*
"Ca, Mau papa suapin, Nak!" Arman menyendok sesuap, bersiap memasukkan nasi ke dalam mulut Caca, merayu gadisnya untuk makan.
"Enggak, Caca cuma mau disuapin mama Adel! Titik." Erma hening, Arman jenuh, membuang napas kasar, menahan kesal. Dua puluh satu hari sejak Adel pergi, Caca uring-uringan.
Des--Mama Arman memberi saran agar dibawa ke psikiater saja. Toh ... Caca tidak berbuat anarkis. Hanya ia lebih pendiam dan lupa cara tertawa. Terlalu berlebihan jika harus ke psikiater. Entah apa kelebihan seorang Adel, mengapa Caca sebegitu cinta pada gadis itu, hingga rela tidak makan, tidak bicara dan jarang tertawa.
Kedatangan William setiap pagi seolah mengobati. Caca dari kecil juga dekat dengan William. Gadis itu menyukai William di antara adik Arman yang lainnya. Setidaknya, saat William ada, Caca masih tertawa, lebih banyak melotot pada Erma dan Arman.
Seperti siang ini. Setelah sarapan tidak dihabiskan, siang pun Caca tidak ingin makan. Arman lelah membujuk. William datang, pemuda pengangguran tapi berlimpah uang itu menghampiri Caca. Mengambil alih piring dari tangan Arman. Pasrah. Arman menyerahkan pada William--mendengkus kesal.
"Ayuk, mam! Buka mulutnya sayang ... cantix om .... "
William menaikkan sendok.
"Siutttt ... Sut ... Sut ... Pesawat terbang mau mendarat. Ciiiittt ... Pesawatnya mendarat darurat di laut, buammm meledak, Berita terkini pesawat Boeing 000 meledak di laut, Alhamdulillah Adelia Rania Yasmin tidak jadi korban. Sekian berita terkini," William memasukkan sendok ke mulutnya sendiri.
"Ha ... Haks haha .... " Caca tertawa terpingkal-pingkal, tersenyum manis, kemudian mengunci mulutnya kembali, bola matanya mengerjap.
"Ih ... Oom, mana ada presenter kayak gitu. Jangan sampe Mama kecelakaan donk, apalagi pesawat! Bakal gak ketemu." Wajahnya yang tadi tertawa melihat William memperagakan pesawat jatuh mendadak sedih. Caca membayangkan Adel bernasib sial. Ia pun menunduk menutup mulutnya karena refleks tertawa.
"Jangan becanda kaya tadi lagi ya om! Entar mama Adel kaya Bu Erma, kesian. Sekarang Bu Erma gak da yang ngurus. Om cariin Mamah, ya! Biar Bu Erma ada yang urus." Ucapan Caca meski terdengar biasa, cukup menyakitkan hati Erma.
Erma menunduk dalam di kursi rodanya.
'Entah kapan Adel hilang dari pikiran anak kandungnya itu' pikir Erma letih.
Meskipun tungkai kakinya tidak terlalu sakit lagi. Terapi setiap pagi, panggulnya sudah mulai terasa nyaman. Meskipun masih ngilu, jika banyak gerakan. Sebentar lagi operasi. Semakin hari akan semakin baik. Laporan perkembangan kesehatannya dari ahli terapi dokter ternama sangat baik. Erma berkali-kali mengucap syukur.
"Kemarin om ketemu Mamah Adel lo ... Di sekolahan Caca." William sengaja berbohong.
Tiba-tiba Caca mengerjap, membuka mulutnya. Binar bahagia memantul bercahaya dari iris berlensa coklat muda itu.
"Beneran, Om?" Teriaknya bahagia. Tanpa menolak menelan nasi yang William suapkan. Tidak menyadari suapan selanjutnya, bintang-bintang seolah berlompatan dari mata indah itu.
"Masa Salahan. Ya, beneran lah. Mamah Adel makin Cantik." Puji William sambil terus menyuap, sekilas melirik wajah Arman mendelik tajam ingin menyegat. Tertawa cuek menanggapi wajah kepiting ngamuk di ruas Abang kandungnya itu.
William berpura sibuk mengaduk nasi, mengelap ujung bibir Caca, dan melempar canda. Bahkan semakin membuat hawa panas sekitar.
"Om diajak sarapan sama Mamah, buru-buru dianya, biasalah--anak kuliahan. Kan, banyak tugas."
"Mamah gak pengen jumpa Caca ya, Om? Kok mama ke sekolahan gak ngasih tau, katanya mau kemari lagi. Tapi ini udah setaon belom ada?"
'Setaon.' Dua puluh satu hari berasa setahun, gimana tiga ratus enam puluh hari. William tertawa mendengar pernyataan itu. Arman dan Erma hanya hening ambigu.
"Kan, Caca lagi belajar. Mamah cuma liat dari luar, katanya kangen." Binar bahagia itu semakin melumer, Caca tertawa mendengar cerita apa saja dari William, walau itu cerita bohong. Gadis kecil itu tidak peduli.
Suapan terakhir tandas. Untuk pertama kali setelah dua puluh satu hari. Gadis kecil itu menghabiskan makan siangnya.
"Sekarang Mamah di mana? Om tau rumah mamah? Ke sana yuk! Caca kangen Mamah." Caca antusias, mengguncang bahu William memajukan tubuhnya, sangat ekprensif mengetahui Adel datang ke sekolahan.
"Oh iya, om janjian sama mamah Adel besok di mol, entar Caca ikut, biar ketemu sama mamah."
"Jangan ajarin Caca berbohong!" Hardik Arman. Tak tahan nama itu selalu disebut William dengan cerita rekayasa atau benar, Arman tidak peduli. Pertama kali dalam hidupnya ia membentak adik bungsu yang selama ini paling dimanja.
"Bang ... " Erma meraih tangan Arman yang terkepal kuat. Menariknya menjauh dari William. Meski terseok oleh kursi roda. Erma tahu kawah gunung sedang aktif di rumahnya, sebentar lagi akan meledak. Erupsi telah meluber ke sembarang arah.
William tersenyum miring, menikmati adegan Erma membawa tangan Arman menjauh darinya.
'Usaha berhasil' itulah yang ia mau.
Tertawa kecil, mengejek emosi Arman yang tak terkendali.
Ia sengaja memancing itu semua. William sudah bertekad. Adel harus tunduk klepek di kakinya. Yang pertama dilakukan adalah menyingkirkan bayang Arman dari Adel, kedua merebut hati Caca dan ketiga membuat Adel begitu buruk dalam pikiran Arman. Selesai.
Adel akan berada dalam genggaman? Begitu pikir William.
*
"Sini aku bawain!" Tanpa persetujuan William meraih belanjaan dari tangan Adel. Adel menarik paksa kembali belanjaan tidak ingin merepotkan. Ia terkejut mendapati William di halte tempat biasa menunggu busway.
"Kamu kos dekat pasar Rabu, kan? Aku anterin?"
"Enggak usah, Wil!" Pertama sekali Adel menyebut nama adik Arman itu. Ia bingung mau memanggil sebutan apa. Akhirnya memilih memanggil nama saja.
"Caca kangen banget sama kamu, Del. Sesekali datanglah ke sekolahnya. Paling tidak kamu menunjukkan perhatian, kasian Caca, dia tidak lagi periang, bahkan diam saja meskipun dipanggil Kak Erma dan bang Arman. Caca benar-benar kehilangan penyemangat."
Adel melongo. Setetes bening jatuh di pipinya. Empat tahun bukan waktu yang sebentar menjalin cinta dengan gadis kecil itu. Adel merasakan hal yang sama. Kehilangan penyemangat hidup. Caca baginya sangat berarti. Sehari saja tidak bersua rasanya terlalu menyiksa.
Menebus dosa masa lalu dengan mencintai gadis itu adalah janji Adel pada diri sendiri. Nyatanya dia mungkiri.
"I ... Iya. Aku juga kangen Caca. In sya Allah besok aku ke sekolahannya," ucap Adel akhirnya.
"Aku anterin!"
"Enggak usah, Wil. Besok ada acara di sekolahku. Seminar guru di Berliys Hotel. Hanya setengah hari, pulang dari sana aku sekalian ke sekolahan Caca." Tanpa curiga Adel bercerita aktifitasnya pada William.
"Aku boleh menunggu kamu di sekolahan Caca?"
"Untuk apa? Nanti mama kamu marah."
"Salah. Justru mama makin senang kalo kita dekat." William menyusul Adel yang melangkah menyebrang jalan. Sambil terus berceloteh.
"Sepertinya Mama kamu kurang menyukaiku, Wil." Kali ini Adel merobohkan tembok pembatas yang selama ini ia sekat untuk berkomunikasi dengan William. Entah mengapa ia merasa terlalu sombot jika terus terusan menjauh dan menganggap William adalah manusia yang harus dihindari.
Sungguh perbuatan tak elok. Setidaknya berteman baik, jangan sampai William menganggap ia perempuan yang suka dengan pria mapan. Memandang jelek sifatnya. Hanya karena Adel tidak merespon komunikasi yang selama ini William bangun padanya.
Ia masih ingat kalimat tajam William sebelum pulang dari rumah Erma. 'Wanita baik tidak menghancurkan rumah tangga orang. Apalagi orang itu sudah banyak membantu.'
Adel menyimpannya dalam kalimat William.
"Sudah di sini saja, makasih Wil." Adel meraih belanjaan dari tangan William. Menaruh di pinggir semen pembatas jalan.
"Yakin, gak mau diantar?"
Adel menggeleng.
"Salam buat Caca, besok aku ke sekolahan. Bilang ke Caca ya Wil. Aku kangen banget sa dia."
"Siap. Yang penting gak kangen sama Bapaknya kan?" Adel melotot. Perkataan William membulatkan bola netra menajamkan penglihatan. Laun, menundukkan wajah.
"Pak Arman sudah kuanggap Ayah. Jangan berpikir aku memiliki hubungan dengannya!"
"Ya, tidak akan berpikir, tapi fakta kalau kamu mencintainya."
"Wil .... "
"Kenapa?"
"Pergilah! Please ... Jangan ganggu aku." Adel mulai sedikit emosi. Menahan semburan kata. Ia tahu, William sengaja memancing kemarahannya.
"Jika kamu tidak mencintai bang Arman. Menikah denganku!"
"Aku tidak akan menikah dengan siapapun, Wil! Pergilah .... !"
Teriakan Adel. Senyum aneh William. Takut menjadi tontonan, memaksa laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya, menekan gas berlalu dari hadapan Adel.
Melihat rona emosi gadis itu, menciptakan kepuasan bhatin bagi William. Ia menikmati setiap sisi sikap gadis itu.
'Tenang Adel. Kau akan kudapatkan'
*
Dua bulan kepergian Adel.
Hari ini, Arman libur cukup panjang, mengambil cuti yang tidak pernah ia ambil kurun waktu beberapa tahun.
Meluangkan sejenak waktu menemani istri. operasi bedah panggul segera dilaksanakan, Semua telah di persiapkan. Erma nampak telah bersiap-siap memasuki ruang operasi. Wajah pasrah terlihat jelas.
Senyum semringah yang dipaksakan, sesekali tertawa saat Arman menceritakan kelucuan dan bijaknya Caca berbicara seolah orang dewasa.
Tempat tidur berjalan menuju ruang operasi. Arman memakai baju steril dari petugas. Tapi ia berhenti tepat dikoridor penunggu pasien selesai operasi.
Rasanya jam merangkak begitu lambat. Bu Des datang tergopoh, dihalang perawat cantik untuk tidak ikutan masuk. Akhirnya mertua baik hati itu hanya menatap dari luar jendela, menangis tertahan.
"Maafin aku Retno! aku tidak bisa menjaga Erma. Andai kamu di sini. Tentu kamu akan marah besar padaku. Maafin aku," Isak Des, menyaksikan tubuh Erma diboyong perawat masuk ruang operasi.
William berencana membawa Caca jalan-jalan, seharusnya hari ini Arman berjanji membawa Caca jalan. Setelah menerima raport dari sekolah. William ingin menggantikan peran Arman. Menghibur Caca, tidak ada orang di rumah, semua menanti hasil operasi. William akan ke rumah sakit, setelah operasi selesai dan Erma sudah masuk kamar rawat inap.
Alhamdulillah, berkas operasi selesai tanda-tangan. Menunggu panggilan. William meminta dia saja yang membawa Caca. Arman tidak mengizinkan. Caca mulai bingung, ada apa Antara papa dan om--nya.
Akhir-akhir ini selalu berselisih pendapat.
Neni memberitahu domestik kulkas dan lainnya telah kosong.
"Pah, kita maen di temzon aja, sekalian belanja!" Caca berinsiatif mengajak Arman belanja, ia tidak mengerti kalau Erma dalam kondisi hendak dioperasi. Gadis itu hanya tahu, ibunya cek kontrol ke rumah sakit.
"Udah lama juga ya, Caca ngak ngemol bareng papa." Arman mengaminkan
"Kan, udah dua bulan kita gak nge--Mall, Pa, Ayuk lah!"
Gadis itu protes sambil merayu untuk pergi ke Mall. Arman tersenyum menggeleng.
"Mama mau operasi, Nak. Papa harus jagaian mama." Meskipun Caca memanggil Erma dengan sebutan Bu Erma, Arman tetap membiasakannya untuk memanggil mama.
"Kalo gitu, Caca ikut jagain Bu Erma, ya?"
"Ca ... Anak kecil gak boleh masuk."
"Kalo gitu maen sama om William ke temzon."
Akhirnya Arman menyetujui. Arman, Des dan Rion--papa Arman. Menunggu sambil terus berdoa, semoga operasi berjalan lancar. Erma kembali sehat, minimal bisa mengurus dirinya sendiri.
"Assalamualaikum ... !" Setelah dua bulan lamanya, suara itu mengejutkan tiga orang yang duduk menunggu. Tidak terkecuali Arman. Netra legam memindai tak berucap. Lidahnya kelu. Namun sayang, binar cerah tak dapat disembunyikannya. Signal bahagia tertangkap jelas oleh sang papa.
"Man?"
Hening.
"Assalamualaikum Bu, Pak." Ulangnya sekali lagi.
"Waalaikumussalam." Jawab Rion. Berganti menatap Des yang buang muka. Mengapa istrinya tiba-tiba buang muka dan tidak membalas salam gadis itu. Bukan kah selama ini, Des selalu suka bercerita tentang sosok perempuan yang ingin dijadikannya menantu? Rion mengenal Adel setelah ditunjuk Des, pada acara kunjungan biasa di rumah Arman.
Sekarang istrinya mendadak berubah rona, jelas tergambar tidak menyukai kehadiran gadis itu.
"Adel!" Suara Arman terdengar mencicit.
"Ibu o ... Operasi, P ... P ... Pak?" Gugup menyelimuti diri, Adel menahan suaranya agar tetap normal. Ia tahu Des dalam kondisi membencinya.
"Adel!" Krak, Arman menyenggol pinggir kursi karena terburu menghampiri Adel. Menarik pergelangan tangan gadis itu menjauh dari orangtuanya.
"Bapak ... Sakit!" Adel meringis. Menahan tangis, cengkraman Arman begitu kuat.
Gadis itu memberanikan diri menatap bola netra yang akhir akhir ini sangat ia sesalkan telah mengguncang cara bernapasnya. Terkadang menjadi sesak. Mengenang hari-hari di rumah Arman.
"Sa ... Saya mau liat Bu Erma." Terbata Adel mengucapkan kalimat. Sorot tajam Des dari kejauhan tampak jelas bagai singa menerkam kambing. Tapi Adel, bukan kambing yang hanya bisa mengembek.
"Lepasin, Pak! Mama Bapak liatin kita. Enggak malu?" Semburat jingga menguar indah dari pipi gadis itu saat mengucapkannya. Tangannya sedingin salju pada genggaman Arman.
"Apa benar kamu ke sekolahan Caca dan bertemu William?" Mata Adel membulat. Tanya Arman menekan kalimat. Menyorot tajam, bias rindu berpadu cemburu melahap semua rona pipi dan netra legamnya.
"Maksud Bapak?" Adel melepas tangannya.
"Kenapa Bang? Adel bukan hanya bertemu Wilem, tapi kamu juga nginap bersama di hotel, emang kenapa? Kan dia singel, belum punya ikatan apapun, sah sah saja dua orang single berkasih mesra. Abang protes? Mau mengajukan klaim? Tanya Wilem, jangan Adel. Mana mungkin dia ngaku kalau sudah nginap bareng, yang ada reputasi sebagai sosok suci nan lugu bak ustadzah muda rebutan pria, bakal dicabut dari dia."
Mendadak entah datang darimana William berada di antara Adel dan Arman. Kata-katanya mengalir seolah benar. Arman menyorot tajam.
"Diam kamu!" Hardiknya keras. Lupa, Erma sang istri sedang berada di ruang operasi. Wajah Adel memucat. Menyaksikan adu mulut kedua Abang beradik karena dirinya. Plus cerita bohong William.
Ah, Adel ... Mengapa harus hadir di saat tidak tepat? Padahal ia hanya ingin melihat Erma. Kebetulan lewat saat check up dan melihat Des tergesa ke sebuah ruang. Adel mengikuti. Dan sekarang di sinilah ia. Dengan tangan yang masih dicengkram kuat.
Bersama dua serahim yang sedang saling serang kalimat.
"Abang tanya sama Adel, benar tidak dia nginap bareng Wilem? Jangan menutup logika karena cinta buta! Wilem punya bukti akurat yang Adel tidak bisa membantah." William ikut menghardik.
"Adel?" Netra tajam itu beralih ke wajah Adel.
Menunduk diam, memainkan kukunya, Adel menggeleng lemah, melepas paksa tangan Arman yang mencengkram, berlari menangis ke luar koridor. Meninggalkan kedua manusia yang sedang bertengkar itu. Menimbulkan penjelasan ambigu, mengambang dalam otak Arman.
Berlari menyusul. Di pintu poli berbeda, Adel berhenti tepat saat seorang perawat dari ruang chek rawat jalan, papan nama di ujung pintu bertuliskan dr. Meri Hamidah, SpOG bersuara lantang.
"Pasien Adelia Rania Yasmin. Silakan masuk!"
Adel mengangguk.
Arman terdiam berdiri tak jauh dari pintu yang baru saja dimasuki Adel.
"Ada apa denganmu, Del?"
Sekelebat beribu pertanyaan bagai semut rangrang menggerogoti telapak kaki Arman.
#Bersambung.