• Kali ini Agnes tak bersenandung. Dia tak ingin bernyanyi. Biasanya di kala hatinya resah maupun bahagia, dia akan selalu bersenandung baik itu sebait atau satu bar. Namun tidak kali ini. Hatinya mengelabu, hatinya melarang. Antara bahagia dia dapat kembali merajut hari-harinya kelak bersama Janaka, tapi dia pun harus meluruh sedih dengan apa yang terjadi pada Tatiana. Padahal senandung itu dibutuhkan agar ia berpikir waras, bisa juga untuk memperindah harinya, tidak melulu fokus pada hal yang tidak perlu. Seperti sebuah novel tanpa prolog atau seperti lagu tanpa intro. Begitulah hidup Agnes mengawali hari dengan doa dan senandung. Bahkan ia sampai melupakan untuk menghubungi baik Janaka maupun Tatiana, seperti janji pada hatinya tadi. Ia kecewa pada hal yang membuatnya harus sesepi i

