Bias Rindu 2

1778 Kata
Cinta itu tidak memandang usia, apalagi paras dan rupa. Ia kadang hadir tanpa sadar oleh pemilik jiwa, masuk ke relung hingga menembus setiap sisi logika. Lumpuh menjalankan tugas berpikirnya. Arman terdiam beberapa meter dari pintu poli yang tertutup rapat. Di dalam Adeli Rania Yasmin sedang bersama dokter kontrol yang semua orang tahu itu sang dokter spesial apa. Ada apa dengan Adel? Mengapa harus SpOG? Jika ia sakit, banyak dokter umum yang bisa mengobati. Penasaran sekaligus heran, memaksa Arman menunggu Adel di depan pintu poli. Duduk santai di atas bangku panjang yang memang disediakan spesial untuk para penunggu pasien. "Arman! Erma sedang dalam kondisi kritis, operasi bedah! Bukan hal mudah ia melalui ini, mengapa kamu mengurusi gadis tidak jelas itu?" Des berkacak pinggang. Suaranya bergetar karena marah. Raut berusia lanjut namun tetap anggun dan elegan menghampiri anak sulungnya. Menarik napas kasar. Ia juga menarik paksa tangan Arman untuk menjauh dari poli itu. Meninggalkan semua rasa penasaran yang berkecamuk dalam pikiran Arman. "Sudah lebih tenang, Adel?" "Alhamdulillah, Ante." "Bagaimana reaksi obat yang Ante berikan?" "Alhamdulillah sekali, sudah enggak sakit lagi. Sangat manjur, Nte." "Rajin minum jamu, kunyit, jahe campur lemon dan madu. In sya Allah akan bertambah fit. Selain obat-obatan yang harus Adel konsumsi." "Baik, Ante dokter. In sya Allah semua pesan Ante dokter akan Adel lakukan. Terimakasih banyak udah bantuin Adel." Gadis itu memamerkan senyum kecil. Sang dokter mengelus pucuk kepalanya. "Minggu depan Adel wajib cek kontrol lagi." "Iya, Nte" "Kita lihat kondisi perkembangan kesehatan kamu, jika diangkat suatu keharusan, kamu siap, Del?" "In sya Allah siap, Nte!" Ucapnya penuh keyakinan. Setelah mengucapkan siap, Gadis itu terdiam. Bulir bening menetes pada sudut netranya. 'Tuhan ... Semoga engkau memaafkan semua kesalahanku.' "Ante tau ini berat, Nak." Dokter berkacamata putih itu ikut merasakan apa yang dirasakan Adel. Berdiri mengitari meja, merengkuh kepala Adel, membawanya ke d**a. "Apa kita bisa melacak siapa yang membayar bayi itu, Nte?" Suara Adel tertahan, menahan Isak yang ia coba stabil mengeluarkan suara. "Ante akan coba bantu, Del. In sya Allah dalam waktu dekat kita akan mendapat kabar baik. Adel ke rumah Ante ja, jangan cek di sini, Minggu ini Ante stand by di rumah saja, kontrol kesehatan sepertinya lebih baik bertemu di rumah Ante, kita lihat reaksi obat yang Adel konsumsi." "Terimakasih banyak, Ante. Adel tidak tahu apa jadinya Adel ini jika Ante dokter tidak ada." Ucapnya sendu. Menatap kosong lantai putih berbau alkohol itu. "Jangan pakai embel dokter, Ante ya Ante aja." Dokter Meri menoel hidung Adel. "Adel, Ibu kamu wanita luar biasa, andai ada manusia yang sifatnya menyerupai Rasul. Maka ibu kamu salah satu kandidatnya." "Nte ... Apa ibu akan memaafkan Adel? Jika ibu tau semua ini." "Ibumu wanita hebat. Ia seorang ustadzah ternama, pasti marah besar. Tapi, ia bukan seorang yang tidak punya alat berpikir bukan? Tenanglah. Kamu sudah dewasa, tidak ada yang perlu dikawatirkan." "Makasih, Ante. Ante dokter terlalu banyak membantu Adel." "Mulai pakai embel lagi?" Meri menjawil dagu Adel. Mengenang wajah sahabat lamanya, menempel lekat di wajah gadis berbulu mata lentik itu. Sahabat yang kini hanya ibu rumah tangga dengan anak susun paku, Adel sulung dari semuanya. "Selain sebuah kewajiban, semua karena kebaikan ibumu padaku. Dulu--Aku bekerja paruh waktu dan tinggal gratis di rumah ibumu. Wanita berhati emas, meskipun berkali-kali ayahmu selingkuh dia tidak sekalipun melabrak selingkuhan ayahmu, bahkan istri Sirri Rimon berserakan, ada di Riau, Jambi bahkan Bangka Belitung." "A ... Adel tau kok Nte dok. Tidak usah dilanjutkan. Mengingat kebaikan ibu ... Adel .... " Hiks. Air matanya tak terbendung, Adel menangis sesenggukan. Merindukan ibunya. "Rein! Berapa pasien lagi menanti di luar?" Meri bertanya pada asistennya. Sembari Adel menangis, Meri cek pasien yang tengah menunggu panggilan masuk ruang. "Dua orang lagi, Dok. Keduanya hanya speksi tri semester." Adel beranjak dari kursinya. Meri kembali duduk di bangku kebesaran. "Rein ... Asam polat, dan Metronadizole--nya jangan lupa, paling penting. "Siap." Perawat itu mencatat semua resep yang dokter berikan dan memberikan pada Adel. Adel mengangguk. Kembali mengucapkan terimakasih sebelum benar-benar beranjak dan menghilang dari pintu. * "Keluarga Ermayenti!" Suster berteriak dari pintu ICU. Tempat pasien selesai operasi di sterilkan. Dan jadwal kunjungan. "Ya, saya suaminya." "Saya ibunya" "Saya ayahnya." "Saya adiknya." "Hanya boleh dua orang yang masuk. Lainnya tunggu giliran." Perawat meminta Arman dan Des masuk terlebih dahulu. "Erma!" Hiks. Suara Des terisak, menghampiri ranjang pasien penuh kabel jarum kiri dan kanan. Erma sudah siuman beberapa menit lalu. Setelah bius total berdasarkan permintaannya yang tak tahan melihat jarum, gunting dan jenis peralatan operasi. Ia tersenyum menyambut Mama mertua. "Bu, jangan menangis di depan pasien! Bu Erma butuh support, silakan baca ayat-ayat Alquran untuk menetralkan." Suara suster menggema membungkam Isak tangis Des. Des teringat Retno--Ayah Erma. Janji yang pernah ia lontarkan untuk selalu menjaga Erma, tidak akan pernah menyakiti Erma, kini harus ia langgar. Arman bukan laki yang mudah untuk diruntuhkan, selama ini Arman selalu mematuhi Des. Apapun permintaan ibunya, Arman kabulkan selama itu tidak menyesatkan. Bahkan ia rela dinikahkan dengan Erma yang tiga tahun lebih tua, diusianya yang matang seharusnya bisa mendapatkan lebih dari sekedar Erma. Namun, demi bakti pada Des, Arman melakukan itu. Menerima perjodohan antar sesama kolega yang banyak menanam budi di keluarga, Arman harus menuai budi itu dengan menikahi Erma. Kini, ia tidak lagi bisa mungkiri. Ada Adel menyelinap masuk tanpa diundang ke sisi hati terdalam. Sepertinya tidak akan pernah keluar. "Mama yakin kamu akan sehat Erma. Percaya sama Mama! Harus ingat, mama tidak suka gadis itu masih datang ke rumahmu." "Maksud mama--Adel?" "Siapa lagi? Sekarang ... Jangankan untuk Arman, William saja tidak akan mama berikan pada gadis itu. Mama sudah tidak suka, ilfil lihatnya." Erma tertawa, ada perasaan bahagia ketika Des menyebut tidak suka pada Adel. Sebagai wanita ia bangga mertua berada dipihaknya. Tapi, di sisi lain ia tidak akan berhasil mengembalikan cinta Arman untuk dirinya. * Akhirnya semua administrasi selesai. Erma diperbolehkan pulang. Hari libur yang cukup panjang bagi Arman, sebab mengambil cuti untuk menunggu Erma operasi dan selesai pemulihan. Membawa Caca jalan-jalan setelah semua urusan di rumah sakit membuat kepalanya sakit, ia ingin lebih lama ngobrol bareng Caca . Setelah kesehatan Erma stabil hasil kontrolnya. Neni kembali memberitahu domestik kulkas dan lainnya telah kosong, Caca yang langsung membuka kulkas membelalakkan mata, untuk pertama sekali selama ia mengenal alat pendingin makanan itu, isinya kosong melompong. "Napa Bu Neni enggak belanja?" Tanya Caca berkacak pinggang seolah majikan dewasa memarahi pembantunya. "Ibu gak ngerti apa aja yang mau dibelanjain, Nak. Biasanya Adel yang menghendel semua urusan dapur. Ibu hanya bantu-bantu dikit. menu jus untuk Bu Erma, makanan kesukaan Bapak, dan menu sarapan yang bervariasi setiap Oma Des kemari. Ibu enggak tau. Adel yang tau semuanya." Neni menjelaskan pada gadis kecil itu. Caca manggut-manggut tanda mengerti. Kemarin ia bermain seharian bersama William, lupa kalau domestik dapur kosong. "Oh ... Ya, mengapa tidak mengajak papa saja, bukankah kata om Wil, mama Adel pernah datang ke sekolahan Caca, hmmm ... Caca punya ide!" Gadis itu menempel telunjuknya di sisi kanan kening merasa tengah berpikir keras bak profesor sedang menghitung jumlah bakteri. Ia mengendap keluar rumah tanpa memberitahu penghuni lainnya. Menuju bekas kos Adel yang berhadapan langsung dengan rumahnya. Sejak Adel tinggal di rumah Caca. Gadis kecil itu tidak lagi menjambangi kos-kosan. Ini perdana setelah kepergian Adel dari rumah itu. Caca membuka pintu pagar yang tidak terkunci. Ia sudah hapal letak kamar Yanti dan Tiva. Tok ... Tok ... Suara tawa di dalam terhenti demi mendengar ketukan kuat dari arah pintu. Tiva beranjak membuka. "Caca!" Heran bercampur takjub. Setelah sekian tahun gadis itu jarang berkunjung. Kini ada di depan kamar mereka. "Ummi ... Boleh Caca masuk?" Yanti dan Tiva saling pandang. Akhirnya mengangguk. Bahkan Caca tidak lupa panggilan untuk mereka, Bunda kepada Yanti dan Ummi pada Tiva. "Tumben ke sini! Biasanya main sama om Wil?" Yanti membuka suara. Sedikit heran. Mereka berdua tahu persis kejadian di rumah itu. Tapi, tidak ingin ikut campur. Yanti sedikit tidak suka kehadiran Caca. Ia masih ingat bagaimana perjuangan Adel memilih berhenti mengajar untuk mengurus Bu Erma. Namun, Budi itu berbalas ia harus minggat dari rumah itu. "Bunda pasti tau di mana Mama Adel?" Caca duduk di hadapan Yanti. Mengerjap. Memohon, wajahnya kuyu ... dibuat sesedih mungkin. Membuat Yanti tidak tega. Ia menatap Tiva berharap buka mulut untuk membantu jawab. Tiva malah pura-pura tertawa menghadap televisi. "Bun ... Di mana Mama Adel tinggal? Bunda please ... Bantu Caca ketemu sama mama ... Caca kangen!" Caca mengatup dua tangannya. Sekarang melakukan namaste. Tiva hanya geleng-geleng kepala. "Bunda enggak tau mama Adel di mana? Kenapa tidak tanya om Wil saja?" "Bun ... Please ... Kembalikan mama ke rumah Caca Bun ... Caca akan melakukan namaste di depan Bunda selama dua puluh empat jam, sebelum Bunda dan Ummi mau menolong Caca!" Yanti dan Tiva kembali bersitatapan. Tiva tertawa ngakak. Yanti memilih diam. 'Apa sebenarnya mau keluarga gadis ini? Heran deh!' bhatin Yanti tidak habis pikir. Kemarin, mertua Bu Erma datangi Tiva. Bertanya banyak hal yang membuat mereka muak. Tidak lama kemudian eh si William datang persis wartawan, punya pertanyaan bejibun yang wajib dijawab. Sehari sebelum operasi, Bu Erma di dorong oleh Bu Neni dengan kursi rodanya, juga sama seperti William jadi wartawan menanyakan kepada Tiva dan Yanti tentang siapa seorang Adel. Sebagai teman mereka sangat prihatin. Kehidupan pribadi jadi konsumsi keluarga tidak tahu diri itu. Pikir Yanti yang dari awal mewanti-wanti Adel untuk tidak terlalu dekat dengan keluarga Caca. Sayangnya, rasa itu tidak memilih nasehat. Ia bisa datang sendirinya. Yanti tahu sekali Adel diam-diam menyimpan dalam perhatian Arman, selama ini Adel itu merindukan sosok seorang ayah. Ketika ia menemukan Arman, Adel menemukan apa yang ia cari selama ini. Pelindung, pemerhati, dan kenyamanan saat dilindungi. Pertanyaan tersusun seolah Adel artis yang dicari sisi kehidupannya begitulah William, Erma bahkan Des mendatangi Tiva dan Yanti. "Bun .... !" Gadis itu masih bertahan bersimpuh dengan tangan melakukan namaste. Menimbulkan ketidaktegaan di hati Yanti. "Sini, Bunda bisikin!" Pendar binar bahagia memancar dari iris bulat coklat milik gadis kecil itu. Saat telinganya dibisikkan sesuatu oleh Yanti. Yanti tertawa senang melihat pendar bahagia di wajah Caca. Sebelum Caca datang, Arman sudah lebih dulu mampir mengunjungi Tiva. Makanya, gadis asal Medan itu tertawa terbahak-bahak. Sekeluarga mencari tahu siapa Adel. Lucu bukan? Mengapa tidak tanya Adel langsung. Mungkin keluarga itu menyesal setelah kepergian Adel yang telaten dan ikhlas menolong Bu Erma. Setelah operasi Arman terpaksa membayar perawat pribadi untuk Erma, tentu pengeluaran mereka lebih besar. Apalagi perawat dari sebuah yayasan. "Ini harus sesuai rencana, Ya Bun ... !" Caca memainkan tunjuk, apa yang Yanti bisikkan membuatnya ragu Yanti benar berpihak padanya atau hanya mempermainkan. Gadis kecil itu benar-benar cerdas. "Tentu saja sesuai rencana." Timpal Yanti "Kita mulai sekarang, ya?" Yanti menaruh kelingking di depan Caca. Caca menyambut dengan mengkaitkan ujungnya. Mereka pun tertawa. Membuat janji lisan untuk sebuah kesepakatan. #Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN