Sampai di area apartemennya, Nadia menatap pria yang berdiri di depannya. Jujur, dia kurang nyaman, pria yang super jutek itu mencoba ramah dengannya sekarang. Wanita itu menggaruk tengkuknya dan menyengir.
"Em anu Pak, saya masuk dulu ya. Bau kecut nih, nggak nyaman."
"Yaudah, saya lanjut lari dulu. Bye!"
Pria itu pergi melanjutkan larinya. Nadia menirukan gayanya bicara namun memenye - menye. "Bye! Gundulmu bye!"
"Nad!"
Nadia langsung kaget menoleh. Dia takut ke gep sedang mengolok bos barunya.
"Eh iya?"
Ternyata aman. Yang memanggilnya adalah Anggit. Anggit memang tinggal di apartemen yang sama dengannya. Namun, bedanya anggit sub unit B, sedangkan dia sub unit A.
Nadia mendapati Anggit di sampingnya mendengus sebal, "Sial! Gue kira si bos baru. Ngagetin aja lo!"
Anggit malah tertawa. "Hahaha! Ngejek si bos kan lo. Ntar, kena hukum nangis..."
"Bodo ah! Gue masuk. Mau mandi!"
Anggit malah menahan tangan Nadia, dengan wajah memelasnya. "Eh eh! Nad, bentar dulu."
"Apa sih Nggit! Udah bau nih badan gue. Nggak suka."
"Gue minta gula dong. Mau bikin kopi, tapi abis gulanya," kata Anggit sambil menyengir kuda.
"Mata lo gula! Beli lah di supermarket! Di kira gue itu supermarket apa."
"Yah, sia - sia dong gue dateng ke apartemen lo."
"Ya salah lo sendiri. Ngapain juga ngapel gue minta gula. Harusnya, lo yang bawain gue buah tangan Anggit begoo."
Nadia tak menggubris lagi, masuk ke dalam apartemennya. Dia harus menjalankan ritual pemanggil arwah-eh tidak... ritual membersihkan diri yang benar.
Dengan cepat wanita berusia dua puluu empat tahun itu, menyambar handuk. Lalu mengambil baju gantinya, dan masuk ke kamar mandi.
Gemericik air dari shower, membuat aliran darah di tubuhnya mereda. Dia merasa segar, di tambah Nadia membasuh rambutnya.
Setelah selesai, dia keluar dengan rambut yang masih tergerai basah. Handuk yang tadi dia gunakan, untuk menyeka air dari rambutnya, sebelum berpindah ke hair dryer yang ada di meja rias.
"Aku lah makhluk Tuhan! Yang tercipta, yang paling sexy. Cuma kamu yang bisa... Membuatku terus begini. Aw aw aw, ih ih ih! Aw aw aw, ih ih ih~"
Nadia terus menyanyi sambil mengeringkan rambutnya. Dia mengingat Felix tiba - tiba.
Wanita itu langsung menghentikan konser dadakannya dan mematikan hair dryer milknya. Nadia, mengambil ponselnya yang ada di atas kasur. Lalu membuka chatting, milik kekasihnya.
Belum ada juga tanda - tanda balasan dari Felix. Apakah seketika sampai di sana, dia lupa cara akan mengetik dan berbalas pesan? Sungguh sangat menyebalkan sekali.
Kata orang, menjadi kekasih seorang Felix Caralos sangat di dambakan oleh semuanya. Ada saatnya ucapan netijen yang terpatahkan oleh fakta yang sebenarnya. Mana ada menjadi enak, special dan beruntung?
Kaya, memang Felix itu orang kaya pakai banget. Hartanya di pakai tujuh turunan nggak bakal habis juga. Tapi, dia juga kaya, sama, meski masih dari harta kedua orang tuanya.
Tampan, Felix memang sangat sangat tampan. Dia seperti pemain sinetron, atau model - model, yang memiliki tinggi diatas rata - rata, kulit bersih putih, tubuh kekar dan d**a bidang favoritnya. Tapi, dia juga nggak jelek - jelek amat. Pas kuliah juga banyak yang ngejar dia, meski berakhir penolakan Nadia.
Terus apa specialnya bambang? Backstreet? Selalu nggak ada kabar? Nggak boleh ribet? Nggak boleh open public? Mana ada special kayak begitu? Yang ada harus kuat mental, makan hati.
Nadia meletakan kembali ponselnya di meja rias. Lalu dia menidurkan dirinya di atas ranjang. Dia menatap langit - langit kamarnya dengan lirih.
Biasanya jam - jam segini, Felix akan mengomel karena Nadia selalu rusuh meletakan barang - barang di tempatnya secara asal. Tidak ada Felix sangat kesepian dirinya.
"Pantes sih kata Dilan, rindu itu berat. Nyatanya memang berat. Kangen..."
***
Hari senin, dia sangat muak dengan hari ini. Semua bermula pada hari senin. Kemalasan, kesibukan, kekacauan pasti bermula hari ini.
Nadia terburu - buru membawa berkas banyak yang ada di tangannya menuju ke sebuah ruangan. Tak lupa etikanya, mengetuk terlebih dahulu ruangan sebelum masuk.
Tok tok!
Setelah samar - samar mendengar jawabannya. Akhirnya Nadia masuk dan tersenyum kikuk. Dia mendekati pria yang duduk di meja tak jauh darinya, lalu memberikan berkas - berkasnya kepada pria itu.
"Ini Pak, berkas yang harus Bapak tanda tangani segera."
Pria itu mengek terlebih dahulu, membacanya, sebelum goresan pada tinta tertanda disana. Nadia menunggu sambil berdiri.
Tak ada goresan tinta saat berkas itu di kembalikan. Nadia tercengang di tempat. "Em Pak, kenapa di kembaliin? Ini harus cepet di tanda tanganin loh."
"Kirim ulang semua berkas dengan kertas yang baru."
"Ha-"
"Tidak perlu ha ho ha ho seperti orang gagu! Berikan berkas baru tanpa, coretan tinta seperti itu!"
Nadia tambah tercengang. "Pak! Coretan tinta apa sih? Nggak ada kok. Bapak ngadi - ngadi ya..." tuduh Nadia.
Lucas, menunjuk sebuah titik, dan sangat memang mengadi - ngadi. Itu adalah coretan berkas print yang melebar. Tapi tak mempengaruhi keindahan laporan.
Tapi... why?
Matanya memang suka cari - cari kesalahan atau bagaimana?
Lucas dengan tak berdosanya mengembalikan semua berkas, tidak cuma satu.
"Sana pergi!" usirnya.
Nadia menahan emosinya, mau tak mau membawa kembali berkas yang tadi dia bawa untuk Lucas. Dia menahan emosi untuk tak memukul kepala itu sampai lepas.
Dia tersenyum terpaksa sambil membawa berkas itu. "Baik Pak, saya pamit keluar."
Nadia kesal. Benar - benar sangat j*****m bos barunya itu.
Dengan kesal dia membuka segera pintu ruangan Lucas dan menutupnya kasar. Dia kembali ke meja dan meletakan dokumen - dokumennya dengan kasar. Wanita itu masih cukup sabar sambil berkacak pinggang.
"Sabar Nad, sabar. Dakjal baru aja turun. Jadi, nggak usah emosi. Dia itu memang bos dakjal!"
Nadia sengit sekali dengan pria itu. Melihat dengan tatapan sengitnya arah ruang kerja Lucas.
"Apa perlu gue kasih pelajaran tuh orang?"
***
Nadia kembali membawa dokumennya bersama segelas cangkir di tangannya. Dia membuka pintu dengan mundur, tubuhnya. Lalu masuk dengan tegak senyum seramah spg rokok.
Dia dengan senyun yang masih stay di wajahnya memberikan berkas, plus kali ini bersama cangkir yang terisi.
"Ini berkas yang Bapak minta, beserta tanpa coretan - coretannya. Silahkan Bapak cek, dan tanda tangan disini. Dan ini, kopi yang Bapak minta."
Lucas menaikan sebelah alisnya. "Kamu saja yang minum. Duduk, dan menunggu saya cek berkas."
Nadia meneguk salivanya. Satu kata menghiasi pikirannya. MAMPOS!
Nadia menyengir lebar, "Haha, nggak Pak. Itu kan kopinya saya bawain buat Bapak."
"Thanks, but kamu saja yang mewakili saya minum. Lagian saya tau kamu capek."
"Ngg-nggak perlu Pak. Saya nggak-"
Lucas menatap menyelidik, "Kenapa? Kamu taruh racun disana?"
"Eh-eh! Mana ada. Bapak ngaco!"
"Yasudah, minum."
Nadia membelakan mata, "M-minum? Nggak papa Pak? Saya takut nggak sopan haha!" alibinya.
"Ini perintah. Termasuk dalam norma kesopanan."
Mau gimana lagi, dengan berat sangat berat hati, akhirnya Nadia mengambil cangkir yang seharusnya di minum oleh pria itu. Dia menyeruput isi cangkir itu hingga habis.
Bersama dengan dokumennya yang telah di selesaikan, dan di kembalikan pada Nadia. Perutnya mulai menggelonjakan sesuatu dari sana. Nadia langsung berdiri, dan menyengir mengambil dokumennya.
"Eh, em-Pak, saya pamit kalau begitu!"
Nadia langsung membuka pintu cepat tak kuat menahannya. Saat pintu terbuka, dia tercengang.
Prut...
Gejolak itu melonjak mengeluarkan suara yang membuat dirinya malu sekali. Dia kentut di ruangan bosnya.
Poor baby Nadia!
Nadia menoleh dan meringis. "Maaf Pak, maaf."
Langsung tanpa babibu lagi, Nadia mengicir menuju kamar mandi dari pada di kepecirit di celananya.
Sungguh, hari Senin yang meng-sial-kan sekali untuknya.