Dia bukan siapa-siapa tapi mampu menjadikan rindu menyala, entah sejak kapan rasa ini ada, Erma selalu menceritakan tentang gadis itu setiap menelponku saat mengamankan perbatasan.
Erma--Istriku tercinta, kami dijodohkan orangtua karena sama-sama tak pernah berpikir untuk berumahtangga, wanita super baik, Dewasa dalam banyak hal. Aparatur Sipil Negara pada bidang pendidikan.
Lima tahun menikah buah hati tak kunjung memberi signal hadir dalam rahimnya, cukup lama menanti, aku memboyong Erma ke Malaka, Baby program.
Alhamdulillah, Berhasil. Gadis kecil itu kini begitu cerdas, bayi mungil yang kudapatkan dengan harga fantastis. Aku bersyukur, Tuhan masih mempercayakan untuk menjalankan amanah sebagai orangtua.
Setiap pulang, Erma maupun Caca, bercerita seru tentang sosok mahasiswi bernama Adel. Awalnya aku biasa saja. Setelah Caca menunjuk jarinya ke arah seorang gadis yang berjalan masuk gang, saat itu, aku baru saja menjemput Caca di sekolahan.
Sesekali gadis bermata India, dengan kulit sawo matang mengelap peluh yang berjatuhan dari dahinya. Wajah letih terlihat jelas. Serasa ada yang istimewa dalam dirinya.
Aku tidak mengerti setiap Caca menyebut gadis itu dengan panggilan manja--mama, setiap sebutan keluar dari bibir anak gadisku, ada yang berdesir di hati.
Rasa yang tiba-tiba ... entahlah!
Pertama kali kurasakan ada yang berbeda saat netra menatap wanita.
Apakah aku tengah jatuh cinta?
Erma, istriku.
Sampai kapanpun akan tetap menjadi istriku.
Aku akan memegang teguh prinsip keluarga, tak akan pernah menyia-nyiakan yang telah ada.
*
Acara makan bersama keluarga besar Persit di rumah, Erma membawa Mahasiswi semester baru itu membantu menyiapkan makanan.
Sesekali aku mencuri pandang, entah di mana letak keistimewaannya? Selama ini, Ikan salai plus sambal terasi menjadi menu wajib saat aku datang, tapi baru kali ini, perdana rasa masakan itu terasa menggugah selera.
Ramah, mudah bergaul, pengetahuannya membuat Ibu-ibu lain betah bercerita. Caca membaca majalah bobo dengan pasih, masih kata Erma, gadis berhijab lebar itu yang mengajarkan gadisku pandai membaca.
Menulis, bahkan beberapa ayat Alquran mampu ia hafal. Tanpa bayaran. Biasanya Caca hanya menunjuk dan mencorat-coret kertas ala yang ia pegang.
Dua Minggu sekali, rutinitas pulang dari perbatasan.
Aku hanya punya waktu dua hari di rumah, setelah kehadirannya, dua minggu yang begitu berat terasa. Aku ingin sekali menyangkal. Ini hanya sebuah rasa simpati, kagum, sekedar itu saja.
Mengingat betapa baiknya gadis itu pada anakku, kasih sayang yang tidak ia temukan di rumah, Erma sibuk di sekolah, jabatan sebagai wakil bagian kurikulum, ditambah lagi akan dicalonkan menjadi kepala sekolah, sedangkan aku, hanya punya dua hari satu malam kurun waktu dua minggu.
Caca mendapatkan segalanya pada diri gadis beralis tebal itu, rias wajah alami tanpa make up, rona merah semu setiap mencium pipi anakku dengan sumringah. Dua hari kuhabiskan mendengar cerita Caca tentang sosok mungil pegiat sosial yang ternyata kuliah dengan biaya sendiri.
Gadis kecilku--Caca semakin besar, panggilan mama untuk Adel menjadi lumrah terdengar, mahasiswi asal kota minyak itu, terbiasa memanggil dirinya dengan sebutan mama.
Erma tidak mempermasalahkan. Tapi, akulah yang bermasalah, jiwaku terganggu dengan panggilan putriku kepadanya--Adel.
*
Malang tak dapat ditolak. Belum waktunya pulang dari perbatasan, Erma kecelakaan, merenggut semua aktifitasnya. Aku pulang. Dengan pikiran semaksimal mungkin bersikap rasional. Positif terhadap hari depan.
Istriku--mempercayai segala urusan Caca dan domestik rumahtangga kepada Adel, bahkan memohon agar aku membujuk Adel untuk tinggal di rumah.
Aroma vanila segar menguar saat pertama kali aku memanggil gadis itu, duduk berhadapan di ruangan berdesaign padepokan yang kubangun sejak menikah. Wangi parfum yang akhirnya kukenali, melewati indra penciuman yang memang akhir-akhir lebih tajam dari biasanya.
Segera aku ubah posisi duduk dengan sedikit tegap. Gadis itu tampak lebih polos dari biasanya, Degup jantung mulai bekerja lebih cepat dan otot-otot saraf sedikit menegang.
Jantungku tak pernah seperti ini berhadapan dengan seorang wanita manapun, aku biasa memegang senjata. Biasa menembak tepat sasaran dengan jarak berkilo meter. Kali ini, mahasiswi salah satu universitas Islam membuatku gugup blingsatan. Etdah!
Adel, Wanita itu selalu imut dan manis, entah kapan bisa bersikap kasar? Dia hanya mengangguk, saat pinta untuk tinggal di rumahku terlontar.
Menyetujui permintaan Erma dan aku untuk mengasuh Caca, sembari semua biaya kuliahnya ditanggung. Sementara aku, setiap pulang menyelesaikan pekerjaan, jantung ini menyebalkan detaknya.
'Yeah, sepertinya begitu. Di samping itu dia juga cerdas.' Sungguh, demi apapun itu. Aku sebenarnya tidak ingin berkomentar, melihat atau bertemu dengan hal-hal yang membuatku tidak nyaman seperti ini.
Gadis itu ... Entahlah.
*
Istriku, tidak lagi bisa melakukan kewajibannya sebagai istri. Tulang tungkainya patah, sementara tulang penahan panggul retak, harus dilakukan operasi bedah besar, aku ingin Erma selamat.
Aku ingin Erma sehat seperti biasanya, walau itu sangat pesimis, berkas daftar untuk operasi aku siapkan. Buang air kecil dan besar dibantu Adel, bahkan mengganti popok Erma. Gadis itu begitu telaten.
"Sini saya bantu!" Aku meraih ember berisi pakaian siap jemur dari tangan Adel.
"Enggak usah Pak. Saya bisa sendiri." Ia menolak menunduk jenuh.
"Kenapa tu wajah? Lagi nyari duit receh?" Tawaku menyembur kecil, Adel semakin menunduk tanpa berani menoleh. Terburu ia menaiki tangga ke tingkat dua rumahku. Tempat jemuran berada.
Entah mengapa, aku menunggunya selesai menjemur kain, di bawah tangga, duduk santai. Setelah lebih dulu memastikan Erma tertidur, bagaimanapun aku ingin menjaga perasaannya.
"Maaf, saya mau lewat!" Adel sudah berdiri di belakangku, yang duduk di anak tangga terakhir.
"Lewatlah!"
"Tapi, Bapak masih di situ."
"Emang kenapa, kan bisa lewat."
"Emmm ... " Dia berhenti berkata. Tapi berdiam diri tanpa mau melangkah. Tentu saja ruang geraknya sedikit. Jika ia berjalan melewati, pasti akan bersenggolan denganku.
"Mohon geser sedikit, Pak!" Adel bicara tanpa melihat wajahku. Kepala itu tertunduk dalam.
Aku menikmati pemandangan lucu di pagi hari. Warna strawberry mengkal menempel pada rona manis di depanku.
Aku berdiri, memberi ruang gerak padanya.
"Makasih," ucap Adel melewatimu tanpa menoleh.
"Adel," aku meraih tangan mungilnya. Ia menepis segera.
"Maaf!" Ucapku sadar, dia bukan seperti mahasiswi kebanyakan. Lupa daratan saat melihat lelaki beruang eh berduit.
Sepertinya tidak akan mudah
Menaklukkan seorang gadis sepertinya.
"Saya mau bicara!" Aku menghambat jalan.
"Kita bicara di ruang tamu saja, Pak," jawabnya sopan.
Hmmm. Adel!
*
"Ayahmu kerja di mana?" Pertanyaan pertama terlontar.
"Ayah saya sudah lama tanpa kabar, Pak," Jawabnya.
Untuk pertama kali aku tersenyum, merasa harus melindungi gadis berbola mata menghipnotis itu, aku tak tahu mengapa jawabannya melahirkan senyum padaku.
Seolah jawaban adalah kartu trup yang ditemukan tak sengaja.
"Mengapa kau katakan tak memiliki ayah, bukankah yang ada di hadapanmu ini bisa menjadi ayahmu?" Ia mengangkat kepala memberanikan diri menatap wajahku.
Sial. Mengapa aku yang harus jadi ayahnya?
Kalimat macam apa yang baru aku sebutkan?
Harusnya aku tidak menyebutkan kalimat itu.
Payah.
#TBC.