Chapter 19

1038 Kata
"Lihat ada bintang jatuh!" Felix, pria itu mendongak dan menatap sekelibatan cahaya yang membentuk garis di langit malam ibu Kota. Dia melirik kearah wanita yang ada di sampingnya yang masih terpejam sambil mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya. Felix hanya diam sambil mengamati wanita itu. Tak lama, matanya terbuka dan menatap Felix. "Kamu ngapain diam aja? Ada bintang jatuh, cepetan minta sesuatu. Kata orang jaman dulu, kalau ada bintang jatuh pasti di kabulin." "No sense," jawab Felix singkat. "Ih, nggak percaya banget sih." Felix mengangkat bahunya acuh, "Kalau pun memang nyata, apa yang kamu inginkan?" Nadia, dia memajukan bibirnya dan menaruh telunjuk tangan kanan di atas bibir. "Shhsss. Kalau doa nggak boleh di kasih tau, yang ada nggak di kabulin ish!" Nadia kembali menoleh kearah langit dan tersenyum. Dia senang sekali. Mencoba berdamai, dan membuat bebannya merasa lebih ringan. Nadia kemudian, tersenyum. Felix, yang masih memperhatikan Nadia menatapnya dengan lekat. "Felix, kamu tau nggak sih. Nanad sayang banget sama Felix. Jadi, maaf ya selama ini Nanad nyusahin Felix banget." "Siapa bilang kamu nyusahin saya?" Nadia melirik kearah Felix, dan menatapnya. Dia mengerjapkan mata. "Bukannya Nanad masih sering nyusahin, kekanak – kanakan dan suka marah egois ngambek nggak jelas." Felix tersenyum dan memegang puncak kepala Nadia. Dia tersenyum tipis. "Meski memang faktanya iya, tapi tetap saya hanya membutuhkan kamu di sisi saya." Nadia berdecih dan memukul tangan Felix. Dia menggerutu sebal. "Ih, iya sih iya, pake di cela dulu dih." Felix tertawa melihat Nadia yang merajuk. Nadia pun ikut tertawa melihat pria itu yang tertawa. Dia tertawa dan lalu menghela napasnya. Dia menatap kearah Felix dan memegang tangannya. "Aku sayang kamu." Kata singat membuat Felix terdiam. Nadia yang melihat keterdiaman Felix menjadi khawatir. Apakah dia mengatakan hal yang salah? Senyum di wajah Nadia luntur. Dia menjadi khawatir, ekspresi apa yang dia lihat pada wajah sang kekasih. Saat Nadia akan membuka suara untuk bertanya, bibirnya sudah di bungkam oleh Felix. Nadia, terkejut dengan ciuman yang di berikan Felix secara mendakdak. Namun, tak bertahan dengan lama, hingga ciuman itu Nadia balas. Bahkan, tanpa sadar wanita itu sudah mendekat, dan mengalungkan tangannya di atas leher Felix, dan saling membalas tautan satu sama lain. Di sela – sela ciuman mereka, Nadia tersenyum bahagia. *** "Kurang ajar! Felix kembali lagi kepada dia!" Seorang pria dengan menghirup rokokknya, dan mengebulkan kembali di udara, dia merasa tertawa geli. Dia menatap wanita yang sedang gusar sambil bersedekap menatap ke luar jendela. "Tenang, ini hanya sementara. Kau tau, kita masih memiliki rencana panjang untuk memisahkan mereka." Gladys, wanita itu berbalik dan memicingkan matanya. "Rencana, rencana apa yang kau maksud, Evan?" "Besok adalah acara kantor. Dan, pastinya Nadia dan Felix datang ke sana. Mudah saja, buat Felix mabuk, dan tidur denganmu. Simple?" Gladys berdecih, "Itu tak semudah membalikan telapak tanganmu, Evan! Aku bahkan tak memiliki akses masuk, karena pasti acara itu private!" Evan, berdiri dan menyeringai kepada Gladys. Dia mendekat, dan menarik dagu Gladys hingga mendekati beberapa centi meter darinya saja. "Kau tenang saja, akan aku urus mengenai ini. Kau, siapa saja dirimu, membuat drama yang keren. Dan, aku bisa mendapatkan Nadia." Gladys tersenyum, "Hem, tentu saja. Serahkan semuanya kepada aku, besok. Kau, urus akses masukku ke sana. Dan, mari capai tujuan kita masing – masing." Evan melepas dagunya, dan tersenyum. "Tentu. Aku akan urus semuanya, tenang saja." *** Genggaman keduanya, melepas, saat sampai di sebuah apartemen elit yang ada di Ibu Kota. Nadia, wanita itu seolah tak rela melepaskan genggaman sang pria di tangannya. Namun, pria yang dia genggam memegang tangan Nadia, dan kemudian melepasnya pelan. "Serius nih, nggak nginep di Apartemen? Kita udah baikan lo," gerutunya. Felix mengelus puncak kepalanya. "Kamu masuk. Saya harus mengurus Sesuatu mengenai pekerjaan dengan Edlrik." "Oke, I trust you," kata Nadia pelan. Nadia melepas tangannya dengan penuh berat hati. Lalu mengiringi kepergian pria itu dengan senyuman. "Yaudah, hati – hati jangan ngebut di jalan. See you!" "Oke, see you." Pria itu berbalik dan mulai masuk ke dalam mobilnya. Sementara Nadia, masih berada di luar apartemennya dan kemudian melambaikann tangan mengiringi mobil dari Felix yang mulai pergi dari sana. Dia menghela napasnya, dan tersenyum bahagia. Ah, sudah lama sekali dia sangat rindu sekali kepada pria itu. Namun, pria itu malah membuat salah paham, namun, kini semua itu sudah terlewatkan kesalah pahaman sebelumnya. Nadia akan berbalik masuk ke dalam aprtemennya, namun, seorang menghentikannya. "Nad!" Nadia yang di panggil menoleh, dan menatap pria itu dengan mata yang mengerjap. "Eh, Anggit kenapa lo manggil – manggil gue?" Anggit menaikan bahunya, dan memasukan kedua tangannya di dalam kantong celana. Dia mendekat dan berdehem, "Ehem! Rupa – rupanya ada yang bahagia nih." Nadia menaikan alisnya, dan berdecih. "Ih apaan sih ngecengin gue. Ngapain sih manggil – manggil gue cuma mau ngecengin. Gue mau masuk, capek, mau tidur ye!" "Dih, giliran udah seneng aja gue di lupain. Nih!" Anggit menyerahkan paper bag untuk Nadia. Wanita itu mengerutkan keningnya dan melihat isi di dalam paper bagnya. "Apa nih? Bom bardir ye?" "Bujuk buset, suudzon mulu nih anak. Liat pakai mata, jangan pakai dengkul ye." Nadia membuka paper bagnya dan melihat ternyata yang ada di dalam sana, adalah sebuah ponsel keluaran terbaru yang hampir mirip ponsel Nadia yang sudah tak berbentuk. Namun, ponsel yang di berikan Anggit jauh lebih mahal. "Eh, eh, kok... Lo beliin gue handphone?!" "Kagak, lo gue masukin masuk ke list hutang! Gue cabut dulu!" Anggit pergi akan pergi, namun Nadia yang sudah girang pergi berlari dan meloncat ke punggung pria itu dengan sangat girang. "Huaaa! Makasih temen gue. Bagus lah hemat duit gue huaaa!!" Anggit yang di naiki berdecih, merasa kesal. "Ih, turun minggir! Gue mau masuk ke apartemen Nad, turun ih! Gue jitak pala lo tau rasa!" "Aaaa makasih Anggit paling cakep idaman dari emak – emak seantero raya! Loppp you pull!" Anggit yang masih menggendong Nadia berdecih dan berjalan bodo amat saja. Palingan nanti wanita itu juga turun sendiri karena apartemen mereka yang dekat. Anggit masih menggoyang - goyangkan tubuhnya agar Nadia turun. Nadia yang bodo amat malah semakin mengeratkan gendongannya, dan memeluk erat punggung pria itu. "Nadiaaa turun nggakk!!" "Emohhh!!" "Turun!!" "Nggak nggak nggak!" "Dasar bandel amat jadi orang. Turun Nadia turun! Gue depak ya di kebon sebelah!!" **** Maap ya author ngga update kmrin, sakit gigi nih. gigi bungsu mau tumbuh. Nyiksa bgt:(
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN