Chapter 18

1648 Kata
Nadia mendongak dan mendapati Felix di sisinya sambil menyodorkan kartu miliknya. Pelayan itu mengambil kartu milik Felix dan lalu menggesekan di mesin atm. Saat pelayan masih mengurusi pembayaran, Nadia masih terus saja menatap pria itu di sampingnya. Dia diam, namun penuh tanda tanya di dalam pikirannya. “Terimakasih Pak, ini saya kembalikan kartunya.” Tak menunggu lama, Felix menarik tangan Nadia keluar dari restaurannya. Nadia yang di tarik melongo tak sempat menepis, malah terseret begitu saja. Pria itu menarik Nadia ke parkiran, tempat di mana mobil Felix di parkirkan. Nadia menepisnya kasar membuat tarikan itu berhenti. “Nggak usah tarik – tarik gue!” “Kalau kamu tidak di tarik, kamu akan kabur dan tidak mau mendengarkan penjelasan saya.” Nadia berdecih dan menatap geli pria yang ada di sampingnya. “Jadi heran gue. Kemarin kemana aja, diem kayak polisi tidur. Dah lah, udah basi kalik bahas kayak gini. Mau tidur ngantuk.” Nadia, wanita itu akan pergi, namun tangannya di tarik kencang sampai dia menabrak d**a bidang Felix, membuatnya terkejut. “Argh!” Tubuhnya bertabrakan oleh dadaa bidang Felix, dan di tambah pelukan erat di pinggang rampingnya. Matanya bertemu dengan netra mata Felix. Keduanya saling tatap satu sama lain, membuat deguban jantung Nadia berdetak kencang. Nadia merasa gugup, dia mengerjapkan matanya dan berusaha keluar dari dekapan Felix. Dia meronta, mendorong pria itu agar menjauh dari dirinya. “Lepasin! Minggir! Minggir ish!” Felix yang memang lebih besar kekuatan dan tubuhnya, hanya diam santai sambil menahan Nadia. Wanita itu sungguh kesulitan sekali melepas dirinya dari Felix. Dia pun terus meronta, namun, usahanya tetap gagal. Karena kesal, dia mencoba menggigit tangan Felix keras agar pria itu mau melepaskan dirinya. Nadia menggigit kencang tangan Felix, namun, dugaannya salah. Felix malah datar saja tak bergerak dari posisinya sedikit pun membuat Nadia yang menggigit kesal. “Lepasin Felix! Lepasin ngerti nggak!” Felix menatap wanita itu lekat. Dia membuat Nadia terdiam dengan tatapannya. “Sudah, merontanya?” Nadia, menatap ke lain tempat, menghindari kontak mata dengan Felix. Dia merasa saat ini, tak mau melihat, dekat, bahkan di satu atap dan pijakan yang sama. Dia masih kesal, dengan kejadian yang dia alami kemarin. “Saya harus terpaksa menggunakan cara ini, agar kamu ingin berbicara. Jika seandainya kamu bisa diam, dan berbicara baik, tanpa menghindar, saya tidak akan melakukan cara seperti ini.” Nadia berdecih, dan menghela napas. Lalu dia menatap Felix, “Mana ada sih, cewek baik – baik saat cowoknya selingkuh? Emang ini sinetron azab, yang bisa ku menangis terus. Oh tidak!” Felix menyentil dahi Nadia, membuatnya meringis sakit. “Arghh! Kok malah kdrt sih!” “Kamu kebanyakan nonton sinteron terus.” “Iya biar lah nonton sinteron terus, biar bisa warning kalau ada cowo selingkuh. Nggak akan nangis – nangis ku menangis, langsung libas kelar!” sarkasnya. Tangan Felix naik ke atas memegang pipi Nadia, wanita itu pun tak menolak, atau merasa senang dengan sentuhannya. Dia diam, sambil tak menatap kearah Felix. “Saya, menemani Gladys di pesta itu. Memang dia yang meminta saya. Nad, dengar…” Felix memutar wajah Nadia hingga kembali menatap kearahnya. Lalu dia melanjutkan pembicaraannya. “Aron, suami Gladys melakukan kekerasan dalam rumah tangganya. Dia, bahkan hampir membunuh Gladys, sehingga wanita itu kabur.” “Hubungannya sama gue apa?” katanya sarkas. “Saya ingin menjelaskan kepada kamu, namun belum sempat.” “Yaudah jelasin cepet!” Felix menghela napasnya dan menatap wanita itu. “Di mobil. Nggak enak di lihat orang.” Nadia pun mau tak mau nurut, karena dia sudah malas berbelit – belit, terlebih saat ini dia tak akan bisa lolos mudah, karena Felix orang yang keras kepala. Felix membawa Nadia dengan mobilnya. Nadia tak pikir pusing bertanya, karena dia malas saat ini memikirkan hal yang membuatnya naik darah. Bisa – bisa malah dia migren hanya karena memikirkan keduanya. Mobil Felix, berhenti di sebuah mansion, yang dia ketahui adalah mansion Felix. Pria itu turun, dan membukakan pintu untuk Nadia. Nadia, yang masih mode marah, membuka seat belt dan langsung turun saja tanpa mengucap sepatah kata. Pria itu membawa masuk ke dalam mansion, yang ternyata di sana ada Gladys, wanita yang membuatnya kesal setengah mati, dan juga Gisele- Mamah dari Felix. Nadia, mau tak mau mencoba untuk bersikap ramah, kepada Gisele, dan tersenyum manis. “Tante Mamah?” Gisele, mendekati Nadia dan tersenyum. Lalu, wanita itu memegang tangannya, “Hem, ada yang merajuk rupanya. Felix juga sih, pakai nolong masa lalu dia. Kan kesian menantu Mamah,” katanya sambil menatap Nadia. Merasa di bela, Nadia besar kepala sedikit. Dia memajukan bibirnya, dan memeluk Gisele. “Aaa, kangen Tante Mamah banget. Kapan ih ke Jakartanya, kok nggak bilang sama Nanad?” “Barusan sampai kok. Itu tuh, si Felix minta tolong buat selesaikan masalah sama kamu. Katanya kamu ngambek karena salah paham.” Nadia melirik kearah Felix yang diam. Lalu, melerai pelukan dengan senyuman tipis. Gisele, juga tersenyum, dan menarik tangan Nadia untuk duduk di sofa. “Duduk, biar Tante Mamah siapin makanan buat kamu. Tunggu – tunggu…” Nadia yang melihat Gisele akan berdiri, menahannya. “Eh, Tante Mamah, nggak usah ih. Tadi, Nanad udah beli makan kok barusan serius. Perut masih kenyang ih.” “Bener? Kurus gini kok badannya.” “Bener kok, kurus – kurus gini makan Nanad tiga porsi kuli haha.” Felix, dan Gladys ikut bergabung duduk di sofa. Gisele, melirik ke kiri kearah Gladys yang dari tadi diam. “Kamu, awas sampai buat masalah antara anak saya dan kekasihnya. Saya yang tidak akan tinggal diam!” ketus Gisele. Nadia, dalam hati bersorak girang. Meski kadang dia dan Gisele musuhan, karena sikap Nadia yang ceroboh dan berisik, tapi, Gisele bisa jadi sosok perisai untuk Nadia melebihi Felix, kadang dia sebal dengan wanita itu, namun kadang sayang sekali seperti ini. Gisele, menatap Felix, putranya. “Tuh, dah anteng kan pacar kamu. Jelasin! Mamah nggak mau ya, kamu nanti berakhir putus. Udah seneng dapat calon mantu kayak gini, Mamah nggak mau dapat janda ya, bekas orang,” sarkasnya. “Mah,” peringat Felix. Nadia melirik kearah Felix ketus, dan berdecih, “Masih aja belain tuh si Tante, memang nggak ada akhlak ini pacar!” batin Nadia. Felix menghela napas, dan menatap Nadia. “Gladys, meminta tolong mengenai Aron ke saya, Nad. Kami bertemu di New Zealand, saat saya dinas.” Nadia meresponnya ber oh- ria saja. Sudah di duga… Dia tak terlalu terkejut bahkan sampai pingsan, memang karena dia sudah melihat foto yang tak sengaja dia lihat pada camera wanita asing bernama Gracia tempo lalu. “Saat kami bertemu di New Zealand, aku meminta bantuan Felix untuk bisa lepas dari Aron, Nad. Aron pria yang kasar dan aku- aku merasa tidak kuat dengannya. Sepeser uang pun aku tak punya, hanya ada harapan untuk bisa kembali ke tanah air, dengan bebas tanpa bayang – bayang darinya. Lalu, Tuhan mengirim Felix, aku- kau meminta tolong dia, untuk membawaku Nad.” “Kau pikir aku peduli?” kata Nadia di dalam hatinya. Namun, suara hatinya hanya bisa dia pendam, tak memiliki kekuatan untuk menyanggah drama wanita itu. Cukup menjadikan telinganya sebagai pendengar masalah tak penting, yang membuang waktu. Nadia, menatap Gladys yang terisak. “Aku tak akan mempermasalahkan masalah ini. I don’t fuckingg care about how you meet with my boyfriend. Tapi, kenapa lo bisa dateng ke pesta bareng pacar orang ha!” Gladys mencoba meyakinkan Nadia. Dia menghela napasnya. “Nad, aku merasa saat ini Felix yang bisa melindungi aku dari Aron. Aku minta maaf kalau aku udah buat kacau semuanya, termasuk hubungan kalian. Tapi, aku benar – benar nggak tau semuanya bakal kacau. Mempelai pria yang kemarin, adalah sahabat aku Nad. Dia berharap aku datang ke sana. Namun, di sana ternyata ada Aron. Aron mendatangi pesta itu untuk menyeret aku pergi, membawa bersamanya kembali. Aku yang takut, hanya berpikir tentang Felix. Felix, menolong aku dengan ikut bersama ke pesta. Tapi, ternyata kita malah bertemu dan saling salah paham. Maafkan aku, Nad.” Gisele menghela napasnya dan menatap kearah Nadia yang masih belum sepenuhnya terima pada penjelasan yang seperti ini. Wanita itu memegang tangan Nadia, sehingga wanita itu menoleh dan menatap Gisele. “Dia, dalam keadaan yang genting sayang, memang kalau Tante Mamah di posisi dia, pasti akan bingung. Namun, saat Tante Mamah di posisi kamu, pasti marah karena tak ada keterbukaan pada kamu sayang. Disini, semua salah. Felix, salah tidak terbuka kepada kamu. Gladys pun sama, juga kamu.” Nadia terdiam mendengar penuturan dari wanita itu. Dia berpikir, di sisi lain, melihat Gladys, seharusnya dia merasa kasian, dan juga seharusnya tidak egois. Namun, karena emosi, dia menjadi tak memikirkan apapun. Dia melirik ke arah Felix, yang menatapnya sendu. “Maaf…” Nadia memejamkan mata, dan menghela napas. “Oke, aku maafin. Tapi, awas aja sampai ini ke ulang lagi.” Gisele tersenyum. “Tante Mamah yang akan hukum Felix sampai berulah lagi, tenang aja. Dan untuk kamu Gladys…” Gisele menatap tajam Gladys, “Saya harap, jangan libatkan putra saya kembali dalam masalah kamu. Jangan rusak hubungan anak saya, karena bagaimana pun masala lalu anak saya adalah kamu. Semua wanita jelas tak akan mudah menerima kehadiran masa lalu, terlebih anak saya pernah sangat mencintai kamu!” Gladys menundukan kepalanya dan tersenyum kecut. “Baik Tante, saya minta maaf. Saya janji tidak akan melibatkan Felix kembali dalam masalah saya.” “Bagus! Saya rasa kamu cukup tau diri sebagai wanita.” Nadia, menatap Felix dengan wajah masih masam. Felix pun menghela napasnya. “Saya minta maaf, saya tidak mengulanginya lagi. Saya akan terbuka, Nad. Maaf.” Nadia tersenyum, dan bersedekap di depan dadaa. “Oke deal, tapi mau es krim sepuluh!” “Oke deal, ayo beli!” Felix menarik tangan Nadia pergi begitu saja. Nadia yang di tarik melambaikan tangan bahagia kea rah Gisele. Gladys diam – diam mengepalkan tangan, dan tersenyum tipis. “Waktunya istirahat. Dan, membiarkan mereka bahagia untuk sementara, ck!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN