Malam turun cepat di atas wilayah Timur Laut Velmora. Kabut lembab menyelimuti hutan mati yang dulunya penuh roh penjaga. Kini hanya suara ranting patah dan geraman samar dari makhluk-makhluk yang enggan disebut namanya.
Ayzen berdiri di tepi danau hitam. Airnya tidak memantulkan apa pun, bahkan cahaya bulan. Di bawah danau itu terkubur reruntuhan Kastil Seryath, tempat dulu ia membentuk Aliansi Gelap. Tempat ia mengangkat enam jenderal yang bersumpah hidup dan mati untuknya.
"Enam rantai jiwa," gumamnya. "Dan semuanya sudah pecah."
Alenia menunduk dalam diam. Ia tahu yang akan datang bukanlah pertemuan biasa. Tapi kebangkitan yang tidak semua dari mereka inginkan.
Ayzen melangkah maju dan mengangkat tangannya. Kristal ungu yang ia terima dari Ruang Jiwa bergetar. Ia melemparkannya ke danau, dan air yang seolah padat itu terbelah perlahan, membuka lorong spiral ke kedalaman.
Di dasar danau, batu-batu sihir tua mulai menyala. Simbol sumpah muncul, dan satu per satu, siluet tubuh muncul dari kegelapan.
Yang pertama bangkit adalah Valdir.
Wajahnya terbakar sebagian, tubuhnya ditambal sihir darah. Tapi matanya, meski rabun, masih mengenali Ayzen.
"Kau hidup," ucap Valdir, lebih seperti desahan daripada pernyataan.
"Aku tidak pernah benar-benar mati," jawab Ayzen. "Kau juga tidak."
"Aku menunggumu. Tapi tidak semua dari kita tetap setia."
Ayzen menoleh. "Siapa yang patah?"
Valdir terdiam sejenak. Lalu menjawab pelan.
"Yanith... dan Kaelion. Mereka percaya kau telah meninggalkan kami. Mereka... menciptakan pengikat baru."
Alenia mengerutkan dahi. "Apa maksudmu pengikat baru?"
Valdir menatapnya dengan luka yang tak bisa disembunyikan.
"Mereka memilih pemimpin lain. Menggunakan darahmu sendiri sebagai fondasi kontrak. Mereka percaya... kau tak akan kembali."
Ayzen menunduk. Matanya memejam, bukan karena terpukul, tetapi karena ia tengah menahan sesuatu. Bukan amarah. Bukan luka. Tapi niat.
"Kalau begitu... aku akan memutuskan rantai itu. Dengan tanganku sendiri."
Alenia menggigit bibir. "Apa kau akan membunuh mereka?"
"Jika mereka benar-benar mengkhianatiku, maka mereka bukan jenderalku lagi."
Valdir menunduk. "Lalu apa perintahmu?"
Ayzen melangkah keluar dari lingkaran sihir. Di belakangnya, danau menutup kembali seolah tak pernah terbelah.
"Kumpulkan yang tersisa. Aku akan memanggil kembali setiap jiwa yang terikat. Yang masih setia akan mendapat tempat. Yang tidak... akan menjadi contoh."
Angin berhembus keras. Rerumputan mati di sekeliling mereka terbakar perlahan, seperti menyambut tuan lama mereka kembali.
Langkah Ayzen tidak terhentikan.
Darahnya telah dibangkitkan.
Dan dunia yang menolak untuk mengingatnya akan dipaksa untuk berlutut.
Di wilayah barat, di kaki Gunung Theros yang dingin, berdiri sebuah menara obsidian. Dikelilingi oleh kabut dan jaring-jaring sihir, menara itu tak tampak bagi mata biasa. Di dalamnya, dua sosok duduk berhadapan dalam keheningan.
Yanith, si ahli ilusi, bermain dengan serpihan kristal sihir di jemarinya. Wajahnya tak berubah sejak seratus tahun lalu. Dingin. Tajam. Tapi matanya lelah, seperti menanggung beban keputusan yang terlalu berat.
Kaelion berdiri di samping jendela, memandang dataran di kejauhan.
"Aku bisa merasakannya," bisiknya. "Ayzen telah kembali."
Yanith menghentikan gerakan tangannya. "Kau yakin itu dia? Bukan hanya bayangan dari masa lalu yang enggan mati?"
Kaelion menoleh. "Tak ada yang bisa menyentuh energi seperti itu kecuali dia. Api gelap. Aura jiwa lama. Hanya Ayzen yang mampu membangkitkan kutukan dalam napasnya."
Yanith menggenggam kristalnya lebih erat. "Kalau begitu, kita harus memutus semua sisa kontrak lama. Kalau dia muncul di sini dengan niat menghukum, kita tak punya waktu untuk ragu."
Kaelion memejamkan mata. "Aku tak ingin melawannya. Tapi kau tahu... saat ia menghilang, dunia nyaris hancur. Kita yang menahan serpihan kehancuran itu."
Yanith berdiri, suaranya datar. "Kau bilang kau tak ingin melawannya. Tapi kau juga tak bisa membiarkannya memimpin lagi."
"Karena dia tidak sama lagi," ucap Kaelion. "Ayzen dulu melindungi kita. Ayzen yang sekarang akan mengorbankan apa pun demi 'tujuan'."
Yanith menatapnya tajam. "Jadi kita sepakat."
Kaelion diam sejenak. "Tidak."
"Kaelion..."
"Aku akan menemuinya sendiri. Jika dia masih memiliki sisa dari dirinya yang dulu, aku akan membawanya kembali. Jika tidak..."
Ia membalikkan badan, sorot matanya tegas.
"Aku yang akan mengakhiri segalanya."
Sementara itu, jauh dari menara obsidian, Ayzen berdiri di depan portal tua yang mengarah ke ruang pemanggilan. Valdir dan Alenia di belakangnya.
"Mereka mencium jejakku," ujar Ayzen. "Kaelion akan datang."
Valdir mengangguk. "Dan jika dia menyerang?"
"Aku tidak datang untuk bertarung," jawab Ayzen perlahan. "Tapi jika mereka melemparkan pengkhianatan di hadapanku... aku tak akan menunjukkan belas kasihan."
Portal itu menyala, membentuk gerbang yang menembus waktu dan ruang.
"Kaelion... Yanith... kita akan tahu apakah tali yang pernah menyatukan kita masih bisa disambung, atau harus dibakar."
Langkah Ayzen perlahan masuk ke dalam cahaya itu.
Dan malam pun terbelah.
Reruntuhan Vey’Lorr masih berdiri di antara kabut yang membatu. Di masa lalu, tempat itu adalah akademi sihir tertua di benua timur. Kini, hanya batu berserakan dan pilar retak yang menyimpan kenangan. Di tengah lapangan bekas aula utama, Ayzen berdiri sendiri.
Langit mendung. Angin membawa serpihan abu dan suara gemetar dari masa lalu.
Langkah-langkah terdengar dari arah selatan. Suara sihir membelah udara sebelum seseorang muncul dari balik pilar yang masih berdiri.
Kaelion.
Ia tidak datang membawa senjata. Hanya mantel panjangnya yang tertiup pelan, dan tatapan mata yang menolak menjatuhkan penilaian terlalu cepat.
"Kau masih ingat tempat ini?" tanya Ayzen perlahan.
Kaelion mengangguk. "Di sini kita pertama kali berbagi ilmu dan darah."
Ayzen tersenyum kecil. "Dan pengkhianatan."
Kaelion tidak langsung membalas. Ia berjalan lebih dekat, langkahnya mantap.
"Aku tidak datang untuk membela masa lalu. Aku datang untuk tahu... apakah kau masih Ayzen yang dulu."
Ayzen menatapnya. "Tidak. Ayzen yang dulu mati saat kalian meninggalkanku dalam perang terakhir."
Kaelion mendekat, cukup dekat untuk suara mereka hanya terdengar satu sama lain.
"Kami tidak meninggalkanmu. Kami menyegel dirimu karena kau hampir menghancurkan dunia demi menyelamatkan satu orang."
"Satu orang yang adalah saudara kalian," jawab Ayzen dengan nada dalam. "Satu orang yang rela mengorbankan dirinya untuk keadilan. Dan kalian membiarkannya mati."
Keheningan panjang.
Kaelion menunduk sebentar. "Jika aku bisa kembali ke hari itu... aku akan memilih mati bersamamu. Tapi dunia tidak bisa dihancurkan hanya untuk satu kebenaran."
Ayzen menatap Kaelion, ada kilatan amarah sekaligus kesedihan dalam matanya.
"Aku tidak kembali untuk balas dendam. Aku kembali untuk memperbaiki apa yang seharusnya tidak dirusak."
"Dan bagaimana kau akan memperbaikinya?" tanya Kaelion.
Ayzen mengangkat tangannya perlahan. Sebuah kristal jiwa terbentuk dari cahaya dan bayangan di telapak tangannya.
"Dengan mengambil alih sistem dunia. Dengan menghancurkan puncak sihir yang memonopoli kehidupan dan kematian."
Kaelion mundur satu langkah. "Kalau begitu kau sudah memilih jalanmu."
"Tidak. Aku hanya akan melangkah, dan dunia boleh memilih ikut atau menyingkir."
Petir menggelegar di langit. Di kejauhan, makhluk-makhluk yang disebut Voidborn mulai muncul dari sela celah dimensi. Tanda bahwa waktu tidak lagi stabil.
Ayzen membalikkan badan, siap meninggalkan tempat itu.
"Aku tidak akan membunuhmu, Kaelion. Tapi jika kau menghalangi jalanku... maka aku tidak akan menahan diri."
Kaelion tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Ayzen yang perlahan menjauh, lalu berbisik pada dirinya sendiri.
"Kau tidak lagi butuh musuh, Ayzen. Kau butuh seseorang yang berani mengingatkanmu siapa dirimu."