Rena menatap tinta di lantai yang masih berdenyut seperti urat hidup. Kata Engkau tidak berubah, tidak menghilang, tidak larut. Justru semakin lama semakin tebal, seakan ingin memastikan bahwa mereka semua memahami. Ini bukan metafora. Ini panggilan.
Kael menelan ludah, sementara jari-jarinya secara refleks menggenggam lebih kuat tangan Lira. Ada sesuatu yang melintas di wajahnya, bukan takut, melainkan perasaan ditunjuk. Seluruh tubuhnya tahu tanpa harus ada penjelasan bahwa tinta itu sedang mengarah kepada mereka. Namun siapa yang dimaksud? Atau apakah semuanya?
Naevin masih berdiri di depan pintu itu. Matanya pucat bagai kertas yang belum ditulisi, menatap mereka dengan kesabaran yang menyeramkan. Ia tidak bergerak dan tidak bernapas, hanya menunggu. Buku di tangannya kini tertutup, tetapi denyut tinta yang menjalar dari bawahnya belum berhenti.
Lira mengangkat wajahnya, menantang tatapan bocah itu. "Engkau siapa?" suaranya pecah sedikit, namun ia berusaha menahan ketegangan di dadanya.
Tinta di lantai bergetar, lalu merangkak membentuk barisan kalimat baru. "Engkau adalah yang menolak. Engkau adalah yang diam saat seharusnya berbicara. Engkau adalah yang membaca tetapi tidak pernah menuliskan akhir."
Rena merasakan darahnya dingin. Kalimat itu bukan hanya tertulis di lantai, tetapi juga terukir di dalam pikirannya. Setiap kata menggema seolah diucapkan oleh banyak suara yang berasal dari dirinya sendiri, bagian-bagian yang ia lupakan atau sengaja ia buang.
"Apakah kita bisa memilih?" tanya Kael, lirih.
Naevin tidak menjawab. Ia hanya meletakkan telapak tangannya di lubang pintu itu. Tidak ada cahaya, tidak ada bunyi, tetapi dari celah itu keluar rasa yang aneh. Bukan dingin, bukan panas, melainkan perasaan seperti ketika seseorang membaca sesuatu yang seharusnya tidak dituliskan.
Lira melangkah setapak ke depan, melepaskan tangannya dari genggaman Kael. "Kalau hanya salah satu yang bisa membuka pintu ini, maka biar aku saja."
Kael terkejut. "Kenapa kau?"
"Karena aku tahu ada bagian dari diriku yang selalu kututup rapat. Kalau pintu itu memang menuju cerita yang tidak pernah keluar dari hati, mungkin aku lebih siap."
Rena menahan napas. Ia ingin mencegah, tetapi tubuhnya seperti terpaku. Kata Engkau di lantai seolah juga menyetujui keputusan itu, karena tinta mulai melingkar di sekitar kaki Lira.
Namun sebelum ia benar-benar menyentuh pintu itu, suara lain terdengar. Suara dari bawah tanah. Suara Ilan.
"Aku sudah melihat apa yang terjadi ketika seseorang mencoba melawan tulisannya sendiri."
Lira berhenti. Ruangan berguncang pelan, dan dari lantai muncul kilasan cahaya seperti tinta yang terbakar. Lalu, sosok Ilan muncul di sisi aula. Ia tampak berbeda. Bukan lagi sosok yang tercerai-berai oleh versi dirinya, melainkan seseorang yang telah menanggung luka dan kata-kata yang tidak pernah sempat ia ucapkan.
"Ilan," seru Rena dengan lega sekaligus ragu.
Ia mengangguk. "Aku menemukan bahwa kebohongan terbesar bukanlah apa yang ditulis orang lain tentang kita. Kebohongan terbesar adalah apa yang kita biarkan tidak pernah ditulis."
Naevin menatap Ilan lama sekali. Tidak ada permusuhan, hanya pengakuan. Seolah bocah itu tahu bahwa Ilan berhasil melewati ujian yang tidak bisa dilewati kebanyakan orang.
"Apa maksudmu?" tanya Kael.
Ilan menatap mereka semua. "Pintu itu bukan sekadar pintu. Itu adalah halaman kosong yang menuntut untuk diisi dengan kebenaran yang kalian sembunyikan. Siapa pun di antara kita yang menyentuhnya harus menuliskan apa yang paling ingin ia sembunyikan."
Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada yang berani menatap pintu itu lagi. Karena tiba-tiba, pintu itu tidak lagi sekadar objek. Ia adalah cermin yang menuntut pengakuan.
Rena menelan ludah. "Kalau begitu, apa yang terjadi setelah ditulis?"
Ilan menggeleng. "Entah. Tapi aku tahu satu hal. Jika kita tidak ada yang berani, maka seluruh akademi ini akan terus berubah menjadi naskah. Dan kita akan kehilangan hak untuk menjadi diri sendiri."
Tinta di lantai berdenyut lebih cepat. Kata Engkau terbelah menjadi banyak garis kecil, lalu kembali menyatu, seperti detak jantung yang tidak sabar menunggu.
Lira menggenggam dadanya. "Kalau begitu aku akan melakukannya."
Ia mendekati pintu perlahan. Setiap langkahnya diikuti suara pena samar dari segala arah, seolah seluruh Velmora sedang menonton. Naevin menyingkir, memberikan jalan. Pintu itu menunggu.
Ketika telapak tangan Lira menyentuh lubang di tengah pintu, seketika ia merasa seakan dirinya ditarik ke dalam halaman kosong. Matanya gelap, tapi di sana muncul kalimat-kalimat yang ia kenal. Kalimat yang tidak pernah ia ucapkan dengan lantang.
"Aku ingin diingat, tapi aku takut tidak layak."
"Aku membenci sunyi, tapi aku tidak tahu bagaimana meminta suara."
"Aku mencintai seseorang, tetapi aku lebih memilih berpura-pura tidak peduli."
Kalimat itu keluar sendiri, terukir di pintu, membuat seluruh aula bergetar.
Kael menutup mulutnya dengan tangan, menahan emosi yang bercampur dengan keterkejutan. Rena memejamkan mata, merasa kalimat-kalimat itu ikut menusuk dirinya. Ilan menatap dengan tatapan yang berat, memahami betapa sulitnya mengungkapkan sesuatu yang selama ini ditolak diri sendiri.
Pintu bergetar. Dari lubang itu muncul cahaya samar, bukan terang yang hangat, melainkan cahaya yang terbuat dari kata-kata. Kata-kata yang melayang, membentuk jalinan cerita baru.
Namun pintu itu tidak terbuka. Ia hanya menyala, menuntut lebih banyak. Kata Engkau kembali tertulis di lantai, kali ini lebih besar, memenuhi hampir seluruh ruangan.
Kael maju satu langkah. "Kalau begitu, giliran aku."
Ia menempelkan tangannya di pintu. Segera, halaman kosong itu kembali menyerap suaranya.
"Aku ingin kuat, tetapi aku selalu bersembunyi di balik keberanian orang lain."
"Aku takut menjadi orang yang memilih, karena jika salah, aku tidak akan dimaafkan."
"Aku ingin melindungi, tetapi aku tidak pernah percaya aku bisa melindungi siapa pun."
Suara Kael pecah ketika kata terakhir keluar. Kalimat itu langsung tertulis, dan cahaya di pintu semakin besar.
Rena terhuyung, tidak sanggup menahan air mata. Ia tahu pada akhirnya gilirannya akan tiba. Kata Engkau kembali menyalakan dirinya, berdenyut di lantai tepat di bawah kakinya.
Dengan langkah gemetar, Rena menempelkan tangannya.
"Aku berpura-pura memahami segalanya, padahal aku tidak pernah berani bertanya."
"Aku ingin bersama, tetapi aku selalu berdiri di tepi karena takut kehilangan."
"Aku tahu aku tidak sendirian, tetapi aku selalu memilih merasa sendiri."
Begitu kalimat itu keluar, seluruh aula dipenuhi cahaya yang bukan berasal dari matahari atau sihir. Cahaya itu terbuat dari kejujuran. Pintu bergetar keras, kemudian perlahan terbuka.
Dari balik pintu itu, mereka tidak melihat dunia baru. Mereka melihat ruang putih kosong yang dipenuhi kata-kata melayang. Kata-kata itu seperti hujan, jatuh perlahan, mengisi halaman yang tidak ada ujungnya.
Naevin melangkah ke dalam ruang itu tanpa suara. Ia menoleh sekali ke arah mereka, senyum tipis muncul di wajahnya. Senyum yang aneh, bukan milik anak kecil, bukan pula milik orang dewasa. Senyum dari sesuatu yang telah mendapatkan apa yang dicari.
Buku di tangannya terbuka sendiri, halaman-halamannya kosong. Namun begitu ia masuk, kata-kata dari ruangan itu langsung melompat masuk, mengisi setiap lembarnya.
Kael menatap dengan ngeri sekaligus kagum. "Jadi inilah penulisan ulang yang sebenarnya."
Ilan melangkah maju. "Bukan penulisan ulang. Ini pengakuan ulang. Kita bukan sedang diganti, kita sedang dituntut untuk menuliskan yang kita sembunyikan."
Rena terisak. "Kalau begitu apa yang akan terjadi pada kita setelah ini?"
Naevin berhenti di ambang pintu. Ia menatap mereka sekali lagi, lalu meletakkan tangannya di dadanya sendiri. Tidak ada suara, tetapi tinta di lantai membentuk kalimat terakhir.
"Kalian bukan lagi pembaca. Kalian penulis dari kebenaran yang kalian hindari."
Setelah itu, pintu menutup perlahan. Aula menjadi sunyi kembali. Tetapi sesuatu telah berubah. Velmora tidak lagi bergetar sebagai naskah yang dipaksa hidup. Ia menjadi tenang, seperti buku yang akhirnya menemukan halaman yang cocok untuk ditulisi.
Lira, Kael, Rena, dan Ilan berdiri dalam diam. Mereka saling menatap, memahami bahwa apa yang mereka tuliskan barusan tidak bisa dihapus. Itu bukan mantra. Itu bukan mimpi. Itu adalah kebenaran yang akan selalu menjadi bagian dari mereka.
Namun dari kedalaman Velmora, gema suara Ayzen terdengar sekali lagi.
"Narasi ini belum selesai. Pintu itu bukan akhir. Itu hanya awal dari bab yang harus kalian tulis sendiri."
Sunyi menutup kata-kata itu. Tetapi di hati mereka, halaman baru telah terbuka.
Dan tinta… belum berhenti menetes.