Pov Arman (Istriku Merestui, aku Poligami)

1729 Kata
Ayuk kak! Tap, love dulu sebelum baca. Tinggallah di sini! Kau akan menjadi kakak bagi Caca, semua biaya kuliahmu akan saya tanggung, bukankah tanggung jawab seorang ayah untuk membiayai anaknya," Ucapku teduh, Erma yang memintaku untuk berbicara pada Adel, meminta kesediaan untuk tinggal di rumah kami. Tapi sayang, aku terjebak, jiwaku benar-benar menginginkan dia ada di rumah ini, bukan karena Erma kecelakaan bukan pula karena dia kuanggap kakak bagi Caca, Tapi, ada rasa yang sulit untuk kuungkapkan. Adel menerima permintaan kami. Gadisku--Caca, begitu antusias sampai berteriak melompat ke pangkuan gadis itu, saat mendengar, wanita yang ia sebut sebagai Mama akan tinggal bersama. Hanya aku yang bermasalah. Entahlah. * Aku kembali bertugas mengamankan perbatasan. Kadang pulang sekali dalam dua Minggu. Neni, janda beranak lima, tetangga sebelah, selalu mengabarkan perkembangan Erma. Aku tak pernah menelpon gadis itu untuk menanyakan Caca. Meskipun akulah yang memberikan hape plus nomornya. Aku takut rasa ini semakin berkembang biak di luar kendali. Lain waktu, kami selalu berjalan-jalan, tamasya keluar kota, Erma selalu menyuruh Adel ikut serta, entah apa yang merasuki Erma. Apa istriku tidak punya signal wanita. Apalagi Caca selalu menyebut mama di tengah keramaian manusia. Seolah gadis itu adalah istriku dan Erma adalah tantenya, jika jujur, lebih tepat orang akan mengira cucu. * Tak terasa Caca sudah kelas tiga sekolah dasar, ia mendapat rangking satu setiap semester. Menambah simpati pada orang yang mengasuhnya. Aku sering membawa Erma dan Adel berjalan bersama ke tempat tamasya, keliling kota bahkan luar kota, banyak yang mengira Caca adalah cucu kami dan Adel ibunya. Aku selalu bisa menjaga sikap, walau sejatinya hati ini selalu tak tahan ingin menangkap signal apakah Adel punya rasa yang sama. Hari ini, aku ingin memberi kejutan spesial untuk Caca, malam tepat pukul dua belas, aku hendak memberi suprise. Datang mendadak dari luar kota tempat dinas bekerja. Beruntung, aku tidak perlu membangunkan Adel yang sekamar dengan Caca. Pintu kamar mereka terbuka. Mataku terkejut menatap dua orang yang saling berpeluk mesra. Tertidur dengan tenangnya di lantai beralas karpet. Wajah polos itu ... tidur berteman kertas tugas kuliah yang berserakan di lantai. Lelah, terlihat jelas bergurat, dengkur halus terdengar menandakan nyenyak sang pemiliknya. Aku menyusun kertas-kertas yang berserakan. Tanpa sadar, menatap gadis itu--lama, ada yang mengguncang di hati. Ingin meminta bantuannya, agar ikut membuat suprise untuk Caca, tapi tak sampai hati membangunkan. Beberapa menit berlalu. Caca bergerak, bergeser dari pelukan Adel. Aku menggendong Caca, pelan mengangkat ke atas kasur. Membiarkan gadis itu sendirian di bawah. Mendadak matanya terbuka--terkejut, melotot ke arahku, seolah aku makhluk yang hendak menerkamnya. Geram juga dipelototin. Aku kan Tidak berbuat apa-apa. Setengah sadar, Ia menyambar mukena. Selama ini meskipun satu rumah, Adel memang sama sekali tidak pernah membuka aurat di depanku. Ia menatapku serius, seolah telah terjadi sesuatu yang menakutkan padanya. "Del ... Kamu takut?" Ah, pertanyaan apa itu? Ia berlari keluar. Aku menyusul Adel yang berlari ke ruang tamu. Ingin menjelaskan yang terjadi. "Maaf, Pak. Seharusnya, bapak tidak tidur di kamar kami." Ucapnya sedikit ketus. Aku tersenyum kecil, memaknai sebutan kamar kami yang ia ucapkan. Rasa memiliki itu akhirnya ada padanya. Kejutan untuk Caca gagal, aku memberikan kado beserta brownies kesukaannya keesokan hari, menemani seharian di areal permainan. * Hening sekian menit berlalu. "Apakah kamu tulus menyayangi Caca, Del?" Pertanyaan macam apa itu. "Maaf, Pak, besok saya akan pindah dari sini." Dia malah menjawab pertanyaanku dengan ketus. Selama ini perlakuan aku pada Adel memang hanya sebatas ayah dan anak, tapi, itu hanya modus untuk tidak terlihat aku memperhatikannya. Meskipun sering terdengar dari para saudara isu tak enak tentangku dan dia. Yang kuberi biaya kuliah plus gaji melebihi budget seorang pembantu. Padahal pekerjaan yang ia kerjakan tak lebih layak dari seorang pembantu. "Bicarakanlah besok dengan ibu." Setelah mengatakan itu, aku berlalu masuk ke kamar. Berbincang dengan Erma. Istriku--Erma. Sangat menyetujui untuk menikahi Adel. Tapi gadis itu bukan gadis biasa yang mudah takluk pada cinta apalagi harta. * Diam-diam aku sudah mencari tahu siapa Adel, sedikit keras kepala, tentu saja Sholeha, pacar belum punya. Sial! aku seperti abege jatuh cinta. Subuh tadi, berbincang dengan pak erte, semoga jalan terbaik untuk kami berdua, terutama keluarga. Berinisiatif bicara empat mata, Adel justru terlihat ketakutan, Ia selalu menghindar kontak mata denganku. Aku ini biasa di dalam hutan, namun begitu, sangat mengerti tabiat seorang wanita. Erma adalah istriku, selamanya akan tetap menjadi istriku. Pasrah, Ia justru memintaku untuk sesegera mungkin meminang Adel, seluruh keluarga setuju, kecuali Mama dan William. Adik bungsuku yang keras kepala itu, begitu mencintai adel. Walau aku tau. Adel todak pernah merespon apalagi menanvvapi godaannya. Mama protes hebat, bahkan menyuruh Adel untuk angkat kaki. Mama hanya ingin Adel untuk William. Andai mama memahami, selamat ini, aku adalah anak yang tidak pernah membantah orangtua. Dinikahkan dengan Erma yang tak kenal, bahkan sudah berusia mapan, aku menyetujui demi bakti pada Mama, setelah menikah aku mampu mencintai Erma, karena dialah sosok wanita sabar selama ini mendampingiku. Menerima takdir sebagai jodoh yang Tuhan titip amanah, ladang ibadah untukku sepanjang hidup. Bayangkan berapa usiaku saat ini? Erma lebih tua tiga tahun dariku. Setengah abad sudah. Orang bilang separuh baya. Pertama kali cinta itu hadir di hati. Setelah dulu, diam-diam mengagumi teman sekolah yang kini tak tahu rimbanya. Aku benar-benar ingin Adel menempati tempat yang sama dengan Erma. Ruli mencibirku saat tahu keinginan hati, tapi ia mensuport juga, "Ah, bang ... Kalau aku jadi Abang, pasti bakal jatuh cinta juga sama si Adel ... Hehehe," Tawanya. Kutoyor bahu bidang hasil olahraga rutin itu. Ia tertawa lagi. "Caca tidak akan sulit beradaptasi, dia sudah terbiasa menganggap Adel--ibunya." Romi mendukung. "Aku tidak tahu apa yang terjadi Rom, aku hanya ingin melindungi Adel," ucapku pada Romi saat duduk berdua di teras rumah mama. "Aku tau Abang dari dulu, sejak kecil kita sama, Abang tidak pernah mengenal wanita. Untuk pertama kali, dan aku yakin ini cinta. Abang mencintai Adel. Andai Erma mengerti, ia akan paham. Adel yang merindukan kasih sayang seorang ayah, sangat mudah menelisik ronanya, iapun jatuh cinta pada Abang." Romi menjelaskan panjang lebar. Aku tertawa. Benarkah gadis itu jatuh cinta padaku? Yang lebih layak disebut ayah ketimbang suami. Aku ingat tatap lugu, semburat jingga di wajahnya saat berhadapan denganku. Tentu saja aku juga tahu, Adel mulai merasa ada sesuatu yang istimewa untukku di hatinya. Aku tersenyum. "Jangan senyum sendiri, ketauan puber telatnya." Sindir Romi ngakak. "Aku pulang, Rom," pamitku segera angkat kaki sebelum Romi melihat tarikan garis bibir yang tidak bisa berpindah lurus mengenang gadis mungil yang kini berhasil menyesakkan napasku. * "Jangan terburu-buru, Adel itu lugu, jangan pakai model sok cool di depannya, apalagi gaya militer, bisa lari dia, Bang!" Erma memberi saran. "Gadis itu sudah lulus uji apapun di rumah ini, dia tidak gila harta, juga tidak gila perhatian, saudaraku apalagi saudaramu, belum tentu mau mengurus kotoran dan memandikan aku setelaten Adel." Erma menunduk, liquid jernih itu menggenang di sudut matanya. Aku mengusap pelan. Merangkul bahunya menenangkan. "Mungkin ... ini jalan yang Allah takdirkan sebelum aku kecelakaan, Allah mempertemukan Caca dengan sosok yang bisa menjadi ibu baginya," Ucapnya pelan, terdengar pasrah. Aku membelai lembut kepala Erma, mengecup keningnya--lama. Hening. Aku tahu, meskipun Ia mengizinkan, sebagai wanita ada luka yang berusaha Ia sembunyikan. Demi sayangnya pada, aku, Caca dan juga Adel, rasa itu ia tepis sendirian. "Semua akan baik-baik saja, jangan pikirkan apapun! yang penting kamu sehat. Jadwal operasi sudah ditentukan, sabarlah! In sya Allah, kamu kuat, kita bisa melewati ini." Aku kembali mengusap kristal bening yang mulai ramai membasahi pipinya. Aku kasihan sekali melihat Erma, walau sebagai lelaki jiwaku tersiksa. Setelah divonis tidak bisa hamil, dengan segala daya mama dan aku memboyongnya ke Malaka. Sebenarnya ada rahasia besar yang Erma tidak tahu semua. Hanya aku dan dokter Beyrn. Sampai kapanpun rahasia ini tidak akan pernah terbongkar. Meskipun kepada mamaku sendiri. Cukup aku dan sang dokter yang mengetahui. Aku normal. Terlalu munafik jika mengatakan tak butuh wanita. Mama selalu mewanti agar aku mengenang jasa ayah Erma untuk keluarga. Jangan sampai menyakiti hatinya yang hanya hidup kini sebatang kara. Salahkah aku jika hati ini merindukan sosok wanita, tentu saja aku menahan hasrat ini, agar halal menyalurkannya. Adel--Aku yang tahan terhadap goda berjenis wanita dulu dan sekarang. Gagal saat mengenal gadis itu. Sial Bukan? * Aku Kira, gadis itu mudah ditaklukkan, sepertinya Ia mengetahui sebelum aku membicarakan. Dengan gelisah aku menyuruhnya untuk bicara dengan Erma, semoga bisa luluh. Kubiarkan mereka berbicara, aku menjemput Caca ke sekolahan. Ternyata hasil di luar perkiraan. "Sekali lagi maaf Bu, saya harus segera pergi." Kalimat itu .... Ia berlalu ke kamar, mengemas barang, dan sekitar dua menit driver online muncul dengan klakson. "Mama, mau pindah?" Tanya polos dari bibir mungil gadis kecilku, yang baru saja melepas sepatunya. Aku dan Erma menikmati suasana ambigu, Caca menggenggam tangan Adel, sorot matanya melarang untuk pergi. "Nanti mama akan sering kemari, Ca," Ucapnya menenangkan keraguan. Tak sanggup menemukan riak sedih di mata polos gadis kecilku. Setiap kali ia membelai Caca, menyebut dirinya mama, ada yang berbekas di sini. Apa jadinya putriku jika ia pergi? Tiiin tiiiinnn.... Klakson driver mencairkan keambiguan. Caca masih menatap tak percaya. Serasa mimpi baginya. "Saya pamit, Bu." Adel mengulur tangan, Erma tak bergeming, Istriku marah. Ia bahkan tak berbicara padaku. Caca berlari keluar, menyusul Adel. "Om, mama saya tidak jadi pergi, papa akan membayar ongkos dua kali lipat!" Gadis itu berbicara tegas pada driver. Aku terkejut begitu juga Adel. Ia memberi kode kepada driver untuk tetap menunggu, sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil. "Adel .... " Aku menahan pergelangan tangan mungilnya, ritme jantung sudah tak karuan, detak napas seakan berhenti. Getar frekuensi menjalar. Caca menatap kami berdua--bingung. Keringat dingin gadis itu, sangat kupahami maksudnya. "Sa ... saya harus pergi." Berat hati Ia melepas paksa. "Adel." Ucapku parau menyebut namanya. Tidak kah ia mengerti? Memaksa diri menahan merah di retina, Adel memeluk Caca. "Nanti mama ke sini lagi, Ca," Ucapnya terakhir kali. "Pergilah, Jika ingin datang, kami menunggumu." Ucapku dengan berat hati. Menarik Caca untuk tidak berhambur menangis. Walau setelah kepergiannya. Caca tidak hanya menangis. Putri kecilku, yang bertahun kuinginkan hadirnya. Sosok cerianya berubah drastis, celotehannya tak lagi pernah terdengar, mendadak menjadi pendiam, bahkan acapkali tak menggubris apa yang aku dan Erma bicarakan. Tidak hanya Caca, aku takut pada diriku sendiri, pertama sekali begitu sakit ditinggal seorang wanita. Ada yang menusuk di d**a. Seolah ia memang istriku saja, keluar dari rumah tanpa izin dariku. Rasanya sesakit ini. Mengapa sekarang? Mengapa harus wanita muda itu? Gadis itu? Benar-benar sialan. * #Bersambung Silahkan tinggalkan komen ya gaess. Kritik dan saran juga boleh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN