Bab 8. Sean Ambil Alih

1365 Kata
Selagi di perjalanan, tak sedikit pun Vana mengajak Sean bicara. Dia terlalu malas hanya untuk sekadar menjadi penunjuk arah. Dia lebih nyaman menggunakan bantuan maps daripada harus bicara dengan sang suami. “Kamu gak usah ikut turun!” Vana mencegah ketika pria itu hendak membuka pintu. Sean hanya bisa menghela napas. Tak perlu menunggu lama, dia langsung turun dari mobil Sean. Dia berjalan menuju pagar rumahnya yang terbuka lebar. “Pasti nnj kerjaan si Vino. Seneng banget, sih, ngeblakin pagar begini,” dumelnya kepada sang adik. Dia langsung masuk ke dalam rumah saat lagi-lagi pintu utama tak terkunci. Sungguh teledor memang adik pertamanya itu. Dia berjanji akan memotong uang jajan Vino agar menjadi jera. Ketika dia melewati ruang tengah, Vino di sana. Namun, dia hanya mengacuhkan dan tetap berjalan menuju kamar ibunya. “Mbak, mau ke mana?” tanya Vino. “Mau ketemu ibulah!” jawabnya sengak. “Yakh! Mau ngapain lo?” Tiba-tiba tangannya diseret menjauh dari kamar ibunya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Vino. “Mbak, lo udah bawa duitnya, kan?” “Apa, sih, Vin? Gue tuh mau lihat kondisi ibu.” Dia hendak pergi, tapi lagi-lagi lengan bajunya ditarik oleh Vino. “Sekali lagi lo nahan gue, bakalan gue banting lo!” ancamnya dengan tangan menunjuk wajah vino kesal. Akan tetapi, sepertinya sang adik jauh lebih takut jika di Drop Out kampus daripada dibanting olehnya. Terbukti, tangannya kini justru dikunci ke belakang oleh Vino. Memang gila adik satunya itu. “Yakh! Lo mau–” “Lepasin istri gue, Vin. Lo kalau mau butuh duit bisa minta ke gue!” Sean datang bak pahlawan. Dia bahkan langsung membantunya lepas dari cengkraman Vino. Dia menatap Sean dengan senyum remeh. “Gak perlu! Mending kamu balik sekarang! Aku bisa nanganin keluargaku sendiri,” sahut Vana ketus. Dia lalu menatap Vino dengan tatapan penuh peringatan. “Urusan kita belum selesai. Awas kalau sampai lo kabur!” “Laki lo itu kayaknya miskin yah, Mbak? Soalnya dia kemarin nikahin elo gak pakai maskawin atau bawa sesuatu buat kita. Ah, gue itu. Dia itu nikahin elo kemarin kan cuma modal anunya doang!” Vino terbahak setelah mengucapkan pendapatnya. Kuping Vana panas mendengarnya. Di sikutnya keras perut Vino hingga sang adik menungging sambil terbatuk. “Gak usah ngurusin hidup orang, kalau lo aja hidup masih nyusahin gue!” Setelah memberi sindiran telak buat adiknya, dia berlalu begitu saja menuju kamar ibunya. Dia masuk ke dalam kamar, menguncinya dari dalam jika sewaktu-waktu adiknya mengganggu. Ketika berbalik, ternyata ibunya sudah menatapnya sambil berbaring di ranjang. “Bu.” Vana langsung berlari menghampiri ibunya, memeluknya sambil menangis. “Maafin Vana, Bu. Maaf karena udah bikin ibu jadi kayak gini.” “Hei, ibu sakit itu karena kemarin kehujanan, bukan karena kamu, kok, Sayang. Jadi, jangan menangis, ok!” Tangan hangat ibu mengusap wajah basah Vana. “Gak, ibu pasti bohong. Vana tahu jika selama ini ibu adalah wanita yang kuat. Ibu gak akan tumbang hanya karena terkena hujan. Ibu gak usah mengelak lagi. Ini semua memang karena Vana, kan? Karena Vana udah bikin malu ibu!” Dia mencium tangan ibunya berkali-kali. Memohon maaf kepada ibunya dengan berurai air mata. Akan tetapi, semua itu tak akan memberikan dampak apa pun pada ibunya. “Vana harus apa, Bu, biar ibu cepat sembuh? Eh. Kita ke rumah sakit sekarang, yh!” ajaknya kemudian. Dia sudah berdiri, tetapi tangan ibunya menahannya untuk kembali duduk di sisi ranjang. “Ibu gak apa-apa, Nak. Udah, kamu gak usah lebay begitu, deh!” “Siapa yang lebay? Ibu itu sakit, dan butuh penanganan dokter,” ujar Vana, ngotot, dan tak ingin dibantah. “Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang!” “Vana, Ibu beneran gak apa-apa. Lagian, ibu masih kuat, kok.” Vana melengos kesal dengan kekeraskepalaan ibunya. Ya, dan itu menurun kepadanya. Jadi, dia memilih untuk berdiri dan mengambil sweater milik ibunya, lalu memakaikan ke tubuh ibunya. “Kita ke rumah sakit sekarang, gak ada penolakan!” “Vana….” Dia berjalan keluar dengan merangkul bahu ibunya dan di saat mereka sampai di ruang tamu, Sean di sana, sendiri. Kencingnya sedikit mengernyit saat tak mendapati Vino di mana pun. “Kamu ke sini sama suami kamu?” Ada keterkejutan dalam suara ibu, tetapi Vana tak ambil pusing. “Abaikan saja dia, Bu. Sebaiknya kita pergi sekarang,” tuturnya. “Biar saya antar, Bu!” Sean tiba-tiba sudah berdiri di sisi kiri ibu dan merangkul, menggantikan dirinya. “Apaan, sih? Kamu gak usah yah sok baik di depan ibu! Gak pantes tau gak, sih sama sikap kamu yang jahat.” Vana berusaha mengintimidasi Sean dan menjauhkan ibunya dari pria gila tersebut. Akan tetapi, Sean bersikukuh. “Sebaiknya kita cepat bawa ibumu ke rumah sakit, Van. Jika kamu ingin marah-marah, mending nanti saja!!” Shit! Vana menatap punggung ibunya dan Sean yang sudah lebih dulu berjalan di depan dengan kaki dihentakkan. Matanya menatap sengit suaminya yang terlalu pandai mengambil kesempatan. “Vana, mau sampai kapan kamu akan tetap di sana? Bukankah kamu ingin cepat-cepat membawa ibu ke rumah sakit?” Ucapan Sean benar, sangat benar malah. Yang menjadi beban adalah jika dia menerima bantuan Sean maka dia akan mempunyai hutang budi pada pria menyebalkannya itu. “Van,” panggil ibunya dengan wajah pucat. Arghh! Vana ingin menangis sekarang. Akhirnya, dia menurut dan segera masuk ke dalam kursi penumpang di belakang. Dia tidak sudi duduk di sebelah Sean karena dia yakin jika pria itu pasti sedang besar kepala karena bisa membantu keluarganya. “Kamu gak boleh bersikap kejam pada suamimu, Nak,” bisik ibu di sampingnya. Vana melihat ibunya sekilas, lalu menghela napas. Dia tak berniat menjawab ucapan orang tua satu-satunya itu, dan memilih memeluk bahu ibu agar tetap bersandar padanya. Selama dalam perjalanan sampai rumah sakit, Sean mengambil alih semua tugasnya. Dari mendorong kursi roda ibunya, bertanya ini dan itu ketika bertemu dokter, juga ketika mengantri obat. Sean bahkan mengcover semua biaya rumah sakit ibunya dengan uang pria itu sendiri sehingga membuat Vana semakin berutang budi. Satu hari itu, Sean benar-benar terlihat seperti seorang lelaki, anak, bahkan dokter bagi ibunya, dan itu jelas membuat Vana merasa risau. Malam harinya, ketika adik keduanya sudah pulang dari les–Vandi– dia langsung menyuruh menggantikan dirinya menjaga ibu. Dia lalu meminta Sean mengikutinya karena ada yang mau dibicarakan. Kini, mereka berada di samping rumah, tepatnya gazebo kecil. “Pulanglah! Dan untuk semua uang yang kamu keluarkan tadi, tolong kamu kasih tahu aku biar aku transfer!” kata Vana to the point. Dia mengeluarkan ponsel kemudian membuka aplikasi m-banking. Namun, sebuah tangan besar menutupnya. Vana menengadah, menatap Sean dengan mata menyipit. “Aku tau duit kamu banyak, tapi aku gak suka hutang sama orang lain, apalagi orang itu kamu!” sambungnya, sengit. Sean menggeleng. “Aku ikhlas, Van. Aku juga tidak menganggap apa yang aku lakukan tadi adalah sebuah hutang. Jadi, kamu gak perlu merasa sungkan padaku.” “Buat apa sungkan kepada lelaki yang sudah bertindak jahat padaku? Cih, rugi aku. Jadi, cepat katakana berapa nomor rekeningmu sekarang juga!” Dia memaksa. “Kenapa kamu begitu keras kepala, sih, Vana?” Sean terlihat frustasi. Vana bisa mendengar gumaman dari Sean. Namun, dia sama sekali tidak berniat untuk membalasnya. Dia tetap diam, menunggu pria di hadapannya memberikan nomor rekening. Setelah dapat, dia segera mentransfer semua biaya pengobatan ibunya. Tidak apa tabungannya kian menipis, asal dia tidak menerima uang dari lelaki b***t di depannya. “Ok, aku udah transfer. Sekarang sebaiknya kamu pulang!” usirnya, cepat. “Tapi, Van.” “Ah, jika kamu mengkhawatirkan masalah orang tuamu, aku yang akan menghubungi mereka.” Namun, ketika dirinya hendak menghubungi Lusi maupun Ryan, dirinya terdiam. Dia tidak memiliki nomor mereka semua. “Ini nomor mami, Van.” Sean menyodorkan ponsel, tepat di depannya. Sial. Dengan perasaan malu, dia segera men-scan nomor Lusi kemudian menelponnya. Vana sedikit menjauh dari Sean dan ketika panggilan itu diangkat, segera saja dia menceritakan alasannya tidak bisa pulang. Beruntung mertuanya mengerti dan memperbolehkan menginap di rumah ibu. “Sekalian nitip Sean, ya, Van,” tutup Lusi sebelum memutus panggilan. What? Vana langsung melihat ke arah ponselnya dengan mata melotot. “Apa-apaan ini? Kenapa malah jadi kayak gini?” Dia memejamkan matanya frustasi. “Kenapa, Van? Mami ngomong apa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN