.
Rencana awal rute perjalanan backpacker-an dua orang itu yang sedianya akan menuju Batam dengan kapal ferry dari Sekupang, akhirnya harus kandas. Mereka harus naik dari pelabuhan Mengkapan, Riau. Entahlah, Janaka yang tiba-tiba memilih begitu. Agnes hanya mengikuti saja toh dia benar-benar buta soal daerah tersebut. Menjejakkan kaki di bumi Sumatera barulah kali ini. Selama ini tahu daerah-daerah itu hanya melalui YouTube atau televisi. Berkunjung ke Manado saja Agnes baru setelah dua tahun pacaran dengan Ignatius.
"Kenapa kita nggak jadi ke Sekupang, Ka?" tanya Agnes.
"Cuaca lagi nggak bagus. Lagian dari Sekupang arahnya memutar, lumayan ngirit waktu juga kalo kita naik dari Dumai atau Tanjung Buton. Orang-orang udah jarang naik ferry kalo dari Sekupang. Kebanyakan mereka naik pesawat, karena naik ferry lebih mahal."
Agnes manggut-manggut. Apalah dia yang buta peta, yang tak tahu letak geografis pulau-pulau selain pulau Jawa.
"Nilai geografimu berapa?" lirik Janaka.
Agnes tergelak,"Kamu baca pikiranku ya? Pokoknya aku bete kalo harus ngitung derajat bujur timur, lintang utara kayak gitu-gitu. Aljabarku juga jeblok, maka saat pelajaran instrumen dan tekhnik gambar, aku nyerah."
Janaka tergelak, bukan menertawakan tapi lebih tepatnya ikut tertawa, karena mimik Agnes baginya sangat menggemaskan.
"Tapi hidup nggak melulu soal hitung-hitungan kan? Ada kalanya merupakan hapalan, seni, terlebih inner beauty. Orang lebih menghargai titel seseorang, jebolan universitas bergengsi atau fakultas favorit. Jarang sekali melihat skill, sifat dan karakter dia sebagai seorang manusia seutuhnya. Atau melihat keturunan siapa, background hidup dia, harta yang nggak abis buat tujuh turunan."
Paparan Janaka membuat Agnes terpekur. Dulu, ia selalu memandang orang seperti itu. Bukan materialistis, tapi dia berusaha untuk realistis. Bahwa hidup itu memang seperti itu. Mengedepankan idealisme dalam hidup baginya adalah hal konyol. Karena pada akhirnya rasa idealis itu akan tergerus seiring waktu. Karena dia memang terlahir bukan dari keluarga berada, tapi berkat usaha dan kerja keras papanya, perusahaan periklanan miliknya akhirnya mampu berkibar dan diperhitungkan di dunia bisnis. Agnes menjadi saksi dan pernah merasakan hidup penuh perjuangan.
Hingga tak salah rasanya bila ia pun punya keinginan untuk memajukan perusahaan papanya. Walau ia kini bekerja di perusahaan milik sahabat Ardan, sahabat papanya, itu sebagai tolak ukur dan pengalaman.
Langit mendung dan rintik hujan yang makin deras memaksa mereka untuk menepi dan mencari sebuah penginapan. Namun sayang, daerah yang mereka lalui ini hanya sebuah jalan kabupaten, kota yang menjadi tujuan mereka masih jauh berpuluh kilo lagi.
"Untung kita nggak jadi naik dari Sekupang, Sist. Kayaknya ada badai kalo hujannya deras gini," kata Janaka sambil menatap langit yang mencurahkan air kehidupan bagi umat manusia itu.
Mereka berada di sebuah warung kecil dan Janaka membutuhkan secangkir kopi panas untuk melenyapkan penat yang mulai menyergap. Perjalanan yang cukup panjang. Karena mereka tadi tak banyak berhenti. Ini pula yang membuat Agnes agak khawatir.
"Ntar aku aja yang nyetir," cetusnya.
Janaka menoleh, mengalihkan atensinya dari hujan yang masih berlomba membasahi bumi.
"Hujan gini jalanan licin Sist. Udah, aku nggak apa-apa kok." Janaka seolah tahu kekhawatiran Agnes.
"Mau diambilin jaket?"
"Ck, hujan gede gini, Ka. Yang ada malah baju kamu basah," sahut Agnes. Dia memakan mie instan yang dipesannya. Sadar tengah diperhatikan, wajahnya terangkat.
"Mau?" tawarnya pada Janaka.
Lelaki itu malah senyum,"Liat porsi makan kamu yang kayak gitu akunya yang malah kenyang duluan."
"Ish!" cebiknya.
Janaka tertawa kecil. Lalu seorang bapak menyapa dan menghampiri mereka.
"Ekspedisi bulan madu ya, dek?"
"Bukan Pak, kita berencana ke Batam. Tadinya mau naik lewat Sekupang, tapi katanya udah jarang ada ferry yang beroperasi."
Bapak itu manggut-manggut,"Ya, ya... Cuaca beberapa hari ini sedang buruk. Lalu mau naik dari mana? Mengkapan lebih dekat dari sini, daripada harus ke Dumai."
"Oh gitu ya Pak... Maklumlah Pak, cuma ngandelin google maps."
Lalu mereka berbincang tentang bola, politik dan hal-hal berbau lelaki. Sejak tadi Agnes hanya mengamati dan mendengar obrolan dua lelaki beda generasi itu.
"Hujan sepertinya akan lama. Jarak menuju Mengkapan lumayan. Sampai ke sana pun sudah malam. Bermalam saja di sini," ujar Pak Yasin.
"Iya, Pak."
"Lagi pula bahaya malam-malam. Banyak kontainer dan truk barang yang lewat kalo malam," imbuh Pak Yasin.
"Iya Pak, lagian saya udah penat nih."
"Penginapan masih jauh, ada di Mengkapan, dekat pelabuhan." Lagi, katanya.
Akhirnya mereka patuh untuk tak pergi saat hujan reda. Memilih ikut menginap di rumah Pak Yasin. Pak Yasin tinggal dengan istrinya yang lumpuh dan memiliki dua putra dan dua putri. Salah satu putranya jadi a*k kapal Roro di pelabuhan Mengkapan. Sedangkan dua putrinya, yang bungsu tengah menimba ilmu di pesantren dan yang sulung sudah berkeluarga. Sedangkan si pengais masih SMK.
Kedua orangtua itu sangat ramah. Ternyata Pak Yasin menjabat sebagai RW di lingkungan tersebut. Malam telah larut, Janaka sudah terlelap. Tinggal Agnes yang masih memicingkan matanya. Mungkin karena udara cukup dingin selepas hujan tadi. Atau karena terlalu lelah yang justru membuatnya tak bisa tidur sama sekali.
Hingga pagi menjelang, Agnes hanya sekejap memejamkan mata. Keluarga Pak Yasin menjamu mereka, meskipun istrinya lumpuh, bukan berarti wanita itu tak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dengan mengandalkan kursi roda wanita itu bisa kesana-kemari mengurus rumahnya.
Agnes ikut membantu Bu Yasin di dapur dan membantu menyiapkan sarapan ala kadarnya.
"Maaf ya, makanan kampung." Bu Yasin menengahi Janaka dan Agnes tengah saling ledek.
"Nggak Bu, kalo saya makan apa pun jadi," sahut Janaka.
"Ini enak kok Bu," sela Agnes.
"Orang Jakarta sarapannya roti ya?" canda Bu Yasin.
"Saya kalo sarapannya nanti Bu, dirapel sama makan siang."
Setelah acara sarapan yang hangat itu, Janaka dan Agnes pamit pulang. Kebetulan Agnes di kota sebelah membeli makanan, sebagian oleh-oleh itu diberikan pada Bu Yasin.
"Padahal menginap lagi barang semalam, Nak."
"Lain kali Bu kalo Agnes main lagi kemari. Soalnya kita lagi ngejar target. Makasih ya Bu, Pak atas tumpangannya dan sarapannya yang hangat."
Keduanya kemdian pamit dan melanjutkan perjalanan.
"Kamu nggak tidur ya, Nes?" tanya Janaka.
"Hah?"
"Nggak konsent tuh. Nanti di jalan kamu tidur, nggak boleh bantah." Janaka menunjuk wajah Agnes.
Gadis itu merengut,"Iya. Abis, nggak tahu kenapa juga nggak bisa tidur. Tumben,"
"Coba kita nginep semalem lagi ya Ka?"
"Katanya tadi lagi kejar target," ledek Janaka.
"Ya nggak enak aja, masa numpang lama-lama. Kita kasih bayaran pun mereka pastinya juga nggak mau," ujar Agnes.
Ponsel Janaka lagi-lagi berdering. Agnes melirik Janaka yang tengah menyetir, yang sepertinya anteng tak peduli ponselnya berteriak kencang.
"Nggak diangkat tuh? Emh... Titania? Mirip nama sepupuku, Tatiana. Mereka kembar. Sayang, Tita meninggal karena pneumonia."
Janaka mengerjap langsung menoleh ke arahnya,"Kembar?"
Agnes mengangguk,"Keluarga dari pihak Mama emang banyak yang kembar. Cuma Mama aja yang nggak. Padahal lucu ya kalo punya anak kembar,"
"Kepengen punya anak kembar?"
"Yaaa ... Se-dikasihnya aja. Kalo Tuhan ngasihnya kembar ya terima, nggak juga nggak masalah. Cuma gemesin gitu loh kalo punya anak kembar. Apalagi cewek, ihh.... unyu deh!" timpal Agnes riang.
"Aku juga pengen punya anak kembar, tadinya. Tapi setelah putus, otomatis melangkah ke pelaminan gagal, kayaknya nggak mungkin keinginanku terwujud."
"Oh, jadi mantan kamu itu kembar? Namanya Titania? Wah, bisa kebetulan ya? Trus kenapa nggak kamu angkat tuh telponnya Tita? Masih sakit hati?" desak Agnes.
"Kurang lebih," Janaka menipiskan bibirnya.
"Jujur sekali Anda," kekehnya.
"Udah, perjalanan masih jauh. Tidur dulu gih. Aku nggak mau kamu sakit," cetus Janaka.
"Kenapa?"
"Bisa repot!"
"Sialan!"
Namun, akhirnya Agnes patuh. Tak berselang lama Agnes pun tertidur.
Sedang pikiran Janaka berkelana pada seseorang yang barusan menghubunginya dan jadi bahan perbincangan mereka.
Titania? Tatiana? Jadi siapa kamu?
Janaka berharap Titania bukan orang yang sama yang telah menyakiti Agnes. Kalau benar, dia tak tahu apa yang akan Titania dapatkan darinya.
Semoga ini bukan salah satu dramamu, Ta...
~~