Hati yang Baru

1010 Kata
Setelah menaruh semua paper bag itu,. Alfi kembali ke kamarnya. Namum lagi-lagi ia kembali di panggil oleh sang ibu. "Alfi!" teriak nya. Alfi segera berlari menuju di mana ibunya berada. "ada apa, Bu?" tanya Alfi menunduk. "buatkan kita jus Jeruk!" Perintah Azura dengan sinis. "baik kak," jawabnya lalu ia beranjak ke dapur . Sesampainya di dapur, Alfi membuka lemari es dan mencari jeruk di sana. Namum ia tak menemukan jeruk, akhirnya ia kembali ke ruang tamu. "kak, Bu. jeruknya abis!" kata Alfi "ya kalau habis beli lah, gitu aja gak tahu sih." omel azura. "maaf kak, tapi...." "nih, sana beli." Azura melempar uang pecahan 10 ribuan 2 lembar tepat di wajah Alfi. Pada saat itulah aksinya di lihat oleh sang ayah yang kebetulan pulang dari kantor. "Azura!" teriak sang ayah. "A-ayah! k-kapan Ayah sampai?" tanya Azura yang langsung berdiri dari duduknya, begitu pula sang ibu. "kalian ini bener-bener ya, Alfi itu adik kamu, dan kamu sebagai ibu (Telunjuknya pada sang istri). Harusnya kamu berbuat adil pada anak-anak mu. jangan seenaknya saja." ucapnya penuh penekanan. "Maaf, Mas.!" Jawa ibu Mira. "berapa kali kamu meminta maaf, hah? tapi selalu kau ulangi kesalahan yang sama( mengelus d**a). sudah aku tak ingin melihat kejadian ini terulang lagi, dan kamu Azura( tunjuk nya pada Azura) kalau kau ingin apapun, ambil sendiri." katanya lalu berjalan pergi meninggalkan ruang tamu. ****** Hari-hari pun terlewati, tapi bukan berarti penyiksaan Alfi berakhir. Justru semakin hari semakin ada saja siksaan yang ia dapat. (Sedikit Cerita, Alfi ini sering kali dipukul entah karena salah atau tidak tapi sering sekali. apalagi kalau ia meminta izin untuk belajar kelompok, pasti tidak di bolehkan, dengan alasan anak perempuan tidak baik keluar rumah. bahkan Alfi sempat sembunyi-sembunyi saat akan menghadiri acara kelulusan kakak kelasnya. pada akhirnya dia harus mendapat siksaan yang begitu keji dari sang ibu. tapi itu tidak membuatnya kapok. Setiap hari selalu ada saja tingkah Alfi. semakin dilarang maka semakin bulat tekad Alfi. semakin di kekang maka Alfi akan semakin bertindak bodoh. pasalnya Alf sejak kecil tidak pernah merasakan memiliki teman. kini Alfi sudah bisa menentukan kemana jalan yang harus ia pilih. Alfi lelah dengan dunia penuh kekangan, ia juga ingin bebas seperti kakaknya Azura. dia juga ingin menjadi seperti Azura yang di sayang oleh sang ibu. apalagi saat ini ia jauh dari sosok kakak laki-laki yang selalu membela nya. Ken memilih untuk tinggal di tempat kerjanya ketimbang pulang hanya mendengarkan ocehan sang ibu pada adiknya. sebenarnya Ken kasihan, namun ia juga tak tega. Alfi sekarang sudah tidak seperti Alfi yang dulu. Alfi yang dulu selalu menurut dnegan apa yang di katakan oleh sang ibu, namun saat ini ia selalu membantah, Bahkan menolak perintah ibunya.) ****** Singkat cerita kini Alfi sudah duduk di bangku kelas 3. "Al, nanti siang pulang sekolah mampir ke rumah ku ya?" pinta Aulia. "oke, tapi nanti aku di antar ya." jawab Alfi. "beres!" jawabnya. "Jihan ikut gak?" tanya Alfi. "ya kalau aku mah selalu ikut sih. gila aja gak ikut. hahaha" tawa Jihan menggema. "Cewek-cewek tomboi, bisa diem gak?" gertak Dion "apaan sih, lebay!" sahut Aulia. mereka bertiga pun keluar dari kelas dan menuju ke kantin. "Al, masih sering di marahin ibu kamu?" tanya Aulia. "udah kebal. dai kecil juga udah biasa." jawab Alfi. "tapi aku kasihan Lo, Al. apalagi pas kau di pukul sama sapu waktu itu. itu beneran gak sih?" tanya Aulia penasaran. "ya kan kau waktu itu tahu sendiri to." jawab Alfi mengulum senyum. "maaf ya, Al. gara-gara kita, kamu malah sering di pukuli ." kata Jihan memeluk Alfi "sudahlah,mungkin ini sudah saat nya aku berubah, tidak harus mengalah terus." jawab Alfi melepas pelukan sahabatnya. ****** "Alfi!" panggil Ciko teman seangkatannya namun beda kelas. "iya?" "pulang bareng yuk?" ajak Ciko. "maaf, udah ada janji sama Aulia dan Jihan." Jawab Alfi. "yah, padahal pengen pulang bareng loh." kata Ciko cemberut. Alfi hanya tersenyum mendengar ucapan Ciko. pasalnya Ciko ini tampan, tapi kenapa mau-maunya ngajakin pulang cewek tomboi seperti Alfi. Singkat cerita, kini Alfi dan Jihan sudah ada di rumah Aulia. ini bukan kali pertamanya Alfi datang Kerumah Aulia, namun sudah ke sekian kalinya. "Aul,. kita mau ngapain di sini. masa iya cuma diem aja."tanya Jihan. "bentar loh, nanti ada yang datang. mumpung di rumah gak ada orang tua gue. kakak gue mau datang bawa temen nya. ganteng-ganteng loh." kata Aulia mengedipkan sebelah matanya. "serius, Aul?" tanya Jihan lagi Aulia hanya mengangguk, namun nampaknya Alfi tengah memikirkan sesuatu. "Al, woy. kamu kenapa dari tadi ngelamun?" tanya Aulia. "ah, aku hanya kepikiran Ciko tadi. bukankah dia anak paling tampan di angkatan kita, kok bisa-bisanya ya dia ngajakin aku pulang bareng, kan aneh." kata Alfi sembari memikirkan kata-kata Ciko tadi. "yaelah, gitu aja bingung, itu tandanya dia suka sama Lo." sahut Jihan. Namum Alfi tak mengindahkan perkataan Jihan, ia justru kembali pada lamunannya. "kok aku sekarang jadi kaya gini ya? apa kata orang-orang besok?" Guman Alfi yang menatap dirinya di cermin. seusai ucapan Aulia, kini kakak sepupunya datang dengan beberapa rombongan. kakak sepupu Aulia itu bernama Sandi. Sandi sendiri masih duduk di bangku SMA, tepatnya di sekolah kejuruan. "siapa, Ji?" tanya Alfi pada Jihan. "Kaka sepupunya Aulia." jawab Jihan. Alfi hanya mengangkat kedua alisnya malas. tumbenan saja dia sangat malas, biasanya dia paling semangat. Alfi memilih untuk tiduran di ruang tv. sementara di luar ramai orang, dia hanya berdiam di sofa asik dnegan tontonan nya. "Berisik banget sih." guman Alfi. lalu ia berjalan keluar dan melihat di halaman rumah. "Rame banget," gumannya lagi lalu ia memilih untuk keluar dan menuju ke halaman belakang. Namum saat ia hendak berjalan ke halaman belakang, tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang laki-laki. bruk.... "au," pekik Alfi saat ia terjatuh. "kamu gak apa-apa?" tanya pria itu mengulurkan tangannya. karena Alfi orangnya cuek, ia menolak uluran tangan pria itu. Alfi memilih untuk berdiri sendiri, saat Alfi berdiri tatapan mereka saling bertemu. deg Jantung Alfi seakan berhenti berdetak saat menatap pria itu. Ada rasa yang berbeda, tidak seperti saat ia menatap laki-laki lain. Semakin lama menatap semakin dalam, hingga membuat Alfi melamun. "hai!" . . . . . . Ada yang penasaran, hayuk di lanjutin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN