Bab 1 Diselamatkan Nona Pengantar Paket
Valdin, dokter ganteng di Biomedika Hospital, memacu cepat mobil Mercedes-Benz milik dia, sebab setelah dia meninggalkan pelataran parkir Club Malam, ternyata dikutit begal curanmor. Mengingat dia setengah mabuk, memilih menemukan kantor polisi terdekat.
Tampak sang dokter yang setengah mabuk tetap konsentrasi mengemudi sambil sesekali melihat ke kaca spion, lantas dibelokan mobil ke jalan alternative yang mengarah ke kantor polisi tujuannya.
“Dams-!”
Valdin merutuk sambil sedikit memukul stir, “Apes banget gue hari ini! Udah dikhianatin Karla, dikejar pula curanmor!” dia tidak menyangka mendapat hari yang malang.
Karla calon tunangannya menikah dengan pria lain, lantas untuk menghapus rasa sakit hati, dia ke club malam. Dia tidak lama di sana, teringat harus praktek di poli neurologi Biomedika Hospital, maka bergegas pergi. Namun, ternyata dikejar curanmor yang mangkal tidak jauh dari club malam.
***
Di jam yang sama, Chiara, gadis cantik pengantar paket, mengemudikan motor maticnya dengan santai di jalan alternative ibukota menuju rumah salah satu customer boutique tempatnya bekerja untuk mengantar paket gaun pesta. Wajah gadis ini murung, masih memikirkan hutang Doel ke Koh A Li.
Akibat pikirannya tidak focus mengemudi, salah satu ban motornya melindas paku, berakibat angin dalam ban perlahan menyusut dan laju kuda besi itu menjadi tidak stabil.
“Ya Tuhanku-!” dia merasakan motor berjalan ogal-ogel, “Hadeuh, ban kempes lagi!” feeling semua yang terjadi karena ban motor kempes, “Terpaksa cari tukang tambal ban ini!” keluhnya tetap mengemudikan motor, sebab jalan yang dilalui sepi, berbahaya jika berhenti dan mendorong motor sampai menemukan lapak tambal ban.
***
Valdin masih memacu mobilnya di jalan, lantas, kedua matanya terbelalak, melihat dari arah berlawanan, motor Chiara yang melaju tidak stabil.
Ternyata Chiara pun melihat kemunculan mobil sang dokter, kedua mata dia membesar, dan menabrak mobil itu..
“Akh-!”
Terdengar jerit lantang Chiara, menit berikut dia dan motor terpelanting ke bahu jalan, karena Valdin cepat banting stir ke arah lain.
“Tuhanku!” Valdin pun menjerit dari mobilnya sambil mengerem kereta bermesin tersebut agar tidak keluar dari bahu jalan dan menabrak pohon. Menit berikut, gegas, dia keluar tanpa melepas jas dokter dari badannya, didekati Chiara yang tersuruk ke aspal di mana satu kaki tertimpa body motor. “Tuhanku! Tuhanku!” dia menjadi panic, tapi cepat membantu dengan mengangkat motor berdiri, kedua matanya tidak sengaja melihat ban yang kempes, lantas mendengus kesal, mulai tahu mengapa Chiara menabrak dia.
Tidak lama, Chiara melepas helm dan melihat sang dokter mengulurkan kedua tangan ke dia. Dengan terpaksa menyambut tangan tersebut, agar ditarik berdiri pria itu.
“Hais!”
Valdin mendengus kesal setelah Chiara berdiri, “Kamu!” ditunjuk sang nona, “Apa tidak sadar, ban motormu kempes, bikin laju motormu tidak beres, hmm?” dihardik gadis itu sambil menunjuk ban motor yang kempes. “Karena kekonyolanmu, Kamu menabrak mobilku!” lantas menunjuk mobilnya di jalanan.
“Hei!” Chiara menjadi kesal, “Kamu sendiri gimana? Udah tahu ini jalan alternative, mengapa mengebut, hmm?” disilangkan kedua tangan ke d***. Kaki dia yang tertimpa body motor tidak dirasa sakit.
“Hei, sudah salah, malah galak ke Aku lagi!” Valdin memandang Chiara dengan sengit, “Kamu-“ kalimatnya terhenti sebab kedua mata melihat mereka dikepung para curanmor. Dia mendengus kesal, keadaan bertambah runyam.
Ditarik lengan Chiara, menempatkan si gadis dibelakangnya. Dia tidak mau sang nona mendapat celaka dari para curanmor ini.
Chiara hanya menghela napas, tidak takut sama sekali sama pria-pria brangasan yang mengepung mereka. Dia menjadi tahu mengapa Valdin memacu mobil dengan kencang di jalan ini.
Marto, komandan curanmor menyeringai senang karena melihat Chiara, perlahan mendekati si nona, tapi satu pukulan keras mendarat di wajah pria itu. Hadiah dari Valdin.
“Jangan ganggu nona ini-!” seru dia setelah itu memandang para curanmor, lantas berbisik ke Chiara, “Kamu berlindung dalam mobilku.”
Sang nona tidak menjawab, lantas melempar helm ditangan ke depan searah jarum jam, benda pelindung kepala tersebut menghantam para curanmor dengan cepat.
Kedua mata Valdin membesar, terbelalak tidak percaya dengan yang dilihatnya. Dia menoleh ke belakang, tapi Chiara tidak ada, segera matanya menyisir ke sekitar dan kembali terbelalak.
Chiara berlari sangat cepat, sling ke udara dan menangkap helm yang sudah membuat para curanmor terpelanting jatuh mencium aspal jalan. Setelah mendapatkan helm, si nona bersalto ke depan sambil melayangkan tubuh ke Marto yang tercengang melihat aksinya dan kedua kaki gadis ini cepat menghadiahkan tendangan bertubi ke badan pria itu.
Valdin terperangah, tidak menduga nona yang menabrak mobilnya jago kungfu. Kedua mata dia mengamati si gadis yang bersalto ke belakang dan menjejakan kedua kaki dengan mantap di permukaan aspal jalan.
Sang nona pun menarik retsleting bagian depan jaket, sehingga tampak samar tubuh sintal seksinya.
“Ckckck-!” terdengar decak kagum Marto berdiri dari aspal sambil mengusap sudut bibir yang terhias red liquid akibat terkena tendangan si nona, “Ada singa betina ini!” dipandang Chiara, “Sangat menarik!” kekehnya menjadi berselera apalagi melihat bentuk tubuh sang gadis yang sintal seksi.
Valdin cepat berlari dan menarik gadis ini ke belakang dia. Entah kenapa dia tidak sudi si gadis menjadi incaran para curanmor.
“Hei-!” bisik Chiara menyureng mengapa Valdin menghalangi pandangan mata dia ke curanmor, “Kamu ngapain sih?”
“Sts!” desis pria itu, “Mereka sebenarnya mengejarku, jadi aku tidak mau kamu menjadi sasaran mereka.”
“Lantas Kamu melawan mereka sendirian, hmm? Kamu mau jadi penghuni alam abadi kah?”
Valdin menoleh ke Chiara, tampak gemas, “Hei, Aku ini laki, bisa menghadapi mereka sendirian!” merasa tersinggung si nona meremehkan dia, “Sudah!” sedikit menghardik, “Kamu sembunyi di mobilku, biar aku yang mengatasi mereka.” Sekali lagi meminta si nona bersembunyi di mobil.
“Hei, kalian-!”
Marto berseru lantang sambil menunjuk Chiara dan Valdin.
“Baiknya Kalian tidak usah melawan kami!” ditunjuk diri sendiri dan rekan-rekannya, “Kalian baiknya serahkan semua harta yang ada ke Kami!”
Chiara menjadi kesal, ke sisi Valdin, “Hoi!” serunya lantang dengan wajah garang, “Loe mau harta kami, hmm?” dipelototin para curanmor tersebut, “Langkahi dulu mayat gue!” serunya sambil berkacak pinggang.
Valdin terperangah, mengamati si nona dengan kagum.
‘Siapa gadis ini?’ bisik hati dia, ‘Sudah cantik seksi, jago kungfu, lantas berani menantang curanmor.’ Dia menjadi tertarik ingin tahu siapa Chiara.
“Hei, nona!” Marto memanggil Chiara, “Kamu jangan sok jago ya!” merasa tersinggung ditantang si nona, “Kamu belum tau siapa kami kan? Kami, Celurit Merah yang disegani di Jakarta ini! Yang menantang Kami, bersiap ke alam baka!”
“Silahkan coba kalau kalian mampu!” Chiara menyungging senyum sinis.
“Serang!” Marto berseru lantang ke rekan-rekannya, “Habisi mereka!” diperintahkan agar mereka menghabisi Chiara dan Valdin.
Kemudian dengan serentak, anak buah Marto mengeluarkan senjata tajam dari pinggang belakang mereka dan berlari ke arah Chiara dan Valdin.
Si nona membuang helm ditangan ke bawah, perlahan menarik belati dari saku jaket bagian dalam dibadannya, kedua mata dia focus mengamati lawan sambil memasang setengah kuda-kuda dan saat lawan hampir mendekat, dia bergerak cepat ke Marto.
Valdin terhenyak melihat ini, hendak mengejar si nona agar tidak ke Marto, tapi kedua mata dia melihat sang gadis dengan mudah melumpuhkan Marto.
Satu tangan pria itu terpuntir ke belakang dan dipegang kuat tangan si nona, lantas tangan lain gadis itu menempelkan permukaan belati ke leher komandan curanmor itu.
“Berhenti!” terdengar pula suara lantang Chiara, di mana memandang rekan-rekan Marto, “Buang senjata kalian, atau komandan kalian dijemput malaikat maut!” diperintahkan para pria itu membuang senjata, “Lekas buang senjata kalian!” dihardik garang sebab perintahnya belum dilaksanakan. “Lekas!”
Valdin sedikit bersiul bertambah mengagumi Chiara.
‘Apa kamu polwan, nona?’ dia berpikir Chiara seorang polwan, ‘Atau kah pendekar kungfu seperti Michelle Yeoh?’
Rekan-rekan Marto terpaksa membuang senjata ke atas aspal.
“Bagus!” Chiara puas perintahnya dipatuhi, “Sekarang!” dipandang semua pria itu, “Letakan kedua tangan kalian di belakang kepala! Lekas, atau komandan kalian ke alam abadi!” tangannya sedikit menekan permukaan tajam belati ke kulit leher Marto.
Terpaksalah mereka mematuhi si nona pendekar, meletakan kedua tangan dibelakang kepala.
Valdin bergegas mendekati Chiara, “Nona-!” ditegurnya.
“Kamu ikut aku!” bisik Chiara memainkan mata ke arah mobil Valdin, lantas dengan menyeret Marto, berjalan mundur bersama Valdin hingga ke mobil. Setelah itu, dia dengan kuat mendorong tubuh Marto menjauh dari mereka, “Run!” serunya ke Valdin sambil cepat membuka pintu mobil dan masuk ke kabin kemudi.
Gegas, Valdin masuk ke kabin tersebut melalui pintu lain, dan terperangah sebab Chiara dengan cekatan menyalakan mesin mobil. Tidak lama gadis ini memundurkan mobil, diputar ke arah kanan, lantas tancap gas melajukan kereta bermesin ini meninggalkan tempat kejadian.
‘Wow!’ decak hati Valdin mengamati Chiara yang tanpa kesulitan mengemudikan mobil balap dia ini, ‘Kamu mengagumkan, nona! Aku beruntung ditabrak kamu tadi.’
Chiara tidak menyadari diamati pria itu, hanya konsentrasi mengemudi, meski sebagian pikiran merutuk keadaan. Sudah menghadapi penagih hutang, menabrak mobil dan berkelahi dengan curanmor. Sekarang melarikan diri bersama pria pemilik mobil yang ditabraknya.
Tidak lama terdengar helaan napasnya dan kedua mata menoleh ke kiri mengarahkan ke piranti audio mobil. Satu tangan mulai menyalakan audio tersebut dan terdengarlah lagu Radio Ga Ga yang dipopulerkan Queen, grup rock legendaris jaman jadul.
Perlahan bibir mungilnya mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan Freddy Mercury tersebut. Penat hati yang dirasa mulai berkurang karena bernyanyi.
Valdin tersenyum geli melihat tingkah Chiara yang tidak menyadari bersama dia si pemilik mobil. Tapi dia tidak mempermasalahkan, sebab si nona sudah menolongnya dan tidak menggeratak isi mobil ini.
Hati dia bertambah penasaran ingin mengenal siapa sang gadis, sebab dirasa bukan pengantar paket semata. Nona cantik ini jago kungfu, bisa mengemudikan mobil balap, tanpa segan menyalakan audio mobil dan ikut bernyanyi. Dia pun menilai suara Chiara jernih dan mampu mengikuti dengan baik suara Freddy Mercury tersebut.
Chiara mulai menyadari diamati Valdin, sekilas menoleh ke pria itu.
“Tuan-!”
“Aku, Valdin!” Valdin segera menyahut dengan memperkenalkan nama, “Panggil saja, Valdin.”
Chiara menghela napas, “Baiklah.” Dipenuhi keinginan Valdin, “Saya, Chiara.” Diperkenalkan namanya.
“Saya tidak tanya namamu-!” entah kenapa Valdin berkata itu, “Apes banget Aku hari ini!” dijitak sedikit kening gadis ini, “Dikejar begal, lantas ditabrak nona sembrono ini!” dipandangin si nona dengan jutek dan kedua tangan disilang ke d***.
Chiara melongo, merasa Valdin tidak waras, lantas tadi hidungnya mencium bau a*****l dari napas pria itu.
“Sudah, sudah-!” Chiara tidak ingin memperpanjang percakapan itu, “Tuan, Anda mengapa sampai dikejar begal?”
Valdin terhenyak, lantas, “Perlu kujawabkah?”
Chiara melongo, ditolehkan pandangan ke Valdin, mengapa dia tidak boleh tahu Valdin dikejar begal?
“Kalau saja-“ Valdin bicara lagi, “Kamu tidak menabrak mobil saya, pasti saya lolos dari kejaran para begal itu!”
“Mana saya tahu Anda dikejar begal sampai mengebut di jalan sepi itu!”
“Siapa suruh tidak konsentrasi saat mengemudi, jadi tidak melihat saya dikejar begal!”
Chiara ternganga, mimpi apa dia bertemu Valdin yang sombong dan judes ini? Sudah ditolong bukannya berterima kasih, malah memarahi dia.
“Ah sudah-“ Valdin sedikit mendengus kesal, dia malu ditolong Chiara, jadi menutupi dengan memarahi si nona, “Sekarang antar Aku ke Biomedika Hospital.”
“Ke sana, Tuan?!” Chiara terperanjat, “Apa Anda terluka?”