Merelakanmu

1642 Kata
PoV Erma Bagian 3 * Caca memaksa bahkan mengancam tidak akan makan sebelum Adel dibelikan hape yang bisa video call jika tidak berada di kosan. Tiinnnn ... Tin ... Tinnn .... Bruk ... Bruk ... Aaaa .... Bammm. Aku merasa melayang. Setelah membanting stang ke arah sembarang. Gadis itu? Benar-benar sialan. Sebelum akhirnya gelap. * Bau alkohol dan obat-obatan menarik hidungku untuk lebih menyadari tengah berada di mana. Membuka netra, serba putih menyambut pandangan seluruhnya. Rumah sakit. Ya .... Akhirnya aku sadar-sesadar sadarnya. Hidup ini tidak ada yang sempurna. Bahkan untuk mengadu perihal hati yang sakit kepada mertua, sebagai pengganti orangtua yang telah tiada, itu pun aku tidak berani. Bercerita tentang kejelekan Adel agar suami tercinta tak terpesona, itu pun tidak lagi bisa. Begitulah manusia. Menyanjung setengah warasnya jiwa lalu ketika yang disanjung menerkam bahagia, lidah tak sanggup menarik sanjungan lontaran kata. Aku lumpuh. Mengerakkan sedikit saja kaki ini. Sudah tak bisa lagi. Semua orang menatap iba. Arman datang ke rumah sakit secepat buroq, saat aku sadar. Ia orang pertama di sampingku. Aku tahu dia kecewa. Air matanya tergenang menggenggam tanganku selama di instansi gawat darurat, hingga waktunya diperbolehkan pulang. Tidak sekalipun Arman meninggalkanku. Sesak pipis atau lapar. Entah bagaimana ia menahan. "Apa yang terjadi, Ma?" Aku menggeleng lemah. "Harusnya kamu pamitan jika pergi keluar rumah." Aku bungkam. 'Maafkan aku, Arman, Nasi telah menjadi bubur. Seharusnya aku memperbaiki diri. Seharusnya aku tidak gegabah hanya karena cemburu menekan gas secara berlebihan, harusnya aku mengatur kembali starategi, agar suami tercinta tidak berpaling hati, harusnya ... Harusnya ....' Hatiku nyeri. "Dengan ... Pak Arman?" Seorang dokter dan perawat masuk ke kamar. "Hasil pemeriksaan silakan diambil bagian radiologi, Pak. Pasien sudah boleh pulang." Aku mendengar jelas perbincangan mereka. Kepalaku begitu berat. Berusaha menggerakkan kaki namun tak berhasil. Panggulku sakit luar biasa. Aku sudah mengetahui perihal kelumpuhan ini sejak menyadari aku berada di rumah sakit. Meskipun perhatian mertua, Arman dan istri para ipar semua tercurahkan untukku. Hati ini masih sakit. Beberapa kali mencoba rasional. Akulah yang salah. Mengapa harus senyeri ini? Arman keluar mengikuti dokter. Ibu mertua dan para istri ipar masuk ke kamar, duduk di sisiku. "Ya Allah, Ma. Kamu yang sabar ya, Sayang. Mama akan selalu ada di dekat kamu. Ini ujian." Mama mertua mengecup lembut keningku. Tuhan ... Masihkah aku tidak bersyukur? disaat para istri tidak pernah cocok dengan para mertuanya, aku mendapatkan kasih sayang lebih dari seorang menantu. Air mataku jatuh tak terbendung lagi. "Apapun yang terjadi, kamu anak perempuan mama, sayang ... " Mama mertua menggenggam tanganku. Lembut sekali. Dia sama sekali tidak bertanya, mengapa aku sampai kecelakaan. William duduk di samping mama. Adik bungsu Arman yang langsung mengantar ingatan pada wajah Adel. "Kak, moge sudah dijual bang Arman. Abang marah besar dengan dirinya sendiri. Tidak bisa menjaga amanah om Retno untuk menjaga kakak. Bang Arman tidak tidur beberapa hari ini. Aku kasihan. Ia mengambil cuti demi menjaga kakak." Air mataku bertambah volumenya. Meski sulit untuk menjawab mereka, tapi aku mendengar semua apa yang dikatakan. "Sehat ya, Ma. Kami semua sayang kamu." Ria istri Ruli adik kedua Arman mengusap lenganku. Bergantian semua hadir di samping kiri berdiri menatap iba. "Kalian tinggal di rumah mama aja, biar Caca diurus William." Mama mertua masih terisak, sesekali mengusap air matanya. Caca memang dekat dengan William di antara adik Arman lainnya. Caca, anakku. Pedih di hati kembali tergores. Mana mungkin gadis kecilku itu bisa berpisah dari Adel. Mereka sudah seperti adonan dan pemanas. Tidak akan menjadi masakan jika salah satunya tidak ada. Adel-- Sosok yang telah mengakibatkan kecelakaan ini. Ah, mengapa aku menuduhnya? Aku yang teledor. Aku yang terlalu cemburu. Belum ada bukti apapun. Adel menjadi sasaran sakit hati hingga Tuhan marah padaku. Kecelakaan pun terjadi. Ini jelas salahku. Kaki tidak bisa digerakkan, untuk duduk pinggang dan panggul rasa tersayat pisau saking sakitnya, ngilu di beberapa bagian sendi dan tulang. Entah apa yang terjadi pada tubuh ini. Apa aku meminta mati saja. Tidak. Aku tidak boleh mati. Caca putriku. Aku tidak akan meninggalkan buah hati penyempurna hidup itu. Apapun yang terjadi, aku harus hidup. Aku harus sembuh. "Mama menyuruh Adel untuk beres-beres di rumah bareng Neni. Kabarnya gadis itu mau pindah kosan karena sudah mendapatkan pekerjaan tetap, Caca tinggal di rumah mama saja ya, Nak!" Mama mertua menjelaskan apa yang terjadi di rumah sejak aku menjadi pasien pesakitan. Adel pindah kos? Sudah mendapatkan pekerjaan? Mengapa aku tidak mengetahui informasi. Andai sebelum kecelakaan aku mengetahui, tentu pikiranku tidak sekacau kemarin. Gadis itu tidak sadar menjadi penyebab semua ini. Ah, mengapa aku lagi-lagi menyalahkannya? Aku yang salah. Akulah penyebab semuanya terjadi. Terisak pilu, bahuku berguncang mengeluarkan tangis tanpa bisa kucegah, terlaku sakit mengingat semua kesempurnaan yang kumiliki dalam sekejap terhempas gelombang hanya karena kecemburuan, mama mertua memelukku. "Sabar, Sayang ... Semua akan baik-baik saja." Ia mengusap bahu. Aku mengangguk masih dengan ritme isakan semakin kuat. Arman datang dengan beberapa perawat. Melihat aku menangis ia mendekat. Mengecup lembut lelehan air yang merembes dari retinaku. "Semua baik-baik saja. Tenanglah!" "Maafkan aku!" Untuk pertama kali aku mengeluarkan suara. "Lihat ini!" Arman menaruh segi empat pipih ke depan wajah, tablet yang langsung terhubung dengan cctv ruang tamu, rumah indahku. Terlihat kasak-kusuk tetangga, beberapa kawan sekolah tertunduk sedih, hampir semua sama, menahan air mata sebagian bahkan sudah menangis terisak. Dan Caca, ada di sana. Menangis dalam pelukan Neni. "Mereka semua menyayangimu, Ma. Kamu harus kuat. Semua selalu ada di samping kamu. Merasakan apa yang kamu rasakan. Kuat ya ... Sayang. Demi Caca dan demi aku." Arman menutup tablet. 'Demi aku' Benarkah? Tatap iris bulatnya kala itu. signal seorang wanita tidak pernah gagal menangkap frekuensi di sekitarnya. Berat--Aku mengangguk. Tuhan, mengapa aku meminta lebih dari sempurnanya hidup yang engkau berikan? Egois bukan? Hingga kau marah dan menggores takdir kelumpuhan ini untuk menyadarkan aku yang serakah akan cinta. Aku menunduk lemah. "Aku ... kuat, in sya Allah aku ... kuat. Demi--Caca." Terbata mengeluarkan kalimat. Kurasakan telapak tangan Arman yang semakin kuat dalam genggaman. Mama mertua berkali-kali mengusap lembut rambutku, mengambil air putih yang tersedia di atas nakas. "Minum, Ma. Jangan mikir yang berat dulu, Nak! Mama di sini. Akan tetap di sini untuk kamu. Mama akan sangat menyesal kepada Almarhumah Rumi, karena tidak bisa menjaga kamu." Mama mertua menyebut nama ibu. Aku kembali terisak. Andai ada ibu, rasanya tidak serapuh ini. Mengapa gadis kecilku tidak ikut datang menjenguk. Tidakkah ia sedih dengan keadaan ibunya ini? "Bang Arman melarang Caca untuk ikut, tadi aku mau bawa dia," Jelas William seolah mampu menembus pikiranku. Arman keluar dan kembali membawa beberapa Map. "Bagaiman Man?" Tanya mama. "Sudah selesai, Ma. CT scan sudah diambil. Pemeriksaan lanjutan setelah melihat perkembangan Erma seminggu ini. Operasi bedah akan segera dilakukan setelah cek perkembangan kesehatannya selama seminggu. Rawat jalan dulu." Aku tertunduk lemah. Suara Arman bagai semut merah menggigit telapak kakiku dengan beramai-ramai. Sakit dan ngilu menjadi satu. "Kita pulang." * Suara sirine ambulance memecah kesunyian gang masuk, menuju rumah bak pedepokan. Rumah desaign model kerajaan Siliwangi tempat kenangan berserakan. Aku belum ingin semua menjadi kenangan. Di rumah, ruang tamu penuh sesak para tetangga dan kolega dinas tempatku bekerja. Netraku mencari keberadaan buah hati tercinta. Caca. Gadis kecilku itu berdiri dalam pelukan Adel sambil terisak. Kaki kanan dibalut perban, sebelah kiri tungkai dan betisku memakai gips yang juga dibalut perban. Hanya kedua tangan tidak memakai apapun. Dibantu kursi roda, Arman mendorong tubuhku ke arah para tamu. Adel--Haruskah aku membencimu? * "Mohon saya Del, jangan pergi! Tinggallah di rumah ini, demi Caca. Saya akan memberi gajimu sesuai dengan yang kamu terima di sekolah itu." Dengan rasa sangat terpaksa aku mengucapkan kalimat itu. Berharap pembatalan pindahan dan pembatalan ia mengajar di tempat barunya. Mama mertua dan permintaan Arman sebelum kecelakaan. Dengan berat dan lidah yang kram aku harus ucapkan. Sembari berdoa, kelak jika Adel berada di rumah ini, William lebih mudah mendekat. Adel menolak permintaan. Entah karena apa. Jika ia bekerja untuk mencari uang, bukankah gaji yang diberikan lebih dari yang ia dapatkan di sekolah itu. Atau ... Entahlah! Mama mertua benar, gadis itu membantu dengan sigap semua pekerjaan rumah, bahkan dengan begitu telaten mengasuh Caca dari bangun hingga tidur kembali. Selama tiga hari sebelum izinnya selesai. "Setidaknya sebagai balas budi kebaikan yang ibu berikan selama ini kepada Adel, Bu." Ucapnya padaku di sela-sela hari. "Tapi, Adel tidak bisa selamanya di sini. Adel sudah tanda tangan kontrak kerja di sekolah SD IT, Bu. Zaman sekarang susah dapat pekerjaan," Alasan Adel menolak permohonan. "Adel cuma minta izin tiga hari, setelah ini harus pindah." Aku menatap wajah tak berdosa di hadapan. Tuhan ... Benci dan sayang itu meluap menjadi satu. Menyuruh Caca mandi, menyusun peralatan sekolahnya, menyuapkan makan, sampai memakaikan ia baju dan mengantarkannya ke sekolah. Semua ia kerjakan dengan telaten. Lalu aku menyisakan ruang benci di hati? Caca semakin manja dua kali lipat kepada Adel sejak aku kecelakaan. Aku melihat gadis itu sampai kewalahan, hal sepele pun ia bergantung pada Adel. "Makannya suapin! Caca ngak mau makan kalau ngak mamah Adel yang suapin." Ucapan manja itu .... "Ma ... Caca mau mama tungguin di sekolah." Perintah putriku pada Adel. "Kalo gitu mama pindah saja dari rumah ini." Jawab Adel santai, menanggapi betapa ia lelah mengasuh putriku yang manja. Apakah aku pantas membencinya? Akhirnya aku harus melawan ego sendiri. Sebelum pulang ke perbatasan, aku meminta Arman berbicara pada gadis itu agar menerima tawaran untuk tinggal di rumahku. "Bicaralah pada Adel! Ia menolak ajakanku." "Kamu tidak keberatan jika kita berikan gaji dan pembayaran uang kuliahnya, mana tahu dengan begitu dia mau tinggal di rumah ini. Mana tau dengan tawaran itu dia mau." Arman menaikkan alis menanti jawabanku. "Aku belum menemukan orang seikhlas Adel, Ma. Lihat telatennya dia mengurus Caca. Aku sudah menyelediki siapa gadis itu. Delapan bersaudara, dengan ibu yang hebar tanpa seorang ayah sedari kecil. Makanya hati Adel sudah tertempa sekuat baja menghadapi apapun kehidupannya." Hatiku sakit. Ucapan Arman benar-benar menggores tajam. Namun aku mengangguk walau tidak ada kerelaan. Untuk mengeluarkan kalimat bantahan, lidahku serasa dibius mati. "Aku tau, Adel gadis yang baik. Bicaralah padanya. Semoga ia mau menerima tawaran. Dan Caca tidak sulit untuk beradaptasi padanya." Ucapku menunduk jenuh. Menahan bulir untuk tidak terjatuh. Arman keluar dari kamar. Menghampiri adel. Di pintu kamar, aku menyaksikan dengan jelas tatapan garang yang ia kirimkan pada William yang menghalangi langkah Adel dari dapur, sebelum mengajak Adel berbincang. Perih. Dua lelaki di hadapan seolah seperti hendak saling menelan dalam diam. Entah apa yang Arman bicarakan dengan gadis itu. Adel akhirnya menerima untuk tinggal di sini, bahkan dari kamar, di atas kursi roda aku mendengar teriakan Caca, melompat girang. "Asiik ... Mamah Adel bobok sama Caca." * Harusnya aku tidak perlu risau, Arman hanya punya dua hari dalam kurun dua minggu berada di rumah. Berhari, bulan dan tahun berlalu, Caca semakin lumrah memanggilnya mama. William memiliki rutinitas baru. Setiap pagi sarapan di rumahku. Ia akan menjemput Caca ke sekolahan sebelum Adel datang. Segala usaha William sepertinya tidak membuahkan hasil. Adel sedingin batu es di puncak Himalaya. Aku dan Arman sudah mencari tahu siapa gadis itu, sedikit keras kepala, tentu saja Sholeha, pacar belum punya. Mungkin anti lelaki. Bahkan William yang terang-terangan jatuh cinta, mama mertua dengan begitu akrab menyatakan akan melamar Adel untuk William hanya ditanggapi senyum dingin gadis itu. "Kamu harus bantu mama buat nyomblangin si Wilem sama si Adel, Ma." "Kalau Adel enggak mau gi mana lagi." "Ajarin entu si Wilem naklukkan cewe. Biar cepat nikah." "Bisa jadi aja dia selera sama suami orang ketimbang perjaka, Mah." Suara William menyentak aku dan mama. Mama mencebik. Melotot gusar. Menjewer telinga William. Raut wajahnya kesal. "Makanya kamu itu jangan urakan kayak anak-anak punk gitu donk! Biar si Adel mau." "Yaelah ... Cinta gak bisa dipaksa. Kalau ternyata cintanya malah sama bang Arman gi mana?" Ucapan William. Rasanya aku tergigit lengkuas. Mama mertua melotot menatapku penuh pertanyaan. Aku memalingkan wajah, mengalihkan tatapan ke potongan apel yang baru sjaa dikupas Neni. "Apa maksud William, Ma?" "Erma enggak ngerti William ngomong apaan." "Kalian menyembunyikan sesuatu dari mamah?" "Mama liat aja kalau bang Arman pulang, ke mana-mana bawa Adel. Ke tamasya doank. Bawa Adel. Ke Mall bawa Adel. Si Caca malah manggil Adel mamah, eh manggil kak Erma, Bu Erma. Kan lucu. Entah lucu entah aneh." William nyerocos seperti bocah yang mainannya direbut paksa. "Kamu cemburu?" Mama melototi William. "Seharusnya pertanyaan itu mama kasih ke kak Erma, bukan Wilem." "Apa maksud Willem Ma, jawab Mamah, Erma!" Suara mama sedikit meninggi. "Kak Erma, enggak usah tutupin dari mama, aku tau kok. Jauh sebelum kakak kecelakaan Bang Arman itu sudah mulai punya rasa buat Adel." "William ... Apa apaan kamu ini?" Mama mertua paling lembut yang pernah kukenal, membentak William sinis. "Mama tanya aja sama Kak Erma, Adel itu tidak suka sama Wilem, dia lebih suka yang udah pengalaman." Haks. Tawa William pecah dan aneh. "Mama tidak pernah mengajarkan kamu berbicara untuk menyakiti orang lain, Wil." Hardik mama. "Siapa yang nyakitin? Kak Erma menyakiti dirinya sendiri. Menuang racun ke dalam minuman sendiri. Membawa bahaya ke dalam rumah bahkan memeliharanya." "Cukup Wil!" Mama menoleh. Menatap tajam netraku. "Apa kamu ingin bersedekah suami, setelah bersedekah harta untuk gadis itu, Ma? Jika yang dikatakan William benar. Suruh Adel angkat kaki sekarang juga dari rumah ini." Lantang suara mama berucap. "Tidak ada yang mau membersihkan kotoran orang cacat seperti saya tanpa dibayar, Ma. Adel melakukannya. Darah haid Erma berserakan dia tidak jijik, Erma pub, pipis yang kadang muncrat ke tangannya, hanya Adel yang rela melakukan semua pekerjaan ini, Ma." Ucapku menahan tangis. "Mama hanya tanya, apa yang William bilang, benarkah? Apa kamu tau tentang Arman dan Adel?" Aku menggigit bibir pedih. Terbayang slideshow kejadian malam saat Arman pulang di hari ulang tahun Caca. Aku tertidur di kursi roda. Terbangun mendengar derap langkah kaki di ruang tamu. Arman pulang, kotak brownies di tentengan. Mungkin Arman mengira aku sudah terlelap. Berencana menyusul Arman ke kamar Caca untuk ikut memberi kejutan. Aku baru menyadari ada Adel di sana. "Maaf ... Pak, seharusnya bapak tidak tidur di kamar kami." Aku berhenti menekan tombol kursi roda. Berhenti mendadak. Kami? Ada rasa kepemilikan di sana. Aku terdiam di antara ruang tamu dan sekatan ruang menuju kamar mereka. "Ini rumah Bapak, mana mungkin saya melarang Bapak masuk ke kamar anaknya," suara Adel semakin jelas. Aku memutar kursi kembali ke kamar. Sama sekali tidak ingin mendengarkan apa yang terjadi di sana. Sekuat tenaga menahan agar tak ada yang jatuh mengairi. Bukankah hidupku sempurna? "Jika Arman pulang, kamu dan Adel segera ke rumah mama!" Aku terkejut dari lamunan. Mama mengambil tas tangan branded yang ia taruh di atas sofa ruangan. Sama sekali tidak melihat Adel yang keluar dari dapur. Bersegera keluar rumah. Tanpa berkata apapun padaku lagi. Disusul William mengejar mama dari belakang. Gadis itu? Entahlah! #Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN