Chapter 17

1102 Kata
Pulang kantor, merasa badannya lelah, Nadia tak mampir kemana – mana. Dia langsung pulang ke apartemennya, dan berencana tidur saja sampai pagi. Tapi, saat mobilnya sampai di apartemennya, dia turun dan melihat seorang wanita yang benar saja dia kenal. “Tante, ngapain lo ke sini? Ini, apartemen gue, ngapain juga kesini. Tau dari mana alamat gue.” “Mbak Sandra yang kasih tau, Nad. Saya datang untuk menjelaskan semuanya.” “Apasih, jelasin apaan? Matematika? Bahasa Indonesia? Gila, gue bukan pelajar lagi. Udah sono minggir, nge- ganggu polisi udara aja!” Nadia menerobos, dan menyelonteng bahu Gladys, sehingga bisa masuk ke dalam. Namun, saat dia akan meng- scan apartemennya, Gladys menahan tangannya. “Nad, saya butuh waktu bicara dengan kamu.” Nadia menolehkan kepalanya ke samping, “Dan gue nggak butuh waktu buat bicara sama lo ya Tante, sekarang lepas tangan gue atau gue gigit,” ancamnya. Gladys malah tak menghiraukan ucapan dari Nadia. Dia, masih memegang tangan Nadia, dan menatapnya lekat. “Nadia dengarkan saya terlebih dahulu. Saya dan Felix, sungguh datang ke sana hanya untuk- Aww aw!” Nadia benar – benar menggigit tangan perempuan itu dengan kencang. Sehingga dia melepaskan genggaman pada tangan Nadia, dan membuat wanita itu lolos dan masuk ke apartemen begitu saja. Gladys, yang melihat bekas gigitan di tangannya hanya menghela napas sambil melihat kearah pintu apartemen yang tertutup rapat. Di dalam apartemennya, sudah hampir dua hari tak terinjak oleh Felix. Dia bahkan tak ingin berhubungan, atau sekedar bertemu untuk meluruskan kesalah pahaman saja sepihak. Badannya, dia rebahkan di sofa, dengan kaki yang mengangkat di atas meja. Tangannya bergerak dan membuka ponselnya. Sejak tadi pagi, dia sama sekali tak menyentuh ponsel, bahkan menghidupkan benda pipih itu. Saat dia hidupkan, ternyata, zonk sekali. Tak ada spam panggilan dari seorang yang menghantui pikirannya dengan berbagai sebab sepihak. Di otaknya, pasti ribuan miss call dari sang pacar masuk saat seharian penuh tak menyalakan ponsel. Namun, nihil sekali. Nadia tertawa, menertawakan dirinya yang sangat luar biasa halunya. Bisa – bisanya dia berharap bagai di sinetron. Dia berdecak dan menggelengkan kepalanya. “Hey Nad, lo ini bukan tokoh utama. Buat apa juga si Felix bakalan ribut buat nelpon lo? Lo nggak ada apa – apa buat dia. Dia udah ada si Tante sialann itu Nad, sadar yok, sadar!” gumamnya. Nadia yang kesal membanting ponselnya hingga retak . Dia marah, namun tak bisa meluapkan emosinya dengan gamblang. Nadia memejamkan matanya dan mengusap kasar. *** Kegiatan wanita berusia dua puluh empat tahun itu hanya tidur, bergelung pada selimutnya. Tak ada satu pun yang bisa mengganggunya, secara password dan scan- finger apartemennya hanya dia setting untuk dirinya sendiri. Dia sudah menghapus jejak – jejak Felix pada apartemennya. Dengan lesu, Nadia bangun dan melihat ke samping pukul berapa saat ini. Saat dia terbangun, ternyata sudah pukul enam sore. Perutnya berbunyi. Dia memegang perutnya yang berdemo dan menghela napas. Dia membutuhkan sesuatu untuk mengisi perutnya. Maka dari itu, sangat terpaksa Nadia untuk keluar kamar dan menuju dapur mini yang ada di apartemennya. Berharap ada sesuatu yang bisa dia makan. Saat Nadia membuka pintu kulkas, hanya ada botol – botol air mineral saja tanpa bahan – bahan yang bisa di masak. Wanita itu menghela napas, dan memegang perutnya yang lapar. “Serius nih, gue mati kelaparan? Shitt!” Mau tak mau, wanita itu harus keluar untuk mencari makanan. Dia membawa dompet saja, sementara ponsel rusaknya yang sudah retak tak mungkin juga dia bawa. Dengan mengenakan kaos pendek oblong, dan celana pendek, serta sandal jepit saja dia keluar dari apartemennya sambil mencari tempat makan terdekat yang bisa menyelamatkan perutnya dari serangan demo masal. Dia, berjalan keluar dari apartemennya dan kemudian menyusuri jalanan. Dia butuh sesuatu untuk mengisi perutnya yang kosong. Sederetan jalan, tak ada makanan yang buka. Nadia berjalan sambil berdecih kesal. Mana, dia tak bisa memesan food online, karena ponselnya mati lagi. Di saat harapan Nadia melambung jauh, sebuah secercah harapan pun datang. Satu tempat makan, seperti restaurant buka. Dengan tanpa membuang waktu pun dia masuk untuk menyelamatkan diri. Dia duduk, dan memanggil pelayan datang. “Permisi Kak, mau pesan apa?” “Em, mau nasi goreng pedes gila satu. Mie goreng nyemek boleh deh. Pakai sate padang boleh juga tuh enak, sama minumannya es the tapi yang dingin ya Mas, biar segar.” Pria itu mencatat pesanan super banyak Nadia, dan mengangguk. “Baiklah Kak, mohon tunggu sebentar pesanannya.” Menunggu makanan yang dia pesan jadi, dia menatap ke sekeliling. Dia bosan, tak ada gadget miliknya. Seandainya dia masih memiliki gadget utuhnya, dia tak akan bosan, dan santai di apartemen sambil memesan makan malamnya. Tak lama, pesanannya datang. Dia, sendiri memakan makanannya. Dia lapar, dan memakannya dengan lahap. Cukup lama, menghabiskan makanan yang membuat sendawanya terdengar. “Ahh, kenyang sekali!” Nadia, menyusrup minumannya sebagai penutup. Lalu berdiri dan akan membayar. Namun, saat dia akan membayar, ternyata, dompetnya kosong tak ada uang cash sama sekali. Wanita itu menjadi bingung. “Aduh, duit gue? Yah, gue lupaan bawa cash anjir. Ini kan dompet satunya, kok bisa salah ambil sih!” Pelayan masih menunggu wanita itu untuk membayarnya. Namun, Nadia meneguk salivanya, dan menatap kearah pelayan di hadapannya dengan menyengir. “Aduh, Mbak, em- em dompet saya ketuker ternyata. Atau gini, saya ambil di apartemen dulu, nanti kesini gimana?” Pelayan itu nampak tak bersahabat wajahnya. Dia menggelengkan kepalanya. “Maaf Mbak. Saya tidak bisa membiarkan Mbak pergi, Mbak harus pergi setelah benar – benar membayarnya.” Nadia berdecih kesal, “Mbak, saya bayar kok. Tapi saya ketuker dompetnya. Noh tu apartemen saya deket di ujung sana. Mbak, masak sih tampang saya penipu? Orang saya cantik banget kayak badai gini lo ah!” “Maaf Mbak, tidak ada jaminan pasti yang menjamin Mbak akan kembali ke sini dengan membayar. Jadi, maaf, Mbak tidak bisa pergi sebelum membayar di kasir.” “Tapi Mbak, gue nggak bawa duit. Ya allah, ni orang bisa ngeyel begini makan apa sih.” “Mbak kok malah nge- gas sih? Mbak kalau nggak ada uang nggak usah pesen makanan dong, mana pesannya banyak banget sih. Tau diri dong!” omelnya. “Eh, kok malah situ yang emosi? Mana gue tau gue nggak bawa duit!” “Pokoknya Mbak harus bayar!” “Lah kok maksa, gue kan dah bilang bayar, tapi ambil di apartemen dulu. Gue bisa bayar ampe ke toko – toko sekaliannya!” “Yaudah cepetan bayar!” “Ih ni Mbaknya memang budegg asli ya-” Saat Nadia dan sang pelayan bertengkar sebuah tangan datang dan mengulurkan kartu unlimited miliknya. “Dia, saya yang bayar.” Nadia, menoleh dan terkejut dengan pria yang berdiri di sampingnya. “Felix?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN