SEMPURNA?

1959 Kata
ANAK KANDUNGKU? *       _Jika ada hidup yang sempurna, artinya kau tidak sedang berada di Dunia_. -Erma. * PoV Erma Bagian 1 Namaku Ermayenti. Hidupku super bahagia, berlimpah harta berlimpah cinta. Ibuku seorang pendidik, sedangkan ayah seorang abdi Negara. Darah ibu mengalir padaku. Mewarisi kesetiaannya pada dunia pendidikan. Baru selesai wisuda strata satu, aku diterima mengajar di sebuah SMA Negeri. Setahun kemudian pengangkatan tenaga aparatur sipil negara. Namaku masuk d******i, dengan begitu mudah lulus. Tidak ada hambatan berarti. Benar-benar bahagia. Melanjutkan strata dua. Semua orang mulai melototin mata. "Kapan nikah?" "Kalau cewe lama nikah, digelar perawan tua Lo ... " "Berkarir melulu, entar usia lanjut kagak ada yang mau." "Nikah dulu baru lanjut kuliah." "Kalau sudah ketagihan kerja ngak bakal ingat nikah." "Kawanku ada ntu ... sampai doktor, ngak nikah nikah, karena yang ngajak nikah pada takut." "Takut apa?" "Uang Panai terlalu berat." "Kalau sudah usia lanjut, laki-laki ngak lagi ngelirik, yang ada dicariin duda." Kwkwk. Banyak kalimat yang aku temukan jelang usiaku menginjak angka ke empat puluh tiga itu. Tapi, aku masa bodo. Aku menemukan cinta dari semua yang ada. Rasanya tidak kekurangan apapun. Pada akhirnya papa lah yang berinsiatif melakukan perjodohan dengan teman papa saat masih mengabdi. Lebih tepatnya anak buah atau bawahan junior papa di instansinya. Namanya Arman, andai Tuhan membunuhku saat ini, lalu menghidupkan lagi. Aku tetap ingin berjodoh dengannya. Arman. Lelaki sejati. Tiada cacat rupa, jiwa dan raga tercipta sempurna. Menjadi seorang alat negara bukanlah suatu hal yang mudah. Arman di besarkan dalam lingkup keluarga militer. Begitupun lingkungannya.  Dari kecil ia tinggal di perkomplekan Batalyon Arhanud. Seharusnya lingkungan itu mencetak dirinya menjadi manusia tegang urat, alias dingin. Pendapat tentang tentara jarang senyum sering aku baca, dengar dan lihat. Tapi itu tidak berlaku untuk seorang Arman.  Suami tercintaku itu hanya dingin pada perempuan lain. Tidak padaku. Arman justru melebihi romantisnya seorang seniman. Suka memberi kejutan dan loyal terhadap isi kantong. Jika libur, Arman tidak malu untuk menemaniku ke salon berjam-jam.  Ia bahkan menyuruhku untuk tidak ikut campur urusan rumah tangga. Agar tubuh dan tenagaku masih tetap fresh selalu. Bertahun-tahun pernikahan yang kami mulai tanpa cinta, melahirkan banyak kenangan berdua. Ternyata buku salah satu senior dunia literasi yang pernah aku baca 'sangat benar'. Pacaran setelah menikah bisa buat kecanduan. Minus Dosa juga. Menikah di usia empat puluh tiga tahun dengan seorang pria maskulin penuh kasih sayang dan tanggung jawab adalah anugerah terindah yang pernah aku miliki. Kami sama besar di dunia perkomplekan militer, bedanya, aku acapkali diajak ibu bersosial ke lingkungan lain, bernama pendidikan. Aku punya banyak teman. Siapa yang tidak suka berteman denganku? Aku anak semata wayang. Satu-satunya makhluk bertumpah cinta. Dimanja seluruh manusia bergelar keluarga. Aku bak bidadari surga yang tinggal bilang keinginan A maka akan muncul di depan mata. Bahagia sepanjang masa. Ibu selalu mengajarkan cinta.  "Ma, semua orang mau berteman dengan kita karena kita mereka anggap berpunya, kalau nanti jatuh miskin dan tak punya apa-apa, tidak ada lagi yang sudi mengaku teman, walau begitu kamu tetap menganggap semua adalah teman dan saudara." Nasehat ibu sebelum jantung koroner menerkam aktifitas hidupnya. Ibu meninggal di tiga tahun pernikahan aku dan Arman. Gamang. Sendi-sendi seolah tak lagi pada tempatnya, aku benar-benar kehilangan separuh nyawa saat ibu tak ada. Bullyan para saudara ibu tentang suara bayi yang tidak belum terdengar di rumah kami, menjadi santapan setiap hari. Dulu, saat ibu ada, tak ada yang berani buka suara, walau sekedar bertanya. Kapan tangisan sang bayi segera ada. "Banyak rumah tangga usai sebab tak ada anak, Ma." "Kau kenal si Leli orang kaya yang dulu paling cantik di kelas kita? Baru tiga tahun nikah sama pengusaha batubara, eh diselingkuhin suaminya, ya itu ... Gegara belum juga hamil." "Si Rukmana itu Sholeha banget, suaminya juga religius, pokoknya orang-orang alim gitu ... Lah. Eh taunya suami baik hati rajin ke mesjid poligami. Entu gegara si Rukmana gak hamil-hamil." "Tukang ojek yang suka mangkal di perempatan masuk sekolah kita, istrinya udah tiga eh tiga-tiganya enggak hamil-hamil, tapi si tukang ojek malah mau nambah bini lagi. So-alnya, di mana-mana wanita gak pernah benar. Walaupun status-status di efbi pada bilang kalo wanita selalu benar. Buktinya dalam hal ini wanita selalu salah." Teman sejawat dinas berkomentar panjang lebar. Plus Saudara. "Siap-siapin diri, Ma. Suatu hari jika kamu harus menghadapi itu, lebih sakit dari kehilangan Mama." Ucap Tante Meli. Saudara pihak mama Bukannya memberi kekuatan. Tante yang kuanggap mama sendiri justru menajamkan asahan kata. Keluarga Arman juga keluarga penuh cinta, aku mendapatkan segalanya dari mereka. Segala cara telah dicoba mertua. Membawaku ke tukang khusuk ternama, berbeda-beda tempatnya, hingga pemeriksa spesialis dengan harga fantastis diboyong mama mertua asal harapan ada nyawa pada rahimku, sebagai penerus waris keluarga. Nihil. Tak ada hasil. Diagnosa dokter setiap pemeriksaan di berbeda tempat semua menyakitkan jiwa. Mereka bilang hanya keajaiban yang bisa membuat aku hamil. Arman sehat, hasil pemeriksaan laboratorium sper** sungguh bagus dan sangat mudah untuk dibuahi, begitu keterangan dari sang dokter. Kebaikannya, tanggungjawab sebagai seorang suami, Arman tidak perlu diragukan. Aku mulai takut kehilangan.  Kehilangan seorang Arman yang perfeksionis dalam menjalankan peran. Peran seorang suami idaman. Bagaimana aku bisa mengikatnya jika pengikatnya belum juga ditemukan.  Bukankah kehadiran seorang anak pengikat abadi seorang suami. Andai aku hamil, punya anak, aku tidak setakut ini. Apakah tuhan akan memberi keajaiban? Kasih sayang Arman tidak pernah berubah, begitu juga mertua, mereka begitu baik padaku. Tapi aku merasa diri tak berguna.  Mama mertua punya usaha keluarga, menjual aset mereka, untuk memboyongku ke Malaka. Aku terharu. Diusiaku yang tak muda lagi, akan kah hasil itu ada. Aku seolah pesimis pada takdir yang belum berkata. Kata mereka dokter di sana tidak sama dengan dokter di negara ini. Semoga saja. Ah, ternyata itu benar. Beberapa Minggu melakukan pemeriksaan. Dokter memberi harapan. "Tidak ada yang mustahil di dunia ini, Tuan!" Ucap dokter pada suamiku Arman.  "Apa yang harus dilakukan istri saya selain daripada minum obat, Dok?" "Rutin saja minum obatnya, banyak istirahat. Rileks pikiran, jangan dulu pulang ke Indonesia, di sini saja, sampai hasilnya ada." Aku lega mendengar perkataan dokter ternama itu, walau kami harus mengeluarkan ratusan kertas nilai bahkan hampir sekeranjang. Dari sudut meja dokter aku menatap suami tercinta. 'Tuhan ... Terimakasih. Telah menganugerahkan rusuknya ada padaku.' Ditemani mama mertua berbulan-bulan berada di Malaka. Meminum obat yang entah apa. Setiap bulan, Minggu dan hari menjadi rutinitas. Pemeriksaan rutin dilakukan. Bersabar dan berserah diri pada sang pemilik. Akankah malaikat meniupkan satu ruh dalam rahimku. Sepertiga malam, aku dan mama mertua tercinta mengajak menadah tangan pada sang maha kuasa. Tidak ada yang mustahil di dunia, aku mengingat perkataan sang dokter.  Akhirnya ... Entah overdosis atau kelelahan bisa jadi terbawa ketidaksabaran menunggu hasil. Aku pingsan. Gelap semuanya. Kata mereka aku hamil, tapi aku tidak merasakan ada kehidupan di dalam rahimku. Entahlah. Benarkah ada keajaiban? Ternyata benar. Entah berapa lama aku pingsan, bahkan setiap bulan, rumah sakit menjadi rumah kedua untukku. Di bulan ke lima kehamilan. Perutku tidak bertambah besar. Kesehatanku semakin menurun. Acap kali mendadak pingsan. Tapi, aku percaya keajaiban. Bukankah selama ini hidupku sempurna di tengah keluarga yang penuh cinta. Aku tak perlu ragu segalanya. * "Ma, liat ... Mirip William, si Oom gang ganteng, Alhamdulillah kulitnya putih kayak kami, untung enggak mirip kulit aku ya. Jadi item arang. Bakal calon perwira ini." Arman tertawa menimang bayi cantik kami. "Kalau mirip kamu, tapi kulitnya aku, sama aja. Bakal jadi mirip William juga." Aku ikut ketawa menanggapi ucapan Arman. "Sudah selesai di adzankan, Man. Sini mama Gendong!"  Mama mengambil bayi kami dari tangan Arman. "Cantik," ucap mama membawa keluar tirai penghubung, kembali memasukkan ke dalam box bayi. "Semoga jadi anak Sholeha ya, Nak. Membanggakan orangtua." Mama menciumi pipi Putri kecil kami. "Kamu istirahat, Ma. Biar lekas sehat dan kita balik ke Indonesia." "Iya, Ma. In sya Allah." Arman mengelus pucuk kepalaku. "Aku tidak bisa berlama-lama sayang ... Tapi ada mama juga istri Romi dan Ruli. Bisa gantian jagain kamu," Ucap Arman. "Iya, kamu punya negara sayang, milik rakyat. Tugas kamu menjaga negara ini. Tugasku berdoa agar Tuhan selalu melindungimu di manapun bertugas," jawabku tersenyum manis.  "Terimakasih. Papa tidak pernah salah pilih. Memberikan pilihan terbaik untukku. Aku menyayangimu, bertanggungjawab atas kamu, sejak akad diucapkan Om di hadapan penghulu dan saksi. In sy Allah selamanya." "Aamiin." Balasku tepat di telinganya. "Terimakasih juga sayang ... Karena-- kamu sudah melewati apapun perjalanan hidup kita dengan sabar. Menantiku pulang dari perbatasan, jika suamimu ini banyak kekurangan. Aku minta maaf ya sayang ...." Aku tersipu. Ah, Arman. "Kamu suami idaman semua pelakor, Arman. Karena aku tidak menemukan cacat di setiap perbuatanmu, perlakuan dan kasih sayang yang tidak akan pernah aku ragukan." Aku menangkup pipi Arman. Mendekatkan bibir ke telinganya. "Ai lop yu suamiku Hermiyanto Arman ...." Bisikku lembut. "Ai lop yu tu Ibu anakku." Arman mencium lembut pipiku.  Ehem. Mama berdehem seolah kami lupa ia ada di ruangan serba putih ini. * Suara tangis bayi perempuan, selalu membangunkan lelapnya tidur malam. Rengekan, cicit suara begitu indah terdengar. Saat tertidur, rasanya bayi cantik berkulit putih bermata indah menambah kesempurnaan dalam hidupku.  Armayenti Salsabila Arman. Nama yang kami beri untuk buah cinta nan abadi. Mewarnai hidupku yang kembali indah, rasa takut yang akhirnya terbuang jauh, setiap rengekan dan tangis bayi itu terdengar menyejukkan hatiku. Setelah perjalanan panjang menuju kamar operasi, aku berhasil bangun dan menimang bayi. Walau hati kecilku merasa sedih. Bayi itu tidak mau menyusu padaku.  Dokter bilang air susuku tidak baik untuknya. Kurang nutrisi, bisa memperlambat perkembangan bayiku. Oh Tuhan ... Cobaan apa lagi ini?  Aku sudah sehat, kembali ke asal negara. Perhatian sang mertua dan suami tercinta berlipat ganda tambahnya. Caca. Begitu gadis mungil kami panggil. Lincah, ceria, penyejuk mata, penyejuk jiwa setiap celotehan lahir dari bibirnya. Penguat saat sedih sendirian ditinggal suami tercinta. Kini rumahku ramai oleh riuh suara Caca. Beranjak besar wajahnya semakin cantik. Sedikit mirip dengan William, adik kandung Arman. Aku yang semakin berumur, setiap membawa Caca, orang selalu mengira, aku oma-nya. Ah, untuk apa mendengar kata manusia, Tuhan telah begitu baik segalanya. Hidupku berwarna dengan hadir gadis kecil penuh pesona. Aku tidak peduli apa kata mereka. Apa yang harus aku takutkan di dunia. Tidak ada. Suami tercinta, mertua idaman, rumah besar, uang berlimpah, warisan usaha ibu, pensiun ayah yang melanjutkan beberapa usaha ibu. Swalayan dan pabrik tekstil dengan omzet milyaran. Uang bagiku seperti kantong Doraemon tinggal minta semua ada. Baik dari keluarga suami ataupun keluargaku sendiri. Terkadang ada rasa iba saat mendengar curhatan para kolega. Mengajar dengan banyak teman seperjuangan untuk mencerdaskan bangsa, aku satu satunya di sekolah yang memiliki suami seorang abdi negara. "Enak kamu Ma, kalau kami hadehhh ... Kalo tak mengajar dapur ngak ngepul." "Aku nikah usia dua satu, sekarang anak udah lima eh si bapaknya kawin lagi." "Aku nikah sama pacarku, pacaran tujuh tahun, sampai sekarang suamiku kerjanya bertapa. Tau gak bertapa di mana? Entu ... Di tempat tidur. Memelihara pil malas." "Suamiku tukang ojek, ya ... Ngertinya cuma ngojek. Dia tau kalau punya istri PNS jadi apa-apa masalah anak, eh ngadunya ke aku. "Mending kayak kamu, nikah udah tua, walaupun digelar perawan tua, tapi dapat suami benar-benar tanggungjawab. Mertua baik harta berlimpah. Hidupmu beruntung, Ma." Banyak hal keluhan para teman. Aku memutar slideshow kehidupan. Lama menikah. Alhamdulillah, dapat suami sempurna. Telat punya anak, sang mertua rela menjual aset keluarga demi memboyongku ke negeri seberang. Malaka. Mereka benar. Hidupku .... SEMPURNA. Benarkah sempurna?  Sudah cukupkah kanvas warnanya. Bukankah Tuhan maha sempurna? "Bu, Ini masih guna-nggak? Kalau gak guna biar saya buang." Aku menatap lamat, heran, amplop besar seperti amplop melamar kerja saja, punya siapa itu? mengambil dari tangan Neni, aku tidak sabar untuk membukanya. Neni, Janda beranak lima yang selalu menemani keluargaku, menolong pekerjaan rumah, membersihkan lemari-lemari bekas yang tidak lagi terpakai, segera diungsikan menuju gudang, menemukan sebuah berkas dalam lemari bekas di kamar yang kini ada di tangan. Dengan bergetar aku terdiam setelah mengetahui isinya. Berkas itu, akhirnya menjadikan sempurna mulai cacat warnanya. #Bersambung PoV Erma 2
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN