Berdiri dengan perasaan yang dongkol, di rasakan oleh Nadia saat ini. Dia seperti anak kecil yang di setrap karena melakukan kesalahan, tak mengerjakan tugas. Dengan sangat kesal wanita itu mendengus napasnya.
Bahkan perkara napas yang tak bermelodi saja, dia kena masalah. Benar yang di katakan kepala divisinya. Pria ini memamg dua kali lebih miring di banding Felix Caralos.
"Sudah saya katakan, jangan mendengus! Dengusan napas kamu itu kuman. Dan kuman yang berterbangan, menghinggap di ruangan saya! Saya tidak suka ngerti?!"
Nadia mendongak dan benar - benar melongo di buatnya. "Ini orang memang tipe - tipe kebencian seluruh umat manusia. Gue yakin, pas sd dia kagak ada yang temenin," batinnya.
Lucas, pria yang sedang beradu otot, melihat Nadia yang melongo semakin merasa naik darah.
"Kamu saya kasih tau malah melihat - lihat! Kamu ini memang bukan karyawan yang kompeten! Bisa - bisanya perusahaan ini memperkerjakan kamu yang tidak kompeten! Sangat di sayangkan."
Benar - benar bermulut cabe. Lebih cabe di bandingkan Felix, kekasihnya.
"Em, iya Pak Lucas. Saya minta maaf atas kesalahan saya. Saya tidak akan mengulanginya."
Tak di jawab apa yang Nadia katakan, pria itu malah memanggil karyawan lainnya.
"Lusia! Kemari kamu!"
Tak lama, pintu di ketuk dan menampilkan wanita dengan pakaian formal khas pegawai kantor. Dia mendekati Lucas dengan sopan.
"Ada apa, Pak Lucas. Ada yang bisa saya bantu?"
Lucas menatap dingin wanita bernama Lusia tadi. "Kamu adalah asisten saya selama disini bukan?"
"Tentu, Pak Lucas. Semua jadwal, kegiatan, dan apa yang Pak Lucas butuhkan, semua ada di-"
"Berikan kepada dia!" katanya sambil menunjuk dagu kepada Nadia.
Bukan hanya Lusia, namun, Nadia yang melongo kembali.
"Tapi Pak, Nadia memiliki tugas yaitu-"
"Hanya mengikuti ucapan saya! Berikan pekerjaan kamu kepada dia! Cepat!"
Dengan ketakutan, Lusia menyerahkan jurnal yang dia bawa kepada Nadia. Sementara Nadia melongo, "Pak Lucas, lah kok jadi di kasih ke saya? Nggak ah di balikin aja nih, kan tugas-"
"Mulai saat ini, dia asisten pribadi saya! Lusia, kamu kembali menggantikan pekerjaan wanita itu, mengerti?!"
"Ba-Baik, Pak!"
"Kamu boleh keluar!"
Tinggallah mereka berdua, Nadia dan bos barunya Lucas Kanserino. Mereka dalam balutan udara yang mencekam. Bukan karena suasana dingin dari AC, melainkan sikap abu - abu sang bos.
Nadia melihat jurnal yang sudah ada di tangannya mendengus, menekuk wajahnya masam.
"Pak, saya itu pegawai magang. Kenapa jadi asisten pribadi sih. Mana saya paham?" kata Nadia dengan wajah memelasnya.
Lucas masa bodohh. Dia sama sekali tak menatap wanita itu, melainkan dia malah membuka berkas dan membacanya.
Nadia tak pantang menyerah. Dia mendekati meja Lucas, dan menyentuhnya guna memelas kepada pria itu.
Saat dia menyentuh meja Lucas, Lucas malah memukul tangannya dengan buku yang sedang dia baca.
Brak!
"Aw... Kok saya di geprek, Pak? Saya kan bukan ayam geprek?"
"Jangan sentuh meja kerja saya! Kuman!"
Nadia ingin sekali menjedotkan kepala pria itu ke meja agar setidaknya normal. Baru satu jam bersama bos baru, dia sudah bisa pasti tau, jika sang bos sangat penggila kebersihan!
"Iya - iya! Nggak di pegang, Pak Bos!" dengusnya.
"Kamu hapalin semua pekerjaan Lusia, dan setengah jam lagi saya akan tanya semua jadwal saya tanpa terkecuali!"
Nadia melongo, "Ha? Setengah jam? Pak bener aja. Ini bukan kue lapis, tapi buku berlapis - lapis. Dari jaman satu abad sampe lima ratus abad mana bisa di apal setengah jam. Gila... Gilaa..."
Lucas yang menyebalkan itu, dia menatap Nadia dengan mata yang memicing.
"Dua puluh menit, selesaikan tanpa mengeluh. Atau saya potong waktu kamu lebih singkat! Sana pergi!"
Nadia mendengus sebal, mau tak mau dia harus melakukannya, karena Lucas lah pemegang kekuasaan tertinggi di sini.
"Iya - iya."
Wanita itu keluar dari sana, dengan wajah sangat masam. Setelah pintu tertutup, dia merasa ingin menjitak kepala pria itu hingga otaknya normal.
Dengan hentakan kaki kesalnya, Nadia pergi menuju ke ruangannya.
Brak!
Dia meletakan buku jurnal itu kasar diatas meja. Anggit, yang bersebelahan dengannya memutar kursinya mundur ke arah Nadia, dan menaik turunkan alisnya seperti mengejek.
"Gimana, gimana, gimana. Kena apa lo sama bos baru?"
Mendengar kata - kata Anggit. Nadia menoleh ke samping, "Mata lo itu! Kenapa lo nggak bangunin gue sih, Nggit! Kan gue dah pesen sama lo!"
Anggit memutar bola matanya, "Gundul lo! Gue di suruh ambil barang yang baru aja dateng di bawah. Mana sempat gue bangunin lo begoo. Pas gue naik keinget lo, eh Pak Lucas udah dateng dan ribut sama lo. Yaudah haha."
"Sial amat dah idup gue!" gumam Nadia.
Setelah selesai jam kerjanya, seperti biasa, Nadia langsung pulang ke apartemen. Dia pulang pukul lima sore, ya... karena dia tak ada jadwal lembur yang random hari ini. Sampainya di apartemen, masih sama. Biasa, berantakan.
Nadia masuk ke dalam, dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk. Jemarinya merogoh tas, mengambil benda pipih yang sejak tadi tak dia pegang.
Dia membuka aplikasi chatting, dan memastikan apakah Felix, kekasihnya sudah membalas pesannya atau kah belum? Dari lima pesan yang dia kirimkan kemarin, belum juga terbalas satu pun.
Nadia mendengus kesal, "Apa sangat sibuk, sampai balas chatting aja nggak sempat?"
Wanita itu kembali mengetik di papan keyboardnya, dan mengirim sesuatu.
Nadia : BALES. NGGAK BALES AKU DOAIN JODOH MIMI PERI. BYE!
Lalu setelah pesan itu terkirim, Nadia melemparkan ponselnya di samping. Mendongakan kepalanya, bersandar pada sofa. Dia sedikit lelah dengan pekerjaan barunya, sebagai, 'asisten' bos barunya.
Mata yang semula hanya terpejam saja, mengistirahatkan. Malah kebabalasan, hingga dengkuran mulai berbunyi keras. Ini lah kehidupan random seorang Nadia Bramantyo, sangat luar biasa.
***
Terselamatkan di hari Minggu. Nadia merasa kembali moodnya naik. Dia tidak perlu untuk pergi ke kantor, dan bertemu bos barunya.
Karena ini hari libur, Nadia rutinitas pertamanya adalah mengirim chat yang sebenarnya sama sekali belum di balas oleh Felix. Lalu, dia memutuskan untuk olahraga pagi mengelilingi komplek yang ada.
Sudah rapi dengan baju olahraganya, Nadia sudah siap untuk memulai lari paginya. Dia berkeliling komplek untuk memanaskan lemak - lemak membandel di tubuhnya. Berlari cukup tiga kali saja, sudah membuat wanita itu ngos - ngosan.
Putaran terakhir jauh lebih menyiksa. Namun, Nadia tak akan menyerah. Dia tipe orang yang tak gentar, hingga kaki nya mleyot gemetar dan duduk sejenak di kursi pinggir taman.
"Fyuh... Gue capek bener. Padahal cuma lari doang. Yasalam..."
Wanita itu membuka botol minuman yang dia bawa. Lalu meneguknya dengan keras. Meski lelah, tapi dia menikmatinya. Setidaknya, ini cara tepat untuk menghilangkan stres membandel yang menempelnya. Virus kantor namanya.
Mengistirahatkan diri, sambil melihat suasana pagi kota membuat Nadia jauh lebih baik. Punggungnya dia sandarkan pada sandaran kursi, matanya menjamah seluruh pemandangan pagi hari. Tapi, kebahagiaan itu singkat, sebelum dia melihat sosok yang lewat di hadapannya, yang berakhir duduk di sisinya.
Mata Nadia yang melihat sekitar, lalu membelakan mata melihat sosok yang lewat di hadapannya. "Eh? Pak Lucas?!" kagetnya.
Kali ini, pria itu tak menggunakan pakaian formal kantornya. Melainkan pakaian olahraganya.
Lucas yang mendengar namanya di sebut berhenti dan menoleh ke arah Nadia. "Kamu?!"
Nadia meringis, dan langsung merasa akward sekali. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Pak Lucas olahraga juga?"
Lucas sebelas dua belas dengan Felix. Wajahnya tak ramah, hanya datar. Entah mereka terlalu sering di botox atau gimana, sampai mereka tak pernah tersenyum ramah seperti manusia normalnya.
Lucas pun duduk di kursi samping Nadia. Nadia pun yang merasa kursi sebelahnya bergoyang merasa sial. Sebentar dia melirik ke arah Lucas, dan mendumal dalam hatinya.
"Yah, sial. Kenapa pakai acara duduk di samping gue sih! Nad, Nad, lo pakai acara keceplosan manggil dia sih. Kena sendiri kan, tuh!" batinnya.
Lucas yang duduk di samping Nadia membuka minumannya dan meneguknya. Sempat Nadia lihat, jakun pria itu naik turun aduhai karena meneguk botol yang dia pegang.
Nadia bahkan sampai meneguk saliva melihat gairah dari seorang Lucas.
Sebelum Nadia semakin terpesona, dia memalingkan wajahnya dan berusaha melupakan pikiran kotornya. Dia menggelengkan kepalanya menghempas jauh - jauh pikiran kotor yang menyangkut secuil upil pun di sana.
"Nggak Nad! Lo nggak boleh sampai tersepoa sama kharisma si Pak Bos baru! Inget Felix, inget. Jangan main sorong karena cakep dianya. Udahlah lama - lama nggak beres otak gue mah!" batinnya.
Nadia yang kepanasan seperti cacing tanah, akhirnya kembali membuka pembicaraan.
"Eh, anu... Pak, saya mau permisi. Em, mau lanjut lari Pak Lucas."
Saat Nadia akan bangkit, ucapan Lucas membuatnya membeo. "Loh, kamu mau lari? Saya juga. Yaudah ayo lari bareng aja."
Mampus!
Dia rasanya udah jatuh, ketimpa tangga pula. Mendengar ucapan Lucas, Nadia meringis. "Eh, nggak usah Pak. Saya mau larinya di kamar saya kok. Alias balik ke apartemen hehe," alibinya.
"Apartemen kamu di daerah sini?"
Nadia mengangguk, "Iya, Pak. Noh deket di ujung udah sampai. Kenapa?"
"Yaudah saya antar sekalian mau lari lagi. Ayo!"
Kali ini Lucas sudah bangkit dari duduknya menunggu Nadia yang masih melongo.
"Kok masih duduk? Ayo, katanya mau balik?"
Nadia benar - benar merasa sangat membagongkan. Bagaimana Tuhan ingin mengujinya dengan imannya yang kekal. Ah, tidak ini sangat menyebalkan.