.
Agnes dan Janaka sekali lagi terpaksa harus menginap di pelabuhan Mengkapan. Hanya saja mereka sudah tenang karena sudah membeli tiket untuk esok hari. Seperti biasa, Agnes yang dasarnya senang makan, dia mengajak Janaka untuk kulineran. Ada beberapa rumah makan kedai-kedai.
"Emang mau makan apa?" tanya Janaka.
"Entahlah. Kamu yang pilihin deh," sahut Agnes enteng.
"Kalo kamu hamil kayaknya makin melar, Sist. Abis doyan makan," kekeh Janaka.
"Nggak apa-apa, selama suamiku nanti nggak masalah." Agnes mencebik.
"Kamu seneng sama cewek yang bodynya kayak gitar Spanyol ya? Kalo pengen body istrimu tetep aduhai, nggak usah merit, nggak usah punya anak. Kalo aku sih nggak mau nyari cowok yang kayak gitu, liatin fisik. Terbukti sekarang, si Tius, dia selingkuh mungkin gegara liat badanku kayak gajah bengkak! Sialan bener!" racaunya mengundang beberapa orang yang di depan rumah makan yang hendak mereka masuki menoleh, memandangi Agnes.
Janaka ikut melirik ke arah para lelaki itu. Reflek Janaka menarik tubuh Agnes untuk lebih mendekat padanya dan Agnes seolah tak menyadari perubahan tersebut, dia masih tetap meracau. Hingga sampai mereka duduk di meja makan, barulah Agnes sadar kalau dirinya setengah dipeluk Janaka. Pipinya memerah, perlakuan yang baru saja Agnes duga sebagai salah satu ciri kalau lelaki itu menyukainya. Tapi benarkah itu?
Saat Agnes akan mengkonfirmasinya, Janaka keburu menyuruhnya duduk.
"Lain kali pake celana panjang," bisik Janaka.
Agnes meneliti pakaiannya, matanya bergulir ke kiri dan kanan, lalu mengerjap.
"Gerah Ka," balasnya.
"Tapi karena bajumu bikin mereka gerah dan mikir yang nggak-nggak," ketus Janaka.
"Iya, ntar pake baju suster deh."
"Ck, bukan gitu juga kali. Susah ya kamu dibilangin," Janaka lalu mengangkat tangan memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.
Pilihan kali ini jatuh pada makanan sejuta umat, nasi Padang! Agnes gerak cepat saat otak, dan kepala ikan kakap tersaji di meja. Jangan lupa sambal cabai hijaunya. Janaka geleng-geleng kepala melihat porsi makan gadis itu. Benar-benar jauh dari kata elegan! Pikirnya, tidak seperti Titania yang makan seolah pakai table manner.
"Pelan-pelan makannya," ingat Janaka.
"Iya," angguk Agnes.
Satu porsi kepala ikan kakap habis di makan Agnes. Begitu pun gulai otaknya.
"Yang kamu makan itu kolesterol semua loh, Sist."
"Never mind, selama itu nyenengin kenapa nggak? Toh cuma makan, bukan ngedrug atau mabok Amer. Iya kan?" bantah Agnes.
Janaka menggendikkan bahu ya,"Terserah deh."
Agnes terkikik,"Iya lah bener. Lagian, ini saatnya aku nggak mau jaim-jaim Ka. Aku jaim aja ternyata, Tius tetap ninggalin aku. Buat apa? Ada pelajarannya juga yang kupetik dari masalah ini. Aku jadi lebih bisa bersikap dan berpikir dewasa. Bahwa nggak semua yang kamu inginkan itu terwujud. Nggak semua harus jadi milikmu,"
Janaka mengangguk-angguk sambil memandangi Agnes yang bicara dengan mulut penuh. Bibirnya belepotan dengan bumbu gulai. Janaka tersenyum geli. Bagaimana mungkin gadis kota semacam Agnes bertingkah seabsurd ini?
Agnes mengambil nasi sisa yang disisihkan Janaka.
"Nes, kamu kesurupan? Laper nggak segitunya kali," bola mata Janaka hampir saja loncat.
"Ya nggak tahu Ka, orang pengen makan kok. Ya udah ini yang terakhir, janji. It's so delicious!" Agnes mengecup dua jarinya, tanda makanan yang ia santap begitu lezat.
Janaka tak bisa berbuat apa-apa, Agnes memang begitu.
Padahal yang terjadi adalah Agnes tengah kalut, kesal dan inginnya mencakar lelaki di depannya ini. Dia tak sengaja mendengar pembicaraannya dengan perempuan yang dia sebut Titania itu.
Bahwa ia akan segera pulang setelah pekerjaannya selesai dan berharap perempuan itu baik-baik saja selama ia pergi. Pekerjaan apa? Pekerjaan menemaninya backpackeran. Lalu Janaka mengatakan kata, 'I love you too'.
Entah kenapa mendengar Janaka mengatakan itu yang katanya pada sang mantan, membuat hatinya bergetar berkedut nyeri. Perempuan yang bernama mirip dengan kembaran sepupunya, Tatiana.
Lantas Agnes mengeksekusi perasaannya dengan makan dan makan. Perasaan seperti itu tak boleh hadir di hatinya. Apalagi ini Janaka adalah orang asing, yang belum Agnes kenal dengan baik. Latar belakang hidupnya, siapa Janaka sebenarnya dan lain sebagainya. Pikirannya berkecamuk seiring rasa kesal di hatinya. Apalagi barusan dia bersikap sok hangat, sok perhatian padanya. Untuk apa semua itu dia lakukan pada dirinya?
"Agnes?" Janaka menggoyangkan tangannya di depan wajahnya.
"Eoh? Ya?"
"Ngantuk?" tanya Janaka.
"Hah? Ngantuk? Iya kali ya..." Agnes melongo.
"Ya udah kita kembali ke penginapan."
Sebelum beranjak Janaka mengambil tisu dan melap bibir Agnes yang masih sebagian masih berwarna kuning bumbu gulai. Agnes tampak canggung menerima perlakuan Janaka.
"Aku bisa sendiri," Agnes mengambil tisu dari tangan Janaka lalu melap bibirnya tergesa.
"Pake ini," Janaka mendekat saat Agnes berdiri. Dia mengikatkan jaketnya di pinggang Agnes.
Apa ini? Di belakang bilang I love you sama mantan. Sekarang bersikap manis di depan gue. Mau lo apa, Naka?!
Lalu mereka keluar setelah membayar bill. Sikap Janaka masih sama seperti tadi waktu mereka masuk ke rumah makan. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Agnes dengan posesif.
Bisik-bisik pun terdengar. Ada yang bersiul dan tertawa kecil. Janaka tahu bahwa itu ditujukan pada Agnes.
"Bohay bener! Depan belakang montok, mana mulus tuh paha ..." cetus mereka.
"Hei! Bisa sopan nggak?"
"Loh, apa masalahnya Bung?"
"Yang kalian bicarakan itu, dia istriku!" Janaka makin mendekat. Agnes sembunyi di belakang punggungnya.
"Oh istrinya, maaf Bang. Kirain wanita nakal, habis celananya pendek banget."
"Makanya suruh istrinya pake baju piyama aja Bang. Jangan diumbar, banyak laki tanpa bini nih di sini..." kata yang lainnya.
"Tapi nggak sopan Anda ngomong kayak begitu!" keukeuh bantah Janaka.
"Ya udah kita minta maaf, Bang. Udah woy udah," lerai salah satu dari mereka yang bertatoo.
Janaka tak memperpanjang, lalu menarik Agnes dari sana dan segera menuju ke penginapan.
"Nah kan, apa kubilang?" cetusnya kesal.
Agnes merengut,"Ya maaf. Lagian emang gerah, aku kan belum mandi."
"Ck," Janaka mendelik.
Rasanya baru kali ini Agnes melihat lelaki itu berlaku ketus begini. Janaka selalu menanggapinya dengan candaan. Tapi sekarang?
°
Janaka mengusak rambutnya yang basah dengan handuk. Namun pikirannya entah ke mana, dia masih berpikir kenapa dia bersikap seperti barusan? Bersikap posesif sekaligus perhatian begitu pada Agnes. Dia tak mau Agnes sampai berpikir yang tidak-tidak.
Belum lagi masalah yang menimpa Titania. Janaka ingat Titania menelponnya sesaat mereka baru tiba di penginapan sore tadi.
"Jak, aku mending akhiri aja hidupku. Kamu dan dia sama aja. Aku merasa sendiri, kamu dan dia nggak peduli lagi. Lalu buat apa aku hidup?"
"Ta..."
"Let me go..."
"Absolutely no! Oke, aku pulang."
"I miss you, Jak... Kalo kamu nggak pulang--"
"Aku akan cepat pulang... Tunggu aja. Kerjaanku belum selesai. Aku turuti maumu, tapi please, kamu harus baik-baik aja ya? Jangan macem-macem..."
"I'll promise. I love you,"
"I love you too..."
Janaka tampak bingung, dia mengusap wajahnya lalu menelentangkan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya bercabang. Ia tak mungkin pulang tapi keadaan Titania bisa semakin serius. Kalau ia pulang, ia sudah janji akan mengantar Agnes ke manapun ia pergi.
"Ka, Naka..." Agnes sudah duduk di tepi ranjang.
"Oh, udah beres mandinya?"
Agnes mengangguk,"Ini kita tidurnya gimana? Coba kalo tadi kita cari lagi penginapan lain."
"Udah kan kita cari, yang dekat rumah makan tadi aja udah penuh, full!" seloroh Janaka.
"Lagian cukup kok kita tidur berdua di sini," imbuhnya.
"Hah? Tadi aja kamu peluk-peluk, trus bilang aku istrimu. Wahh ... Sekarang kalo kita tidur bareng di sini, jangan-jangan kamu modus lagi!" cerocos Agnes.
"Ck, negthink mulu sih?" Janaka melengos.
"Lagian aku nggak doyan,"
"Iyalah, yang kamu suka itu yang kayak model, ramping tapi ngebentuk! Iya kan? Awas aja kalo macem-macem!" Agnes menunjuk-nunjuknya.
"Udah sana tidur," Janaka menepis jari Agnes. Gadis itu naik ke dipan.
"Bawel!" balasnya sambil memakai selimut.
"Tapi aku nggak sebawel dan secerewet kamu ya," Janaka masih angot.
"Bodo!" Agnes membalikkan badannya menghadap tembok.
Janaka mendengkus sambil geleng-geleng kepala. Cukup melelahkan hari ini. Janaka berharap di kapal nanti ia bisa beristirahat cukup. Karena malam ini tampaknya ia harus bertahan dari godaan.
"Naka..."
Janaka menoleh, Agnes masih menghadap tembok.
"Apa?"
"Kalo kamu mau pulang, pulang aja. Biar aku lanjut sendiri menuju Batam lalu ke Singapura," cetus Agnes.
"Loh? Kenapa tiba-tiba?" Janaka menegakkan tubuhnya.
Agnes masih menghadap tembok,"Nggak tiba-tiba juga. Kasian kamu ngikutin aku terus. Kamu bisa naik pesawat di Pekan Baru,"
"Apa-apaan sih Nes?!" Janaka menarik bahu Agnes agar menghadapnya.
Mereka saling menatap. Janaka kesal dengan yang dikatakan gadis itu. Seenaknya menyuruh dia pulang. Itu namanya mempermainkannya, bukan?
"Aku--"
Ponsel Janaka berdering dan menampilkan satu nama di sana, Titania. Janaka mengambilnya, tapi pandangannya jatuh pada Agnes.
"Kenapa nggak diangkat? Berisik tahu! Sang mantan ngajak balikan ya? Beruntung banget," dengkus Agnes kembali membalikkan badannya ke tembok.
Dahinya berkerut,"Jadi kamu marah karena itu? Kamu nguping obrolan kami? Iya?"
"Bukan nguping, nggak sengaja! Aku nggak marah, emang apa hakku? Istilahnya kamu tour guide aku, mana ada turis suka sama guidenya?" bantah Agnes.
"Tunggu, aku nggak nuduh atau nganggep kamu suka aku. Eh, emang iya kamu suka aku? Iya?" Janaka menggoyang-goyangkan lengan Agnes.
"Naka! Ih, orang mau tidur. Ganggu, tahu! Udah sana angkat telponnya, udah jerit-jerit dari tadi. Bikin pengang kuping!" Agnes menyikut lelaki itu yang masih menggoyangkan lengannya.
"Hei, jawab dulu dong."
"Jawab apaan?"
"Kamu suka aku?"
"Nggak!"
"Bener?"
"Bener, serius, asli,"
"Bohong,"
"Terserah!"
"Nes, kenapa kamu tertarik sama aku? Suka sama aku?"
"Dibilangin nggak ya nggak. Aku nggak suka, nggak tertarik!" Agnes bangun.
"Trus kenapa marah kalo aku mau pulang?" tuntut Janaka penasaran.
"Ya aku nggak ada temenlah! Lagian yang pertama ngajak backpacker-an kan kamu! Lupa?" sengit Agnes.
"Apa nggak terburu-buru kalo kamu suka aku, Nes?"
"Ya udah, itu kan urusanku. Mau terburu-buru kek, mau alon-alon, bukan urusan situ!"
"Lagian aku aja yang baper, habis kamu bilang sama orang tadi kalo aku istri kamu. Ya udah, pulang aja gih. Aku nggak apa-apa kok," Agnes menarik selimutnya.
"Nes--"
"Met malem, Janaka."
Janaka termangu. Bingung. Mata elangnya hanya menatap ke arah Agnes. Gadis yang tengah meringkuk dan membelakanginya.
~~