Part 6 (Menikahlah, Sayang!)

3011 Kata
PoV Erma bagian 4 "Mama tidak pernah mengajarkan kamu berbicara untuk menyakiti orang lain, Wil." Hardik mama. "Siapa yang nyakitin? Kak Erma menyakiti dirinya sendiri. Menuang racun ke dalam minuman sendiri. Membawa bahaya ke dalam rumah bahkan memeliharanya." "Cukup Wil!" Mama menoleh. Menatap tajam netraku. "Apa kamu ingin bersedekah suami, setelah bersedekah harta untuk gadis itu, Ma? Jika yang dikatakan William benar. Suruh Adel angkat kaki sekarang juga dari rumah ini." Lantang suara mama berucap. "Tidak ada yang mau membersihkan kotoran orang cacat seperti saya tanpa dibayar, Ma. Adel melakukannya. Darah haid Erma berserakan dia tidak jijik, Erma pub, pipis yang kadang muncrat ke tangannya, hanya Adel yang rela melakukan semua pekerjaan ini, Ma." Ucapku menahan tangis. "Mama cuma tanya, apa yang William bilang, benarkah? Apa kamu tau tentang Arman dan Adel?" Aku menggigit bibir pedih. Terbayang slideshow kejadian malam saat Arman pulang di hari ulang tahun Caca. Aku tertidur di kursi roda. Terbangun mendengar derap langkah kaki di ruang tamu. Arman pulang, kotak brownies di tentengan. Mungkin Arman mengira aku sudah terlelap. Berencana menyusul Arman ke kamar Caca untuk ikut memberi kejutan. Aku baru menyadari ada Adel di sana. "Maaf ... Pak, seharusnya bapak tidak tidur di kamar kami." Aku berhenti menekan tombol kursi roda. Mendadak merasakan oksigen lebih banyak. Kami? Ada rasa kepemilikan di sana. Aku terdiam di antara ruang tamu dan sekatan ruang menuju kamar mereka. "Ini rumah Bapak, mana mungkin saya melarang Bapak masuk ke kamar anaknya," suara Adel semakin jelas. Aku memutar kursi kembali ke kamar. Sama sekali tidak ingin mendengarkan apa yang terjadi di sana. Sekuat tenaga menahan agar tak ada yang jatuh mengairi. Bukankah hidupku sempurna? "Jika Arman pulang, kamu dan Adel segera ke rumah mama!" Aku terkejut dari lamunan. Mama mengambil tas tangan branded yang ia taruh di atas sofa ruangan. Sama sekali tidak melihat Adel yang keluar dari dapur. Bersegera keluar rumah. Tanpa berkata apapun padaku lagi. Disusul William mengejar mama dari belakang. Gadis itu? Entahlah! * Terngiang bahasa mama mertua. Demi Allah aku tidak ingin menyakitinya. Menyakiti mama mertua yang begitu sayang padaku. Mama mertua orang yang paling kucintai saat ini. William kembali ke dalam rumah. Mungkin mamah sudah pulang. Dengan tidak memperdulikan si bungsu itu. "Kak Erma ... Maafkan Wil, sama sekali enggak ada maksud ...." "Enggak papa Wil," aku memotong ucapannya. "Kak, Wil mau bicara sama kakak. Boleh?" "Tumben kamu minta izin." Tawaku lepas, seolah kejadian tadi tidak berbekas. Bagaimanapun William sangat dekat denganku juga Caca. Bahkan, wajah keduanya mirip. Usia William sudah hampir kepala tiga. Tapi ia masih suka bermanja. Namun, akhir-akhir ini nampak berubah, ia jarang berbicara dengan Arman, lebih sering curhat padaku. "Kak .... " "Kamu mau cerita tentang Adel?" "Kak, Wil suka Adel, serius mencintai Adel. Demi Allah kak ... Bantu Wil! Wil tau kalau Adel itu mencintai bang Arman. Ini demi kita semua. Bukan hanya demi Wil. Tapi ... demi kakak juga." Ia mulai mengikutsertakan aku dalam tujuannya. "Tau darimana Adel suka sama Arman?" "Kakak jangan pura pura ngak tau. Aku sayang Adel kak, sumpah! Aku benci perasaan kayak gini, mana mungkin aku bersaing sama Abang sendiri." Ia menekan kalimat sembari menekan emosi. "Kak Erma ... Kakak itu istrinya. Please ... Jangan sok kuat untuk dipoligami. Aku yakin bang Arman itu tidak akan berani meninggalkan kakak. Kecuali kakak yang menyuruh dia dan sok jadi pahlawan untuk hasrat suami sendiri." William memelas menekan kalimatnya berkali-kali. "Jangan bego kak! Please .... Jangan kayak istri di sinetron enggak jelas itu!" Melipat dua tangannya, William memohon padaku. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya. Ia bersimpuh bak anak yang minta restu orang tua dalam filem filem India. "Please ...." Ia menundukkan kepala. "Wil .... " Ia mendongak. Bersikukuh pada simpuhannya. Sekarang malahan menyentuh kakiku. Meski urakan, dan style yang tidak menunjukkan anak orang kaya, sembarangan memakai pakaian, jins robek sebelah, rambut jambul asal. Aku tahu dia pria baik yang tidak akan menyia-nyiakan seorang wanita. "Apa kamu mau sampai malam kayak gitu, Wil?" "Kak ... Wil mohon!" Ia semakin menunduk. "Adel bukan seperti gadis kebanyakan yang bisa dengan mudah takluk pada rayuan. Kakak tau kamu begitu mencintai Adel. Sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di areal gang ini. Matamu tidak bisa berbohong. Adel bukan seperti gadis kebanyakan yang mudah tergoda hanya dengan suit-suit para pria. Dia berbeda. Jika kamu mengetahui sesuatu tentang Adel. Apa kamu masih mau menerimanya?" Panjang lebar, akhirnya aku buka suara. Kasihan melihatnya yang bersimpuh memohon. "Maksud kakak? Wil tau semua tentang Adel kak, gadis itu korban broken home. Ia bahkan hingga sekarang tidak pernah bertemu ayahnya. Wil juga tau Adel seorang pekerja keras, ia membuat penganan kue subuh-subuh untuk dijual, tambahan uang kuliahnya ia bekerja mengajar dan membantu apa saja. Adel memiliki saudara yang banyak, mengharuskan ia mengalah membiayai diri sendiri jika ingin sekolah. Adel ... " "Wil ... " Aku meletakkan telunjuk di bibirku mengisyaratkan untuk diam. "Yang kamu sebutkan itu semua tentang betapa mulia seorang Adel. Yang kamu lihat betapa elok seorang Adel. Memang benar dia gadis baik bahkan sangat baik. Tapi, ada sisi yang tidak bisa tertangkap oleh mata kamu, karena telah dibutakan oleh perasaan yang kamu tanam sendiri." "Maksud kakak?" William berdiri dari simpuhannya. Mengerjit dahi. Menatapku heran. "Jika ada wanita lain, carilah! Cintai orang yang mencintai kamu. Kakak yakin kamu akan menemukan orang itu. Di dunia ini banyak wanita seperti Adel, bahkan lebih baik dari Adel." "Apa kakak mau bilang kalau Adel itu tidak pantas untuk wil?" "Bukan sayang ... Bukan itu maksudnya," aku kehilangan kata-kata untuk menyejukkan hati ipar bungsuku ini. "Banyak wanita yang bisa mendampingimu, Wil. Kamu baik. Asal kamu serius dan berubah. Rajin kerja dan tidak lagi bergantung pada Abang atau mamah." "Kak." "Adel tidak akan pernah bisa mencintai kamu Wil?" Iris itu membulat sempurna mendengar kalimatku. "Kenapa? Banyak mahasiswa yang ngejar-ngejar Wil, Masa Adel lebih suka tua bangka seperti Bang Arman ketimbang Wil yang lebih muda? Apa dia punya kelainan jiwa." Ucapnya ekpresif. "Ini bukan masalah usia sayang ... " Aku menggeleng. "Terus masalahnya apa? Apa Kakak menyembunyikan sesuatu dari, Wil." Tatap penasaran ia mengejar pertanyaan. "Suatu hari kamu akan mengerti tentang ... " Kalimatku terjeda. Krek ... Pintu terbuka. Seraut wajah manis nan lugu melongok ke dalam kamar. Bola netra bulatnya terkejut melihat William bersamaku. "Maaf, Adel mengganggu?" Tanya gadis itu memalingkan wajah dari William. "Tidak. Masuklah!" Jawabku melirik William yang blingsatan kayak cacing kepanasan. "Waktunya ibu mandi!" Adel menaruh handuk di atas kursi roda. Mengusap lembut bahuku. Menunduk melewati William. "Wil ... Kakak mandi dulu, ya." Aku tertawa melihat bagaimana ekpresi William. Kesal bercampur marah. Sedikit menahan emosi, Adel begitu cuek melewatinya. Terdengar kecil, gemerutuk giginya menahan geram. "Kakak masih utang sama Wil." Ia berjalan cepat menyusul sebelum akhirnya hilang di balik pintu depan. "Utang apa-an?" Teriakku menyahuti karena ia sudah menghilang. "Utang penjelasan!" Ternyata ia masih di depan, mendengar dengan jelas suaraku. Dan membalas dengan teriakan. "Jangan sok kuat mau dipoligami! Wanita baik ngak bakal ngancurin rumah tangga orang!" Teriakan William memaksa aku menatap gadis yang tengah mendorong kursi menuju kamar mandi. Wajah Adel sepucat ubi roti yang siap untuk dikukus. Ia menunduk tanpa berani membalas tatapanku. "Jangan dengarkan Wilem, Del. Dia suka sembarang ngomong." * "Dia mau pindah dari rumah ini, Ma!" "Ya, dan Abang kecewa, Abang mencintai Adel. Bukan karena Caca atau aku bercerita betapa baiknya gadis itu, Tapi itu nyata ... Nyata dari hati Abang sendiri." "Erma!" Arman meraih tanganku. "Aku sadar bang, aku tidak bisa melakukan apapun untuk membahagiakanmu. Aku sadar ... !" Tangisku pecah. Arman memelukku. "Dari awal kita menikah, ketika ucapan akad selesai, aku mencintai kamu, seluruh jiwaku, apapun yang terjadi. Kamu sudah bertanggungjawab sebagai suami, aku penyakitan, aku tidak bisa memberi keturunan, bahkan sekarang aku tak sanggup melayani sebagai seorang istri. Aku salah bang .... !" "S ...ssst...sss !" Arman menempel telunjuknya di bibirku. "Maafkan aku sayang .... " "Aku yang minta maaf." "Erma." Arman meraih wajahku menghadap tepat ke bola netranya. "Ingat janji kita di awal pernikahan? Apapun yang terjadi dalam perjalanan, kita akan terus bersama. Sampai maut yang akan memisahkan." "Dua belas tahun sudah, dan Erma sangat percaya itu, selama ini Abang sudah mendedikasikan diri sebagai suami yang begitu peduli, bahkan menahan diri dari godaan cewe semanis Adel. Walau Erma tau, Abang sangat mencintainya." "Erma!" Arman lagi, menempel telunjuknya pada bibirku. "Menikahlah dengan Adel! Erma baik-baik saja." Ucapan itu, mengiris tajam ulu hatiku. Siapa aku? Berharap cinta itu hanya untukku, sedangkan Tuhan ... mencintai seluruh makhluknya. Menikah dengan Arman di usia Empat puluh tiga Tahun. Basi--kata anak zaman sekarang. Tidak sekalipun menemukan cacat pada perbuatan dan sikapnya padaku. Lima tahun tanpa anak, ia telaten dan sabar mengobatiku, setelah Caca hadir. Aku lebih sering pingsan daripada sadar. Rumah sakit bak rumah kedua yang nyaman jika ingin usia masih panjang. Sekarang, panggulku dan tulang tungkai tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Jangankan untuk melayaninya, melayani diri sendiri saja aku butuh Adel. Tidak ada yang setelaten Adel, mama mertua si super baik hati, rela berkorban harta, melimpahkan seluruh cinta untuk menantunya ini, tidak sekalipun ia berani mengantarkan aku ke kamar mandi. "Nen ... Bersihin donk! Pipis Erma keluar sendiri lagi, nih. Gak bisa di tahan ya Ma?" Tanya mertua sambil menutup hidungnya. Neni tergopoh datang, bau pipis yang super Pesing karena mengkonsumsi obat-obatan tentu sangat tajam. Membuat Neni juga mundur sedikit menahan jijik. Adel datang dari belakang. "Enggak papa, Bu Nen. Saya aja." Ia mengambil kain lap dari tangan Neni. Membersihkan dengan sigap, membawaku ke kamar mandi, pelan dan telaten mengusap air hangat hingga ke sela-sela bagian sensitifku. Sedikitpun tidak ada rona jijik di wajah manis itu. Adel? Bahkan Neni dengan senangnya memberikan kain lap saat Adel meminta. Seolah ia mendapatkan emas setumpuk dari pengalihan tugas itu. Lalu, haruskah aku menyisakan ruang benci di hati? Muntah, pipis yang kadang tidak terkontrol bersimbah di lantai ubin mahal, mama mertua berpaling menahan jijik. Neni apalagi Tante adiknya mama yang beberapa kali datang, sekarang entah kemana. Tidak pernah muncul. Arman? Dia tidak jijik, barangkali bosan. Tapi berusaha menahan. Setelah semua berjalan. Logikaku masih sehat untuk diajak berpikir. Justru sekarang aku sangat bersyukur Adel tidak menyukai William. Meski di hati sakit, cemburu merajai hari-hariku. Mau tidak mau, aku butuh Adel. Mungkin juga Arman. Ah, mengingat itu mengapa rasanya Tuhan tidak adil. "Kamu enak ya Ma, nikah telat tapi dapat suami dan keluarga yang sangat bertanggungjawab dan sayang banget sama kamu ... " Mereka salah. Ucapan teman kolega itu salah. Sekarang rasanya aku lebih sengsara dari istri si tukang ojek beranak tujuh yang diselingkuhin tanpa di biayai. Suami selingkuh diam-diam. Hanya curiga sesekali, tidak enak hati, tapi hidup dua puluh empat jam bersama-sama. Sepertinya lebih enak jadi mereka. Sedangkan aku, nyata di depan mata. Sosok baik hati yang kukagumi selama ini. Mencuri semua curah jiwa suami. Dan tinggal seatap denganku. Perih dari bekas sayatan sembilan yang dibalur garam berbalut remasan asam. Sisi lain hati menyatakan. Betapa aku egois jika mempertahankan cinta yang terurai dan kini terbagi. Bukan hanya terbagi. Semuanya sudah milik Adel. Aku tahu itu. Arman mempertahankanku hanya karena kasihan. Berhutang budi sama papa. Mungkin itu saja. Tak pantas rasanya aku meminta lebih dari itu semua. * Pernah sekali, aku memergoki keduanya. Arman yang menatap mesra saat mengambil kain siap jemur dari tangan Adel. Semburat jingga menguar dari wajah gadis itu. Jelas sekali ia tengah jatuh cinta. Jatuh cinta pada suamiku. Rasanya? Perih. Sakit. Entah apalagi. Aku hanya menelan saliva berkali-kali. Menggigit bibir agar isaknya tak terdengar, sebab kutahu Arman mengira aku tengah tertidur di kamar. Nyatanya aku di sini, memandang dua sejoli dari pintu kamar. Sedang bersitatap mesra. Yang satu manusia kucintai setengah sekarat jiwa, sedangkan yang satunya wanita paling kukagumi yang tidak bisa melahirkan benci di hati. Sakit sekali. * "Jangan terburu-buru, Adel itu lugu, jangan pakai model sok cool di depannya, apalagi gaya militer, bisa lari dia, Bang!" Aku memberi saran saat berbicara berdua dengannya. Menahan cairan liquid agar tak berhamburan keluar. Berkali menarik napas, mempertahankan nada suara tetap normal. Menunjukkan pada Arman. Aku baik-baik saja. "Gadis itu sudah lulus uji apapun di rumah ini, dia tidak gila harta, juga tidak gila perhatian, saudaraku apalagi saudaramu, belum tentu mau mengurus kotoran dan memandikan aku setelaten Adel." Aku menunduk, entah mengapa, akhirnya liquid jernih itu menggenang juga di sudut netra. Arman melihat, mengusap pelan. Merangkul bahu, mengusap kepalaku dengan lembut. Andai bisa menolak takdir, aku ingin tidak cemburu, tidak pergi mengambil wortel, tidak naik moge, naik motor matic yang kecil saja, kalau kecelakaan masih luka ringan. Andai bisa menolak takdir. Aku ingin Urip yang datang, mengapa telponnya gak diangkat? Mengapa aku tidak konsentrasi? Mengapa, mengapa, dan mengapa? "Mungkin ... ini jalan yang Allah takdirkan sebelum aku kecelakaan, Allah mempertemukan Caca dengan sosok yang bisa menjadi ibu baginya," Ucapku pelan hampir tak terdengar. Pasrah.Tangisku pecah. Arman masih membelai lembut rambutku, meletakkan sebagian terjuntai di sela telinga, membiarkan aku berceloteh, ia hanya mendengar dan diam, tiba-tiba, mengecup keningku--lama. Hening. Tuhan. Bisakah merayu takdirmu? Agar aku dapat mengulang waktu. Tidak ada adegan Adel datang ke kehidupan. Aku semakin terisak. "Semua akan baik-baik saja, jangan pikirkan apapun! yang penting kamu sehat. Jadwal operasi sudah ditentukan, sabarlah! In sya Allah, kamu kuat, kita bisa melewati ini." Arman kembali mengusap kristal bening yang mulai ramai membasahi pipi. "Menikahlah dengan Adel, aku yakin semua akan baik-baik saja seiring waktu berjalan." Apa yang barusan aku ucapkan? Di sela tangis bak air bah, hancur sudah pertahanan ini. Aku lemah. Arman meraihku ke pelukan. Tersenyum aneh. "Adel menolak, Ia besok pindah katanya. Bicaralah padanya, jangan memaksa, biarkan ia memilih tanpa harus ada paksaan. Aku tetap mencintai kamu, apapun yang terjadi sayang! " "Baiklah. Aku akan menemui Adel." Aku tertawa dengan ucapan cintanya. 'Kau berusaha menghibur kah Arman?' Aku memutar kursi roda. Setelah Arman pergi ke sekolahan menjemput Caca. "Adel. Apaan ini, untuk apa barang-barang kamu kemas?" "Bu ... Saya ... " "Apa kamu tega meninggalkan saya dalam keadaan seperti ini, Del." Aku marah--menangis tersedu berharap ia berubah pikiran. "Ibu sudah sehat, saya akan datang sesekali melihat ibu, bukankah buk Neni bisa menggantikan saya," Elaknya, mengingat Neni. Tante Rina yang berada di sebelah rumah pernah bilang, jika memang berniat menolong dan menyalurkan hasrat biologis, harusnya Arman menikahi Neni saja, seusia dan cocok, bukan Adel. Entah lah! Janda beranak lima yang biasa ikut membantu menyetrika di rumah tentu akan senang menggantikan pekerjaan Adel, dengan gaji setara dengan tenaga pengajar di sekolah Islam terpadu. "Neni akan menggantikan semua pekerjaan rumah yang kamu kerjakan, tapi kamu tetap harus di sini, mohon saya Del ... ! Tidak kah kamu kasihan melihat Caca." Aku menjadikan Caca tameng. Jika dia pergi siapa yang bisa mengurusiku. Ini bukan hanya tentang Arman. Ia menggeleng, Begitu keras hati. Entah apa alasan ia tidak bertahan di rumah ini. Signal wanitaku sungguh begitu yakin. Dia juga mencintai Arman--suamiku. "Sekali lagi maaf Bu, saya harus segera pergi." Kalimat itu .... Tidak berselang lama dari ia menyusun barang dan keambiguan tumbuh di antara kami. Arman datang bersama Caca. Bersamaan muncul klakson driver ojol. Caca melotot melihat tas dan barang-barang Adel. "Mama, mau pindah?" Tanya polos dari bibir mungil gadis kecilku, yang baru saja melepas sepatunya. Caca menggenggam tangan Adel, sorot matanya melarang untuk pergi. Menggeleng lemah. Aku dan Arman hening hanya menonton dua manusia seperti sinetron India. "Nanti mama akan sering kemari, Ca," Ucapnya menenangkan keraguan. Tak sanggup menemukan riak sedih di mata polos gadis kecilku. Setiap kali ia membelai Caca, menyebut dirinya mama, ada yang berbekas di sini. Sakit sekali. Sejatinya akulah ibunya. Walau aku tahu, Caca seperti bukan anakku. Andai menyuruh ia memilih. Pastilah ia memilih Adel. Entah mengapa, aku tak tahu. Seolah antara mereka ada pertalian darah saja. Tidakkah putriku itu mengerti, saat ia menyebut mama untuk Adel, tidak lagi selucu dulu. Tapi berbekas di sini, di hati ini. Bagai silet menancap dalam. Tapi, Apa jadinya putriku jika ia pergi? Apa jadinya aku. Siapa akan mengurusku, dan Arman .... Tiiin tiiiinnn. Driver membunyikan klakson lagi, mencairkan keambiguan. Caca masih menatap tak percaya. Serasa mimpi baginya. "Saya pamit, Bu." Adel mengulur tangan, aku tak bergeming, marah, benci, sakit, sedih menjadi satu. Ia melewati Arman, bahkan tak berbicara padanya. Caca berlari keluar, menyusul Adel. "Om, mama saya tidak jadi pergi. Papa akan membayar ongkos dua kali lipat!" Gadis itu berbicara tegas pada driver. Aku terkejut begitu juga Arman. Adel memberi kode kepada driver untuk tetap menunggu, sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil. "Adel .... " Arman menahan pergelangan tangan mungilnya, ritme jantungku serasa lepas dari tempatnya. Sudah tak karuan, detak napas seakan berhenti. Biarlah aku menangis. Aku tidak kuat Tuhan ... Getar frekuensi benci menjalar. Caca menatap mereka berdua--bingung. Keringat dingin gadis itu, sangat kupahami maksudnya. Ya ... Gadis itu jelas dan sangat jelas juga mencintai suamiku. "Sa ... saya harus pergi." Berat hati Ia melepas paksa tangan Arman. Di depan netraku. "Adel." Ucapnya parau menyebut nama itu. Tuhan ... Sakit sekali. Adakah skenariomu yang lain. Yang akan kulewati, jangan adegan ini. Please ... Perih ini Tuhan. Bisakah aku memilih takdir. Menjadi tukang gorengan yang setia meski tak berharta. Atau menjadi Neni saja. Atau menjadi istri tukang ojek yang anaknya dua belas. Meskipun di gubuk rewot tapi tidak merasakan hati tersayat sepedih ini. Atau ... Huhhh. Aku menarik napas sesak. Benarkah aku menuang racun ke dalam minuman sendiri? Seperti ungkapan William. Memaksa diri menahan merah di retinanya, aku menangkap dengan jelas, riak bening di sudut netra itu, Adel memeluk Caca. Memalingkan wajah tak mempedulikan Arman. Kuyakin itu hanya untuk menjaga perasaanku saja. 'Ah, Erma betapa malang sebenarnya hidupmu, harusnya kau mengabaikan seluruh sikap baik Adel, bisa jadi itu hanya topeng yang menutupi sifat aslinya.' Jika dia gadis baik, tentu saja dia tidak kan melakukan hal menjijikkan seperti cerita Lidya, salah satu teman kost Adel yang tidak suka padanya. "Nanti mama ke sini lagi, Ca," Ucapnya terakhir kali. "Pergilah, Jika ingin datang, kami menunggumu." Ucapan Arman kembali menyayat dinding hati ini. Dengan berat hati ia menarik Caca untuk tidak berhambur menangis. Walau setelah kepergiannya. Caca tidak hanya menangis. Putri kecilku, yang bertahun kuinginkan hadirnya. Sosok cerianya berubah drastis, celotehannya tak lagi pernah terdengar, mendadak menjadi pendiam, bahkan acapkali tak menggubris apa yang aku dan Arman bicarakan. Gadis itu? Benar-benar sialan. Siapa dia sebenarnya? * #Bersambung Silahkan tinggalkan komen ya gaess. Kritik dan saran juga boleh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN