Chapter 14

1523 Kata
Ting! Nadia mendapatkan notifikasi pesan singkat dari Edgar. Matanya membulat melihat isi pesan singkatnya. "Ha!! Felix udah balik?! Kenapa nggak kabarin ish!" Dengan cepat, Nadia turun dan mengenakan random sandal yang ada. Dia lalu menuju ke mobilnya untuk menemui Felix, yang sudah berada di mansion keluarganya. Butuh setengah jam untuk menempuh perjalanan. Jarak antara apartemennya dan mansion keluarga, tak sedekat itu. Dengan diatas rata - rata, wanita itu mengendarai mobilnya. Sampai juga akhirnya di mansion keluarganya. Dengan terburu - buru, wanita itu masuk begitu saja menyelonong. "Ayang beb!!" teriaknya. Dia masuk dan menuju ke kerumunan, dengan sangat excited. Saat dia mendekat, matanya membelak, dan kakinya terhenti bergerak. Seorang wanita berbalik menatapnya dan tersenyum. "Halo, Nadia, sudah lama sekali ya..." Nadia memasang tatapan pertarungan tat kala melihat wanita itu duduk, terlebih di sofa samping pria yang dia rindukan, siapa lagi jika bukan Felix. Dengan kesal, dia mendekati Felix, dan duduk di antara wanita itu dan kekasihnya. "Nadia!" tegur Sandra. Nadia menoleh kearah sang Mamah tidak suka. "Apasih Mah, kan Nanad mau deket sama Felix. Kenapa sih!" Gladys, wanita itu tersenyum dan menggeser duduknya, memberikan ruang Nadia duduk di sisi Felix. Felix, menatap Nadia yang menekuk wajahnya masam. "Kamu nggak suka saya pulang? Betah sama Lucas lama - lama?" Nadia menoleh kearah Felix dan memajukan bibirnya. "Big, no! Aku tuh seneng banget kamu pulang. Kangen," katanya manja sambil memeluk Felix erat. Felix hanya berdecih melihat sikap manja Nadia, yang menurutnya sudah hal biasa. Sandra, yang melihat anaknya berulah hanya bisa pasrah, sambil meletakan minuman di meja depan mereka. Dia ikut duduk bergabung dan menatap Gladys, "Bagaimana kabar kamu, Gladys? Baik?" Gladys tersenyum tipis, "Saya baik Mbak. Seperti yang Mbak lihat, baik - baik saja." Sandra mengangguk. "Baiklah, anggap saja seperti rumah sendiri. Jangan sungkan." Nadia mendengarnya langsung melepas pelukan dan memelotot kearah sang Mamah. "Mah, anggap rumah sendiri? Memang, Tante ini mau tinggal di sini?" Sandra menghela napas sambil menatap wajah sang putri, "Iya. Ada beberapa hal yang membuat Gladys tinggal di sini. Mamah sama Papah udah setuju, Felix juga sudah menjelaskannya tadi." Mendengar kata Felix yang di bawa, Nadia memicingkan mata menatap pria itu. Namun, Felix malah menatap datar Nadia seolah tak terjadi sesuatu. "Di minum Gladys, pasti kamu lelah dari perjalanan jauh." Gladys tersenyum, "Terimakasih, Mbak." *** Di kamar lamanya, Nadia menggerutu sejak tadi. Dia, menghela napasnya dan berbolak - balik berpikir. Dia merasa kesal. Bukannya Gladys itu telah pergi, dengan suaminya dahulu? Lalu kenapa dia harus kembali, terlebih, wanita itu adalah wanita yang pernah di cintai oleh Felix. Nadia terus - terusan tak bisa tenang. Dia mondar - mandir memikirkan sesuatu. Tok tok! Pintu pun di ketuk oleh seseorang. Dan, saat wanita itu menoleh, Felix lah yang datang dan masuk ke dalam. Nadia menghela napas dan menatapnya. "Ngapain sih kamu bawa - bawa Tante Gladys balik?" Felix menghela napas, dan duduk di kasur. "Ada beberapa alasan saya membawanya kembali. Dia meminta tolong juga kepada saya Nad." Nadia memajukan bibirnya, "Minta tolong apaan? Giliran mantan minta tolong aja maju, giliran aku aja di kepretin, dih!" kesalnya. Nadia memutar tubuhnya kesal. Dia dalam mode merajuk saat ini. Bagaimana tidak, selama ini Felix hanya mengabari dia sekali dalam delapan hari. Itu pun, hanya tidak ada satu menit. Lalu, setelah dia kembali, dia membawa mantannya, Gladys, dan parahnya akan tinggal di mansion keluarganya. Dia jelas ingat betul bahwa wanita itu sebatang kara, tapi... kenapa harus keluarganya? Keluarganya kan bukan panti sosial? Memamg menyebalkan! Nadia masih membelakangi Felix, pria itu tau jika wanita cerewet dan banyak ulah itu pasti kontra, dengan kedatangan Gladys. Dia berdiri, mendekatinya. Tanpa menunggu, dia memeluk Nadia dari belakang. Nadia yang merasa tubuhnya di dekap, terkejut. Namun, dia, mencoba bersikap biasa, meski dia merajuk seperti ini. Felix, masih mendekap, dan memeluk pinggang ramping dari Nadia. Pria itu meletakan dagunya di atas bahu milik Nadia. Nadia ingin sekali berbalik arah dan memeluk mendekap dan menyalurkan rindunya yang mendalam. Namun, gengsi tak bisa menggugurkan egonya. "Saya rindu kamu..." Deg... deg... Jantung wanita itu sudah berdebar tak karuan. Hanya karena ucapan rindu dengan suara bass dan pelan, mampu membolak - balikkan hatinya. Belum lagi pelukan Felix yang semakin erat, membuat tubuh Nadia mendekap semakin ke belakang. Wanita itu pusing dan kesal. Dia harus menentang hasratnya demi sebuah ego. "Aaaa, gue nggak tahan harus marah - marah kayak gini sama Felix," kesalnya dalam hati. Nadia memejamkan matanya, tat kala sebuah benda kenyal basah menyapa kulit lehernya. Sensasi yang sulit di jabarkan, membuat sengatan darah Nadia mendidih dua kali lipat dari normal. Sentuhan s*****l itu bergerak, seirama dengan detak jantung yang semakin menggebu - gebu. Dia lemah, akan perasaan ini. Nadia bahkan tanpa sadar memiringkan kepala, membuka celah pria itu menjelajahi leher jenjangnya. Dengan sekejap saja, tubuh Nadia di balik cepat. Nadia merasa tersentak, namun, bibirnya sudah di raup dan di sapa hangat oleh bibir milik Felix. Nadia lemah dalam hasratnya. Dia tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher pria itu, dan membalas ciumannya. Keduanya saling bertaut tak membuang waktu. Wanita itu merasa lunglai, jika Felix tak menahan berat tubuhnya. Delapan hari, mereka tak bertemu, membuat perasaan rindu menjadi satu, dan meledak seketika. Felix masih dengan bibir yang saling bertautan, membawa Nadia ke atas ranjang. Tautan itu sempat lepas karena Nadia membutuhkan oksigen. Mata keduanya bertemu. Napas keduanya tak beraturan. Nadia, wanita itu memegang rahang sang kekasih, dan mengecup bibirnya singkat. Lalu, melepasnya, "I miss you." Felix kembali meraup bibir ranum wanita itu dengan lebih menuntut. Lidah mereka beradu di dalam sana, menyapu hangat rongga satu sama lain. Tangan pria itu merayap ke dalam kaos, sambil menautkan bibirnya ke ranum milik Nadia. Gerakannya mengelus, merasakan lembutnya kulit wanita itu. Nadia mengerang dalam ciumannya. Dia menggebu menginginkan lebih. Felix pun juga merasakan apa yang wanita itu inginkan. Namun, suara seorang wanita membuat pria itu menarik diri, melepas tautannya dan menoleh ke samping. "Ah, maaf. A- aku hanya tadi mencarimu Felix." Wanita itu pergi dari sana. Nadia, pun menatap tidak suka. Namun, dia tak mempedulikannya, karena dia terjerat dalam hasrat yang menggebu. Dia menangkup wajah kekasihnya, dan menatapnya sambil tersenyum. "Kita bisa lanjutkan kembali..." lirihnya. Nadia akan kembali mengecup bibir sang kekasih, namun, Felix menahannya. "Tidak, Nad. Kita harus berhenti saat ini juga." Felix menarik diri dan membenahi pakaiannya. Nadia pun menatap tidak percaya. Gairahnya memuncak, dan pria itu menolaknya? "Felix..." geramnya. Felix menghela napas, dan memajukan diri, mencium keningnya. Dia masih tercengang tidak percaya. "Saya akan keluar sebentar. Kau tunggu di sini." Felix bangkit dan keluar dari kamar Nadia. Nadia mengepalkan tangannya dan memukul kasurnya kesal. "I hate you, bitchh!" Andai, Gladys tak mengganggu waktu mereka, sudah di pastikan dia akan damai dan terbangun dalam dekapan Felix. Wanita itu memang sungguh menyebalkan, dia membecinya. *** Seharian penuh Nadia hanya di kamarnya. Moodnya yang buruk, membuat dia tak bergairahh melakukan apapun. Dia menjadi sangat kesal. Saat kesal masih melandanya, Tuhan memang selalu tau saja apa yang semakin membuatnya kesal. Tok tok! "Masuk!" Seseorang masuk dengan memberikan senyum hangat kepadanya. Nadia menoleh, dan semakin mendumel dalam hati. "Nad, aku bawain makanan buat kamu. Kata Mamah kamu, kamu lagi nggak mood turun ke bawah." Nadia ingin sekali menenggelamkan diringa dalam rawa - rawa. Jelas saja penyebab moodnya buruk adalah wanita ini. Lalu, kenapa dia semakin mendekat dengan dalil 'sok perhatian', memang memuakan sekali. Gladys, dia meletakan makanan di atas meja samping ranjang Nadia, dan menatap wanita yang sama sekali tak meresponnya. Tatapannya beralih pada foto yang di pajang di bawah laci meja, foto dia dan Felix yang tengah memeluk mesra. "Dari dulu kalian belum berubah ya, masih sama - sama terus." Nadia langsung menatapnya, "Jadi, maksud Tante Gladys, aku suruh pisah sama Felix gitu? Iya?" Gladys mengerjapkan matanya. Dia menggaruk tengkuknya tak gatal. "Ah, maaf. Sepertinya kamu salah paham." "Udah deh sana, mending pergi dari kamar aku. Aku lagi males!" "Tapi, kamu jangan lupa makan ya, nanti kamu sakit, Nad." Nadia yang panas kupingnya berdiri dan mendorong Gladys untuk pergi dari sana. "Ihh, minggir deh- eh?" Bug! Tanpa sengaja Gladys terjatuh di depan kamar Nadia. Nadia hendak menolong, gerak refleknya, namun, Felix malah sudah berlari dan menolongnya bangun. "Gladys, kamu tidak papa?" Gladys yang melihat Felix menggelengkan kepalanya. Pria itu membantu Gladys bangun, dan menatap Nadia. "Nadia, kamu kenapa kasar mendorong Gladys? Secara umur, dia lebih tua di banding kamu. Itu tidak sopan." Nadia berdecih, "Gue nggak dorong dia! Dia aja yang lemah jatuh. Gue cuma minta dia pergi dari kamar gue, dasar lemah!" Brak! Nadia menutup kasar pintunya kesal. Gladys yang melihat ketidak sukaan Nadia, menghela napas. Dia, menatap kearah Felix yang masih menatap pintu kamar Nadia dalam diam. "Kamu sebagai kekasih, jangan pernah meninggikan suara di hadapan Nadia. Dia, masih muda Felix. Kamu seharusnya memahaminya." "Tapi, dia sudah beranjak dewasa. Dia bukan anak kecil lagi." "Itu resiko kamu menjalanin hubungan dengan wanita muda. Dia memiliki emosi yang tidak stabil. Seharusnya kamu memakluminya." Gladys pergi dari sana, meninggalkan Felix yang masih terdiam menatap pintu kamar Nadia yang tertutup rapat. Di dalam kamar, Nadia benar - benar mengalami mood buruk sekali. Dia, memasang head seat di telinganya, dan memutuskan menonton drama korea saja. Dia benci Felix, sangat benci sekali saat ini. "Liat aja, gue bakal cuekin dia seharian! Siapa suruh bela cewek lain!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN