.
Entah kenapa sikap Janaka pagi ini dirasakan Agnes berbeda dari semalam. Janaka bersikap dingin, penuh basa-basi dan seperti menghindarinya. Lantas ia menjadi kecewa karena terburu-buru berasumsi kalau lelaki satu itu sosok yang hangat, yang patut disayangi.
Agnes jadi tak berselera menyantap sarapannya. Hal itu kemudian menjadi perhatian Janaka. Lelaki itu menoleh ke arahnya, mengernyitkan dahi.
"Nggak mau sarapan?" tanyanya.
Agnes menggeleng dan menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tak mau tergoda untuk membalas ocehan Janaka. Sekarang atensinya tumpah pada dirinya. Janaka menatapnya, Agnes dapat melihat kabut luka itu. Tapi itu pun sekejap lalu Janaka mampu menghalaunya, berganti dengan senyum, walau kentara dipaksakan.
"Perjalanan kita masih jauh, Nes."
Ah, Agnes tahu bila Janaka sudah mulai memanggilnya begitu, itu tandanya dia serius, bukan lagi bercanda. Namun dasarnya gadis itu memang ngeyel, Agnes justru menggeleng dan hanya meneguk segelas s**u hangat yang sudah tersedia di depannya.
Agnes dapat mendengar dengkusan napas Janaka. Dan tanpa basa-basi lagi, Janaka meninggalkannya keluar. Agnes termenung. Apa iya Janaka marah padanya? Hanya karena dia tak sarapan? Bukankah Janaka duluan yang bersikap dingin dan tak acuh padanya?
Agnes malas menanggapi lelaki yang suka ngambekan. Akhirnya dia bersiap-siap untuk hunting ikan laut pagi ini ke pasar ikan. Bersama atau tanpa Janaka. Percuma, toh lelaki itu pasti mendiamkannya. Daripada dia jadi bete, Agnes memilih pergi sendiri. Untuk urusan perut, nanti di pasar pun dia bisa makan apa aja yang bisa dia temui.
Berbekal kacamata hitam, topi dan tas slempangnya, Agnes mulai perburuannya. Dia tinggal bertanya pada penduduk sekitar ke arah mana menuju pasar ikan. Beruntung dia cepat menemukan pasar ikan tersebut yang ternyata tidak terlalu jauh dari tempat ia menginap.
Seafood adalah salah satu makanan favorit Agnes setelah makanan yang manis-manis. Selama tinggal di Jakarta, jarang-jarang dia mendapat ikan-ikan segar seperti ini. Ada ikan Kerapu, kepiting, bahkan baby gurita. Perutnya sudah menjerit-jerit, dia melirik jam di ponselnya. Sudah jam sebelas, ternyata tak terasa waktu berlalu secepat itu. Padahal perasaan Agnes baru saja menginjakkan kakinya di pasar ikan tersebut.
Agnes memilih makan di tempat. Dia ingin mencoba masakan baby gurita. Entah pakai bumbu apa sehingga berhasil membuat Agnes menambah porsi nasinya. Dalam keadaan bete saat menemukan hal yang bisa menjauhkannya dari kebete-an, Agnes akan semangat dan cara ampuhnya dengan makan.
Hm... Perut kenyang hati senang!
Dia pun memesan seporsi cumi tepung untuk dibawa pulang, pikirnya mungkin Janaka belum makan siang.
Eh, tunggu. Perasaan tadi nggak lewat sini deh!
Gadis itu berhenti sesaat mengamati jalan yang dilaluinya, membandingkan dengan jalan yang menuju ke pasar. Namun kalau diliat-liat lagi, keramaiannya berbeda dengan keramaian yang sebelumnya. Di mana dia?
Agnes celingukan. Dia pun lupa dengan nama penginapannya.
"Aih, kenapa bisa begini?!" racaunya kesal.
Otomatis dia harus putar balik ke arah pasar tadi. Mencoba bertanya pada orang-orang yang ditemuinya di pasar. Mereka menunjuk ke arah barat pantai. Agnes pun mengikuti petunjuk mereka.
Begini ternyata rasanya tersesat! Andai dia menuruti apa kata Janaka, tak mungkin ia tersesat sejauh ini. Andai dia tak pundung, saat ini Janaka pasti sedang berjalan di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Tapi Agnes tak suka Janaka bersikap dingin seperti itu. Agnes suka Janaka yang hangat. Janaka yang senang bercanda. Janaka dengan tawanya membuatnya terhibur.
Naka... Gue pengen pulang....
Kedua tungkainya menyusuri pantai, matanya mulai memanas, ingin menangis. Memikirkan kalau-kalau dia sungguh tersesat dan tak bisa bertemu Janaka lagi.
Akhirnya Agnes duduk berjongkok dan menelungkupkan wajahnya. Bahunya berguncang. Hingga tak sadar seseorang ikut berjongkok di sebelahnya. Agnes merasakan sentuhan di pundaknya.
"Ayo pulang," Agnes mendongak perlahan begitu mendengar suara itu.
"Naka!" Agnes berhambur memeluknya, hingga sang lelaki terjengkang ke belakang, tertindih tubuh Agnes dan topinya terjatuh.
"Aku tersesat... Aku takut," isaknya.
"Masih ngambek? Sori ya?" Janaka membelai kepala Agnes.
"Kamu yang tiba-tiba ngambek," cicitnya pelan.
"Kamu yang tiba-tiba ilang..." balas Janaka.
Agnes diam. Kenapa dia dan Janaka jadi ber-aku-kamu?
Janaka pun menyadarinya ada yang salah. Dia pun bangkit, duduk di hamparan pasir pantai yang basah.
Calm down, heart...
Janaka segera bangkit lalu mengulurkan tangannya, mengajak Agnes untuk bangun juga.
"Yaa... Baju kita kotor lagi," Agnes mekihat-lihat sekujur badannya yang kotor.
"Kamu masih mending, aku? Nih liat, punggungku kena semua, mana basah." Janaka mengusap celananya yang memang kotor.
Agnes tertawa,"Ha... ha... Kayak bocah!"
Janaka mencebik,"Lah kamu yang meluk-meluk heboh sampai aku jatuh."
Gadis itu langsung kicep, canggung mulai merayap. Namun dengan cepat Agnes menguarnya dengan memercikan air laut ke arah Janaka.
"Hei! Basah Nes!" Janaka menyingkir mundur, tapi Agnes masih mengejarnya dengan terus memercikkan air sambil tertawa-tawa.
Janaka tak mau kalah, dia balas memercikkan air laut. Akhirnya mereka saling memercik sambil berlarian, mirip film India. Tak sadar kalau baju mereka sudah basah kuyup. Namun mereka sepertinya menikmati kegiatan itu layaknya bocah. Debur ombak ditingkahi suara tawa dari keduanya, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
°
Kegiatan siang tadi tak pelak jadi pikiran Janaka. Semakin hari Janaka semakin merasakan kedekatan itu. Kemistri mulai terjalin walau mereka bukan tengah membangun suatu hubungan asmara pada umumnya. Apalagi dengan kembalinya perempuan di masa lalu yang mencoba menguak tirai yang sengaja Janaka tutup. Tiba-tiba ia jadi resah sendiri. Dia tahu perempuan itu akan terus mengganggunya. Seperti saat ini.
Ponselnya berdering bersamaan Agnes yang baru kembali dari toilet. Gadis itu duduk bersila berhadapan dengan Janaka, netranya menyambar ponsel Janaka yang terus berdering.
Dagunya terangkat,"Kenapa nggak diangkat?"
"Nggak penting," sahutnya singkat.
Kedua alis Agnes naik, gestur heran terlihat kentara di rautnya. Janaka mendengkus lalu mengambil ponsel itu.
"Lagian bukan siapa-siapa kok," imbuhnya.
"Siapa-siapa juga nggak apa-apa," Agnes menyahut sambil melengos.
Janaka merutuki dirinya, kenapa dia terdengar seperti tengah mengklarifikasi sesuatu?
Lelaki itu pun menyeruput kopinya tergesa. Jelas sekali Janaka saat ini merasa gugup tanpa sebab. Entah karena sahutan Agnes atau karena kata-katanya sendiri. Agnes masih menggulung rambutnya dengan handuk ditambah penampilannya yang sangat santai dengan stelan piyama motif beruang. Janaka terpaku, betapa gadis itu begitu lugunya dan apa adanya. Berbeda dengan...
Lamunannya kembali terinterupsi karena deringan ponselnya. Agnes menoleh, mulutnya penuh dengan kue bulan yang disediakan penginapan. Janaka tak mau di antara mereka semakin awkward, maka ia pun pamit keluar untuk menerima telpon.
"Apalagi?"
"Bisa kamu pulang? Aku butuh kamu," perempuan di seberang sana terdengar terisak. Untuk beberapa detik Janaka terdiam begitu mendengar isakannya.
"Ta, kamu udah pilih jalanmu sendiri. Kamu yang pergi dariku, kamu yang bilang ingin menggapai cinta lamamu, karena kamu ngerasa kita nggak utuh. Kamu ngerasa aku selalu nggak ada buatmu, padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Kamu yang nggak pernah ada buat aku," papar Janaka.
Isakan di sebrang sana semakin kentara. Janaka mengembuskan napas, dia menjadi serba salah. Beginilah, berurusan dengan yang namanya perempuan, serba salah, yang selalu merasa benar dan senjatanya ampuh sekali. Tangisan. Siapa yang tak luluh mendengar tangis lirih menyayat hati? Siapa yang tak kan iba pada tangis mengiba seperti yang didengarnya kini?
"Ta... Please, stop it! Aku ada kerjaan yang nggak mungkin aku tinggalin. Tolong mengerti," ujarnya lembut tapi penuh penekanan.
"Tapi aku butuh kamu, Jak. Dia udah nggak peduli sama aku. Padahal aku kembali demi dirinya, tapi aku malah dicampakkan. Dia malah sibuk mencari tunangannya yang pergi entah kemana," isaknya.
"b******k! Kalo perlu aku datangi dia! Tunggu aja, setelah aku selesai, aku pasti pulang." Emosi Janaka tersulut. Bagaimanapun perempuan di sana adalah orang yang pernah dia sayang. Perempuan itu meninggalkannya demi kembali pada sang masa lalu, tapi kenyataannya...
"Naka," panggil Agnes.
Janaka menoleh lalu cepat mematikan ponselnya. Tersenyum kikuk menghadap Agnes yang menatapnya heran.
"Marah-marah sama siapa?" tanyanya.
"Ini sama yang nelpon, temen. Katanya ada masalah di travel," dusta Janaka.
"Oh, jadi kamu mau pulang?"
Janaka diam. Apa yang sudah dia lakukan barusan? Berbohong! Janaka mengerutkan dahinya. Kenapa dirinya sampai seperti itu? Kenapa dia harus berbohong pada Agnes tentang mantannya?
Janaka mendekat, menatap tepat di manik Agnes. Janaka suka sekali menatap mata kijang itu. Berbinar cerah.
"Lalu kamu?"
Agnes tampak mendongak karena tinggi Janaka yang tak seimbang dengan dirinya.
"Kalo nggak ada temen nggak asik! Tapi aku masih butuh untuk pergi, Ka. Andai bisa aku nggak usah pulang... Dapetin cowok luar negeri trus merit deh, hidup bahagia, forever ever..." kikiknya, merasa rikuh ditatap seperti itu oleh Janaka.
"Cowok luar negeri itu pada kere tahu?" sembur Janaka sewot, sambil mengusak rambut Agnes yang setengah basah.
"Ya carinya jangan yang abal-abal dong. Anak sultan kek, anak raja kek, CEO muda atau pemilik tambang emas kek, kan asik tuh! Jadinya nggak usah ikutan ribet mikirin biaya hidup," masih saja Agnes menggoda Janaka agar berkomentar.
Janaka mencebik,"Ish... ish... Payah banget tuh filosofi!"
"Eh, ini bukan filosofi ya!" balas Agnes sambil berkacak-pinggang.
"Kenyataan Bung! Kalo hidup nggak cukup cuma cinta doang. Aku bukti hidupnya! Aku hidup untuk cinta tapi nyatanya tetep aja dikadalin. Seketika pengen berkata kasar! Huh!"
Janaka terpingkal, kedua tangannya lalu mendorong bahu gadis itu untuk kembali masuk ke dalam kamar. Janaka menutup pintu dengan kakinya.
"Eh, jadi gimana? Jadi pulang?" tanya Agnes.
"Nggak!" geleng Janaka.
"Kenapa?"
Janaka tak menjawab, dia malah mengambil handuk yang tersampir di bahu Agnes, lalu mengusak rambutnya yang semi basah itu. Janaka tetap tak menjawab sampai Agnes lelah.
Apa mau lo, Janaka?!
Rahangnya mengetat, menahan segala macam perasaan yang bergelung di hatinya. Yang sampai detik ini tak dapat dia jabarkan.
~~