Arman tergopoh-gopoh menghampiri pagar bercat hijau lumut itu. Menyeret langkah seolah berlari kecil. Jantungnya ikut berdebar kencang dengan emosi yang sampai ke ubun-ubun.
"Kos Adel?" Tanya Arman menahan tekanan kalimat. Bapak tambun sama sekali tak curiga ia mengangguk. Mengira tamu yang datang saudara Adel, atau bisa jadi pamannya.
"Lantai dua kamar nomor tiga sebelah kanan." Si Bapak mengantar Arman hingga tangga terakhir. Setelah melirik identitas yang sengaja Arman gantung di lehernya menjuntai hingga d**a. Berasumsi Adel didatangi saudara.
Mendengar suara ketokan keras. Adel membuka pintu. Ia terdiam lama. Gemuruh di dadanya sangat tidak nyaman. Lelaki yang ada di hadapan begitu nyalang memandang. Apa gerangan?
Masih dengan napas yang terburu. Keduanya terdiam. Arman mengepal kuat tangannya. Menahan gemerutuk gigi hendak menerkam. Netra Adel beradu sendu. Meski terlihat tajam, tapi ia merindukan tatapan itu, menekan rasa agar hilang setiap malam mendoakan.
"Aku mengenalmu, aku kira kau gadis baik-baik. Ternyata kau tak lebih hina dari ayam kampus. Yah ... Gadis sepertimu, Del ... ternyata sangat luar biasa. Luar biasa penggoda .... "
Wajahnya sinis. Menyungging seringai mengerikan. Serupa ejekan hinaan pada gadis yang termangu, melongo, terdiam tak berdaya mendengar kalimatnya barusan.
Masih bingung bersangatan. Adel hanya menatap kosong tanpa dapat membalas kata kata Arman. Entah mimpi apa gadis itu semalam. Rasanya baru beberapa jam tangan itu menahan pergelangannya di pintu resto saat hendak menghampiri Tiva dan Yanti.
Kini, datang dengan wajah merah penuh emosi.
"Berparas lugu nyatanya berhati napsu!" Bentaknya keras dengan netra melotot tajam.
"Parasmu ... Kuakui sangat polos, untuk itu kau jadikan alat untuk mendapatkan segala keinginanmu. Gadis-gadis sepertimu memang sering mengincar pria yang jarang bertemu wanita! Mereka ya ... Termasuk Wil--Adikku. Menganggap kau baik, polos, lugu ternyata b***k napsu." Adel menelan saliva berkali kali, matanya memanas. Bingung bercampur terkejut. Lidahnya terlalu kram akibat kejutan siang bolong ini. Tamu tidak diundang, menghina sedemikian rupa, hingga ia tak sanggup menyusun kata, sekadar membela diri dari hujaman makian yang membombardir tanpa ampun.
Lelaki itu masih mengumbar serapahnya. Kalimat demi kalimat seakan muntahan larva ganas menyiram wajah Adel. Tergugu lemas, kaki gadis itu seperti merekat kram pada lantai.
"Modus keluguanmu, tidak berlaku untukku! Dengar! Tidak berlaku untuk aku." Begitu keras, tekanan kalimat. Netra nyalang itu masih menatap tajam. Masih belum puas mengurai kalimat makian lanjutan.
Ia menunjuk muka Adel tanpa perasaan kasihan. Hati kecilnya sakit mengatakan itu semua. Entah mengapa ia masih melanjutkan.
Arman sama sekali tidak mendengar bisikan bhatin untuk berhenti melabrak sadis gadis yang sampai ia berdiri di hadapan masih ia percayai, dan ia inginkan menjadi ibu bagi anaknya. Sayang ... Api cemburu telah melahap habis sisi logika, selama ini ia adalah pengabdi negara dengan pikiran logis dan beraksi dengan hitungan pas berpikir.
Namun, rasa itu menggelapkan semuanya.
"Apa yang aku lakukan!" Kanan hati berbisik.
"Dia pantas mendapatkannya, gadis tidak tahu malu!" Kiri hati mengumpat jelas. Ia kembali menunjuk jari ke wajah pucat Adel. Wajah pias yang kini menguning tegang.
"Sudah berapa laki-laki pernah tidur denganmu, haa! selain kau mencari madu dan cinta, kau juga pasti mengincar uang, Ayahmu tidak jelas, asal-usulmu juga tidak jelas. Gadis murahan berharap jadi Ibu Persit, Halu!" Makian itu keras.
Adel memegang kuat cengkeraman tangannya di gagang pintu. Limbung, hatinya redam, hancur berantakan. Lemas. Gemuruh riuh jantung yang tadi sempat membuatnya menyenangkan, lenyap tak bersisa.
Berharap jadi ibu Persit? Siapa yang berharap. Adel sama sekali tak pernah berharap. Ia sudah menyiapkan lahir bhatin tidak akan memulai menanam bibit cinta di hatinya. Meskipun desir itu selalu ada. Namun, berkali ia menepis dan mengendalikan agar rasa itu tidak tumbuh liar dan subur.
Sekuat tenaga menahan bulir jatuh mengairi pipi. Menghirup udara lebih banyak. Agar paru-parunya masih mengolah menjadi hirupan napas. Adel menahan genggaman untuk tidak lepas hingga tubuhnya terjatuh.
Terkejut, sangat mengejutkan. Mendadak nervous, tiba-tiba shock. Tangis pilu belum bisa melepas sakit yang ia dengar.
Andai kalimat itu keluar dari bibir orang lain. Mungkin hatinya tidak seperih ini.
"Apa kau termasuk p*****r dengan selembar biru dapat tidur denganmu. Sangat aku menyesal mengenalmu, Caca segera melupakanmu. Segera!" Ucapnya kuat membentak lagi. Tanpa ampun. Seolah gadis di depan Arman benar-benar sosok yang sangat sampah.
Tak tahan bulir itu jatuh juga. Bu Rohana tergopoh lari ke atas.
Lelaki itu berlalu, setelah melempar gawai ke atas kasur dalam kamar. Sama sekali tidak memperdulikan Bu Rohana sang pemilik kos.
Kos kosan itu memang hanya berisi kasur tanpa ranjang, lemari kecil dan kamar mandi. Tiga kali empat meter persegi.
Sebelum kakinya melangkah, ia masih sempat berpaling.
Mendekati wajah pilu di hadapan. Mencengkram dagu itu kuat.
"Jangan pernah jumpai anakku! Jangan ... Ingat, Del! Jangan ganggu keluargaku! Jangan mencoba menggoda adikku. Ingat!" Ia melepas kasar dagu gadis yang kini lemah menopang diri.
Kaki mungilnya bergetar untuk berdiri. Tangisannya pecah tanpa melakukan perlawanan. Ia terlalu shock dengan semua kalimat tiba-tiba itu.
"Ada apa Adel?" Teriak Bu Rohana menyambut tubuh Adel jatuh di pelukannya tepat saat ia menerobos lelaki bertubuh besar, tangan mungil itu lepas dari genggaman gagang pintu.
Terdiam cukup lama. Menatap nanar kepergian sosok yang baru saja habis memaki. Lunglai berjalan kemudian terduduk di tepi kasur usang. Menangis tersedu-sedan.
Adel, memeluk dua lututnya, gadis itu menunduk terisak, ada rasa tersayat saat mendengar sosok yang akhir-akhir ini mengganggu tidurnya, mengucapkan kata serapah.
Bu Rohana membawa Adel dalam d**a. Membiarkan isakan semakin menjadi lirih menyayat bagi yang mendengar.
Sebagai sosok yang lebih dulu memakan asam garam. Bu Rohana hanya diam, tidak bertanya lagi apa yang terjadi. Membiarkan Adel melepaskan tangisan.
Hatinya sakit! Sakit sekali. Entah mengapa bahasa pemberontakan dari sudut kecil hati yang ingin disampaikan, tidak lagi ia pedulikan.
Di sisi lain, Arman turun tangga tergesa, sempat berhenti di tengah, meraba dadanya, untuk pertama kali. Retinanya memerah menahan amarah, penyesalan dan cemburu sekaligus berbaur satu. Tanpa mampu ia cegah air luluh di pipi beton getas itu.
Memalingkan wajah ke belakang, hendak juga ingin tahu apa yang terjadi pada Adel. Tidak. Kembali mengurung niat. Terlalu kejam? Bahkan tidak membiarkan Adel memberi penjelasan. Sekadar membela diri. Biar saja, toh bukti kuat dia memang wanita seperti itu. Perang bhatin Arman berakhir langkahnya sampai ke tangga bawah. Lantai dasar.
"Air mata sialan!" Umpatnya menyeka bulir dengan kasar.
*
Arman ingin segera meninggalkan kosan itu. Setelah melempar gawai yang ia tinggalkan di rumah, tepat ke atas ranjang kamar dengan sangat kasar. Disaksikan Bu Rohana yang melongo panjang sebelum menangkap tubuh Adel yang terjatuh lunglai.
Karena kos yang Adel sewa hanya cukup untuk kasur dan lemari saja. Seharusnya membuat iba, namun bhatin lelaki berseragam loreng itu tertutup asupan isu.
Melangkah jauh, menyeka bulir yang kembali jatuh.
Adel masih terisak-isak. Puas memaki, Arman yang sudah sampai di ujung pagar, membuka pintu pagar yang tidak dikunci. Rumah kost-kosan memang begitu. Pagar bukan hal penting untuk ditakuti jika terbuka.
Bapak kos bertubuh tambun, bersarung hijau, menatap heran bercampur curiga, ia mendengar ribut dari atas dan melihat istrinya berlari ke lantai dua kamar Adel.
"Bapak yang tadi menemui Adel?" Bapak tambun menyapa ramah, menghampiri Arman yang hendak keluar.
Mau tidak mau Arman terpaksa berhenti sejenak. Menetralisir wajah buram dengan senyum semringah.
"Ada hubungan apa anda sama mahasiswi itu?" Tanya Bapak kos menyelidik tak senang, ia mendengar ribut-ribut di atas sebelum menyuruh Bu Rohana menyusul ke atas.
"Tidak ada," jawab Arman sekenanya.
"Aku mendengar apa yang kau ucapkan, Apakah kau pamannya? karena setahu aku, mahasiswi itu mengatakan dia tidak memiliki ayah! kalo lah kau pamannya, betapa kau kurang ajar terhadap putrimu! Gadis itu sangat baik, seribu tahun lagi baru akan aku temukan gadis seperti dia." Sedikit menahan gejolak penasaran, tapi Bapak Tambun menyadari ada ketidak beresan. Ia berkacak pinggang. Siap membela Adel.
Arman tertegun mendengar ucapan Bapak kos. Hatinya mencelos. Tentu saja marahnya dia orang akan mengira paman, secara jarak usia yang terpaut sangat berbeda. Dan alasan apa sehingga ia harus marah-marah. Ia mengusap wajahnya jengkel. Menyadari apa yang baru dilakukannya.
'Tuhan ... Aku sama sekali tidak ingin memakinya. Bahkan tidak membiarkan suara keluar dari bibirnya. Ada apa denganku?' Arman menarik napas kasar.
"Duduk lah dulu, mari bicara! Adel sudah kami anggap anak." Bapak Tambun mengajak untuk berbincang sejenak.
Menyulut rokok, Bapak pemilik kosan itu duduk di kursi plastik kedai, kedai yang sengaja dibangun, untuk memudahkan anak kos berbelanja.
Waktu sudah menunjukan pukul 13.00. Si Bapak menyuruh Arman duduk di sampingnya, mengalir cerita tentang sosok Adel di mata mereka. Sosok yang berbeda dari mahasiswi kebanyakan.
"Biasanya mahasiswi itu sombong-sombong, jarang sekali yang mau berbaur dengan masyarakat, tapi Adel, arisan tetanggapun ia ikut. Suka sekali membantu istri saya."
Ucap Bapak Tambun dengan mimik wajah beruntung.
"Beberapa lelaki gang ini menyukai Adel, bahkan ada seorang pria anak saudara saya yang sering ke sini, diam-diam akan melamar Adel. Sholeh orangnya, guru di MDA sebelah, punya konter hape. Lumayanlah, in sya Allah Adel akan bahagia. Gadis baik seperti dia pasti akan menemukan lelaki baik juga."
Ceess ... Hati Arman berdesir tak karuan mendengar penuturan Bapak Tambun.
Arman terdiam. Diam-diam menyesali apa yang baru saja diserapahkan pada Adel. Ingin segera pamit pulang gelisah tak menentu menghampiri.
"Oh iya, anda belum jawab! Apa anda paman Adel. Istri saya sudah minta alamat orangtuanya, Adel sudah memberikan, tentu saja kami butuh wali jika Rudi menikah dengan Adel. Anda bisa jadi walinya?"
"Saya calon suaminya!" Arman berdiri, mengulur tangan takzim, selayaknya menghormati orangtua, setelah mengeluarkan kata bak bom di siang bolong tepat membungkam mulut Bapak kos melongo panjang.
"Calon suaminya?" Bapak Tambun terperangah. Mengulang pertanyaan sama. Menganga terkejut.
"Adel tidak pernah mengatakan memiliki calon suami."
"Ya, tapi sekarang saya yang mengatakan." Ucap Arman tegas.
"Saya pamit. Mohon jaga Adel. Jangan sampai sesuatu terjadi padanya! Anda tahu akibatnya jika berurusan dengan abdi negara?" Pongah Arman memamerkan ID Card berisi emas bintang di dalamnya. Membuat Bapak Tambun tercekat tak bisa lagi berbicara.
Arman berlalu kembali membuka pagar.
*
Ternyata mencintaimu sesakit ini, Del!
#Bersambung.
Hayo ... Ada apa sebenarnya. Cekidot tunggu notifnya ya gaesss ... Biar dapat info bab ditambah.