Chapter 15

1954 Kata
Dengan lesu Nadia, wanita itu keluar dari mobilnya. Dia, masuk ke dalam gedung besar, yang selama ini dia tempati. Saat dia melangkah, sapaan hangat datang kepadanya. Nadia berhenti dan membalasnya tak kalah ramah juga. “Pagi Nadia,” sapanya. “Pagi juga Mbak Karin.” Nadia melihat sekeliling yang masih sepi. Dia, mendekati Karin, dan berdehem. “Mbak, mau tanya nih.” Karian menatap Nadia, sambil heran, “Tanya apa sih, kok kayak bisik – bisik begini?” “Bos udah balik kah dari dinasnya?” “Bos? Maksud kamu Pak Felix?” Nadia menganggukan kepalanya sambil menatap Karin. “Iya, ada perlu sih.” “Kenapa? Mau kas bon lagi sama bos?” Nadia menyengir, menjadikan alasan Karin sebagai alibi. “Tau aja. Namanya orang kismin aku Mbak.” “Miskin kali Nad.” “Iya itu sih intinya.” Karin membuka buku jurnalnya, lalu melirik kearah Nadia. “Udah balik sih Bos, cuma dia cuti Nad.” “Cuti? Maksudnya?” “Iya, katanya sih ada beberapa urusan juga. Jadi, kepemimpinan masih sama Pak Lucas.” Nadia menggerutu di dalam hatinya. Kekasihnya sudah jelas pulang, namun, kenapa dia malah mengalihkan pekerjaan untuk sesuatu yang bahkan saja Nadia tidak tau. Apakah ini ada hubungannya sama Gladys? Nadia yang diam, membuat Karin heran. “Nad, gimana kalau kamu pakai uang aku aja dulu?” Nadia menatap Karin, dan menyengir, “Eh, nggak usah Mbak Karin. Nanti – nanti aja deh. Yaudah, aku masuk ke dalam duluan ya Mbak. See you!” “Oke,” kata Karin pelan sambil tersenyum. Nadia yang berjalan kedalam menghela napas, sambil meng- scan barcode id cardnya. Palang pintu pun terbuka, dan kemudian dia masuk dan berjalan kearah lift. Menunggu lift terbuka, pikirannya tertuju pada apa yang di katakan Karin sebelumnya. Belum lagi hatinya yang panas menggerutu sejak tadi. Ting! Dia masuk ke dalam lift. Lalu, menekan tombol lift dan lift pun tertutup. Di dalam lift, masih saja terus memikirkan berjuta pertanyaan yang membelit pada otak kecilnya. Dia penasaran, namun gengsi untuk bertanya. Tapi, meski pun dia akhirnya bertanya tidak juga di jawab oleh pria itu mestinya. Ting! Lift pun terbuka. Dia keluar dari berjalan menuju ke ruangannya. Karena tak fokus, dia menabrak karyawan lain yang sedang membawa barang – barang. Brak! “Eh?” refleks Nadia. Ternyata, yang tertabrak Nadia, adalah Anggit- sahabatnya. Anggit menghela napasnya, melihat Nadia menabrak dan membuat barang yang dia bawa terjatuh. Nadia, yang merasa bersalah, membantu memunguti barang milik Anggit yang berceceran di lantai. “Sorry Nggit, gue nggak sengaja.” “Makanya hati – hati kenapa sih. Lusuh banget wajah lo.” Nadia menyerahkan barang – barang Anggit yang sudah dia punguti, dan pria itu pun menerimanya. Anggit menaikan sebelah alisnya menatap Nadia. “Lo kenapa sih lesu amat pagi – pagi.” Nadia menghela napas. “Nggak papa, yaudah gue masuk ke office dulu.” Nadia lalu pergi berlalu, meninggalkan Anggit yang masih setia menatapnya. Anggit pun yang masa bodohh, dia mengangkat bahunya acuh dan membawa barang – barangnya ke lift untuk turun. *** Sampai di ruangannya, Nadia meletakan tasnya dan mulai membuka laptop. Saat dia menatap layar monitor yang belum hidup, sebuah bayangan seorang pria berjalan membuat matanya membelak. Dia menoleh ke belakang, dan melihat seorang yang membuat dia marah, kesal, dan juga berbunga itu berjalan menuju ke ujung dengan santai. Senyuman yang tadi di simpan, terbit tat kala melihat pria itu datang. “Kata Mbak Karin, nggak ngantor? Ini, kok ke kantor, sih?” katanya senang. Nadia yang penasaran pun, mengikuti Felix. Felix, pergi menuju ke ruangannya. Dia masuk ke dalam dan pintu pun tertutup. Wanita itu penasaran dan mengintip apa yang Felix lakukan di dalam ruangannya. Saat dia masih berusaha mencari celah mengintip, dia di kejutkan dengan seorang wanita yang ada di belakangnya. “Nadia?” Nadia terkejut dan refleks menoleh ke belakang. Saat dia menoleh ke belakang, ternyata, seorang wanita itu adalah Gladys. Gladys? Untuk apa dia datang ke kantor kekasihnya? Nadia menatap Gladys dengan memicing. “Ngapain ke sini?!” ketusnya. Gladys yang tau, nada tak bersahabat Nadia itu, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ah, maaf. Aku datang ke sini karena ada beberapa alasan.” Nadia bersedekap di depan dadaa, menatap Gladys tidak suka. Sementara di belakangnya, pintu ruangan Felix terbuka. “Gladys?” Nadia menoleh, mendapati Felix yang sedang berdiri di belakangnya. Bahkan, yang di sapa adalah wanita itu, bukan dirinya. Felix, melirik Nadia yang menatapnya kesal. Dia, melihat ke sekeliling yang mulai ramai karyawan yang berlalu lalang. Dia berdehem, “Nadia, kamu bisa kembali ke ruangan kamu. Untuk Gladys, masuk ke dalam, ada yang harus saya bicarakan dengan kamu.” Nadia terbengong dengan apa yang Felix itu katakan. Dia benar – benar kesal terlebih saat melihat wanita itu masuk dengan mudah di dalam ruangan Felix. Saat Nadia masih terdiam di depan ruangan Felix, yang sudah tertutup, kedua wanita menghampirinya. “Nad, lo tau tadi siapa yang masuk ke kantor Bos? Jangan – jangan si pacar bos. Kok cantik banget sih.” “Iya, cantik kan Nad orangnya? Lo tau nggak namanya, gue kepo banget ish, beruntung banget yang jadi ceweknya si bos ya kan…” Nadia menggerutu sebal dalam hati. “Hey, gue pacar Felix! Gue, pacar Felix oyy! Gue wanita beruntung itu. Kenapa malah Gladys sih!” teriaknya dalam hati. Mendengar kedua teman kantor memuji Gladys, dia dengan dingin menatap keduanya. “Gue nggak tau!” Wanita itu pergi dari sana menghentakan kaki. Sementara kedua wanita itu saling menatap. “Ye, dia lagi datang bulan kali.” “Iya Mar, yaudah yuk gossip ke yang lain!” *** “Apa salah dan dosaku sayang… Cinta ini kau buang – buang… Lihat jurus yang ku berikan jaran dansa… jaran dansa…” Anggit yang mendengarnya kesal. “Nad, woi! Jaran goyang. Bukan jaran dansa!” Nadia menoleh dan menatap Anggit, “Yang penting sama artinya kan. Nggak usah rusuh deh Anggit, gue lagi nggak mood buat bertengkar sama lo!” “Yang mau bertengkar juga siapa. Nih!” Anggit menyodorkan sebuah undangan kepada Nadia. “Undangan apa nih?” “Lo inget Carsela yang hits waktu kuliah nggak? Anak fakultas hukum.” “Oh, yang lo tidurin itu?” “Anjim kali kau nak. Inget aja!” “Ya inget lah, lo jadiin gue korban tamparan para mantan lo. Selalu ngakunya gue pacar baru lo. Sampe gue nggak tenang mantan lo bar – bar banget sih!” “Carsela nikah tuh. Dateng yok!” “Boleh sih. Kapan? Mumpung ada makanan gratis, hemat pengeluaran gue.” “Ye, orang harta bokap nyokap lo nggak akan habis juga. Lo kan anak tunggal.” “Ih, apaan gue fakir miskin kok. Yaudah ntar gue jemput. Oke?” “Siap, pake di ingeti segala. Apartemen kita sebelahan tololl ah,” kata Anggit. “Ya biar kelihatan formal aja lah, di ingetin haha.” *** Malam harinya, Nadia berdandan. Dia menggunakan dress diatas lututnya, dan memoles make up di wajah cantiknya. Memang tanpa make up pun, wajah Nadia terlihat sudah cantik alami. Namun, tetap saja aneh dia datang ke pesta pernikahan dengan wajah yang polos. Dia berdiri dan menatap dirinya di cermin. Dia tersenyum tipis. Sekali – sekali refreshing dan melupakan semua pikiran negative, dan bersenang – senang dengan makanan gratis. Tin tin! Nampaknya mobil milik Anggit sudah berulah. Ya, begitulah pria berusia dua puluh tujuh tahun itu, wajah dewasa namun sikap kanak – kanaknya masih melekat, tapi anehnya itu hanya di tunjukan kepada Nadia seorang. Jika kalian tanya, bagaimana dia mengenal Anggit? Sebenarnya, Anggit adalah kakak dari sahabatnya kuliah. Namun, karena dia sering ke rumah Anggit, dia bertemu dan menjadikan dia akrab. Terlebih, Anggit bukan pria gilaa hormat karena umur yang lebih. Namun, dia pria yang easy going, humble dan mudah beradaptasi dengan banyak orang. Apa lagi Anggit merupakan karyawan Felix, sehingga saat dia magang, dia di pertemukan kembali dan menjadi semakin dekat, sedekat apartemen mereka yang bersebelahan. Nadia pun menggunakan sepatu flat shoes hitam, dan membuatnya senada dengan dress berwarna hitamnya. Lalu, dia keluar dari apartemen untuk menemui Anggit. Anggit dengan gaya sombongnya di kursi kemudi berdecih melihat Nadia. “Lama amat, janda aja lebih cakep di banding elu. Cepetan naik!” Nadia memutar bola matanya malas, dan langsung naik ke dalam mobil Anggit. “Ye, sabar. Ya kali gue polosan kek bangun tidur? Gengsi lah!” katanya sambil memasang sabuk pengaman. “Iya, serah dah Ibu Negara.” Mobil Anggit akhirnya jalan, dan menuju ke tempat tujuan utama, gedung pernikahan Carsela. Di dalam mobil, Nadia diam saja sambil melihat ke luar jendela. Anggit yang menyetir mobil, dia melirik kearah wanita itu. “Tumben amat sopan mulutnya diem, kagak buat polisi.” Nadia menoleh dan menyeringit. “Polisi? Polisi apaan? Tangkep maling?” “Ih, bukan. Polisi udara, temennya jigong.” “Ye, itu polusi. Bukan polisi, b**o amat ha lo!” kesalnya. Anggit tertawa melihat wajah kesal Nadia. “Ye, ngambek. Namanya orang ganteng bebas.” “Ganteng eyes lo!” Mobil Anggit tak lama sampai. Mereka turun. Anggit dengan sok cool, meletakan kedua tangannya di dalam kantong celananya. Sementara Nadia yang melihat geli yang ada. Mereka memasuki gedung pernikahan yang cukup mewah. Nadia, di sisi Anggit menatap pria itu. “Mau salaman sama pengantinnya dulu? Cie, ketemu mantan haha!” “Hush, gue sumpel mulut lo ya!” ancam Anggit. Nadia, lalu tertawa melihat ancaman Anggit yang sama sekali tak berpengaruh untuknya. Anggit memutar bola matanya jengah. Dia lalu menggenggam tangan Nadia satu tangan dan menatapnya. “Di hadapan mantan, harus terlihat bahagia bukan? Lo, patner gue sekarang. Jangan bar – bar buat gue malu di depan mantan, Nad. Please…” Nadia menghela napas. “Kesian amat idup lo. Yaudah iya!” Nadia malah melepas genggaman Anggit, dan mengapit lengan dari Anggit. “Ayo, gas! Buruan, gue laper!” Anggit dan Nadia berlagak sebagai pasanganan mendekati pengantin. Dia tersenyum dan memberi selamat pada Carsela, mantan kekasih Anggit. “Oh, Mas Anggit sama Nadia datang juga. Thanks udah datang di pernikahan aku ya…” Nadia, mengeratkan pelukannya di lengan Anggit. “Iya, congrats ya atas perniakahan lo Cars, gue ikut bahagia.” “Iya, nyusul gih buruan sama Mas Anggitnya Nad.” Mengatakan itu, membuat Nadia menatap Anggit dengan bergidik ngeri sambil tertawa. “Haha, ya gampang lah. Sekali lagi congrats ya!” Mereka akan turun dari panggung. Namun, sepatu Nadia di injak seseorang membuat dia goyang akan jatuh dari panggung. “Argh!” Dia terjatuh, namun, jatuh pada sebuah dekapan orang lain. Anggit pun yang melihat sama – sama terkejut karena wanita itu hampir jatuh. Nadia, melihat pria yang menangkapnya terkejut. “Felix?” Dadanya berdebar terus mengetahui Felix juga datang di pesta ini. Dia merasa senang, bahagia, namun… itu hanya sesaat sebelum wanita lain datang dan menghampiri mereka. “Felix, aku udah kembali dari kamar mandi.” Nadia yang masih dalam posisi dekapan Felix, dan di tonton banyak orang menatap wanita itu merasa tidak menyangka. “Gladys?” Nadia, melepas tangan kekasihnya di pinggang rampingnya. Dia, menatap Felix dengan tidak percaya. “Jadi, kamu pergi ke pesta tanpa aku, dan memilih dia?” Felix, yang diam, mencoba meraih tangan Nadia. Nadia memundur satu langkah. Dia benci dalam kondisi di tempat umum, dan di lihat semua mata yang memandang. “I hate you,” gumamnya pelan. Anggit yang melihat Nadia kesal, dia mendatangi Nadia. “Nad, are you oke?” Nadia, menatap Anggit dengan perasaan yang kesal. Lalu, dia memegang tangan Anggit, “Gue udah kenyang. Balik yuk!” Nadia menarik Anggit keluar dari pesta. Gladys pun yang menatap Nadia dan seorang pria pergi merasa bersalah. Dia menatap Felix dengan sendu, “Felix, sorry. Aku- aku-” Felix masih dengan diamnya mengangkat tangan. “Kita pulang.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN