Mencintaimu sesakit ini, Del! _Arman.
*
Pah, Adel liat mamah sama Om Will lewat di sekolahan, boncengan berdua, papah tau gak? Mama yang bawa motornya, hampir jatuh, udah jatuh dikit, Sih! Om Will meluk mama supaya jangan jatuh, mama gak liat Caca, padahal Caca rindu sama mama, pas teriak manggil, mama udah tancap gas sama Om Willem." Ucap gadis kepang dua itu.
Mengadu tentang Adel yang Ia lihat dan bersikap cuek padanya. Langsung membuat darah Arman berdesir murka. Janji Adel mengajak Caca jalan-jalan setelah pulang nonton bersama Yanti dan Tiva sudah ia ingkari. kini, Ia sengaja membuat anak semata wayang Arman tambah sedih. Dasar!!
Tak memberi sempat pada diri sendiri, tanya mengapa Adel bisa berdua dengan adik kandungnya--Willem si anak bungsu di keluarga.
Arman menuju rumah keluarganya di komplek AURI. Langsung menanyakan pada Willem mengapa dia berboncengan ke sekolahan Caca berdua dengan Adel.
"Emang kenapa bang? Salah? Adel itu kan single, wajar donk jalan bareng aku yang single juga. lagian usia kami cocok, aku lebih tua dua tahun di atas Adel." Jawaban yang langsung membuat Arman mengepal tinju.
Des yang paham menyentuh tangan Arman yang mengepal menatap tajam mata Willem, adik yang selama ini Ia urus, disekolahkan pasca Rion--Bapak Arman pensiun.
Setelah Adik kedua Arman jadi AURI juga. Mereka semua tinggal di perkomplekan bergengsi ini.
"Man, sabar! Ada apa dengan kalian!" Des menuntun lajang paling dibanggakannya itu untuk duduk, legam netra menusuk tajam, tak lepas menatap marah ke dalam bola mata William.
William balas menatap santai, menarik ujung bibirnya sedikit pertanda ejekan pada Arman yang tersulut emosi.
Des mengambil minum dari dispenser yang terpajang di ruang tamu.
"Aku juga pernah membawa Adel ke hotel, ini Bill--nya," Wil menunjukkan kertas yang benar-benar membuat Arman murka dua kali lipat, kemudian berlalu sambil mengibaskan kertas bill itu.
Des melotot tajam ke arah keduanya.
"Kalian bertengkar hanya karena gadis itu. Apa kelebihan yang ia punya? Wil ... ! Banyak wanita baik daripada dia. Bejibun perempuan yang mau sama kamu. Jangan bodoh!"
"Wil hanya mau Adel. Titik!"
"Bang Arman silakan cek cctv di Birlen Hotel. Tanggal kemarin. aku tahu Adel baru ketemuan sama Abang. Tapi, sorenya dia bersamaku hingga malam. Bukannya janji kepada Caca dia ingkari?" Ucapan William benar-benar provokasi dan jelas membakar.
Tak lagi minum apa yang disuguhkan sang ibu, meleset keluar mencari alamat wanita itu, wanita yang melumpuhkan logikanya untuk lebih dulu mencari tahu kebenaran.
Kepolosan Adel hanya sekadar topeng. Umpatnya berkali-kali.
Ingin segera memaki secepatnya.
Gelisah tak menentu, Erma yang mengetahui melarang keras untuk menemui Adel. Ia tahu betul kondisi Arman jika emosi.
"Kamu sedang emosi, Mas. Jangan begitu ke Adel! Tanya baik-baik. Jangan-jangan karena Willem mencintai Adel, tapi, tidak berbalas sebaliknya." Erma tersenyum, menepuk pundak Arman.
Arman membawa Erma ke dalam pelukannya.
"Kamu sudah jatuh cinta beneran, Mas. Jatuh cinta pada gadis itu. Aku senang," Ucap Erma tersenyum, walau luka itu jelas terlihat di senyuman.
"Aku juga mencintaimu." Jawab Arman lembut mencium pipi Erma semringah. Keduanya tertawa.
"Bukankah kamu yang menyuruh aku untuk mendekatinya." Ucap Arman. Erma mengangguk, riak sedih tertutupi saat Arman memeluknya mesra.
Ah, sebenarnya kemauan seorang wanita cukup sederhana, peluk saja kapan pun itu. Maka, Ia akan tersenyum sepanjang hari. Apakah itu juga berlaku bagi Adel? Arman bahkan tak pernah menyentuh jarinya.
Setelah Erma makan siang dan tidur. Arman melanggar peringatan yang Erma sampaikan. Mengendap tanpa Caca. Ia memacu gas Mencari alamat kos Adel. Sangat mudah. Yanti sangat mempercayai Arman. Yanti tahu sang sahabat punya rasa yang sama pada Bapak berkepala empat itu.
Tanpa berpikir aneh, Yanti memberi alamat pada Arman.
Tersenyum sendiri. Mengingat mengapa sang sahabat bisa jatuh cinta pada usia yang jauh lebih tua.
"Kenapa senyum-senyum, kesambet?" Tiva menepuk jidat Yanti.
"Enggak liat siapa yang barusan kemari?" Tanya Yanti balik.
"Oom Arman eh Bapak Arman eh Mas Arman." Kakakakakak. Wakakakak.
Tawa keduanya pecah. Sedekat apapun Yanti dan Tiva dengan Adel. Mereka sama sekali tidak pernah menggali privasi.
Hanya sesekali tertawa melihat tingkah Arman seperti abege jatuh cinta.
"Yan ... Aku ngerasa gak nyaman kalo dekat pak Arman." Suatu hari Adel curhat setelah beberapa tahun tinggal di sana.
"Maksud kamu?" Tanya Yanti tak paham.
"Bayangin aja, di manapun berada Caca selalu menyebutku mama, dan orang-orang ..."
"Bukannya sejak di kosan emang si Caca manggil kamu mama, kok ngak nyaman? Manggil aku Bunda dan Tiva si ummi. Biasa aja," Yanti tertawa mendengar curhatan Adel yang dirasa tak masuk akal. Yanti nyaman-nyaman saja saat Caca menyebutnya Bunda.
Begitu juga Tiva, Caca memanggil dengan sebutan Ummi.
"Enggak tau ... Akhir-akhir ini kerasa ngak nyaman," Suara Adel terdengar risau.
"Bukan akhir-akhir ini kamu ngerasa gak nyaman dengan pak Arman, Del. Justru merasa semakin nyaman. Semakin takut suatu hari Caca tidak lagi memanggilmu Mama."
"Apaan sih, Yan?"
"Ngak nyaman di hati kamu itu, pertanda kalau kamu berdebar-debar liat pak Arman." Tawa Yanti terpingkal. Demi sambal blacan pakai rawit yang banyak sungguh Yanti suka melihat wajah lugu sang teman berubah Rona.
Kurun waktu beberapa semester dilalui, ia sama sekali tidak pernah melihat Adel bersama teman lelaki, minimal buat makalah bersama. Adel selalu menghindari hal-hal berbau virus merah jambu. Ia seakan takut jatuh cinta.
Tapi nyata--malah terpesona dengan yang bukan miliknya.
"Kamu jatuh cinta sama suami orang, Del." Tawa Yanti berhenti, kasihan melihat wajah cemberut bin menekuk di depannya, menatap serius iris coklat milik Adel. Adel mundur ketakutan, menutup wajahnya.
"Itu gak mungkin," Ucapnya membantah.
"Semoga saja tidak." Balas Yanti menahan senyum simpul.
Setelah Bu Erma kecelakaan. Mau tidak mau, kedekatan antara Arman dan Adel semakin tak berjarak. Membantu di dapur, menjemur kain dan menemani Caca belajar.
Apa yang tidak bisa dikerjakan Bu Erma di rumah, Adel bisa mengerjakannya. Kedekatan itu berubah menjadi sebuah rasa yang tak lagi bisa tertutupi.
*
Gelisah sekali, kelopak mata tak ingin memejam, Arman gelisah tak bisa tidur, bahkan tidak bertanya benar atau bohong perkataan William tanpa tedenga ia telah menciptakan luka. Tanpa bertanya pada Adel, langsung memberondongnya dengan sumpah serapah.
Meskipun sudah dilarang Erma. Jika saja rasa cemburu itu tidak membakar terlalu panas, mungkin Arman tidak akan semurka itu.
Nasi telah menjadi bubur.
'Bapak kosan saja bisa mengaguminya. Apalagi William? dan aku justru membuat ia terluka.'
Perasaan bersalah merayap mengganggu pikiran. Sedang apa gadis itu malam-malam begini? Arman mengambil gawai.
--Assalamualaikum, Adel. Bisakah kau Memaafkan aku--
send
Langsung centang biru tanpa menunggu waktu. Artinya?? Dia sedang berada di bilik nomor Arman. Nomor yang pernah Arman berikan sebagai hadiah ulangtahunnya.
Beserta gawai yang baru dilemparkan ke atas ranjang usang, saat memakinya di kos-kosan.
Tak ada balasan. Hening, hampir tiga puluh menit tak ada balasan. Perasaan berdosa, telah memaki di hati Arman semakin besar. Menyesal tiada berguna. Ia mengutuk dirinya sendiri. Bertambah dengan rindu yang semakin membuncah.
Bayang Adel bermain diingatan. Berlomba senyum Adel menghiasi pikiran.
"Mah, Kenapa kelinci suka makan wortel?"
"Karena ... Giginya hanya bisa menggigit wortel."
"Kalau harimau disebut omnivora. Artinya manusia juga omnivora dong!"
"Mm ... Emang Caca pemakan segalanya? Apa Caca juga makan daging harimau?"
"Enggak lah. Ih ... Mama."
"Omnivora itu artinya pemakan segalanya. Harimau disebut omnivora karena harimau juga mau makan Caca. Tapi, Caca gak makan harimau, kan?"
"Hihihi. Iya."
"Ma, kok mama suka wisata agro?"
"Agro itu artinya pertanian. Negara kita dulu merdeka dan diinginkan para penjajah karena kaya akan pertanian. Dengan berwisata agro, Caca bisa tau banyak tentang dunia pertanian."
"Kalo pertanian itu bagus, penjajah suka dengan kita karena kaya akan pertanian kenapa papa tidak jadi petani saja."
Arman tersenyum mendengar kepolosan pertanyaan Caca. Ia penasaran, Adel akan menjawab apa.
Erma sedang memetik lengkeng, sambil gagang kursi roda berada dalam genggaman Arman. Arman melirik Adel yang ternyata bersirobok tatapan dengannya. Adel memilih membuang muka.
Jantungnya berdebar tak karuan. Desir darah menahan senyum yang ia coba tahan. Netra tajam itu ... Entahlah.
Adel menatap tanah hitam di kakinya. Ingat akan pertanyaan Caca. Ia menarik Caca mendekat. Mengubur kegugupan.
"Papa Caca itu mengamankan pertanian kita. Jika tentara tidak ada. Pertanian kita bisa dicaplok sembarangan oleh para penjajah. Seperti dahulu kala. Begitu juga dengan perikanan, dan lainnya." Jawab Adel mengusap pipi Caca menurunkan napas akibat jantung yang tidak karuan detiknya.
Gadis itu ... selain cerdas, sangat keibuan.
*
--Maafkan aku, Del! Please ... jelaskan kamu punya hubungan apa dengan Wil?-- Ulang Arman pada chat kedua.
Lagi--Langsung centang biru. Tapi, tetap tak ada balasan. Tak tahan, Arman menekan tombol hijau, Gadis keras kepala itu tidak mengangkat telpon.
--Please ... Demi Caca maafkan aku-- send
Tetap langsung centang biru. Kali ini Arman melihat sedang mengetik, beberapa waktu kemudian, hening. Tak ada tanda-tanda akan kedatangan pesan.
Tulisan sedang mengetik hilang. Bahkan tulisan online--nya ikut hilang. Menarik rambutnya kasar. Arman frustasi.
Mencengkram kepala, kesal. Caca dan Erma sudah terlelap sedari tadi.
Lelaki berbadan tinggi itu masih duduk termangu di dalam kamar Caca. Menikmati kenangan detik terakhir Adel ada di kamar itu.
--Adel, Caca masih di sini, begadang denganku, Ia menangis, Dialah yang memberitahuku tentang kamu dan Willem datang ke sekolahannya, Dia sedih karena kamu tidak melihat bahkan tidak mendengar teriakannya. Untuk itu aku marah. Emosiku tidak terkontrol. Demi Allah maafkan aku--
Semoga Tuhan memaafkan aku yang menjual nama anak sendiri. Arman bermonolog.
--Caca bukan siapa-siapaku, berhentilah mengganggu--
Bergetar hebat membaca pesan itu. Untuk pertama kali dalam hidup seorang Arman, liquid Kristal jatuh menyentuh tangan kokohnya.
Seorang lelaki pengamanan negara di daerah perbatasan, menangis membaca pesan seorang mahasiswi yang sama sekali tak memiliki daya pikat apapun untuk ditangisi.
Ternyata mencintaimu itu sesakit ini--Del.
#Bersambung