Bab 10. Gara-Gara Metik Mangga

1421 Kata
Sepulang dari rumah ibu, Vana harus dihadapkan dengan mertua yang selalu berusaha mendekatkan dirinya dengan anaknya, Sean Grahadi. Dia dan Sean bahkan disuruh untuk memetik buah mangga di kebun. Katanya, Lusi ingin membuat asinan mangga. Ada-ada saja. “Sepertinya aku banyak memiliki dosa di masa lampau. Tapi, tapi gak gini juga kali,” dumel Vana dalam hati, ingin menangis. “Sebaiknya kamu di dalam saja sama mami, biar aku yang petik buah mangganya,” kata seseorang di belakang tubuh Vana, pria itu adalah Sean. “Astaga!” Vana memegang bagian dadanya sambil mendelik, kaget karena tidak menyadari langkah Sean. “Yakh! Apa kau gila? Kau sengaja bukan mengagetkanku?!” tuduhnya sengit. “Maaf, Vana!” Sean menggaruk belakang kepalanya salah tingkah. “Aku gak bermaksud. Sumpah!” Vana mendengkus, “Alasan!” Dia lalu berjalan dengan kaki dihentakkan menuju jalan setapak yang terbuat dari bebatuan. Sementara di kanan dan kiri ditumbuhi rumput gajah mini yang sangat menyejukkan mata. Sambil berjalan, Vana terus menggerutu. Dia bahkan tak sekalipun mau menunggu Sean untuk berjalan bersisian. Dia masih kesal karena Sean mengagetkannya tadi. “Sayang ki–” “Sayang?” Mendengar panggilan sayang dari mulut Sean, Vana langsung berbalik. Memelototi pria itu galak. Lalu, sambil berkacak pinggang dia mengomel, “jangan panggil aku kayak gitu! Aku gak suka. Karena aku bukan kekasihmu, ataupun milikmu. Camkan itu!” Sean mengangguk patuh. Dia terlihat seperti anak kecil yang baru saja dimarahi oleh gurunya, dan hanya manggut-manggut saja. Sekarang, justru Vana yang terlihat seperti monster jahat, padahal yang salah selama ini adalah Sean. Jika saja Sean tak menaruh obat itu mungkin keadaan mereka masih baik-baik saja. Masih menjadi atasan dan bawahan tanpa perlu bersitegang setiap hari, ataupun dia yang mencoba membangun tembok tinggi agar seorang Sean tak akan bisa merobohkannya. Sekali benci, akan selamanya benci. Itu janji Vana pada dirinya sendiri. “Eh, kamu mau apa, Van?” Sean menghentikannya kakinya yang sudah hampir naik ke atas pohon yang tingginya tidak lebih dari 7 meter. “Apa lagi?” tanya Vana bosan. Jangan kira dia perempuan lemah yang bisanya hanya kerja di depan komputer, tapi dia juga jago dalam hal memanjat pohon. “Biar aku saja, Van, yang naik.” Sean mencoba membujuk. Vana mendengkus, “menyusahkan!” Dia lalu menepuk-nepuk tangannya yang kotor, kemudian berjalan mundur untuk mempersilakan Sean naik ke pohon. “Kalau sampai dalam 5 menit gak ada buah yang kamu petik, tandanya kamu itu lelaki lemah.” “Aku akan buktikan jika aku ini juga lelaki sejati dan bertanggung jawab, Vana,” tuturnya dengan yakin. Vana sendiri hanya mencibir sambil mengikuti setiap perkataan Sean tadi. Kini, dia berdiri, berkacak pinggang layaknya bos yang sedang melihat anak buahnya bekerja. Vana semakin yakin jika Sean hanyalah anak manja yang tidak bisa melakukan hal apa pun selain jadi bos, apalagi saat melihat bagaimana usaha suami kaya rayanya itu ketika memetik buah mangga. Terjatuh lagi dan lagi. “Kalau emang gak bisa, gak usah sok, deh! Minggir, biar aku aja yang metik!” sindir Vana. Dia sudah bosan melihat Sean yang payah, tetapi tangannya justru dicegah memegang pohon. “Gak, Van. Aku bisa. Kamu tenang aja!” tolak Sean bersikeras. Vana segera menepis tangan Sean dan dia langsung melangkah mundur. “Awas aja kalau nanti jatuh terus nyalahin aku!” dumelnya dengan mata menyipit penuh ancaman. Sean sedari tadi memang terlihat kesulitan. Namun, pria itu tak menyerah begitu saja. “Yakh!” Vana memekik tanpa sadar saat melihat Sean yang terjatuh ketiga kalinya. “Udah mending aku aja yang metik! Dasar payah!” Pria itu menggeleng dan tak menggubris cibiran darinya. Jaket dan sepatu mahal pun sudah ditanggalkan dan hanya meninggalkan kaos serta celana panjang berwarna kakhi yang masih melekat pada tubuhnya. “A-aku bisa, Vana. A-aku akan buktikan jika aku juga bisa naik pohon ini!” Sean berujar tanpa terlihat lelah. Vana melengos, menolak perasaan peduli yang hadir saat melihat Sean yang lagi-lagi terjatuh ketika akan naik pohon. Finalnya ketika bagian lengan Sean yang tergores ranting pohon hingga membuatnya mengeluarkan darah. “Bodoh!” umpat Vana kesal. Setelah hampir setengah jam, akhirnya Sean bisa naik ke dahan pohon yang paling kokoh. Berjarak 5 meter dari tanah, pria itu tersenyum bangga di atas sana. Melambaikan tangan bak anak kecil yang baru saja menaklukkan tebing yang tingginya bisa ratusan meter. “Vana, aku bisa! Akhirnya aku bisa metik mangga buat mami,” sorak Sean bahagia. “Dasar kekanakan.” Vana merotasikan kedua bola matanya jijik. Dia kemudian menatap remeh Sean sambil mencibir, “anak kecil aja jauh lebih jago dari kamu yang udah tua!” Bibir pria itu terlihat cemberut. “Aku masih 32 tahun, Vana. Jadi, belum tua.” “Cih! Emang aku peduli!” Vana membalas sarkas. “Buruan petikin buahnya sebelum semut-semut itu memakanmu di sana!” Vana tidak peduli pada Sean, sungguh. Dia hanya kasihan saja pada batang pohon mangga yang dinaiki oleh suaminya terlalu lama. Nanti, jika dahannya patah yang rugi pohonnyalah. “Vana, aku harus memetik mangga yang mana? Yang besar atau yang kecil?” Sean berteriak di atas pohon. “Ya Salam,” gumam Vana meradang. Dia lalu menengadah dan hendak menyemprot Sean dengan kata-kata pedas, tetapi seseorang datang dan merangkul lengannya. “Eh, mami. Kok, ke sini?” Lusi terkekeh sambil menepuk-nepuk punggung tangannya yang terkepal di bawah. Vana yang sadar segera melemaskan otot tangannya. “Mami cuma bosan nunggu di dalam sendiri, Sayang. Jadi, mami ke sini, deh,” balasnya. “Oh, iya. Kalian udah dapat mangga berapa? Terus, mana?” “Mau dicari sampai mencret pun, itu buah bakalan kagak ada di bawah, Mi. Itu anakmu yang sok ganteng aja baru bisa naik setelah setengah jam jatuh-jatuh mulu.” Vana berbicara dalam hati saat Lusi mengedarkan pandang mencari buah mangga ke sekitar. “Loh, mami kok di situ, sih?” Sena kembali berteriak. Kali ini menyapa ibunya. “Sean, ke mana mangganya? Kok, di sini gak ada?” Lusi berteriak protes. “Emang apa yang kamu lakukan sedari tadi di sana, Sayang? Kenapa belum ada satu pun mangga yang ada di keranjang?” “Ish, mami ini gak sabaran banget, deh. Ini Sean juga lagi berusaha buat metik. Mami di situ sama Vana hati-hati, yah. Soalnya licin!” “Iya. Oh, iya. Itu di depan kamu ada buah mangga kenapa gak kamu petik, Sayang!” tunjuk Lusi gemas pada Sean. “Vana, nanti tolong kamu tangkap mangga itu, yah!” Vana pasrah. Dia lantas mendongak, menatap Sean yang juga ternyata sudah memperhatikannya dari atas. Tak ingin berlama-lama, dia pun berkata, “lempar buruan! Kasihan mami nungguin lama!” “Hati-hati, yah! Soalnya ini ada getahnya.” Suara sarat akan perhatian itu hanya dibalas dengkusan sinis oleh Vana. Dia segera menadahkan kedua tangannya, bersiap menerima buah mangga yang dipetik di kebun keluarga Grahadi. Sean pun menjatuhkan ke arahnya dan, Hap. “Dapat!” Namun, karena terlalu senang ketika bisa menangkap buah itu, dirinya justru terpeleset di atas rerumputan hijau. “Auw!” Dia meringis sakit sambil mengusap bagian pantatnya. “Vana!” “Sayang!” Bunyi gedebam yang cukup keras membuat Vana menoleh ke arah TKP dan matanya langsung membelalak. “Yakh! Kenapa kamu malah terjun dari atas? Dasar bodoh! Apa kamu pikir, kamu itu seorang wonderman, hah!?” Saking kagetnya, Vana sampai mengumpat di depan ibu mertua. Namun, dia tak peduli. Dia segera bangun dan hendak mendekati Sean, tetapi karena kakinya yang terkilir membuatnya hampir jatuh lagi. Namun, tangan seseorang lebih dulu menangkapnya. Sean, suami yang sangat dia benci telah membantunya agar tidak terjatuh. “Kamu gak apa-apa, Vana? Kakimu terkilir, kah? Sebentar, biar aku bawa kamu ke tempat bersih dulu,” tutur pria itu sebelum membopong tubuhnya menuju gazebo. Vana hanya diam dan terus memandang suaminya yang masih diliputi cemas, bahkan dia berteriak memanggil bibir untuk membawakan minyak urut. “Maaf, Van. Aku bener-bener gak tahu kalau kamu bakalan jatuh. Sekali lagi maafkan aku!” “Iya, Sayang. Mami juga minta maaf.” Lusi ikut memeluk Vana dari belakang. Anak dan ibu itu sama-sama merasa bersalah padanya. Vana menggeleng. Dia melihat ke arah Lusi dan mengusap punggung tangan ibu mertuanya itu. “Mi, aku baik-baik aja, kok.” “Baik gimana, Van? Kamu terpeleset dan kamu juga pasti kesakitan tadi.” Sean menimpali dan wajahnya diliputi rasa bersalah. “Kamu boleh pukul aku, Van. Aku salah dan gak bisa memberikan apa pun padamu selain kesakitan!” Vana menatap Sean dengan kening mengernyit. “Kenapa, sih, kamu harus baik di saat aku membencimu? Gak adil tau gak, sih!” batinnya. Melengos ke arah lain asal bukan suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN