ANAK KANDUNGKU?
PoV Erma bagian 2
*
True Story' emak bumbui garam, cabe sama merica biar agak pedas dikit.
*
Siapakah aku? Berharap cinta itu hanya untukku.
Sedangkan Tuhan mencintai semua makhluknya. __Erma
*
Tidak terasa Caca, gadis yang kami dapatkan dengan harga bisa membeli sebuah istana dan villa di sebuah resort ternama, lebih kami pilih menimangnya, daripada memikirkan dunia seisinya.
Kini, gadis yang mengalahkan segala hajat itu, sudah berusia empat tahun.
Ia mulai bijak berbicara, hobi bermain, membaca, dan menulis. Walau hanya mencorat coret saja. Gadis kecilku, penyempurna kehidupan. Tidak menyesal rasanya aku mengeluarkan angka fantastis untuk meraih mimpi itu.
Paripurna sudah cinta dalam rumah tanggaku.
Mertua idaman. Siapa punya mertua yang rela menjual aset demi menantunya yang penyakitan ini? Hanya aku.
Keluarga harmonis. Saudara bagian ayah yang notabene pengusaha di pulau yang berbeda. Tidak satupun kutemukan ada cacat dalam urusan rumah tangga.
Suami romantis. Arman, suami tercintaku itu. Meskipun kami dijodohkan orangtua karena sama-sama tak pernah berpikir untuk berumahtangga, Setiap ulang tahun pernikahan. Arman selalu memberi kejutan.
Tahun pertama liontin asal London. Tahun ke dua titanium buatan Swiss. Tahun ke tiga Giok hijau asli Selandia baru dengan harga. Ah, aku jantungan menyebutnya.
Tidak perlu menceritakan tahun-tahun berikutnya. Jelas lebih dari tahun pertama, kedua apalagi ketiga.
Mama mertua bahkan melarang untuk menjual barang berharga itu, pernah kusampaikan saat kami berniat baby program ke Malaka. Tujuannya untuk meringankan beban mereka.
Tapi ditolak. Mereka lebih rela menjual aset keluarga daripada membebani menantunya ini. Betapa indahnya hidupku. Dikelilingi orang-orang penuh cinta.
Ipar bersahabat. Iparku semua laki-laki. Jadi tidak ada pertengkaran ala ipar versus ipar seperti di sinetron burung terbang, atau di kehidupan para teman yang aku dengar. Silaturahmi sangat baik terjalin.
Hanya beberapa sandungan kecil dari keluarga mama yang berada di kota sebelah, seolah heran dengan cara kami mendapatkan seorang gadis berambut ikal, berbola mata indah, dengan senyuman manis selalu membuat nyaman dan tenang saat melihatnya.
Caca--Baby-ku yang kini berusia empat tahun.
Kerisauan hilang dengan rengekan khas manjanya.
Cinta itu sempurna.
Benar-benar.
SEMPURNA.
*
Hingga suatu hari. Tuhan menorehkan warna lain di kehidupanku.
Warna itu hadir, berawal dari Caca si gadis kecilku. Membacakan sebuah suroh pendek dari Alquran--Luar kepala.
Aku melongo. Kami memang bukan keluarga religius, tapi tentu saja beragama.
Terkejut saat kudapati Caca melantunkan ayat Alquran dengan fasih, ia juga berdoa sebelum tidur. Tanpa membaca atau melihat teksnya, lagian usianya baru empat tahun. Aku terharu.
Siapa yang mengajarinya?
Caca jarang berinteraksi dengan tetangga, kecilnya diasuh baby sister. Baby sister yang jelas baca Qur'an juga bisa kulihat berapa kali. Lebih tepatnya tidak pernah sama sekali. Setelah kini ia berusia empat tahun, aku lebih suka membawanya ke sekolah. Pengasuhnya tidak lagi bekerja.
Caca lebih periang dari biasanya. Ia selalu berceloteh. Tentang apa saja. Lebih cerdas, dan selalu suka bercerita.
Satu nama yang selalu ada tiap celoteh kata dari mulutnya. ADEL.
Siapa Adel?
Penasaran akupun mencari tahu.
Adel, mahasiswi sebuah universitas Islam. Sosok yang berbeda dari gadis kebanyakan. Wajahnya lebih keibuan dari lainnya, pembawaan dewasa terlihat jelas ia seorang berhati baja yang telah melewati asam pahit kehidupan.
Aku salut, kagum dan simpati padanya.
Bertandang ke kosan mereka. Di sana ada lima Perempuan yang Caca panggil dengan berbagai sebutan khas panggilan seorang anak pada ibunya.
Bunda, untuk Yanti asal Dumai. Mami untuk menyebut Lidya. Memanggil ibu untuk Ira. dan Ummi buat Tiva yang berasal dari medan. Aku mulai men-survey para gadis yang tinggal tak jauh dari rumahku.
Sedangkan menyebut Adel, gadisku itu lebih semringah dari biasanya--Mama. Sebutan lumrah di hari kemudian. Aku tidak mempermasalahkan. Toh, semua sama. Caca hanya membedakan panggilan saja. Artinya bocah mungilku punya sosialisme yang positif.
Bahkan aku acapkali membawa makanan berbagai jenis, dari mulai gulai, sambal, sayur, hingga makanan ringan untuk ke lima gadis-gadis itu.
Hari terus berganti kedekatan Caca dan Adel bagai memiliki perekat abadi. Aku senang. Adel gadis yang baik. Akhirnya kuputuskan memberikan lebih porsi apapun untuk mahasiswi penyuka jengkol semur itu. Bahkan memberinya beberapa lembar kertas bernilai di hari ulang tahun.
Semua demi senyum Caca.
Waktu kembali berlalu, Caca sudah masuk sekolah. Akupun semakin mengenal sosok Adel. Ia bahkan tidak menerima sepersen pun bayaran saat aku minta untuk mengajari Caca sepenuhnya, sebelum baby mungilku itu masuk sekolah dasar hingga sudah berada di bangku sekolahnya.
Adel benar-benar gadis yang baik.
*
Memang gadis itu bukan siapa-siapa tapi ia mampu mencuri semua perhatian yang ada. Aku bahkan mendengar pak erte berbincang tentang gadis yang kerap ke mesjid itu untuk mengajari anak-anak mengaji paruh magrib secara gratis.
Entah sejak kapan, aku ikut mengaguminya. Mungkin karena Adel begitu baik pada putriku. Tidak segan-segan akupun selalu menceritakan tentang Adel setiap menelpon Arman saat mengamankan perbatasan.
Bahkan setiap pulang, Aku maupun Caca, akan berebut bercerita seru tentang sosok mahasiswi bernama Adel kepada Arman.
Bahkan William yang beberapa kali datang langsung menyatakan padaku, agar aku bersedia menjadi Mak comblang antara ia dan Adel.
Aku turut bercerita pada Arman tentang keinginan William mendekati Adel.
"Cocok mereka ya, William yang urakan pasti bisa berubah jadi maskulin kalau jodohnya Adel." Aku berargumen. Disambut senyum anggukan.
Mama mertua sangat setuju. Aku berniat membawa Adel saat acara Ibu-ibu Persit di rumahku, agar ibu mertua bisa menilainya. William bahkan jauh lebih rapi saat datang ke rumah.
Khas pemuda yang sedang di mabuk cinta.
Awalnya semua biasa saja. Aku tidak menyangka pada akhirnya menjadi luar biasa.
Jumat yang cerah. Seperti biasa, Arman yang baru pulang dinas menjemput Caca ke sekolahan. Hari Jumat sekolahan lebih cepat pulang.
Aku dan Neni memasak ayam semur kesukaan Arman, sembari menyeduh Jus jeruk hangat kesukaan dua orang yang kucintai itu. Arman dan Caca punya selera yang sama.
Deru motor berhenti di teras rumah, mereka sudah pulang. Sebelum Arman dan Caca masuk pagar, aku dengan semangat membawa teko kaca berisi jus jeruk hangat ke teras. Menyambut keduanya.
"Pah, itu mamah, mamah Caca. Caca ke sana, ya?" Caca menunjuk jarinya ke arah seorang gadis yang berjalan masuk gang. Adel. Aku tersenyum.
Kakiku mendadak terhenti di depan pintu. Mengelap peluh yang berjatuhan, gadis itu tidak sadar jadi bahan sorotan.
Netra mengunci pada satu netra legam yang menatapnya penuh arti. Ada yang berdesir di hati. Senyumanku lenyap seketika.
Rasa yang tiba-tiba ... entahlah!
Pertama kali kurasakan, netra legam itu ... iris bulatnya--berbeda menatap wanita. Signal perempuanku menangkap gelagat tidak biasa. Aku memegang gagang pintu dengan kuat.
Menopang diri sendiri agar tetap berdiri kokoh, menyaksikan sorot tajam elang itu kini tak lagi sama.
Sudut netraku basah. Tidak. Ini hanya naluriku saja. Kutepis prasangka. Sebab aku tahu. Arman suami yang sempurna.
"Pah, kapan-kapan kita ajak mamah jalan-jalan, Ya?" Mamah yang dimaksudnya Adel, bukan aku.
Apa ini?
Rengekan manja gadis kecil yang kudamba yang biasanya melahirkan tarikan di garis bibir. Kini, seakan belati beracun yang siap menancap pada jantungku.
Kugigit bibir kuat. Menahan teko berisi jeruk hangat agar tak melorot dari genggaman.
Prang. Ting ... Ting pecahan beling berjatuhan.
Kedua makhluk yang masih terpesona dengan penglihatannya menoleh terkejut.
"Ma." Arman berdiri. Mengambil teko dari tanganku. Apa yang pecah tadi?
Apakah halusinasiku saja?
Netraku menangkap Neni memungut sesuatu sebelum merasakan sebuah tangan kokoh membawaku ke dalam kamar.
*
Acara makan bersama keluarga besar Persit di rumah, mertua memaksa aku membawa turut serta Adel.
"Mama pengen kenal juga, mana tahu benar-benar bisa buat William, tuh anak urakan banget, hidupnya hanya dunia dia dan teman-temannya, main games sampai lupa waktu. Semoga Adel mau, ya, Ma?"
Mau? Semoga saja. Hatiku tiba-tiba nelangsa. membantu menyiapkan makanan. Dengan rasa yang ... Entahlah? Aku lupa cara tersenyum di tengah keramaian.
Sesekali aku mencuri pandang--Adel. Entah di mana letak keistimewaannya? Selama ini, Ikan salai plus sambal terasi menjadi menu wajib saat Arman datang, tapi baru kali ini, perdana sekali aku melihat orang yang kucintai itu makan dengan lahap. Apakah dia tahu Adel yang memasak? Walau itu Atas paksaan mama mertua.
Ramah, mudah bergaul, pengetahuannya membuat Ibu-ibu lain betah bercerita. William beberapa kali cari perhatian, namun Adel bahkan tak menangkap gelagat itu.
Ia terlihat santai, seolah tidak melihat, tidak peduli, William yang menggodanya berkali-kali dengan menghalangi jalannya saat keluar atau ke dapur.
Mengingat betapa baiknya gadis itu pada anakku, apa aku pantas membencinya?
Caca mendapatkan segalanya pada diri gadis beralis tebal itu, rias wajah alami tanpa make up, rona merah semu setiap mencium pipi anakku dengan sangat semringah. Kekaguman dan simpati yang tertanam lebih dulu kini bercampur dengan berbagai rasa yang tak bisa kuungkapkan.
Gadis kecilku--Caca semakin besar, panggilan mama untuk Adel menjadi lumrah terdengar, mahasiswi asal kota minyak itu, terbiasa juga memanggil dirinya dengan sebutan mama pada anakku.
*
Arman hanya punya dua hari waktu di rumah. Hari ini dia pulang, aku menyambutnya seperti biasa. Biasa itu berubah menjadi luar biasa. Saat sepotong kalimat permintaan keluar dari bibirnya.
"Caca pengen ke kebun kelinci katanya, Ma. Bawa Adel, ya!"
Degg ...
"Sebelum berangkat pesanin wortel! biar Caca bisa maen kelinci, sama si Adel juga."
"Beli sekarang?" Tanyaku tak semangat.
"Beli sama si Urip aja yang punya kebun wortel, kan, biasanya dia mau nganterin."
Aku mengangguk segera mengambil gawai untuk menelpon Urip, tetangga mama yang punya kebun wortel.
Tanpa sepengetahuan Arman. Beberapa kali dering tak diangkat, aku memutuskan pergi ke rumah Urip. Mamanya Urip sahabat mama. Tante yang sudah kuanggap ibu kandung, pengganti mama.
Sekalian buang suntuk. Melepas hatiku yang serasa tak nyaman hendak teriak.
Kustarter motor gede pemberian papa, setelah memberi tahu Neni tujuan.
Aku punya hobi mengendarai moge juga. Satu kegemaran dengan Arman. Hal yang dulu membuat aku akhirnya mencintai sosok lelaki selain papa.
Jalanan terlihat lengang, kutambah sedikit kecepatan. Wajah Adel dan Arman bergantian memenuhi netra. Tatap mesra yang dulu hanya milikku. Kini, dirampas sesosok yang justru aku kagumi.
Mengenang suka duka perjalanan pernikahan, bagaimana Arman yang sempurna bisa kumiliki. Menggores warna indah pada kehidupan di tiap sisi hari.
"Meskipun nantinya kita nenek dan kakek, tanpa seorang cucu. Aku akan tetap mencintaimu, Ma." Suara berat itu terngiang berkali-kali di telinga, berganti celotehan Caca, buah hati penyempurna hidup ini.
"Pah, mamah tinggal di rumah kita donk! Biar Caca punya teman belajar."
"Bu, Erma. Caca enggak mau makan kalau mamah belum di pici."
"Pici? Di telpon?"
"Bukan! Video Call Lo ... Bu Erma."
"Tapi, mamah Adel enggak ada hape kayak Caca. Nanti mamah pulang kuliah Caca maen ke kosan lagi. Oke. Sekarang, Makan dulu ya, Nak!" Aku membujuk Caca bak pembantu dan Adel majikannya.
"Kan, bisa minta papah beliin hape buat mamah. Percuma donk banyak duit. Oma juga banyak duitnya."
Caca memaksa bahkan mengancam tidak akan makan sebelum Adel dibelikan hape yang bisa video call jika tidak berada di kosan.
Tiinnnn ... Tin ... Tinnn ....
Bruk ... Bruk ...
Aaaa .... Bammm.
Aku merasa melayang. Setelah membanting stang ke arah sembarang.
Gadis itu?
Benar-benar sialan. Sebelum akhirnya semua gelap.
*
#Bersambung