpa sadar, dia mulai membuka dua kancing teratas kemejanya. Mengipasi dirinya sendiri dengan kertas yang dipegangnya. “Kamu kenapa, Vana?” Vana berjengit saat tangan pria itu menyentuh lengannya. Seperti ada sengatan yang membuat sesuatu di dalam tubuhnya menginginkan tangan itu menyentuh bagian yang lain. “Eng-gak tau, Pak. S-saya cuma ngerasa gerah aja,” balasnya dengan suara yang sangat aneh. Dia ngeri mendengar desahan yang keluar dari mulutnya tadi. “Mungkin kamu butuh ke toilet, Vana?” Vana mengangguk. Dia yang dibantu oleh Sean menuju toilet merasa semakin merinding. Tubuhnya benar-benar aneh dan rasanya semakin tidak karuan, apalagi saat tangan pria itu tak lagi memeluk bahunya. “Masuklah! Biar aku tunggu di depan,” kata pria itu, tepat di telinga Vana. “T-tunggu dulu!” Vana menarik lengan Sean, lalu memeluk pria itu. Menyamankan dirinya yang merasa butuh belaian. Pelukannya dipaksa lepas oleh Sean. Dirinya merasa hampa, apalagi saat Sean berusaha menjauh darinya. Dia tidak suka dengan perasaan ini. Dia butuh Angga, dia butuh calon suaminya untuk menenangkan perasaan aneh itu. Namun, faktanya Angga sedang jauh dan hanya Seanlah yang ada di sana. “Apa-apaan kamu, Vana? Sadar, aku ini bos kamu!” Seruan penolakan tersebut terlontar dari pria di depannya. “T-tolong aku!” Vana yang sudah tak tahan kembali mendekap atasannya itu. Memaksa pria itu untuk memeluknya. Namun, ternyata dirinya tak merasa puas, dia lalu mulai mencium, bahkan melepaskan pakaian Sean satu persatu dan mendorongnya menuju atas ranjang. Vana mengeluarkan suara laknat itu lagi saat merasakan sentuhan-sentuhan yang membuatnya ketagihan. Dia benar-benar tidak tahu kenapa dia begitu panas dan b*******h. Yang dia butuhkan sekarang adalah pelepasan sehingga dia terus bergerak begitu agresif di atas tubuh Sean. Sampai akhirnya dia bisa merasakan kehangatan itu di dalam tubuhnya. Vana ambruk tepat di atas tubuh Sean, lalu terlelap karena kelelahan. “Selamat malam, Angga,” gumamnya sebelum gelap menguasainya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.0K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook