Chapter 10

1283 Kata
Antara karma, atau memang jatah sial, dan juga balasan saat itu. Mungkin, ketiga sebutan itu tercampur aduk, membentuk jadi satu. Seharian Nadia bolak - balik kamar mandi, sampai mendapat julukan baru. Gadis penguasa wc. Bagaimana tidak, dia bisa sepuluh menit sekali ke kamar mandi, entah melepas hajat, atau sekedar membuang gas. Tubuh lemas, jangan di lupakan bagian itu. Bahkan, Nadia sampai melepas sepatunya agar tak terlalu lelah kamar mandi menuju ruangannya. Brak! Dia memukul kesal mejanya. Dia meringis merasakan perutnya yang melilit panas. "Gue masukin berapa takar sih di minumannya si bos? Kok gue mules kayak mau lahiran angin aja. Anak gue seabrek kali ah, kalau memang ada beneran," gerutunya. Pria dengan dasi merah marun, dengan kemeja putih, bersiul duduk di samping meja Nadia. Dia menyengir kuda. "Kenapa lo keringetan gitu? Habis nina ninu ya?" Nadia langsung melempar kepala pria itu dengan sepatu miliknya. Brak! "Aw!" ringisnya. "Makanya, nggak usah ngadi - ngadi. Gue timpuk jadi kayak setan lo." Anggit, pria itu tertawa. Dia menertawakan raut wajah Nadia yang lucu, bukan karena timpukannya yang sakit. "Setan memang lo, Nggit! Apaan sih ketawain gue mulu. Haram hukumnya ngetawain kembang desa!" "Kembang desa, eyes lo! Yang ada kembang orang mati, gue percaya." "Sialan lo!" Nadia akan meninpuk lagi kepala Anggit, namun, tidak jadi karena Lucas lewat. Dia yang sudah memegang buku jurnal, akan di layangkan ke kepala Anggit tidak jadi. Dia meringis kearah Lucas, menyapanya sebentar, "Hehe, eh Pak Lucas." Lucas tak mengucap sepatah kata, malah menunjuk jam tangannya tanpa bersuara. Nadia tau, arti kode yang Lucas berikan. Dia segera memberesi dokumen yang akan dia bawa, dan terburu - buru memakai sepatunya menyusul Lucas yang mendahuluinya pergi. Nadia, kewalahan mengejar Lucas di depan lift. Sampai di depan lift, Nadia bersebelahan dengan pria itu. Dia menghela napasnya tidak takut terlambat dan kena hukuman. Ting! Lift pun terbuka. Orang - orang yang berada di lift, terlebih dahulu keluar. Setelah kosong, Nadia mengikuti Lucas masuk ke lift. Tapi, Nadia di toyor oleh Lucas tak boleh masuk ke lift. "Eh, eh?" Nadia kembali mundur ke belakang tak jadi menaiki lift. Dia menatap Lucas aneh. "Pak, kok saya nggak boleh masuk? Main di toyor dahi saya?" Lucas menatap dingin Nadia, "Saya tidak terbiasa satu atap yang sempit bersama orang asing. Penyakit, bisa menular dengan cepat, lebih baik menghindar. Kamu pakai tangga saja sana!" Nadia protes, "Nggak mau! Kok saya yang suruh pakai tangga sih. Bapak aneh dih. Lift itu di buat untuk di pakai." "Iya, memang untuk di pakai." "Lah, itu Bapak tau. Yaudah geser dikit deh," kata Nadia sambil berusaha masuk ke dalam lift. "Hush! Hush!" Lagi - lagi Lucas bertingkah aneh. Dia mengusir Nadia layaknya kucing. "Eh, eh, kok di hush hush? Emang saya kucing sih, Pak!" kesalnya. "Emang!" Ting! Lift yang tadinya masih terbuka, malah di tekan tombolnya hingga pintu tertutup. Memang bos menyebalkan sepanjang abad, ya Lucas! Nadia menggigit kesal berkas - berkas yang dia bawa. Dia menghentakan kakinya kesal. "Dasar stupid bos! Emang kurang lurus otaknya apa gimana sih! s***p!!!" *** Pulang dari kantor, dia mengisi perut terlebih dahulu. Biasanya dia akan selalu makan dengan Felix, berdua, dan di temani getaran cintanya. Dia rindu pria itu... Tiga hari berlalu, tiga hari pula rindu itu semakin menjadi. Apalah dayanya ini, manusia biasa. Dia bukan wonder women atau Edward Cullen, si vampir luar binasah. Eh, biasa... Wanita itu duduk di ujung caffe dengan di temani satu porsi nasi goreng, dan juga es teh dingin. Sebelum makan, ritual wanita. Mengabadikannya, dan memposting di social media terlebih dahulu. Jepret! Nadia mengambil gambar, dan meng-upload di social medianya. Captionnya pun ikut merasakan perasaannya saat ini. 'Alone. Miss a lot.' Sungguh meng-sad sekali hidupnya. Wanita itu meletakan ponselnya dan akan menyantap makanannya tanpa gairah. Saat dia akan meletakan telponnya, dering ponselnya berbunyi. Matanya sigap melihat notifikasi telpon siapa yang masuk di ponselnya. Ternyata oh ternyata... Felix! Manusia luar biasa dalam luar yang menghubunginya. Sudah bersemedi berapa abad, hingga baru sekarang dia menghubunginya, tanpa membalas satu pun pesan singkatnya. Dengan segera Nadia mengangkatnya. "Halo?" Dari ujung sana, entah ujung dimana, suara berat itu mulai berbicara. "Nad..." Oh, Tuhan... Dia sangat merindukan suara ini. Suara yang membuat matanya memerah melepas rindu yang membara di d**a. "Jahat!" Satu kata yang keluar ketika giliran wanita itu yang menjawab. "Maaf." Dan kata yang di harapkan pun, akhirnya keluar. Permintaan maaf, untuk waktu menunggunya. Dan juga rasa rindu yang menyiksanya. "Kenapa baru hubungin aku sekarang! Kamu kan tau, aku nggak bisa lama - lama jauh dari kamu! Felix, jahat!" Terdengar dengusan napas pria itu. "Saya sibuk, Nad." Nadia mengerucutkan bibirnya, "Sesibuk apa?" Bodoh, wanita itu memang bodoh menanyakan hal yang tak penting sama sekali. "Pekerjaan dan beberapa urusan lain." "Urusan lain?" "Ya. Saya tidak bisa menelpon lama - lama, saya akan tutup setelah ini." "Eh, eh, tunggu! Kan masih kangen!!" protesnya. "Nad, dengar. Sejak awal, saya sudah mengatakan, saya pria yang suka bekerja. Pekerjaan nomor satu dan-" "Dan aku nomor dua, aku tau, nggak usah di perjelas Felix," lirihnya. Jujur, dia sedih dan ingin memperotes Felix mengenai mindset yang seperti ini. Dia tak suka, dia ingin menjadi nomor satu untuknya, sama seperti Felix di dalam kehidupan Nadia. "Bagus lah kalau kamu ingat, saya tutup telponnya. Selamat malam." "Selamat-" Beep! "Sore," lanjutnya lirih. "Belum aja selesai, udah nutup aja. Mau minta di tabok nanti kalau dah balik!" Nadia kesal meletakan telponnya. Meski kesal, dia puas dan senang, karena Felix akhirnya menghubunginya. Itu artinya, pria itu masih hidup dan baik - baik saja. Setidaknya, itu cukup membuatnya bahagia. Nadia mulai tersenyum, dan mengehela napas, berusaha menerimanya. "Dah lah, makan aja. Laper juga malah sedih. Sedih itu butuh tenaga, jadi mari kita isi tenaga dulu!" serunya. *** Kedatangan Edgar, Pamannya, membuat Nadia menjadi sedikit semangat. Dia langsung lari memeluk pria matang yang ada di depan pintu mantion keluarganya. "Uncle!!" Edgar merentangkan tangan dan mendapat pelukan. Dia tersenyum senang. Nadia melerai pelukannya dan menatap antusia Edgar. "Kapan balik? Kok nggak kasih tau Nanad?" Edgar mengelus kepala Nadia, "Brisik! Uncle mau ketemu Mamah sama Papah dulu." Edgar pun masuk dan menemui Sandra dan Bram yang datang menyambutnya. Edgar langsung memeluk Bram, dan Sandra bergantian. "Edgar, udah balik kamu? Mbak kira betah lama - lama di Bali." Edgar menggaruk tengkuknya, "Dulu Mbak, sekarang udah nggak." Nadia yang rese ikut menimpali, "Mah, iyalah! Orang Uncle Edgar di tinggal nikah ck!" Edgar memelotin Nadia yang rese. Nadia pun mengejek menjulurkan lidahnya. "Wlek!" Sandra menggelengkan kepalanya. Lalu, menghela napas. "Sayang Gar, padahal Mbak ngarepnya yang kemarin bisa langgeng sampai ke plaminan. Ternyata belum jodoh." Edgar mengangguk, "Belum jodoh aja Mbak, nanti Tuhan kasih yang terbaik kalau udah waktunya." Bram menaikan alisnya, "Kapannya tuh ya kapan? Kamu sudah mau kepala empat habis ini, Gar. Nunggu sampai monopouse?" "Mas..." peringatan Sandra. "Edgar kan sudah berusaha Uncle, kalau belum jodoh bisa apa. Yang penting usaha aja dulu." "Yaudah, kamu naik gih Gar. Istirahat, kamu habis balik jauh dari Bali. Sana!" "Makasih Mbak, Edgar naik dulu." Edgar akan narik koper, tapi, Nadia menyerobotnya. "Biar Nanad aja bantuin Uncle!" Edgar tertawa, "Nggak ada biaya tip kan? Uncle kere soalnya haha." "Dih, iya - iya! Bawel!" Nadia pun ikut mengantar Edgar ke atas ke kamar tamu. Dia masuk, dan meletakan kopernya di dekat lemari. Nadia duduk di atas ranjang, sementara Edgar merapikan kopernya masuk ke dalam lemari. Melihat Pamannya yang sibuk, Nadia mulai pembicaraannya. "Uncle." "Hm?" jawab seadanya. "Kalau menurut Uncle, cinta itu gimana sih?" Edgar berhenti memasukan barangnya di lemari. Dia tersenyum. "Cinta? Suatu hal yang tak bisa terlihat nyata, namun seperti magic." "Magic?" Edgar menoleh kearah Nadia dan tersenyum, "Iya, magic. Uncle kalau jatuh cinta, seperti sulap, melakukan semua yang terbaik untuk dia, orang yang Uncle cinta. Itu namanya magic." Nadia berpikir sejenak, lalu, untuk Felix, apakah magicnya akan berlaku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN