Bias Rindu 3

2744 Kata
"Sini Bunda bisikin!" Pendar binar bahagia memancar dari iris bulat coklat milik gadis kecil itu. Saat telinganya dibisikkan sesuatu oleh Yanti. Yanti tertawa senang melihat pendar bahagia di wajah Caca. Sebelum Caca datang, Arman sudah lebih dulu mampir mengunjungi Tiva. Makanya, gadis asal Medan itu tertawa terbahak-bahak. Sekelurga mencari tahu siapa Adel. Lucu bukan? Mengapa tidak tanya Adel langsung. Mungkin keluarga itu menyesal setelah kepergian Adel yang telaten dan ikhlas menolong Bu Erma. Setelah operasi Arman terpaksa membayar perawat pribadi untuk Erma, tentu pengeluaran mereka lebih besar. Apalagi perawat dari sebuah yayasan. "Ini harus sesuai rencana, Ya Bun ... !" Caca memainkan tunjuk, apa yang Yanti bisikkan membuatnya ragu Yanti benar berpihak padanya atau hanya mempermainkan. Gadis kecil itu benar-benar cerdas. "Tentu saja sesuai rencana." Timpal Yanti "Kita mulai sekarang, ya?" Yanti menaruh kelingking di depan Caca. Caca menyambut dengan mengkaitkan ujungnya. Mereka pun tertawa. Membuat janji lisan untuk sebuah kesepakatan. * Mengajar bukan profesi mudah, walau sebagian orang menganggap sepele pekerjaan mulia itu. Adel baru saja menghempas tubuhnya saat dering ponsel menyentak telinga yang sudah sangat ingin istirahat. {Nonton yuk, Ma! Aku traktir.} Chat dari Yanti. Adel mengerut kening, heran. Tumben memang Yanti mengajak Adel nonton plus traktir pula. Mimpi apa semalam gadis item bermata pingpong rambut lebat bak Kajol versi Indonesia itu. {Enggak lagi mimpi nge chat aku, kan, Bun?} Balas Adel. {Eh ... Enggak usah selepe dengan kami-kami yang masih nadah tangan ni ya. Gini-gini kami bisa bayarin juga lo ... ?} {Hehe ... Sori tumben je, bunda Kajol maen traktir} {Tunggu di living word sekarang! Titik gak pakai nanya lagi. Aku ama Tiva otw ne?} {Siap laksanakan, Bunda!} Balas Adel cepat setelah pesan sampai. Ia kembali melompat dari alam ranjang yang nyaman. Tersenyum geli. Baru saja tubuh mungilnya merasakan sensasi isitirahat. Eh si Yanti malah mengajak nonton. Lumayan buang suntuk. Rileksasi pikiran mumpung gratis. Adel senyum sendiri mengenang persahabatan mereka selama di kost. Yanti yatim piatu asal Dumai. Pekerja keras, siapa bilang dia hanya menadah tangan. Yanti mahir membuat keripik ubi sambal lado dengan rasa krenyess, sementara Tiva mahir mengajar membaca untuk usia PAUD. Mereka mahasiswi mandiri yang tidak suka membebani orangtua. Hanya Lidya cewek sedikit arogan tinggal di kosan itu yang berbeda dari lainnya. Anak manager salah satu perusahan perminyakan dengan gaji bisa memberi makan satu kabupaten dalam dua Minggu. Untuk itulah ia sombong. Tapi, Yanti, Tiva maupun Adel tetap memperlakukannya dengan sangat baik. Adel membuka lemari, mengambil gamis satin pemberian Ira, teman kosan yang sudah berumah tangga dengan teman kerjanya juga. Mereka lebih suka memanggil Ira dengan sebutan Ibu sebab gaya lebih keibuan dibanding lain. Gadis itu berputar mematut gamis dan jilbab bunga berbahan satin juga di depan cermin yang bersatu dengan lemari. Matanya berserobok dalam cermin dengan kertas berserakan di lantai. Olala! Skripsi yang tidak kelar-kelar. Sepertinya Adel harus mengambil cuti kuliah lagi tahun ini. Belum lagi cek kontrol kesehatan. Entah mana yang mau ia dahulukan. Nonton! Seru juga. Melepas lelah aktifitas harian. Mengingat mereka juga sudah lama sekali tidak ngemol bareng, walau aslinya sampai di Mall hanya cuci mata saja. "Ikannya satu banyakin cabe ya, Bu!" Suara mahasiswi yang sedang membeli sambal di seberang terdengar jelas di telinga Adel. Ikan nila besar disengaja banyakin cabe dan sayur, biar entar malam tidak beli sambal lagi. Itu ulah mereka untuk hemat energi biaya pengeluaran. Ternyata ada mahasiswa lain yang menirukan hal yang sama. Adel tertawa, mengenang masa-masa sulitnya dahulu kala pertama menjadi mahasiswi. "Mengapa tidak kau anggap yang di hadapan kamu ini ayahmu!" Suara itu bermain di rungu Adel. Bagaimana ia menganggap sosok itu sebagai ayah. Jika pertama bertemu saja ada desir aneh menjelajahi paru-parunya. Adel bahkan harus menghirup oksigen lebih banyak dari biasa, agar alat bernapasnya itu dapat berfungsi sempurna. Dia sendiri tidak mengerti, apa yang terjadi pada jantungnya, apa sedang bermasalah? Orang yang di hadapan memang lebih pantas menjadi ayah ketimbang pacar apalagi suami. Jika teman kuliah Adel seperti Ria si kepo dan Serli si narsis tau Adel diam-diam punya rasa pada sosok dewasa berkepala empat, bakal kena bulli seminggu tiga puluh hari seorang Adel. Hanya Tiva dan Yanti yang Adel beritahu hal itu. Tidak ada yang tahu, bahkan manusia baik seperti Ira pun tidak Adel beritahu. Apalagi Lidya. Cewek sombong sedikit sensi karena Adel di kelilingi orang-orang yang menyukainya. Bak selebritis lokal. Padahal dari segi fisik tentu saja Lidya merasa di atas angin. Cewek sombong itu punya wajah kopian Ratu Salma. Sarah Azhari versi Turky. Jauh sekali dibanding Adel si mungil berkulit sawo eksotis. Tiit ... {Kami sudah sampai, Ma} Yanti mengirim chat beserta Maps lokasi, sengaja memberitahu Adel bahwa mereka benar-benar sudah di tujuan. Aplikasi kuning berkedip-kedip. Pertanda driver yang Adel pesan sebelumnya sudah sampai. Ia menyambar tas kecil di bahu kanan. Menarik sendal kulit diskonan dari tempatnya. Menyapu baby Kids ke wajah polosnya, yang lebih dulu ditempel alas bedak paling murah di apotik. Tinnn. Driver membunyikan klakson. Adel melompat turun dari tangga, kamarnya berada di lantai dua. Bapak tambun dan ibu Rohana pemilik kos geleng kepala melihat Adel yang tergesa menghampiri ojek online itu. "Bu ... Adel izin pergi ya!" Ia berteriak melambai sambil membuka pagar menghampiri driver ojol. Pemilik kost tertawa. Seraya mengangguk, ia suka pada keseharian gadis itu. Ramah dan mudah bergaul. Suara alunan ayat Alquran setiap magrib menjadi kesejukan tersendiri bagi pasangan pensiun pemilik kos-kosan itu. Dua puluh menit waktu yang cukup lama menunggu Adel. Ketika gadis itu menginjak kaki di lantai tempat Yanti mengirimkan lokasi dua temannya tidak di tempat. Ditelpon tidak aktif, sedikit kecewa Adel duduk di kursi tunggu Mall yang telah tersedia. Berinsiatif mengurangi kebosanan Adel mengajak kakinya menuju lantai dasar toko buku--Mall. "Jika mereka di sini, sudah aktif nomornya pasti aku ditelpon". Begitu pikirnya. Adel mulai berjalan. Tak sengaja netra coklat muda miliknya, berbentur pada seorang gadis cantik berkepang dua, sedang memilih boneka berayun tangan dengan laki-laki yang sesekali mengusap pipi sang gadis. Entah mengapa langkah kaki Adel malah mengikuti mereka, lupa kalau ia janjian pada dua sahabatnya. Setelah membeli boneka. keduanya berjalan menuju areal belanja dapur, memilah dan memilih bahan-bahan dapur dan meletakkannya pada keranjang. Lalu, disodorkan pada penimbang. "Nugget, Ikan Salmon, bakso, biasanya itu semua aku kerjakan di rumah, tidak ada bakso kemasan, aku bisa membuatnya sendiri." Adel merutuk, menyaksikan belanjaan yang ditaruh pada keranjang. Setelah menuntaskan pembayaran di kasir. Gadis berparas ayu, berambut coklat gelombang itu langsung keluar, sambil bersenggayut di lengan sang ayah, berjalan kearah timezone, mengisi deposit kartu permainan. "Ah, jika aku di sampingnya, tak akan kubiarkan terbiasa konsumtif bermain di timezone." Adel mengomel lagi. Caca mulai bermain, bola basket, lempar tenis, sampai menangkap boneka dengan jepit kalajengking, suara tawa dua manusia saat boneka terlepas dari jepitan, sangat menggangu Indra pendengaran. Lelaki tegap berkulit hitam itu ikut tertawa lepas. Adel mulai gelisah. Yanti dan Tiva belum juga tiba. "Sial! Kemana mereka?" Umpatnya semakin kesal. Ckiiittttt …. Bruuaaaakkkkk …. Melihat kiri dan kanan, celingak celinguk atas belakang, Adel lupa melihat ke depan. Kepalanya terbentur seseorang, terkejut adel langsung menoleh ke sumber benturan. Lelaki itu ... Lama terdiam, akhirnya orang-orang ikutan melihat apa yang terjadi. Lama melamun Adel tersadar menabrak pria bertubuh tinggi besar, menatap dengan sorot tajam, Adel hanya sepinggang ukurannya, lelaki itu hendak berjalan ke arah kasir menambah koin untuk sang putri. Harus saling berhadapan dalam kecanggungan. "Papa, Mama?" Panggil sebuah suara. Kini semua mata menatap keduanya, malu! Pasti. Semua mata akan mengira mereka ... Adel dan sang pria adalah suami istri. Sebab gadis berkepang dua itu menyebutnya--mama. Adel masih melotot tak percaya, memberanikan diri berjalan mendekat. Sampai ia mendengar salah seorang mengatakan sesuatu pada orang itu. "Berantam sama istri, obatnya dipeluk, Pak!" Hahaha. Tawa yang bicara meledak. Masih saling bersitatapan kaget. Entah mulut usil siapa itu. Adel berhenti melangkah, menunduk malu. Memalingkan wajah ke arah gadis mungil yang membuat semua menjadi rumit. "Caca!" Gadis itu berdiri di depan Adel tersenyum manis. Sekian menit dari tatapan matanya yang tak berkedip. Ia melompat berhambur ke pelukan. "Mama! Caca kangen," teriak bocah yang posturnya semakin tinggi. Adel membalas pelukannya. Ia lupa, orang-orang tengah menatapnya. Masa bodo. Telanjur basah. "Del." Panggil pemilik suara berat itu baru saja menyebut namanya. Adel melepas Caca yang masih bersenggayut mesra. Orang-orang sekitar mulai undur diri. Ada yang tertawa, ada yang mencemooh, ada yang geleng-geleng kepala. Memaknai kejadian dengan asumsi masing-masing pikiran. "I ... Iya Pak! Jawab Adel gugup. Rona kakap goreng menempel indah di wajahnya. "Kita makan!" Perintahnya melangkah, memaksa Adel mengikuti Caca yang menarik kuat telapak tangannya, pasrah, langkahnya tertarik menuju resto Mall di lantai dua, gadis itu masih menggenggam erat tangan Adel hingga duduk di kursi resto. Seolah takut Adel melarikan diri. "Caca pesan ayam rica-rica. Mama pesan apa?" Caca menyodorkan menu. "Ayam penyet kremess." Kalimat serentak keluar dari bibir Adel dan Arman. Iris bulat milik Caca berputar bahagia. Tersenyum usil ke arah Adel dan Arman yang kompak memesan menu sama. Keduanya terkejut dengan apa yang barusan mereka ucapkan. "Mama sama papa satu selera ya?" Tanya-nya polos. Arman tertawa. Adel menunduk malu. Raut gelisah terpancar jelas, pink tanpa shadow menguar dari pipi cabi miliknya. "Mama pesan minum apa?" "Jeruk hangat aja, Ca." Jawab Adel. Kali ini mata gadis kecil itu kembali melotot. Sebab sang papa baru saja melingkari tulisan jeruk hangat pada daftar kertas menu. Ia pun tersenyum kecil, geleng-geleng kepala. Melirik sedikit ke wajah Adel. Lalu membisikan pelan. "Mamah sama papah janjian, ya. Makan sama minumnya sama?" Adel mencebik ke arah Arman. Tapi, Caca sudah lebih dulu menarik hidungnya. "Udah, mama jangan bersuara lagi. Entar tanduk papa keluar." Ucapnya memainkan mata ke arah Arman. Adel tertawa kecil. Kini, kupu-kupu berbagai varian rupa berterbangan di sekitarnya. Walau aslinya hanya lengang yang ada. Pesanan menunggu. Adel terlihat gelisah, sesekali melirik kearah jam dinding resto. Ia merasa menunggu hidangan datang bagai menunggu kelinci mogok massal makan wortel. 'Gawat! ke mana Tiva dan Yanti. Dasar tu anak. Apa mereka berdua sedang mengerjaiku' Geram Adel membhatin tanya. "Apa kabar, Del?" pria maskulin, berkemeja batik bertanya pelan, anehnya, gadis kecil yang bersenggayut di lengan, senyum-senyum sendiri saat pertanyaan itu terlontar dari bibir ayahnya. "Ma, kok gak dijawab? mama apa kabar? ngak kangen sama kami?" Aih, pertanyaan itu! 'ngak kangen sama kami' Adel tidak sanggup menjawab. Bukan cuma kangen, bahkan setiap malam, potret kebersamaan di kebun kelinci, di wisata-wisata agro yang sering mereka datangi, selalu Adel pandang dalam diam. Ia tidak menjawab pertanyaan Caca. Memainkan hiasan bunga di ujung meja. Terselamatkan dengan hidangan yang datang. "Apa kabar Bu Erma, Pak!" Tanya Adel sungkan, sambil mengambil makanan dari atas nampan pelayan. "Dia baik-baik saja. Neni menggantikanmu," Jawab Arman garing, kemudian membiarkan ambigu hadir. "Mama tinggal di mana sekarang?" Caca bertanya sambil tangan usilnya menyodorkan fillet ayam ke dalam mulut. Mau tidak mau adel memakan sodoran potongan kecil fillet itu. "Caca ... Ah, udah!" Cubitan kecil mendarat di hidungnya. Gadis itu tertawa. "Ikut Caca maen temzon ya?" Rengeknya. Adel menggeleng. "Mama udah janjian sama Ummi Tiva dan Bunda Yanti. Mau nonton, ikut? Caca kangen ngak sama mereka berdua?" "Sering ketemu kok. Kan, Ummi sama Bunda masih ngekos di depan rumah kita." Kita? Bahasa-bahasa kepemilikan itu, sepertinya sudah tidak bisa dilenyapkan, sudah terbiasa. "Kamu meninggalkan henpon yang saya belikan, kenapa?" Arman memotong pembicaraan dua orang yang tengah bernostalgia. Adel terdiam, fillet ayam terasa cekat di leher. Gawai itu memang sengaja Adel tinggalkan. Untuk itulah ia hanya diam, merasa tidak perlu menjawab. "Karena bukan punya saya, Pak!" Sekian menit jeda, akhirnya ia memaksa suara keluar walau terdengar sumbang. Membuang wajah menatap Caca. Mengalihkan tatapan tajam di hadapan, meminta penjelasan perihal alat komunikasi yang ia tinggalkan. Adel sengaja, agar tidak ada siapapun yang bisa menghubunginya termasuk Arman. "Bu Erma kangen banget Lo sama mama, kami semua merindukan mama. Kemarin Bu Erma masuk rumah sakit lagi." Santai sekali, Caca menjelaskan keadaan ibu kandungnya. Padahal Adel sudah mengetahui. "Apa yang terjadi, Nak!" tanya Adel antusias. "Ngak ada apa-apa kok, Ma! Bu Erma operasi bedah tulang, Caca bermain dengan om Wil, karena kata papa, Bu Erma baik-baik saja, bahkan akan semakin baik jika sudah operasi." Caca tertawa menceritakan ibunya yang sebentar lagi pulih. "Maksudnya?" Adel memancing Caca agar lebih banyak bercerita. Ia sendiri bosan dengan kecanggungan yang ada. "Tulang panggulnya ada masalah, tulang pahanya juga begitu. Tungkai kaki sama sekali tak ada harapan untuk sembuh. Tapi setelah bedah semoga ada harapan," Arman yang menjelaskan. "Mah, doain semoga Bu Erma sehat sedia kala setelah operasi y!" Caca menunduk sendu. "Aamiin." Adel berucap lirih. "Mama kembalilah, Bu Erma butuh Mama!" Caca--Bocah yang masih duduk di sekolah dasar itu berbicara dengan dewasa. "Perawat yang disewa papa tidak tahu jus yang harus diminum mama, dan makanan kesukaan Papa. Kembali ya, Ma! Please ...." Adel Hening. Tidak segera menjawab. Suapan demi suapan masuk ke mulut. Caca bergerak menuju westafel. "Aku juga butuh kamu," Suara pelan berbisik di gendang telinga Adel. Saat Caca pergi berlalu menuju westafel mencuci tangannya. Kalimat itu berhasil menyentrum seluruh persendian gadis itu. Ia menatap intens tepat ke iris mata wanita yang setengah mati dirindukannya. Tajam sekali. Napas Adel mendadak sesak. berkali-kali menelan saliva, mengalihkan kegugupan akibat kalimat Arman. Apakah Caca sengaja berlama-lama di westafel? meninggalkan dua orang itu dalam keambiguan. "Adel, Erma sudah mulai sehat, tapi aku yang kurang sehat. Sudah berapa bulan kamu meninggalkan rumah? apa kamu hanya memikirkan kesehatan Erma, tidak memikirkan Caca? Dan ... " Ucapnya menekan kata memenggal kalimat. "Dan apa?" Adel memberanikan diri. "Sudah lewat. Lihat! Bagaimana rindunya dia sama kamu, apa dalam mata kuliah yang kamu pelajari tidak mengajarkan tentang psikologi anak?" "Dan ... Apa tadi Pak, jangan memutar kalimat, selesaikan ucapan Bapak!" Entah keberanian darimana Adel menantang Arman. "Kamu egois, setelah menanam tak ingin menuai, apa ini?" Arman melotot. Lagi-lagi menatap tajam, kali ini Adel membalas tatapan itu. Desir dan riuh sekaligus berpusar menggodam jantungnya ia tahankan. Tangannya gemetar, bergerak menggigil. "Mak ... Maksud Bapak?" Tanya itu sudah full keberanian. Telanjur basah. Adel yang berkeringat dingin, mati-matian menahan getar lidahnya benar-benar kelu mengeluarkan kata. "Caca membutuhkan kamu," lagi-lagi Adel menelan saliva susah payah. Hanya Caca? ya, hanya Caca yang membutuhkannya. Getar gempa dalam dadanya lenyap seketika. 'Baiklah. Aku akan sering menjemput gadis itu ke rumahnya. Bermain di rumahku. Karena aku juga merindukannya. Mencintai Caca lebih dari diriku sendiri' Adel kembali memalingkan wajah. Wajahnya berubah muram. Riuh frekuensi di jantungnya mendadak hilang. 'hanya Caca' kata itu bermain di benaknya. "Mama ... itu ada Bunda sama Ummi." Caca menunjuk ke arah etalase tempat Yanti dan Tiva berdiri. Mereka melambaikan tangan. Adel tersenyum membalas lambaian. "Caca ikut mama! nanti bisa dijemput papa kalau sudah selesai maen." Gadis itu menarik tas sandang Adel. Menahan kakinya untuk tidak melangkah. Menanti jawaban. Tanpa sengaja mata Adel bersirobok lagi dengan retina legam milik Arman. Saling berbenturan tatapan. Tanpa ada yang memulai percakapan. "Caca, kita akan jemput mama ke rumahnya, mama mau pergi nonton bareng teman-temannya. Nanti kita jalan-jalan sore." Adel melotot. Ia tidak suka berbohong pada anak-anak. Kapan pula membuat janji jalan-jalan. "Mama harus janji, sore nanti jalan-jalan sama Caca!" Caca mengerti keadaan. Gadis kecil itu benar-benar dewasa sebelum waktunya. "Siap, mama akan bawa Caca keliling dunia." Tawa Adel menyembur paksa sedikit terdengar aneh. Demi selekasnya pergi dari hadapan pemilik mata tajam itu, Ia harus mengiyakan kemauan Caca. Senyum menghiasi bibir keduanya. Adel serasa ingin berlari keluar resto, setelah lebih dulu mencium kanan-kiri pipi Caca. Tidak ingin sedikitpun memalingkan wajah hanya untuk melihat sosok yang berdiri di samping Adel. "Jantungku ... Tuhan!" Adel bergumam. Refleks mememegang dadanya. Mengetuk denyut yang berdegup kencang, tak berani walau hanya menyodorkan tangan untuk salaman. "Nomor hape kamu?" Kaki mungilnya tertahan di pintu resto. Gugup menyergap. Demi tak ingin jadi tontonan warga Mall. Adel menyebut sebelas angka. "Aku merindukanmu," Bisiknya sayup nyaris tak terdengar. Menahan semua Saliva yang hendak tertelan. Ia berlalu setelah mengatakan itu. Membawa separuh serpihan tanya yang tak mampu Adel ucapkan. Kembali duduk seperti semula. Membiarkan langkah Adel keluar berbaur bersama sang teman. Dari kejauhan, di tempat duduk tadi, Caca memainkan mata lentiknya ke arah Tiva dan Yanti. Gadis itu seolah mengetahui sesuatu baru saja terjadi. Yanti dan Tiva datang menghampiri. Tertawa dengan keras saat mata mereka terbentur pandangan dua sosok manusia--ayah dan anak masih duduk di dalam resto seperti menemukan berlian yang hilang. "Cieee ... Yang ketemuan." Serempak keduanya menggoda. Adel mendelik sebel. "Bu Erma itu ikhlas bin tawakkal, kamu jadi madunya, masa sih gak mau, Tajir melintir." Tawa renyah Tiva menyindir. Adel menimpuk kepalanya dengan tas agar diam. {Makasih Yanti, bilang sama Tiva makasih juga. Rencana sukses) Send. Chat terkirim. Tersenyum simpul, sebentar lagi, harus ekstra sabar menghadapi gadis keras kepala itu. Arman membelai kepala putrinya, semringah ceria menguar dari wajah keduanya. #Bersambung Jangan lupa krisannya ya sahabat ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN