"Perlu aku bantu?" tanya Biyan melihat Alya kesulitan menaikan keretanya ke teras. "Gak perlu!" ketusnya. Biyan terkekeh melihat Alya yang jutek. Tetapi motor Alya hampir saja jatuh dan Biyan dengan sigap membantu Alya meraih motor yang hampir jatuh. Karena panik, tangan Biyan tepat berada di atas punggung tangan Alya. Mata mereka sempat saling berpandangan. "Awas!" Alya menghempaskan tangan Biyan dengan kasar. Tetapi bukan marah, Biyan malah tersenyum lebar di hadapan Alya. "Maaf ya Alya... kok jutek amat sih," kekehnya. Alya mendengus kesal dan mencagak motornya dengan benar, setelah di rasa sudah aman, Alya menarik kunci motornya dan masuk kedalam kamar untuk menyimpan kunci motor miliknya, Alya memang selalu berhati-hati, apalagi area tempat tinggalnya ini sangat rawa

