Chapter 16

1713 Kata
Dengan kesal Nadia langsung masuk begitu saja ke apartemennya tanpa mengucap sepatah kata kepada Anggit yang masih di balik kursi kemudinya. Anggit  turun, dan menyusul wanita itu yang sudah masuk ke dalam aprtemen dan membanting pintunya. Pria itu menekan bel apartemen, dan mencoba memanggil Nadia, “Nad. Lo nggak papa? Buka dulu gih, gue mau numpang boker.” Raut Anggit gelisah, namun, masih dengan stay cool dan bercandanya, berharap wanita itu meski kesal membukakan pintu untuknya. Dia masih mencoba membujuk Nadia untuk membukakan pintu apartemennya, namun, nihil sampai dia menunggunya. “Nad, ayolah, gue udah mau kecepirit nih. Ayolah, anak baik, anak cakep, mirip Raisa yang bahenol lebih menggoda dari pada janda, ayo buka dulu gih pintunya…” Namun tetap tak ada respon dari dalam. Anggit pun menyerah, dan menghela napas. Dia mendekatkan dirinya pada pintu. “Yaudah, kalau lo pelit nggak mau sharing kamar mandi, gue balik dulu ya. Kalau mau sesuatu, lo bisa telpon gue, oke? Gue balik ya Nad!” Di balik pintu apartemen, sebenarnya Nadia sudah mendengar semua ucapan dari Anggit. Namun, tubuhnya memilih untuk menetap diam, di bawah lantai sambil memeluk kakinya. Pikirannya hanya berpikir mengenai kenapa Felix jahat kepadanya? “Gue benci lo Tante! Gue benci lo, Felix! Bangsatt kalian!” Ting tung! Bel apartemennya berbunyi. Nadia berdecih, “Ih, tuh Anggit katanya mau balik. Tapi, nggak jadi balik – balik juga sih!” Nadia dengan malas bergerak berdiri, dia membuka pintu apartemennya kasar dan mengomel tidak jelas. “Anggit lo balik deh, kamar mandi gue bukan wc umum. Jadi, lo balik apartemen lo aja san-” Nadia berhenti melihat yang datang bukan Anggit lagi, melainkan Felix. Dia, mengatupkan mulutnya dan menatap kesal kearahnya. “Ngapain kesini? Udah kelar pestanya?” Felix menatapnya, dia menghela napas. “Maaf.” Nadia berdecih. Dia menatap manik mata Felix lekat. “Apa karena Tante sialann itu lebih dewasa, dan aku masih terlalu kanak – kanak, sampai bahkan kamu milih ke pesta sama dia di bandingkan sama aku?!” “Bukan seperti itu Nad.” “Jadi, yang kamu bilang urusan sama dia, ini?” Felix berusaha menggapai tangan Nadia untuk menjelaskannya. Namun, Nadia menghempas tangan Felix. “Nggak semua masalah harus di selesaikan saat ini juga. Aku tipe orang yang suka ribut panjang. Jadi kamu mending pergi dari sini, apartemen aku tertutup untuk kamu!” Nadia melengos dan masuk ke dalam aprtemen meninggalkan Felix yang terdiam di tempatnnya. Di dalam, Nadia menghela napas dan memejamkan mata. “Bodo amat lah, gue capek mau tidur!” Nadia naik ke atas kamarnya dan merebahkan dirinya yang lelah di atas kasur, tanpa mengganti pakaiannya dan mencuci tubuhnya. Dia terlalu lelah dengan permasalahan yang ada. “Cukup Nad, cukup, besok lo ngantor, dan lo butuh istirahat! Oke sip!” Nadia merangkul gulingnya dan memejamkan mata berusaha menyusul di alam mimpinya. Namun, dia merasa aneh, tak bisa tertidur meski tubuhnya lelah. Dia gusar gelisah tak tau harus bagaimana. Dia menghela napas sambil merentangkan tubuhnya, menatap langit – langit kamarnya. Dia merasa tidak adil. Kenapa dia yang tak bisa tidur, seolah dia tertangkap berselingkuh dengan pria lain, dan harus menjelaskannya? “Aaaa, kacau!” ringisnya. Nadia lalu berguling ke sana kemari untuk bisa tidur. Mungkin jika dia membuat tubuhnya menjadi lelah, kemungkinan dia akan langsung tertidur lelap. *** Keesokan harinya, lingkar hitam siap menerjang bawah matanya. Dia menatap cermin dan dengan wajah yang masam. Bagaimana bisa dia malah tertidur setelah pukul jam tiga pagi? Sementara dia harus berangkat ke kantor pukul setengah tujuh pagi. Wanita itu memoleskan make up, untuk menutupi lingkar mata hitamnya. Dia tak mau terlihat mengenaskan. Bisa jadi Gladys adalah orang yang senang melihat lingkar matanya nanti, dan tertawa paling bahagia. Memang menyebalkan sekali. Dengan lesu, Nadia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar. Dia harus berangkat sekarang sebelum terlambat ke kantor. Dia, menaiki mobil untuk pergi ke kantor. Beberapa menit dia berjalan, sudah di hadang oleh lampu merah yang semakin membuatnya bad mood. “Kenapa sih, pakai acara lampu merah juga! Nggak like!” Nadia melirik ponselnya yang ada di dash board. Dia, memang sengaja belum menghidupkan ponselnya sejak semalam. Tak ada gairahh ingin mendaptakan spam chat, atau telpon dari Felix, meski dia sangat suka dan menginginkan hal seperti itu. Dia sampai di kantor tepat waktu, dan memarkirkan mobilnya lebih dahulu sebelum masuk ke dalam kantornya. Saat di parkiran, dia bertemu dan berpapasan dengan Anggit yang juga sepertinya berangkat ke kantor. Melihat Nadia yang sudah datang, Anggit pun menghampiri wanita itu. Dia menatapnya khawatir, melihat wajah lesu Nadia. “Woy, kemana aja semalem gue telpon chat nggak di bales, malah nggak aktif.” Nadia melirik males, “Males, gue sengaja buat nggak nge- hidupin ponsel. Ribet mau tidur nyenyak.” “Yakin lo tidur nyenyak?” Nadia memikirkan sejenak, apa yang Anggit katakan benar. Bukannya dia tidur nyenyak karena mematikan ponselnya, yang ada di malah tidur pagi. Nadia menempis pikirannya, dan memutar bola matanya. “Apaan sih! Udah ah, mau masuk kantor!” Nadia berjalan mendahului Anggit. Anggit yang melihat Nadia mendahuluinya berteriak, “Woy! Tunggu lah, kita kan se- kantor ogebb!” *** “Nad, tolong kamu kasih ke ruangannya Pak Lucas ya. Ada dokumen yang harus di tanda tangani beliau,” ujar seorang wanita dengan rol yang ada di poninya. Nadia menoleh, dan mengambil dokumennya. “Iya Mbak Arsa, aku kasih Pak Lucas habis ini ya, barengan sama ngasih jurnal juga.” “Okedeh, thanks ya.” “Yoi Mbak!” katanya santai. Nadia menyelesaikan salinan jurnalnya, dan lalu setelah itu selesai untuk di berikan kepada Lucas, bosnya. Dia mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruangan Lucas. Laulu, memutar knop pintu untuk masuk ke dalam. Saat dia masuk ke dalam, Lucas ternyata tak sendirian. Ada, Felix yang berada di ruangan Lucas membuat mood Nadia semakin jelekk. Dengan terpaksa, dan jiwa professional, dia masuk kedalam rungan Lucas. Dia berjalan mendekati meja Lucas dan tersenyum tipis. “Selama pagi Pak Lucas. Saya mau mengantar jurnal, dan juga ada dokumen yang harus Bapak tanda tangani juga.” Nadia menyerahkan pada Lucas. Pria itu masih melihat dokumen, sementara Nadia menunggunya. Sekilas, wanita itu melirik kearah Felix yang terdiam, dan menatap kearahnya. Karena dia sedang merajuk, dia langsung memutus kontak mata mereka, dan menatap kearah Lucas. Lucas menganggukan kepalanya dan mendongak menatap Nadia. “Nah, buat kerjaan tuh gini, saya nggak usah pakai urat buat negur kamu karena nggak bener kerjaannya.” “Hm- Eh, eh maksudnya saya iya hehe, maaf Pak.” Lucas yang tadinya mau marah, tapi tidak jadi. Dia mengembalikan dokumen itu kepada Nadia. “Nad, jadwal saya satu jam ke depan apa?” Nadia mengingatnya, dan dengan satai menyampaikan kepada Lucas. “Jadwal Bapak satu jam ke depan, adalah tidak tau. Karena saya lupa.” “Kok bisa lupa? Kamu itu sekretaris saya!” kesal Lucas. “Eng- Ya maaf, bentar saya ambil jadwal Bapak dulu.” Nadia mengundurkan diri dan kembali ke ruangannya. Sementara saat dia di ruangannya dia meremas – remas tangan dan meninju berkas yang dia pegang. “Ngapain juga sih Felix nongkrong di ruangan Pak Lucas! Biasanya aja sibuk bareng si Tante – Tante, ini sok muncul upgrade muka! Sebel…” Nadia berjalan dan mendekati meja lain. “Mbak Arsa, ini dokumennya udah di tanda tangani oleh Pak Lucas. Nih.” “Wih, makasih ya Nad.” “Iya, sama – sama Mbak. Yaudah aku balik ke ruangan Pak Lucas dulu ya, tanya jadwal tuh si bos. Mana inget aku.” Wanita yang di panggil Arsa tertawa. “Kamu harus inget – inget dong, Nad. Karena apa, bos Lucas akan di perpanjang ke pemimpinan jadi dua bulan di sini.” Nadia melongo, “Loh, bukannya cuma seminggu lebih aja ya?” “Ya, iya sih. Tapi aku baru dapat kabar kalau di perpanjang sama Bos Felix. Mungkin memang nggak sepenuhnya kepemimpinan di pimpin Bos Felix, jadi kayak wakil pimpinan sih Nad, Pak Lucas.” “Jadi, terus Bos kita Pak Felix cuti?” “Nggak kok, dia masih tetep ngantor, ya cuma kalau pekerjaan masalah internal ke Pak Lucas. Bos cuma ngecek aja, sama masalah eksternalnya.” “Kok bisa gitu ya Mbak?” “Iya dong, kan Pak Lucas kabar – kabarnya temen Pak Felix, nggak heran kok. Apa lagi background keluarga mereka kelas bisnis atas lo. Yaudah, sana balik kerja, ntar di ceramahin Pak Lucas lagi haha.” Nadia, menganggukan kepalanya. “Yaudah deh Mbak, aku kembali kerja ya.” “Oke sip!” Nadia kembali ke ruangan Lucas dan masuk. Dia mendekat dan membacakan jurnalnya kepada Lucas. Saat dia akan membacakannya, Lucas tiba – tiba sudah menyelonong bicara. “Jadwal Bapak-” “Meeting dengan klien dari China, dan dua jam lagi lunch bersama klien.” Nadia mengerutkan keningnya menatap Lucas, “Loh itu Bapak tau, kok tadi nyuruh saya kasih tau jadwal.” Dengan santainya malah Lucas mengatakannya, “Ya, biar formal aja kamu jadi sekretaris saya. Enak aja makan gaji buta.” Nadia mengepalkan tangannya kesal. “Dih, kan saya magang di sini juga ngerjain yang lain, Bapak Lucas… Saya nggak makan gaji buta dong…” elaknya. “Menjawab Bos, gaji kamu saya potong!” “Lah, kok gitu sih? Nggak boleh ngadi – ngadi deh jadi bos ya elah, Pak!” protesnya. “Yaudah sana balik, sebelum potong nih gaji kamu,” jelas Lucas. Nadia dengan kesal memeluk jurnal jadwal Lucas dan menatapnya sebal. “Iya, selama pagi Bapak, saya keluar.” Lucas tertawa melihatnya yang kesal. Melihat pintu sudah tertutup, dia melirik kearah Felix yang dari tadi diam. “Udah puas lo? Lagian lo sih, ngapain juga ngajak Gladys di banding cewek lo?” Felix menghela napas. “Gue nggak tau dia di sana juga Luc. Gladys minta tolong gue nemenin dia, karena disana ada Aron. Lo tau sendiri, Aron obses ke Gladys. Lo kenal Aron juga kan?” Lucas menghela napasnya. “Iya, gue paham. Aron memang pria yang obses dan kasar. Mungkin lo bisa jelasin ke dia, terbuka lah sama cewek sendiri.” “Gue nggak bisa, gue takut dia semakin salah paham. Karena, Nadia keras kepala.” “Lo juga keras kepala, udah bubar aja lah,” kata Lucas dengan sangat santai sekali kepada Felix. “Fuckk you!” geram Felix marah. Mendengar marah Felix, Lucas malah tertawa geli dengan pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN